Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lalu Siapa?
Malam itu berakhir dengan Emma yang sama sekali tidak bisa menikmati film yang ditontonnya. Bukan karena Tejo yang selalu heboh dengan semua pertanyaannya tentang alur cerita yang sebenarnya sangat jelas, tapi karena terbayang ekspresi yang ditinggalkan Levi waktu itu. "Apakah dia marah?" "Tapi kenapa?" Bisiknya, membuat Tejo melirik ke arah Emma dengan sorot mata khawatir.
"Mm.... Apakah scors selama sebulan membuat anda stress bu? Atau sedikit gila?" Tejo memutar telunjuknya mengarah kekeningnya.
"Ck ah, orang lagi mikir. Ganggu aja!" Selepet Emma.
Memang raut wajah Levi tidaklah terlalu menakutkan, akan tetapi wajah suram itu cukup membuat Emma merasa perlu meminta maaf.
"Tapi kenapa? Kalau gini kan aku nggak tahu harus minta maaf untuk apa." Pikiran Emma kembali melayang di dekat Levi membuat Tejo kembali mempertanyakan kewarasan atasannya itu.
"Ck, tau ah!"
.
.
.
"Miss, anda diminta datang ke ruang Kepala Sekolah," ucap Martin, salah satu rekan kerja Emma yang mengajar Matematika.
Dengan gontai, Emma berjalan menuju ruang Kepala Sekolah yang berada tepat sebelah ruang Guru. Emma merasa sangat malas berurusan sama si Aren Gentong itu, sekedar menyapa pun malas hingga dia harus memutar balik kalau mengetahui si Aren Gentong berjalan kearahnya.
"Bu Emina, mulai sekarang anda saya tugaskan untuk mengajar ekskul Pramuka," ujar Pak Surya tanpa basa-basi.
"Pramuka? Tapi Pak.... Saya tidak pernah punya pengalaman tentang Pramuka sebelumnya," protes Emma.
"Kamu tidak sendirian Bu Emina, masih ada Pak Martin dan Pak Levi yang sebelumnya sudah mengampu Pramuka."
"Tapi Pak......"
"Lagi pula, diantara semua guru, anda kan yang paling sedikit JP nya. Jadi jangan membantah!"
Emma tahu benar kalau dirinya tidak akan pernah bisa membantah Pak Surya. Tidak seperti atasannya Pak Irwan yang selalu bisa ia bantah dan bentak, kali ini dia tidak mau dipecat.
"Baik Pak," akhirnya Emma menurut dan pergi dari ruangan yang dipenuhi oleh aroma balsem itu.
"Baiklah, ambil hikmahnya. Dengan mengampu Pramuka, aku bisa lebih lama mengamati para gerombolan serigala itu," bisiknya dalam perjalanan menuju Ruang Guru.
Lalu, tanpa sengaja ia melihat Bimo yang baru saja masuk kelas.
"Jam segini baru masuk? Dasar anak badung!" Emma menggelengkan kepalanya.
Namun, terlintas sekilas di pikiran Emma untuk mendekati serigala 1 itu. Menurut Emma, fakta bahwa Bimo adalah sahabat dekat Dion itu sangat mencurigakan dan menganggu.
"Sss..... Korban bully berteman dengan pelaku? Pasti ada alasan dibaliknya. Hmmmm...."
Di tengah lamunannya, Emma dikejutkan dengan tepukan pundak dari seseorang dari arah belakang.
"Pak Levi?"
"Permisi, saya mau masuk..." Ucap Levi kepada Emma yang sedang berdiri cukup lama di depan pintu ruang Guru, menghalangi Levi yang ingin masuk.
"Eh iya maaf, silahkan Pak," jawab Emma terbata-bata.
Namun, Levi tak menjawab seperti biasanya. Senyum yang biasa menghiasi wajah tampannya juga hilang seperti memang Levi dari awal bukanlah orang yang ramah.
Emma ingin sekali menanyakan keadaannya kemarin malam. Kenapa dia sepertinya marah? Kenapa Levi langsung pulang tanpa menonton film? Dan masih banyak yang lain. Namun semua pertanyaan itu bagai tertahan di tenggorokannya, tidak mau keluar. Dan Emma hanya bisa menatap punggung Levi yang semakin menjauh.
.
.
.
Siang hari sekitar pukul satu, Emma sengaja datang ke sekolah lebih awal sebelum ekskul Pramuka dimulai. Ketika ia memasuki gerbang sekolah, ia melihat Bimo yang menjadi incarannya sedari pagi hari, berjalan sendirian memasuki area Aula.
Bergegas ia menyusulnya dan mendekatinya, walaupun sebenarnya Emma tidak benar-benar tahu alasan apa yang hendak ia pakai untuk mendekati Bimo. Namun ia sebisa mungkin terlihat natural.
"Hai Bimo..." Sapanya ketika keduanya sudah sampai ke Aula.
Tanpa menjawab, Bimo meletakkan tasnya begitu saja dilantai dan duduk sembari memainkan HPnya di pinggir depan Aula.
"Ehem," Emma berdeham. Ia memang tidak berekspektasi tinggi dengan rencananya mendekati Bimo.
"Tumben sendirian, mana temanmu yang lain?" Emma ikut duduk di pinggiran Aula dengan jarak lima meter dari Bimo.
Namun Bimo masih saja diam, bahkan dia melirik tak senang dengan kehadiran Emma yang seenaknya menyapanya.
"Miss kalau nggak ada kerjaan mending pergi kemana gitu...." Mulut lantam Bimo memang sangat-sangat menyebalkan. Tapi Emma harus menahan emosinya kan?
"Apa kalian bertengkar? Nggak biasanya kamu sendirian." Emma meneruskan kelakuan seenaknya itu. Sekalian saja dia tambah keabsurdannya, sudah terlanjur ini.
"Bukan urusan Miss," singkat Bimo, masih memainkan HPnya.
"Ya, benar sih... Itu bukan urusanku," Emma mengangguk berpura-pura setuju. "Cuma...." Emma menambahkan," Miss dimintai tolong sama Pak Levi untuk menjagamu."
Entah kenapa kebohongan itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Emma.
"Pak Levi? Meminta Miss?" Tanya Bimo. Ada sepercik ketakutan dari mimik wajah yang dikeluarkan oleh Bimo. Itu membuat Emma terkejut.
"Kenapa? Aku nggak lagi berbuat salah kok. Kenapa Pak Levi bilang gitu?" Mendadak keringat dingin keluar dari kening Bimo, sepertinya dia benar-benar ketakutan.
"Ah.. tidak, mungkin beliau khawatir sama kamu saja Bim, santai saja," ucap Emma.
Bukannya tenang, Bimo malah semakin was-was. Dia bahkan meraup wajahnya berulang kali dan matanya menatap nanar lantai.
"Beneran bukan aku miss..." Katanya tiba-tiba.
"Kamu nggak bohong?" Emma berpura-pura mengetahui arah pembicaraannya.
"Iya, beneran bukan aku. Bahkan aku sama sekali nggak ketemu Dion pagi itu."
Perkataan Bimo membuat Emma mencelos. Tidak disangka, dia akan mendengar keterangan darinya tentang Dion.
"Benarkah?" Emma memancing Bimo untuk bercerita lebih lanjut.
"Iya, aku mencarinya kemana-mana tapi nggak ketemu. Sampai... Sampai kejadian itu terjadi," Bimo menceritakannya dengan suara bergetar sedikit ingin menangis.
"Kamu mencarinya? Untuk apa?" Tanya Emma lagi.
"Karena dia menghilang dan tidak menjawab chatku selama dua hari," jawab Bimo.
"Apa? Menghilang? Dua hari?" Emma benar-benar terkejut.
"Loh, bukannya Pak Levi sudah memberitahu Miss? Makanya Pak Levi meminta Miss mengawasiku?"
Bimo berhenti berbicara karena curiga dengan Emma yang tidak tahu apa-apa.
"Oh itu... Pak Levi cuma nyuruh mengawasi kamu sih..." Ucap Emma.
Sebenarnya Emma merasa ada yang tidak beres dengan keterlibatan Levi di kasus ini. Mengapa Bimo mengira Levi mengawasinya? Untuk apa Levi mengawasinya? Walapun Levi adalah wali kelasnya, tapi pembicaraan yang langsung mengarah ke Dion ini sangat janggal.
"Apakah Pak levi mencurigaimu Bim?"
Hanya satu jawaban yang terpikirkan oleh Emma saat itu. Mungkin saja Levi sedang menyelidiki tentang kasus yang sedang menimpa salah satu muridnya.
"Mencurigaiku? Ya mungkin... Setidaknya itu yang terlihat. Pak Levi selalu menanyakan sesuatu yang sudah jelas. Aku sudah mengatakannya berulang kali, tapi dia menanyakannya lagi dan ....lagi," kalimat Bimo terhenti ketika mereka melihat Levi yang sedang berjalan santai menuju kearahnya.
"Miss juga harus berhati-hati. Pak Levi itu sangat mampu berpura-pura seperti ...... Orang baik?" Ucap Bimo pelan.