Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengetahui Vonis ...
*
*
*
Sore itu,
Seperti biasa, Albie sudah selesai dengan rutinitasnya sebagai dokter bedah trauma. Semua hal yang ia lalui hari ini tidak benar-benar tinggal dalam ingatannya. Satu-satunya ingatan yang tertinggal adalah Qistina.
Dengan kecepatan rata-rata ia mengendarai mobilnya, membelah jalanan kota dengan kemacetan dan hiruk pikuknya yang menggila.
Pria itu menghembuskan napas panjang, setiap kali ingatan Leukemia itu menerjang kepalanya. Sejak hasil pemeriksaan itu keluar dunia benar-benar runtuh dihadapannya. Namun itulah manusia, mana mampu melawan takdir Tuhannya. Mau tidak mau, suka tidak suka Albie harus menerima kenyataan itu. Kenyataan bahwa penyakit mengerikan itu sedang pelan-pelan menggerogoti tubuh istri tercintanya.
"Tiiiin"
Klakson panjang, memecah lamunan Albie. Ia menoleh kebelakang.
"Pak, lampunya sudah ijo tuh."
Albie kembali menatap ke depan, terlihat olehnya lampu lalu lintas sudah berubah warna.
Seorang pengendara motor menyalip, memperingatkannya "Jangan melamun Pak, kalau capek istirahat dulu." ucapnya.
Albie melambaikan tangan pada pengendara itu, kemudian mengangguk "Terimakasih, Mas." sahutnya. Kemudian perlahan menginjak pedal.
Entah berapa kali dalam sehari ini, dia berakhir terdiam, terpaku dalam lamunan. Bahkan saat menangani pasien tadi ia sempat tidak bisa fokus. Albie menghela nafas, "Ya ... Allah, mudahkan-lah ..." lirihnya.
Halaman rumah nampak lengang, ketika Albie sampai di kawasan perumahannya. Baru sampai di depan pagar, Hilman secepatnya membuka gerbang. Albie menyalakan klakson dan menurunkan kaca jendela mobilnya. "Makasih Man."
"Iya Pak, " sahut Hilman mengangguk hormat pada majikan.
Albie turun dengan tubuh yang terasa begitu berat. Pundaknya seperti tertindih berkilo-kilo besi yang menetap. Dadanya begitu sempit, hingga untuk menghirup nafas saja begitu sulit.
Ia serahkan kunci mobil pada Hilman, menyuruhnya memarkirkan mobil di area parkir.
Pria itu berjalan cepat, meski setiap langkahnya seperti langkah yang menuju tempat yang menakutkan. Sejak vonis itu, rasa takut kehilangan selalu datang mendera tanpa ia pinta.
"Assalamualaikum..." Albie mencoba bersikap tenang seperti biasanya. Namun detik berikutnya sikap tenang yang ia bangun langsung goyah. Napas Albie memburu, dengan sorot mata membelalak. "Sayang?!"
Ia menemukan Qistina tertidur, meringkuk seperti janin di atas sofa. Cepat Albie mendekat. Merengkuh tubuh yang semakin hari semakin kurus. "Sayang, bangun sayang !" teriaknya panik.
Rasa takut yang sejak kemarin menghantui seketika bertambah berkali-kali lipat, saat menemukan kelopak mata Qistina tertutup rapat. Napas wanita itu begitu halus, bahkan seperti tak terlihat dadanya naik turun. Albie semakin takut, ia takut bagaimana jika sekejap saja ia mengedipkan mata, napas itu benar-benar hilang.
Ia raih kepala Qistina, ia peluk erat. Ia letakkan, tepat dimana jantungnya berdetak hebat. "Sayang... Kamu nggak kenapa-kenapa 'kan?" ucapnya dengan suara serak yang sarat dengan kecemasan berlebihan.
"Mas ..."
Qistina perlahan membuka mata, sejak tadi ia merasa seperti ada timah yang menggantung di kelopak matanya. Memaksanya untuk menutup rapat-rapat. Demi membalas pelukan suaminya, ia rela mengabaikan rasa itu. Tangan kecilnya terulur mengelus punggung suaminya pelan. "Mas udah pulang?"
Mendengar suara pelan Qistina, Albie langsung bernapas lega. Ia lepas perlahan rengkuhannya, ia tatap lekat wajah tirus yang pucat itu. "Alhamdulillah..."
bisiknya, sembari memejamkan mata rapat-rapat.
"Mas kenapa sih, ketakutan gitu? Aku cuma ketiduran Mas, bukan meninggal." ucap Qistina sambil terkekeh pelan.
Hati Albie mencelos, betapa itu candaan itu tidak lucu sama sekali bagi Albie. Candaan itu justru seperti pisau berkarat yang sengaja menggores hatinya dengan kejam. "Sayang, kamu nggak boleh bilang begitu." ucapnya serius.
Senyum Qistina masih belum memudar, meski melihat ketegangan yang begitu kental di wajah suaminya. "Maaf, Mas ..." ucapnya dengan suara ceria.
Albie menelan ludah, menatap senyum itu. Senyum yang jujur saja Albie benci, karna ia tahu kalau itu palsu.
Qistina mengerjap, teringat dengan pertanyaan tadi pagi yang belum terjawab. Jujur saja, ia sangat penasaran. "Mas, pertanyaan aku tadi pagi belum sempat Mas jawab. Boleh aku tanya lagi?"
Albie terdiam, menatap permukaan lantai, kemudian menoleh pelan "Pertanyaan yang mana?"
"Aku ... Sebenarnya sakit apa Mas?"
Pelan sekali suara Qistina, namun bagi Albie itu seperti ledakan bom yang meruntuhkan segala pertahanan ketenangan yang Albie bangun.
Suasana ruang tamu mendadak beku. Albie begitu berat untuk mengatakan vonis dokter Surya yang tertera di map coklat itu. Ia menelan ludah, mengatur detak jantungnya yang semakin menggila.
Perlahan ia mengangkat tas hitam yang tadi ia letakkan sembarangan di atas meja. Membuka resleting, hingga deritnya seperti alrm bahaya untuk Albie. Ia raih map coklat itu, perlahan membukanya pada lembar vonis itu.
"Ini apa Mas?"
Albie menggigit bagian dalam mulutnya, jemarinya bergetar mengelus permukaan kertas berlogo rumah sakit pusat. Ia menarik napas, sebelum mengatakan kebenarannya.
"Hasil biopsi aspirasi sumsum tulang kamu, menunjukkan kalau ..." Albie berhenti sebentar. Matanya memejam.
"Kalau apa Mas?" Qistina tak sabar mendengarnya.
"Kamu menderita Leukemia Myeloide Akut. Kondisinya sangat agresif."
Qistina terdiam beberapa saat, jemarinya meremas ujung hijabnya kuat-kuat. Alih-alih menangis, ia justru tertawa kecil. Tawa sumbang yang dari kemarin-kemarin ia gunakan agar Albie tidak terlalu mencemaskannya. "Mas ... Mas ... Kamu ini aneh. Tadi melarang aku buat nggak bercanda soal kematian. Sekarang malah Mas sendiri yang bercanda begini."
Albie menatapnya dengan penuh luka, tawa kecil Qistina yang dulu membuatnya bahagia kini berubah menjadi sayatan-sayatan yang begitu pedih menghujam jantungnya. "Sayang, Mas nggak bercanda..."
Qistina justru tertawa renyah, "Mas itu bercanda, mana mungkin aku mengidap kanker darah. Aku itu cuma mimisan, masa gitu aja kanker. Nggak usah ikut-ikutan google deh ..."
Tawa itu begitu menyakitkan. Tanpa banyak bicara, Albie merengkuh kembali tubuh Qistina. Memeluknya erat, seakan ia begitu takut jika pelukan ya terlepas semili saja tubuh itu akan pergi seperti kabut asap. Tanpa terasa butiran kristal yang sejak tadi tertahan di kelopak mata, kini berdesakan keluar.
Tawa Qistina berhenti, pelukan hangat Albie membuatnya tak sanggup menyembunyikan perih. Cairan bening dari kelopak matanya lolos tanpa bisa ia cegah. Dadanya penuh sesak, nafasnya berhenti memenuhi tenggorokan. "Aku cuma tanya sakit aku apa Mas, bukan mau mendengar vonis mati." ucapnya lirih.
Tangan Albie terangkat, menangkup kedua pipi Qistina kemudian mengecup dahinya berulang-ulang dengan mata terpejam. "Kamu nggak akan mati karna penyakit itu Sayang..."
"Apa aku bisa sembuh, Mas?"
"Bisa, " Albie mangangguk tegas, "Kamu pasti bisa sembuh, Mas sudah menjadwalkan kemoterapi sama dokter Surya. Besok kita penjadwalan pertama."
"Tapi kemoterapi itu sakit Mas ..." ucap Qistina pelan. "Aku tahu dari pasien-pasiennya dokter Surya. Mereka bilang, kemoterapi cuma menghambat bukan menyembuhkan."
Albie menghela napas, memang benar efek kemoterapi itu menyakitkan, bahkan ia tidak sanggup membayangkan bagaimana cairan-cairan itu masuk ke tubuh Istrinya nanti. Yang tidak sedikit dari pasien-pasien kanker mengalami mual hebat dan efek samping lainnya. Namun itu adalah salah satu jalan agar Qistina bisa bertahan.
"Tidak semua orang mengalami semua efek seperti itu, sayang. Tiap orang berbeda-beda." ucap Albie pelan.
"Aku takut, Mas ..." bisik Qistina.
Albie kembali merengkuhnya, mengelus lembut puncak kepala Qistina. "Jangan takut, Sayang. Mas temani kamu ..."
*
*
*
~ Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔