Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Labirin Kebohongan di Lantai Lima
Lantai lima Hotel Shinhwa terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda dari kemeriahan ballroom di bawah. Koridor panjang ini dilapisi karpet tebal bernuansa merah marun yang meredam setiap langkah kaki, sementara lampu dinding berpendar temaram, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mencurigakan. Sunyi. Terlalu sunyi untuk sebuah hotel yang sedang menggelar perayaan ulang tahun konglomerat terbesar di Seoul.
Cha Jin-wook melangkah keluar dari lift pribadi dengan rahang yang mengencang. Langkah kakinya lebar dan tegas, memancarkan aura dominasi yang biasa ia bawa ke ruang sidang direksi. Pikirannya terfokus pada laporan pelayan tadi—retas data terkait Ilsung Group bukanlah perkara sepele. Sebagai perusahaan yang baru saja diakuisisi, setiap celah keamanan bisa menjadi peluru bagi musuh-musuhnya untuk menjatuhkan nilai saham Cha Corporation.
Ia berhenti di depan pintu ruang pertemuan nomor 502. Tanpa ragu, Jin-wook mendorong pintu kayu ek berat itu terbuka.
Namun, pemandangan di dalamnya sama sekali tidak mencerminkan sebuah ruang rapat darurat.
Tidak ada tumpukan dokumen, tidak ada tim ahli teknologi informasi yang panik, dan tidak ada pamannya, Cha Tae-sung. Di tengah ruangan yang harum oleh aroma esensial mawar yang pekat, hanya ada Min Chae-rin. Wanita itu berdiri membelakangi jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Seoul di bawah guyuran sisa gerimis.
Chae-rin tidak lagi mengenakan gaun formalnya yang kaku. Ia kini mengenakan gaun satin tipis berwarna hitam yang melekat ketat di tubuhnya, memperlihatkan siluet yang sengaja dirancang untuk menggoda. Di tangannya, sebotol anggur merah vintage yang sudah terbuka bergoyang perlahan.
"Di mana paman?" tanya Jin-wook, suaranya sedingin es di kutub utara. Ia bahkan tidak melangkah masuk lebih dari dua babak dari ambang pintu.
Chae-rin membalikkan tubuhnya, mengukir senyuman manis yang tampak begitu artifisial di mata Jin-wook. "Pamanmu sedang sibuk memastikan tidak ada satu pengawal pun yang naik ke lantai ini selama tiga puluh menit ke depan, Jin-wook ya."
Jin-wook mendengus sinis, matanya memancarkan kilatan muak yang amat sangat. "Kau memalsukan laporan peretasan data hanya untuk trik murahan seperti ini, Min Chae-rin? Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu."
Saat Jin-wook berbalik untuk pergi, Chae-rin dengan cepat meletakkan gelasnya dan berlari kecil, menghadang pintu. Wanita itu menempelkan punggungnya di daun pintu, menatap Jin-wook dengan mata yang berkaca-kaca—sebuah akting frustrasi yang bercampur dengan obsesi yang mendalam.
"Mengapa kau selalu sekaku ini padaku?!" suara Chae-rin meninggi, bergetar menahan emosi. "Lima tahun lalu, kita adalah pasangan yang paling dikagumi di kota ini! Kita setara, Jin-wook! Kita memiliki darah murni dari keluarga konglomerat! Mengapa kau membatalkan pertunangan kita hanya karena kesalahan kecil, lalu memilih wanita bekas seperti Han Ji-an?!"
Jin-wook melangkah maju, memberikan tekanan intimidasi yang begitu kuat hingga Chae-rin tanpa sadar menahan napasnya. Jarak mereka kini sangat dekat, namun tidak ada sedikit pun romansa di mata Jin-wook. Hanya ada kebencian yang murni.
"Kesalahan kecil?" Jin-wook berbisik, namun suaranya terdengar lebih menakutkan daripada bentakan. "Menyuap dewan direksiku untuk membocorkan rahasia dagang Cha Group kepada perusahaan ayahmu... kau sebut itu kesalahan kecil? Min Chae-rin, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak pernah mencintaimu, bahkan sejak hari pertama kakekku menjodohkan kita. Kau hanyalah ambisi yang berkedok seorang wanita."
Chae-rin tertawa getir, air matanya menetes merusak riasan matanya yang mahal. "Lalu bagaimana dengan Han Ji-an? Apa yang dia miliki yang tidak kumiliki? Dia wanita mandul yang diusir oleh keluarga kelas dua seperti Ilsung! Dia tidak punya latar belakang, tidak punya kekuatan!"
"Dia memiliki hatiku," potong Jin-wook tanpa ragu, setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai belati yang menusuk langsung ke harga diri Chae-rin. "Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau beli dengan seluruh saham Hotel Shinhwa."
Wajah Chae-rin berubah menjadi distorsi kemarahan yang mengerikan. "Kalau begitu, mari kita lihat... apakah hatimu itu tetap berfungsi saat istrimu yang tercinta melihat ini!"
Dengan gerakan cepat yang tidak terduga, Chae-rin maju dan melemparkan tubuhnya ke dada Jin-wook, melingkarkan lengannya di leher pria itu dengan paksa. Pada saat yang sama, ia sengaja menarik tali gaun satinnya hingga melorot di satu sisi bahunya, menciptakan ilusi visual yang sangat intim. Dari sudut langit-langit ruangan, sebuah kamera tersembunyi yang dipasang oleh orang suruhan Cha Tae-sung berkedip merah, merekam setiap detik adegan tersebut untuk segera dikirimkan ke ponsel Han Ji-an dan media massa.
Jin-wook mengerang marah. Ia mencengkeram pergelangan tangan Chae-rin dengan kasar, berniat menyentakkan wanita itu menjauh hingga tak peduli jika ia harus menyakitinya.
BRAKKK!
Pintu ruang pertemuan hancur terbuka sebelum Jin-wook sempat menggunakan kekuatannya.
Di ambang pintu, berdiri Han Ji-an.
Gaun malam biru safirnya yang berpotongan mermaid tampak berkilau di bawah lampu koridor. Rambutnya yang hitam legam sedikit berantakan karena ia berlari menaiki tangga darurat, namun tidak ada satu pun gurat ketakutan atau kerapuhan di wajah cantiknya. Sebaliknya, sepasang mata indahnya menatap pemandangan di dalam ruangan dengan ketenangan yang mematikan—ketenangan seorang ratu yang sedang melihat tikus tanah mencoba merusak tamannya.
"sayang..." Jin-wook berbisik, ada secercah kepanikan yang jarang terjadi di wajahnya. Pria tangguh itu takut istrinya salah paham. Ia segera menyentak Chae-rin hingga wanita itu terhuyung dan jatuh ke atas sofa beludru. "Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku—"
"Aku tahu, sayang," potong Ji-an dengan suara yang sangat lembut, merdu, namun sarat akan otoritas mutlak.
Ji-an melangkah masuk ke dalam ruangan. Suara ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai kayu yang tidak tertutup karpet terdengar seperti jam hitung mundur kematian bagi rencana Min Chae-rin. Ia berjalan melewati Jin-wook, bahkan sempat mengusap lengan suaminya dengan lembut seolah memberi tahu bahwa kepercayaannya tidak akan pernah goyah oleh trik murahan seperti ini.
Ji-an berhenti tepat di depan Min Chae-rin yang sedang sibuk membetulkan tali gaunnya dengan wajah yang berubah pucat.
"Direktur Min," Ji-an menunduk, menatap wanita konglomerat itu dari ketinggian posisinya yang berdiri tegak. "Tiga tahun lalu, aku menghabiskan waktu di rumah keluarga Kang, memperhatikan bagaimana wanita-wanita murahan mencoba mendekati mantan suamiku dengan cara yang persis seperti ini. Jadi, percayalah padaku saat aku mengatakan... aktingmu ini bahkan tidak layak masuk babak eliminasi drama kelas bawah."
"Kau...!" Chae-rin berdiri dengan geram, mencoba menampar wajah Ji-an.
Namun, tangan Ji-an bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Chae-rin di udara dengan kekuatan yang tidak terduga dari tubuh rampingnya. Ji-an mendekatkan wajahnya, tersenyum dingin yang membuat bulu kuduk Chae-rin meremang.
"Jangan pernah mencoba menyentuhku dengan tangan yang kotor ini," bisik Ji-an. "Kau pikir aku tidak tahu tentang kamera tersembunyi di sudut ruangan itu? Atau tentang paman Jin-wook yang sedang menunggu di ruang monitor?"
Ji-an melepaskan cengkeramannya dengan sentakan yang membuat Chae-rin kembali terduduk. Ji-an kemudian meraba saku blazer Jin-wook, mengambil ponsel suaminya, lalu menyalakan sebuah rekaman suara yang baru saja ia rekam semenjak melangkah ke lantai lima. Di dalam rekaman itu, terdengar jelas suara pelayan hotel yang mengaku bahwa ia dibayar oleh Cha Tae-sung untuk menjebak Jin-wook ke lantai atas.
"Bukti ini, ditambah dengan rekaman kamera pengawas yang sudah diambil alih oleh tim keamanan pribadiku semenjak lima menit lalu, akan sangat menarik jika diserahkan kepada dewan komisaris besok pagi, bukan?" Ji-an melirik ke arah kamera tersembunyi di langit-langit, lalu melambaikan tangannya dengan anggun. "Selamat malam, Wakil Presdir Cha Tae-sung. Kuharap kau menikmati tontonan ini dari ruang monitormu."
Ji-an berbalik, menatap Jin-wook yang kini memandangnya dengan binar mata yang dipenuhi rasa cinta, kekaguman, dan gairah yang semakin membuncah. Pria itu benar-benar terpesona melihat bagaimana istrinya mengeksekusi musuh mereka tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.
"Ayo pulang, sayang. Anak-anak pasti sudah merindukan kita," ucap Ji-an manis, mengubah ekspresi dinginnya menjadi senyuman hangat yang biasa ia berikan hanya untuk suaminya.
Jin-wook tidak menjawab. Ia melangkah maju, melingkarkan lengannya di pinggang Ji-an dengan sangat posesif, lalu menarik wanita itu keluar dari ruangan, meninggalkan Min Chae-rin yang berteriak histeris di dalam kamar yang sunyi, meratapi kekalahannya yang memalukan untuk kedua kalinya.
Di dalam lift pribadi yang bergerak turun menuju basemen, keheningan yang intens mendadak tercipta. Jin-wook tidak melepaskan cengkeramannya di pinggang Ji-an. Ia justru membalikkan tubuh istrinya hingga punggung Ji-an membentur dinding lift yang dilapisi cermin berlapis emas.
"Jin-wook ya?" Ji-an mendongak, sedikit terkejut oleh intensitas gerakan suaminya.
Jin-wook menatap Ji-an dengan pandangan yang begitu pekat, seolah ingin menelan wanita itu bulat-bulat. Napasnya yang hangat berembus di wajah Ji-an. "Kau benar-benar luar biasa malam ini, Han Ji-an. Berani-beraninya kau mengabaikan perintahku untuk tetap di bawah, hmm?"
"Aku hanya ingin melindungimu..."
"Aku tidak butuh dilindungi, Ji-an," bisik Jin-wook parau. Jemari besarnya naik, menyelipkan anak rambut Ji-an ke belakang telinga, lalu mengusap bibir merah muda istrinya dengan ibu jari. "Tapi melihat bagaimana kau mengklaim kepemilikanmu atas diriku di depan wanita itu... itu membuatku gila. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi."
Sebelum lift sempat mencapai lantai basemen, Jin-wook membungkam bibir Ji-an dengan sebuah ciuman yang sangat intens, panas, dan penuh dengan gairah yang menuntut. Ciuman kali ini tidak memiliki kelembutan; ada rasa lapar yang murni dari seorang pria yang mendambakan wanitanya seutuhnya. Ji-an mendesah pelan di dalam tautan mereka, mengalungkan lengannya di leher tegap Jin-wook, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi suaminya yang memabukkan.
Di bawah pendar lampu lift yang bergerak turun, malam itu bukan lagi tentang konspirasi atau balas dendam. Malam itu sepenuhnya milik Nyonya dan Tuan Cha yang cintanya semakin terbakar di tengah badai yang mencoba memisahkan mereka.
Rencana Cha Tae-sung hancur berantakan, namun serigala tua itu belum mengeluarkan kartu as terakhirnya. Sementara itu, romansa Ji-an dan Jin-wook akan memasuki babak baru yang lebih intim di rumah mereka.
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️