NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dihukum

Thiago mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia menatap Bellatrix yang kini sedang ditarik oleh ayahnya. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dalam dadanya rasa tidak terima, marah, namun di sisi lain, ada rasa penasaran yang teramat sangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terhadap wanita ini.

"Urus putrimu, Duke Volkov," kata Thiago dengan suara yang ditekan sedalam mungkin, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya yang runtuh. "Aku akan kembali ke istana. Dan mengenai masalah pembatalan ini... kita akan membicarakannya lagi setelah pikiran putrimu kembali waras."

Tanpa menunggu jawaban, Thiago berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan jubah yang berkibar kasar.

Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, Duke Volkov langsung melepaskan lengan Bellatrix dan menatapnya dengan pandangan yang sangat kecewa dan tegas.

“Bellatrix Alexandra Volkova. Atas tindakan tidak sopan dan kelancanganmu di depan Putra Mahkota hari ini, Ayah menjatuhkan hukuman padamu," ujar Duke Volkov dengan suara dingin khas seorang jenderal militer. "Kau dilarang keluar dari kamarmu selama dua minggu ke depan! Semua fasilitas mewahmu dicabut, dan kau hanya diizinkan membaca buku-buku etika kekaisaran sampai kau paham bagaimana cara menghormati keluarga kerajaan! Sekarang, kembali ke kamarmu!"

Bellatrix tidak membantah. Ia malah mengulas senyuman puas yang tersembunyi di balik helaian rambutnya. Dikurung di kamar selama dua minggu tanpa harus melihat wajah pangeran menyebalkan itu? Bagi seorang mantan tentara yang menyukai ketenangan, itu bukanlah hukuman, melainkan sebuah hadiah liburan yang sangat mewah.

Hukuman kurungan dua minggu yang dijatuhkan oleh Duke Volkov seharusnya menjadi siksaan berat bagi Lady Bellatrix yang asli. Kamar mewah bernuansa merah marun dan emas itu kini terasa sunyi. Semua pelayan dilarang masuk kecuali untuk mengantarkan makanan tiga kali sehari, dan penjagaan di luar pintu diperketat oleh dua prajurit elit bertubuh kekar.

Namun, bagi Bellatrix yang kini menghuni tubuh itu, ruangan ini adalah surga. Tidak ada latihan fisik jam lima pagi, tidak ada desingan peluru, dan yang paling penting tidak ada Putra Mahkota Thiago yang selalu memicu sakit kepala.

Setelah masuk kedalam kamarnya, tidak lama kemudian, pintu terbuka perlahan dan Duke Volkov masuk, melambaikan tangan memerintahkan penjaga di luar untuk menunggu.

Ia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur dengan raut wajah yang sudah tidak setegas tadi, terlihat lebih lembut namun masih menyimpan rasa khawatir.

"Bella" panggilnya pelan.

Bellatrix menoleh, sedikit terkejut melihat ayahnya datang kembali. "Ayah? Bukankah Ayah baru saja menjatuhkan hukuman padaku?"

Duke Volkov menghela napas panjang, lalu menatap putrinya dengan pandangan penuh kasih. "Ayah datang untuk meminta maaf. Tadi Ayah berbicara dengan nada terlalu keras dan emosional, itu bukan cara yang baik untuk menyampaikan sesuatu. Ayah khawatir, bukan marah padamu."

Ia menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tenang namun tegas:

"Tapi Ayah harus menasehatimu, Nak. Apa pun yang terjadi, kamu harus tetap menjaga sikap dan kesopanan. Orang yang baru saja kamu hadapi itu bukan sembarang orang dia adalah Putra Mahkota, calon penerus takhta Kekaisaran.

Segala perkataan dan perbuatanmu akan selalu dilihat dan dinilai oleh banyak orang, tidak hanya mencerminkan dirimu sendiri, tapi juga nama baik keluarga Volkov."

Bellatrix mendengarkan dengan tenang, tidak menyela.

"Ayah mengerti mungkin ada perubahan dalam dirimu setelah kecelakaan itu, dan Ayah tidak akan memaksamu untuk berpikir sama seperti dulu. Ayah malah senang dengan segala perubahan yang kamu tunjukkan," lanjut Duke Volkov sambil menepuk lembut bahu putrinya.

"Tapi ingatlah ini, Nak. Menjadi bangsawan berarti memikul tanggung jawab. Menunjukkan rasa hormat bukan berarti kalah atau tunduk, tapi itu adalah tanda kematangan dan martabat yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang suatu hari nanti bisa berdiri sejajar dengan pemimpin tertinggi kekaisaran ini. Jangan sampai keinginanmu untuk bebas justru membuatmu terjebak dalam masalah yang lebih besar lagi."

Bellatrix mengangguk perlahan, menyadari maksud baik di balik nasihat itu. "Aku mengerti, Ayah. Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku akan berusaha lebih berhati-hati dan menjaga sikap ke depannya."

Mendengar jawaban itu, raut wajah Duke Volkov melunak sepenuhnya. Ia tersenyum dan mengusap kepala putrinya dengan sayang. "Bagus. Istirahatlah dengan baik selama dua minggu ini. Jika ada apa-apa, panggil saja Ayah. Kita akan membicarakan lagi soal pertunangan itu nanti, dengan kepala yang lebih dingin dan tenang."

Setelah memastikan putrinya dalam keadaan baik, Duke Volkov pun berdiri dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Bellatrix dengan pikiran yang kini lebih jernih.

 

Sore harinya, saat jam makan malam tiba, Duke Volkov duduk di kursi utama bersama Alexander Volkov, putra sulungnya.

Setelah hidangan tersaji, Duke membuka suara perlahan.

"Bellatrix datang ke ruang kerja, dan dia meminta untuk membatalkan pertunangannya dengan Putra Mahkota Thiago, di depan wajah putra mahkota"

Mendengar kalimat itu, gerakan tangan Alexander terhenti sejenak. Ia tidak terkejut, tapi raut wajahnya berubah menjadi lebih lembut, lalu menghela napas panjang seolah melepaskan beban yang selama ini dipikirkannya.

"Kalau begitu..." ucapnya perlahan, matanya menatap piring di hadapannya, "Aku justru merasa lega, Ayah. Bahkan dalam hatiku, aku sudah lama menginginkan hal ini."

Duke mengangkat alis, menatap putranya. "Kenapa kau bilang begitu?"

Alexander mengangkat wajahnya, terlihat jelas kekhawatiran yang selama ini ia simpan.

"Kau tahu bagaimana Bellatrix sebelumnya, Ayah. Sejak pertunangan itu diumumkan, aku melihat dia berubah. Dia terobsesi, menyiksa dirinya sendiri, menangis di balik pintu kamar, membuang waktunya hanya untuk mengejar seseorang yang bahkan tidak mau meliriknya. Setiap kali aku melihatnya, hatiku terasa sesak. Aku hanya berpikir, apakah adikku akan terus hidup seperti itu selamanya? Terluka, tersiksa, dan tidak pernah merasa cukup?"

Ia menelan ludah, suaranya sedikit bergetar menahan perasaan.

"Setelah kecelakaan itu, meski dia berubah banyak, aku justru melihat dia mulai bernapas lega. Dia terlihat tenang, seperti baru menemukan jati dirinya sendiri. Kalau membatalkan pertunangan itu membuatnya tidak lagi terjebak dalam penderitaan yang dia paksakan pada dirinya sendiri... lalu mengapa aku harus tidak setuju? Aku hanya ingin melihat adikku bahagia, hidup dengan tenang, dan tidak lagi merusak hatinya sendiri demi sesuatu yang tidak pernah bisa dia miliki."

Duke Volkov terdiam, menatap putranya dengan pandangan yang penuh pengertian. Ia mengangguk pelan, merasakan betapa tulusnya rasa sayang dan kekhawatiran itu.

"Ayah mengerti, Nak," jawabnya lembut. "Ayah juga tidak ingin melihat dia menderita. Kita hanya berharap dia memilih jalan yang terbaik untuk hatinya sendiri."

Alexander mengangguk, senyum tipis muncul di bibirnya, kali ini terasa lebih tulus. "Ya, Ayah. Selama dia baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku."

 

1
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!