Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Merubah Penampilan
Gladys terdiam cukup lama, matanya menatap kosong ke permukaan meja yang mengkilap seolah sedang menimbang setiap kata yang terucap. Jemarinya yang lentik namun pucat saling meremas di bawah meja, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang sempat luntur karena ketakutan. Napasnya yang semula tersengal perlahan teratur kembali, meski dadanya masih terasa sesak oleh perasaan yang bergejolak.
"Ide itu... terdengar sangat bagus," ucapnya pelan, suaranya masih bergetar samar namun jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. "Mungkin itulah satu-satunya cara agar aku benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu yang mengerikan itu. Tapi..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah, keraguan kembali membayangi tatapannya. "Aku takut, Ad. Aku ragu pada diriku sendiri. Apakah aku sanggup hidup sendirian tanpa perlindungan siapa pun? Apakah aku sanggup menjadi orang asing di tempat yang baru? Dan yang paling penting... ke mana aku harus pergi? Aku tak punya kerabat, tak punya teman, tak punya satu pun tempat yang bisa kujadikan sandaran."
Adnan memperhatikan raut wajahnya yang penuh kebingungan, lalu dengan lembut namun tegas ia menjawab, "Kalau begitu, untuk sementara waktu kau bisa tinggal bersamaku."
Mata Gladys terbelalak lebar mendengar tawaran itu, tak menyangka akan mendapat bantuan secepat dan semudah itu. "Apa? Apa kau tidak salah bicara? Bagaimana bisa? Bukankah itu akan membahayakanmu juga? Jika mereka tahu aku bersembunyi di rumahmu..."
"Kita akan berhati-hati," potong Adnan mantap. "Rumahku cukup aman dan sepi. Setidaknya di sana kau bisa beristirahat dan menyusun rencana lebih lanjut sampai kau menemukan tempat yang cocok untukmu sendiri. Jangan khawatir soal risiko, itu sudah menjadi tanggung jawabku karena aku terlibat di dalamnya sekarang."
Air mata bahagia yang tak terduga kembali menggenang di sudut mata Gladys. Ia menatap Adnan dengan pandangan penuh terima kasih yang sedalam-dalamnya.
"Terima kasih, Ad... terima kasih banyak," ucapnya dengan suara tercekat. "Aku minta maaf... sungguh minta maaf karena sudah melibatkanmu dalam masalah seberat ini. Kau seharusnya tidak perlu menanggung semua bahaya ini gara-gara aku."
Adnan tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang mulai haru itu. "Jangan kira semuanya gratis ya," candanya ringan meski tatapannya tetap serius. "Aku juga butuh ganti rugi atas tempat tinggal dan perlindungan ini."
Gladys mengerutkan kening bingung namun penasaran. "Maksudmu?"
"Sebagai fotografer yang sedang membangun nama, aku sangat butuh asisten yang bisa diandalkan," jelas Adnan dengan tatapan yang tulus. "Kau akan membantuku di lokasi syuting, mengurus perlengkapan, mengatur jadwal, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerjaanku. Anggap saja itu sebagai bayaran atas bantuanku. Bagaimana?"
Bukannya merasa terbebani atau tersinggung, wajah Gladys justru seketika berbinar cerah seolah mendengar kabar paling menyenangkan. Senyum tulus yang pertama kali terukir di bibirnya, terlihat begitu manis dan menyejukkan hati.
"Dengan senang hati," jawabnya antusias tanpa ragu sedikit pun. "Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantumu. Aku janji akan menjadi asisten yang rajin dan bisa kau percaya sepenuhnya."
Adnan mengangguk puas. "Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai sekarang juga."
Mereka berdua bangkit dari kursi secara bersamaan, meninggalkan cangkir teh yang tak tersentuh di meja dan berjalan keluar dari kafe yang hangat itu menuju udara luar yang lebih sejuk.
"Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubah penampilanmu sepenuhnya," ucap Adnan saat mereka berdiri di pinggir jalan. Ia segera mengarahkan langkahnya ke sebuah salon penata rambut yang cukup terkenal namun agak tersembunyi di kawasan itu.
Sesampainya di sana, setelah masuk ke ruangan yang bersih dan berpenampilan modern, Adnan langsung menyampaikan permintaannya kepada penata rambut, lalu menoleh ke arah Gladys yang berdiri di dekat cermin besar dengan penuh kecemasan.
"Tolong ubah dia menjadi seperti laki-laki," kata Adnan tegas.
Gladys tersentak hebat, matanya melotot tak percaya mendengar perintah itu. "Menjadi... laki-laki?" ulangnya dengan nada kaget yang nyata. "Maksudmu... memotong rambutku pendek sekali, mengubah gaya berpakaianku seperti pria?"
"Benar," jawab Adnan tenang namun serius, lalu menjelaskan alasannya dengan sabar melihat wajah wanita itu yang penuh kebingungan. "Dengar, Gladys. Ini demi keamanan kita berdua. Jika tetangga atau orang-orang di sekitarku tahu bahwa aku tinggal serumah dengan seorang wanita, mulut-mulut mereka akan mulai berbicara. Mereka akan berbisik-bisik, menebak-nebak, bahkan bisa menciptakan fitnah yang tidak-tidak. Itu akan sangat berbahaya bagi kita karena akan menarik perhatian yang tidak diinginkan dari orang-orang yang sedang kita hindari. Tapi jika kau terlihat sebagai seorang pemuda biasa, teman yang datang berkunjung untuk membantu pekerjaanku, semuanya akan jauh lebih aman dan tenang. Tidak ada yang akan curiga."
Gladys mengangguk perlahan mengerti logika di balik keputusan itu, meski jemarinya masih gemetar menyentuh ujung rambut panjangnya yang indah dan halus, satu-satunya kebanggaan yang dia miliki selama ini. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskan pelan-pelan, memantapkan hati.
"Baiklah," ucapnya akhirnya dengan tekad yang bulat. "Lakukanlah. Apa pun demi keselamatan dan kebebasan ini."
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru