Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.
Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?
Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.
NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertua Zora Heran
Setelah Jono pergi dari rumah Aditya, Zora kembali melanjutkan menyelesaikan lukisannya yang sempat tertunda karena kedatangan Jono. Kali ini dia sudah lebih lega karena akhirnya Jono bisa mengerti dengan situasi yang serba tidak enak itu, karena akhirnya memang menyimpan kebenaran itu, menurut mereka adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan walau Jono menjadi orang yang merasa dirugikan.
Jono pulang ke kosannya dengan hati yang galau tetapi dia juga tidak bisa memaksa Zora untuk meninggalkan suami sahnya, Aditya. Dia sadar sekarang bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki. Dia berusaha mengikhlaskan semuanya, yang dia harapkan sekarang adalah kebahagiaan Zora dan anak yang ada di dalam kandungannya.
Di sela-sela kesibukannya, Aditya kembali meraih ponselnya dan menghubungi Zora dengan panggilan video. Akhirnya masuk juga. “Halo, sayang!” Suara Zora menyapa Aditya.
“Hi, tadi HP lagi mati ya? Telepon rumah juga gak diangkat, lagi di luar ya?” Aditya langsung melayangkan 2 pertanyaan sekaligus.
“Sayang, bukannya nanya kabar dulu!” Zora mengingatkan suaminya.
“Hehehe, iya, iya, apa kabar sayang?” Aditya sambil senyum-senyum menanyakan kabar istrinya.
“Saya baik, mas. Mas apa kabar?” Zora balik bertanya.
“Baik, lagi ngapain?” Aditya menanyakan pertanyaan yang berbeda, bukannya dia tidak mengingat bahwa pertanyaannya tadi di awal belum dijawab, tetapi dia tidak mau terlalu memaksa Zora menjawab pertanyaannya, dia tahu Zora tidak mau menjawab pertanyaannya. Kalau Zora tidak menjawab, itu artinya apa yang terjadi sehubungan dengan pertanyaannya tidak terlalu penting menurut Zora.
“Aku sedang melukis mas, membunuh rasa bosan karena di rumah sendiri. Tapi aku senang kok, kalau sedang melukis, aku merasa lebih bergairah, imajinasiku bisa melayang-layang ke manapun yang aku inginkan, hehehe.” Zora menjawab dengan panjang lebar kemudian memperlihatkan lukisan yang sedang dia lukis di kanvas besar itu.
“Bagus loh, sayang. Pasti banyak yang menginginkan lukisan itu jika kau berniat menjualnya.” Aditya memuji lukisan yang dibuat Zora, dan mengusulkan agar Zora menjualnya.
“Aku belum terlalu percaya diri, mas. Tidak usah dijual saja, aku berencana memenuhi rumah ini dengan lukisan-lukisan hasil karyaku sendiri. Mas tidak keberatan kan?” Zora menolak dengan halus usul suaminya. Dan seolah-olah harus mendapatkan izin dari suaminya, Zora meminta izin kepada Aditya untuk memajang hasil lukisannya di rumah mereka.
“Lah, kenapa harus meminta izin, itu kan rumahmu juga, rumah kita, sayang!” Aditya mengingatkan Zora dengan lembut. “Malah aku akan sangat senang jika rumah kita dipenuhi dengan lukisan-lukisanmu, semangat ya, sayang, melukisnya. Tapi jangan lupa waktu, kalau sudah lelah atau lapar, istirahat dulu, jangan lupa menjaga kesehatan!” Aditya menyemangati sekaligus mengingatkan istrinya agar tetap memperhatikan kesehatannya, apalagi sekarang Zora sedang hamil, dia tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada Zora dan bayi yang ada di rahimnya.
“Terima kasih, sayang. Aku pasti akan jaga kesehatan. Kau juga harus jaga kesehatan di sana. Jangan terlalu diforsir kerjanya!” Zora balas mengingatkan suaminya.
“Iya, sayang!” Aditya membalas singkat sambil mengangkat jempolnya ke arah kamera. “Ok, sayang, lanjutkan melukisnya, ya. Kalau ada apa-apa jangan menunda untuk kasih tahu, ya!” Aditya ingin mengakhiri percakapan mereka. Dia sudah lega karena tahu istrinya dalam keadaan baik-baik saja dan kini mulai melukis lagi.
“Baik, terima kasih sayang, sudah menelpon. Bye!” Zora melambai-lambaikan tangannya ke arah kamera.
“Sama-sama, sayang. Bye!” Aditya membalas lambaian tangan istrinya.
Setelah Aditya mengakhiri panggilannya, ada panggilan masuk di ponsel Zora dari ibu mertuanya. Zora mengangkatnya dengan hati yang was was. “Selamat siang bu!” Zora berusaha menjawab dengan sangat lembut.
“Siang, tolong kirim alamat rumah!” Ibu mertuanya memerintahkan Zora dengan sedikit berteriak.
“Baik bu, saya akan kirimkan lewat pesan.” Zora masih menjawab dengan lembut perintah ibu mertuanya yang angkuh itu.
“Ok, jangan lama-lama ya, saya tunggu nih!” Mertuanya masih saja memerintah seenaknya. Tidak hanya itu, setelah mengatakan kalimat perintah itu, dia langsung mematikan panggilannya.
"Apa gak bisa bicaranya tidak seangkuh itu, ya?" Zora bertanya pada diri sendiri. Ingin Zora tidak mengirimkan alamat rumah mereka karena keangkuhannya itu, tapi dia tidak mau dituduh lagi ingin menjauhkan hubungan ibu mertuanya itu dengan anaknya sendiri, Aditya, suaminya. Kemudian Zora langsung mengirimkan alamat mereka.
Tidak beberapa lama, suara bel yang dipencet dari tembok gerbang rumahnya berbunyi. Zora bergegas ke depan untuk membukakan gerbang rumahnya. Dia menebak jika yang datang adalah mertuanya, karena baru meminta alamat rumahnya.
Setelah terbuka, Zora melihat mobil Alphard Hitam keluaran terbaru masuk. Perempuan paruh baya yang ada di dalam mobil itu sedikit terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Dia belum percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Dia ragu jika dia memasuki rumah yang salah. Kemudian dia keluar dari mobil itu, dan matanya tertuju pada Zora yang kini menyambutnya.
“Halo bu, apa kabar?” Zora menanyakan kabar mertuanya itu sambil berusaha ingin memeluk dan mencium ibu mertuanya itu. Namun ibu mertuanya menolak dipeluk Zora, rasa heran dan kagumnya tadi dikuburnya dan menampilkan sikap angkuhnya kembali. Zora yang diperlakukan demikian hanya bisa mengalah. ‘Paling juga dia tidak betah di rumah ini!’ Pikirnya dalam hati.
“Aditya di mana?” Ibu mertuanya malah menanyakan keberadaan anaknya.
“Mas Aditya sedang di Singapura, bu. Mari masuk dulu, kita berbincang di dalam saja!” Zora menjawab dengan lembut dan mengajak ibu mertuanya untuk masuk ke dalam rumah.
“Loh, kenapa kamu tadi tidak kasih tahu jika Aditya ada di Singapura?!” Ibu mertuanya marah kepada Zora.
“Tadi ibu tidak tanya, kan? Terus ibu sendiri yang mematikan panggilan tadi.” Zora berusaha mengingatkan mertuanya dan membela diri.
“Alah, kamu ya, tahunya menyalahkan orang tua.” Mertua Zora menyerang balik. “Ngapain dia ke Singapura?” Kembali dia menanyakan perihal Aditya anaknya, dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan Zora, tidak sedikitpun dia menanyakan tentang keadaan menantunya itu.
“Dia sedang mengurus bisnis, bu.” Zora dengan sabar meladeni pertanyaan-pertanyaan mertuanya walaupun dia sudah sangat dongkol dengan mertuanya itu.
“Bisnis?” Ibu mertua Zora menaikkan suaranya sambil mengerutkan keningnya, dia tidak percaya Aditya kini punya bisnis di Singapura. Kalau Aditya sudah punya bisnis di Singapura berarti memang mereka sudah benar-benar kaya sekarang. Pantas jika kini mereka memiliki rumah semewah ini.
“Iya, bu, bisnis.” Zora menjawab pelan dan penuh kehati-hatian. Zora melihat perubahan raut wajah ibu mertuanya itu. Zora puas jika mertuanya itu menunjukkan wajah yang tidak percaya dan terkejut. Dia penasaran apa lagi yang hendak dikatakan mertuanya itu. Zora sebenarnya ingin tertawa, tetapi dia menahannya.
“Oh, pantas kalian sudah lupa dengan orang tua. Kalian lupa dengan keluarga kalian. Mentang-mentang kalian sudah kaya ya!” Ibu mertuanya masih saja menyalahkan Zora dan Aditya. Dia tidak ingat kalau dialah yang tidak mau dihubungi oleh Zora dan Aditya. Setiap kali mereka berusaha menelepon, dia tidak pernah mau mengangkatnya. Bertahun-tahun dia tidak mau mengangkat telepon dari Zora dan Aditya. Dia tidak sadar jika hal itu yang membuat Zora dan Aditya tidak pernah lagi mau menghubunginya, karena percuma saja, mereka tidak akan pernah dijawab. Namun lama-lama, dia merasa kangen juga dengan Aditya, pernah ingin dia menelpon anaknya itu, namun diurungkannya, hatinya sangat keras, dia mau mengajar Aditya bahwa dia tidak bisa dilawan. Itu mengapa dia akhirnya mengangkat panggilan Zora setelah 10 tahun tidak pernah berkomunikasi. Dia penasaran juga dengan keadaan Zora dan Aditya, hanya karena penasaran saja, untung saja Zora menghubunginya saat itu, kalau tidak, tidak mungkin dia menelpon duluan.
“Bukannya lupa bu, tapi...” Zora berusaha membela diri.
“Halah, sudahlah, tidak usah banyak alasan.” Ibu mertua Zora menghentikan pembelaan Zora. Dia mengambil bungkusan yang sedari tadi dipegang supir di sebelah kanannya. “Ini, saya bawa makanan, silakan dimakan, ini bukan buat kamu ya, jangan ge-er dulu, ini buat anak yang ada di kandunganmu.” Ibu mertua Zora masih dengan keangkuhannya sambil menyerahkan bungkusan itu kepada Zora.
“Terima kasih, bu.” Zora menerima bungkusan itu dengan perasaan geli. Dia heran mengapa ibu mertuanya ini sangat angkuh. Dia sebenarnya kasihan karena ibu mertuanya ini tidak tahu menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang benar.
Tanpa mempedulikan ucapan terima kasih Zora, ibu mertuanya pergi ke arah mobil dan memberikan kode ke supirnya agar mereka segera beranjak dari tempat itu.
Jangan lupa tinggalkan jejak sebelum lanjut...😉 Jangan lupa vote, like, dan komentarnya. Bang Otom love you all! 💛💛💛
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
⭐⭐⭐⭐⭐
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
🌹🌹🌹🌹🌹
⭐⭐⭐⭐⭐
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
bikin ngeri 😂😂😂