Tembus pandang, ahli pengobatan, dan kekuatan tiada tara adalah sepasang mata dewa.
Menjadi buta demi membangkitkan kekuatan mata dewa membuat Ivan begitu menderita.
Namun semuanya terbayar setelah Ivan mendapatkan mata dewa yang sinarnya menembus kegelapan.
Gadis-gadis cantik perlahan jatuh hati kepadanya.
Bagaimana kelanjutannya dapat di baca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12 SISA MATERIAL
Orang-orang juga begitu yakin ketiga batu pilihan Julia pasti ada giok di dalamnya. Julia sendiri juga begitu semakin yakin dengan pilihannya.
"Bos, aku beli tiga batu ini, berapa totalnya?" tanya Julia kepada Jordi.
"Satu batu seharga 500 juta, tiga batu harganya 1 milyar 500 juta," jawab Jordi dengan bersemangat.
Julia juga mengeluarkan ponselnya dan membuka m-banking nya untuk membayar ketiga batu tersebut, tapi tiba-tiba saja Ivan menghentikannya.
"Julia, kamu tidak perlu terburu-buru membayarnya," ujar Ivan.
Seketika perkataan Ivan ini menarik perhatian semua orang.
"Kamu siapa, apakah kita saling kenal sebelumnya?" balas Julia bertanya.
Ivan seketika sedikit merasa kecewa karena ternyata Julia tidak mengingatnya. Tapi Ivan juga sadar dahulu dirinya bukanlah siapa-siapa.
"Ehem, nona Julia, lebih baik kamu tidak usah membeli batu itu, tidak ada giok di dalamnya," balas Ivan.
Ivan tidak ingin Julia kehilangan duitnya begitu saja untuk membeli batu yang kosong.
"Siapa anak muda ini, aku baru pertama kali melihatnya, bisa-bisanya dia dengan santai mengatakan batu tersebut zonk," ujar pria berkumis.
"Aku baru pertama kali melihatnya di tempat ini, mungkin dia pemain baru, amatir sepertinya menasehati nona Julia yang sudah berpengalaman, bukankan ini sangat lucu sekali," ujar pria berkacamata.
"Aku bahkan berani sunat dua kali, penampilan luar ketiga batu ini jelas menandakan ada giok di dalamnya, bisa-bisanya amatiran seperti dirinya mengatakan bahwa batu itu kosong," ujar pria dengan tompel di pipi kanannya.
Julia juga mulai mengerutkan keningnya yang menandakan dirinya juga tidak suka dengan perkataan Ivan ini.
"Kamu tidak perlu menasehati ku, apalagi menggurui ku," ujar Julia kepada Ivan tidak mau ambil pusing.
"Ting!" terdengar bunyi notifikasi m-banking.
Julia juga telah melakukan pembayaran atas tiga batu yang di pilihnya senilai 1 milyar 500 juta.
Menyadari Julia sama sekali tidak mendengarkan dirinya, Ivan juga hanya bisa menghela nafasnya, setidaknya dirinya sudah mengingatkannya.
Kemudian seorang pria petugas toko yang bekerja sebagai pemotong batu juga datang dengan membawa alat potong gergaji listrik.
"Tolong potong ketiga batu milikku ini!" pinta Julia kepada petugas.
Petugas juga mengambil batu yang pertama dan bersiap untuk memotongnya.
"Sayang sekali 1.5 milyar di buang begitu saja," ucap Ivan.
"Tuan, dari tadi saya hanya diam saja, jika tuan seperti ini, ini sama saja mengganggu bisnis saya," Jordi juga merasa risih terhadap Ivan.
"Bos, tidak perlu kamu pedulikan, biarkan saja!" ujar Julia.
Petugas juga mulai memotong batu yang pertama secara perlahan. Orang-orang di sana juga sudah tidak sabar melihat isi di dalamnya.
Sesaat kemudian, terjadilah sesuatu yang di luar perkiraan orang-orang. Terlihat batu itu telah terbelah, akan tetapi sama sekali tidak ada giok di dalamnya.
"Apa..." orang-orang di sana termasuk dengan Julia dan Jordi seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Batu yang pertama di belah hanyalah batu kosong yang tidak berharga seperti yang di katakan oleh Ivan. Ivan sendiri hanya mengeluarkan sedikit senyuman di sudut bibirnya.
Petugas juga mulai memotong batu yang kedua secara perlahan. Sama seperti yang pertama, ternyata batu yang kedua juga tidak terdapat giok di dalamnya.
"Kedua batu itu kosong, sama seperti yang di katakan pemuda itu," ujar pria berkumis.
"Hanya tinggal satu batu lagi yang tersisa, apa mungkin itu juga kosong?" ujar pria berkacamata.
"Masak iya juga kosong, ini tidak mungkin, petugas cepat potong saja, aku tidak percaya," ujar pria dengan tompel di pipi kanannya mulai menjadi panik karena perkataannya sebelumnya tentang sunat dua kali.
Julia sendiri tampak terdiam dengan kedua batu miliknya yang ternyata sama sekali tidak berharga.
Petugas pemotong juga mulai memotong batu yang ketiga dengan perlahan. ini adalah batu yang terakhir, sehingga membuat orang-orang begitu penasaran.
Sesaat kemudian, batu tersebut juga telah terpotong terbelah menjadi dua bagian. Terlihat pada batu tersebut sama sekali tidak giok di dalamnya.
"Batu yang ketiga juga kosong, sulit di percaya, semua seperti yang di katakan oleh pemuda itu, uang 1.5 milyar terbuang percuma saja," ujar pria berkumis.
"Sebenarnya siapa pemuda ini, apa benar dia hanya seorang amatiran, kemampuannya barusan lumayan hebat," ujar pria berkacamata.
"Mati aku, jika harus sunat dua kali, bukankah akan habis, lalu apa gunanya aku menjadi pria, lebih baik pura-pura gila saja," ujar pria dengan tompel di pipi kanannya dengan nada yang pelan lagi lirih.
Julia juga tampak tertegun dan terdiam. Dirinya sudah memeriksa dan menilai ketiga batu itu dengan sangat teliti, tapi hasilnya justru ketiga batu itu hanyalah batu sampah.
"Aku telah salah menilai, ternyata kemampuanku masih belum cukup," ucap Julia dalam hati.
Jordi pemilik dari toko judi batu ini juga menjadi canggung, tapi berusaha untuk tetap tenang.
"Namanya juga judi batu, ada menang ada kalah, tampaknya nona Julia hari ini masih belum beruntung," ujar Jordi.
Jika mau menyalahkan, maka Julia harus menyalahkan dirinya sendiri yang salah menilai batu, pikir Jordi.
"Kamu sebenarnya siapa, sebelumnya kamu mengatakan bahwa aku hanya buang-buang uang saja, dan ternyata kamu benar, ketiga batu itu sama sekali tidak berharga?" tanya Julia kepada Ivan yang penasaran.
"Namaku Ivan," jawab Ivan sambil tersenyum.
"Penglihatan ku hanya lebih tajam dari kebanyakan orang pada umumnya," sambung Ivan.
Ivan kemudian mendatangi Jordi dan mengatakan bahwa dirinya akan membeli batu.
"Silahkan tuan pilih saja yang anda suka!" ujar Jordi.
Ivan kemudian maju dan memandang tumpukan-tumpukan batu di sekelilingnya. Sekilas kilauan cahaya terlihat di kedua matanya. Mata dewa Ivan mengeluarkan kemampuan tembus pandangnya.
"Hampir semuanya hanyalah batu kosong, ada beberapa yang berisi, tapi isinya begitu kecil, pantas saja membuka toko seperti ini cepat sekali kayanya," ucap Ivan dalam hati.
Kemudian pandangan Ivan mulai mengarah pada tumpukan bongkahan pecahan batu yang berceceran di lantai.
"Ini..." Ivan melihat ada yang istimewa pada pecahan batu di lantai tersebut.
"Bos, berapa harga batu yang di sana?" tanya Ivan kepada Jordi.
"Maaf tuan, itu adalah material sisa potongan batu yang terkumpul selama berbulan-bulan, kami belum sempat membuangnya, material batu tersebut tidak kami jual," jawab Jordi.
"Apa aku tidak salah dengar, pemuda ini mau membeli material sampah, apa dia sudah tidak waras, mana mungkin ada giok di dalamnya?" ujar pria berkumis.
"Material sisa adalah sampah batu yang telah di sortir beberapa kali dengan begitu teliti, dapat di pastikan itu semua sama sekali tidak berharga, di kasih gratisan juga tidak mau," ujar pria berkacamata.
"Batu seperti itu fungsinya hanya satu saja, hanya untuk membuat pondasi rumah, atau untuk melempar anjing saja," ujar pria dengan tompel di pipi kanannya.
"Haha..." mereka bertiga juga mulai menertawakan Ivan.
Julia sendiri justru semakin penasaran dengan alasan Ivan menginginkan batu material sisa tersebut. Semua itu tidak terlepas dari kejadian sebelumnya, dimana Ivan dapat mengetahui ketiga batu miliknya.
"Dasar bodoh, lihat saja, aku akan mendapatkan harta karun dari sana," pikir Ivan.
"Bos, katakan saja harganya, aku mau membelinya?" tanya Ivan kepada Jordi.
"Apa orang ini bodoh atau gimana ya, dari pada di buang percuma, lumayan bila bisa di jadikan uang," ucap Jordi dalam hati.
"Karena tuan begitu menginginkannya, maka saya juga hanya bisa menjualnya, begini saja, satu batunya aku jual 500 ribu saja," jawab Jordi.
"Baik, sepakat," ujar Ivan.