Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Penyelidikan yang Berbeda
Anjas mulai melakukan penyelidikan secara digital. Apalagi kalau bukan lewat sosial media kedua korban.
"Untung saja akunnya nggak di-private," gumam Anjas saat menemukan akun sosial media bernama Honey_HaniSweets milik korban pertama.
Anjas terus menggulir layar ponselnya mencari apa saja yang bisa dijadikan petunjuk. Dia membuka matanya lebar-lebar. Dengan teliti dia melihat satu per satu postingan Hani. Anjas menemukan foto-foto wisuda Hani. Anjas meneliti dengan seksama satu per satu wajah yang ada di foto wisuda Hani. Tak ada Nadia disana.
Anjas mencoba mencari nama Nadia di daftar pertemanan akun sosial media Hani. Tak ada Nadia.
Anjas beralih ke akun sosial media Nadia dan melakukan hal yang sama untuk mencari jejak Hani. Sama seperti akun Hani. Nihil.
"Mereka tak saling berkaitan?" gumam Anjas.
Tiba-tiba, Anjas teringat Misty. Dia mencoba mencari akun sosial media Misty. Disana hanya ada postingan soal buku tulisannya dan quote-quote dari penulis ternama.
"Tak ada petunjuk," gumam Anjas sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kemudi mobilnya dan terus menggulir layar ponselnya.
Jari Anjas berhenti di satu foto yang Misty unggah. Sebuah foto cover novel best-sellernya saat peluncuran perdananya. Yang mencuri perhatian Anjas bukan foto yang Misty unggah, melainkan caption yang menyertainya.
Finally, my first novel is released. Makasih buat support kalian selama ini.
"Kalian? Rachel dan?" Anjas berpikir sejenak memikirkan siapa 'kalian' yang dimaksud Misty.
"Rachel," guman Anjas sambil memikirkan sahabat Misty itu. Kedua alisnya mengerut, mengingat kejanggalan tentang Rachel. Ada kengerian dalam hati Anjas saat memikirkan kemungkinan terburuk dari asumsinya.
Anjas menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir pikirannya tentang wanita bernama Rachel. Dia merogoh buku catatan kecilnya dan membaca kembali apa yang sudah dia tulis disana.
"Kedua korban bukan teman kuliah," gumam Anjas sambil mencoret salah satu poin catatannya. Anjas terdiam sejenak. Berpikir.
"Tunggu..."
Seperti mengabaikan detail kecil, Anjas kembali menyelami akun sosial media Hani dan mencari foto wisudanya.
"Aku terlalu fokus mencari hubungan kedua korban sampai melewatkan fakta menarik ini," guman Anjas sambil memperbesar salah satu foto dimana Hani berfoto bersama kedua orangtuanya.
Anjas baru menyadari bahwa Hani adalah putri seorang mantan anggota dewan di pemerintahan, Hendratmo Atmojo. Hal ini membuat Anjas semakin bingung.
"Dia putri orang yang cukup berpengaruh. Kenapa dia tinggal di apartemen kelas menengah?" gumam Anjas.
Anjas kemudian membaca caption foto itu.
Terimakasih atas kehadiran Papa dan Mama. Maaf, Hani sudah banyak merepotkan selama ini. Kalian selalu ada untuk Hani, terlebih saat Hani berada di titik paling rendah. Terimakasih, Pa, sudah menyelamatkan Hani waktu itu. Love you so much.
Mata Anjas terpaku pada satu kata yang mengganggunya.
"Menyelamatkan?" gumam Anjas.
Ponsel Anjas bergetar. Satu pesan singkat masuk. Anjas mengerutkan kedua alisnya saat membaca pesan singkat itu. Untuk pertama kalinya, setelah kasus pembunuhan di unit dua kosong lima itu terjadi, Anjas merasakan kelegaan dan ketakutan di waktu yang sama.
Mungkin saya sendiri yang menulis naskah itu.
***
"Saya sudah menyelidiki latar belakang kedua korban," kata Gerry, salah satu anggota penyelidikan kasus unit dua kosong lima, pada Arga.
"Sepertinya ini bukan kasus yang mudah," komentar Gerry membuat Arga mengernyit.
"Keduanya terlihat tak berhubungan sama sekali," kata Gerry mulai menjelaskan hasil penyelidikan.
"Terlihat?" tanya Arga. Gerry mengangguk.
"Anda seharusnya tahu, korban pertama, Hani, adalah putri mantan anggota dewan, Hendratmo Atmojo," kata Gerry. Arga mengerutkan kedua alisnya.
"Lalu?" tanya Arga masih bingung. Gerry menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada orang lain di sekitar mereka.
"Saya dengar Pak Roy mengatakan, 'Apa mungkin kasus ini ada kaitannya dengan kasus Tuan Hendratmo?' pada Pak Dani," kata Gerry dengan nada setengah berbisik. Arga semakin mengerutkan kedua alisnya.
"Kasus Tuan Hendratmo? Kasus apa?" tanya Arga. Gerry kembali menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Pak Roy mengatakan lagi pada Pak Dani, 'Seharusnya penyelidikan tabrak lari itu dibuka lagi,'," kata Gerry.
"Tabrak lari?" tanya Arga. Gerry mengangguk.
"Saya mencari di ruang arsip tentang kasus yang melibatkan nama Tuan Hendratmo. Tapi saya tak menemukan apapun," kata Gerry.
"Lalu saya mencari tentang kecelakaan lalu lintas dan menemukan kasus tabrak lari yang janggal," lanjut Gerry.
"Janggal?" tanya Arga. Gerry mengangguk.
"Penyidik waktu itu Pak Roy dan Pak Dani. Sepertinya mereka sengaja menghilangkan beberapa bukti agar penabraknya tak diketahui. Dalam arsip hanya dilaporkan tentang kondisi korban. Tak ada informasi apapun tentang penabraknya," kata Gerry. Arga menaikkan kedua alisnya, tak percaya.
"Jangan bilang..."
Gerry mengangguk.
"Kemungkinan yang menabrak ketiga korban memiliki hubungan dekat dengan Tuan Hendratmo karena Pak Roy secara khusus menyebut namanya," kata Gerry. Arga mengerutkan kedua alisnya.
"Hubungan dekat?" gumam Arga. Gerry mengangguk.
"Bisa jadi... korban pertama pembunuhan ini, Hani, adalah penabraknya," kata Gerry. Kedua alis Arga terangkat. Dia tidak menyangka bawahannya akan menyimpulkan hal itu.
"Sepertinya Tuan Hendratmo meminta bantuan Pak Roy dan Pak Dani waktu itu untuk menutupi kasus ini. Ini baru dugaan saya," lanjut Gerry.
"Lalu bagaimana kondisi ketiga korban tabrak lari itu?" tanya Arga.
"Dalam arsip, dinyatakan dua di antaranya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Satu korban selamat dengan luka yang cukup parah dan trauma yang berat sehingga mengakibatkan korban mengalami amnesia sementara," jelas Gerry. Arga mengerutkan kedua alisnya.
"Kapan tabrak lari itu terjadi?" tanya Arga.
"Dua puluh Mei, sepuluh tahun yang lalu," jawab Gerry. Arga berpikir sejenak.
"Kalau mereka tahu korban saling berkaitan dan merujuk pada kasus masa lalu, mengapa mereka tidak meminta kita menyelidiki orang-orang yang mungkin terkait dengan korban tabrak lari itu?" tanya Arga.
"Anda jelas tahu alasannya, Pak," kata Gerry.
"Hal itu akan menyeret nama mereka sendiri selaku penyidik yang bertanggung jawab saat itu," kata Arga, lebih kepada dirinya sendiri. Gerry mengangguk.
Arga terdiam beberapa saat, berpikir. Kasus yang menurutnya berat, kini menemukan sedikit titik terang.
"Selidiki orang-orang terdekat korban, keluarga, teman, siapapun. Gali informasi sedalam-dalamnya. Kita butuh membuka kembali apa yang lama terkubur," perintah Arga pada Gerry.
"Siap, Pak!" kata Gerry mantap.
"Ingat," kata Arga menghentikan langkah Gerry yang sudah siap melangkah meninggalkan ruangan Arga.
"Ya, Pak?"
"Selidiki diam-diam. Lawan kita bukan cuma tersangka melainkan juga dua petugas penyidik ulung," kata Arga mengingatkan. Gerry berdiri menghadap Arga dengan sikap hormat lalu keluar ruangan dengan mantap.
Arga duduk di kursi kerjanya. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil melihat berkas penyidikan di atas mejanya.
"Dua kosong lima," gumamnya saat melihat foto nomor unit apartemen dan kamar hotel tempat kedua korban ditemukan.
"Tabrak lari... Sepuluh tahun yang lalu... Dua kosong lima..." Arga bepikir sejenak.
Angka dua kosong lima seolah-olah berputar-putar di otak Arga. Arga mengambil pulpen dan buku catatan kecilnya lalu membuat sebuah coretan.
2 0 5
2.05
Mata Arga sedikit menyipit.
20.5
'Dua puluh Mei?,'
***