Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Pertahanan Yang Hampir Goyah
Sael kembali menatap Aeros serius, memahami kalimat pria itu. Alisnya berkerut tipis, menganggap permintaan Aeros agak tidak biasa.
"Sebenarnya aku udah bawa berkasnya," ucap Aeros meyakinkan lagi.
Sael mengembuskan napas pendek, lalu menyibak selimutnya. Ia turun dari ranjang, membuat Aeros reflek menahan napas saat mencium aroma manis yang menguar dari tubuh gadis itu. Sael berjalan santai ke arah meja kerjanya, menarik kursi putar di sana, lalu menatap Aeros yang masih bersandar di tepian meja.
"Ya udah, mana berkasnya?" tanya Sael, mendongak menatap Aeros.
Aeros mengerjapkan mata. "Sebentar, aku ambil dulu di mobil."
Dengan langkah cepat, Aeros keluar dari kamar Sael, turun dan mengambil map tebal di dalam mobilnya. Ketika ia kembali ke atas, ia mendapati Sael sudah menyalakan lampu meja, menguncir rambut panjangnya asal-asalan hingga menyisakan beberapa anak rambut di tengkuknya yang putih bersih.
𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘧𝘰𝘬𝘶𝘴, 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴. 𝘍𝘰𝘬𝘶𝘴, rutuk Aeros dalam hati.
Aeros menarik kursi belajar cadangan dari sudut kamar dan duduk di sebelah Sael.
"Ini berkas kerja sama dengan pihak ketiga, dan yang ini draf kontrak buat staf administrasi baru," kata Aeros, membuka map tebal itu dan menjajarkannya di atas meja.
Sael langsung memakai kacamata baca berbingkai tipis yang jarang ia tunjukkan di luar rumah penampilan itu sukses membuat Aeros menelan ludah.
Sael membolak-balik kertas dengan teliti, jemari lentiknya sesekali mengetuk meja, sementara bibirnya bergumam membaca setiap kalimat.
"Poin nomor empat di draf kontrak ini agak riskan, Kak," ujar Sael tiba-tiba, memutar kursinya sedikit menghadap Aeros hingga lutut mereka nyaris bersentuhan. "Hak kekayaan intelektual resep kafe kamu belum dikunci dengan kuat di sini. Kalau staf administrasi ini keluar dan bocorin ke kompetitor, kamu bakal susah nuntutnya."
Aeros mendengarkan, tapi fokusnya pecah. Separuh otaknya mendengar ucapan Sael, sementara separuhnya lagi sibuk mengagumi bagaimana bibir Sael bergerak dan bagaimana seriusnya gadis ini saat bekerja.
"Lalu bagusnya gimana?" tanya Aeros, suaranya melembut tanpa sadar.
"Harus ditambah klausul 𝘕𝘰𝘯-𝘋𝘪𝘴𝘤𝘭𝘰𝘴𝘶𝘳𝘦 𝘈𝘨𝘳𝘦𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵 yang lebih spesifik, terus denda penaltinya dinaikkan..." Suara Sael perlahan mulai melambat.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. Sael yang memang sudah kelelahan setelah seharian penuh di kantor, mulai merasakan matanya memberat.
Sael mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menghalau kantuk yang menyerang. Ia membetulkan posisi kacamatanya yang melorot. "Terus... buat berkas yang... yang ini..."
𝘉𝘶𝘬.
Kepala Sael tiba-tiba terkulai lemas, jatuh tepat di atas tumpukan berkas milik Aeros. Kacamatanya sedikit miring di hidungnya. Napasnya berubah menjadi lebih teratur.
Aeros membeku di tempatnya. Suasana kamar mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan helaan napas lembut Sael.
Aeros mengulurkan tangannya, dengan hati-hati ia melepas kacamata dari wajah Sael dan meletakkannya di meja.
Aeros kemudian menopang dagunya dengan satu tangan, memiringkan kepalanya memandangi wajah tidur Sael. Di bawah lampu meja, Sael terlihat begitu damai. Rambutnya yang berantakan, pipinya yang sedikit tertekan di atas kertas, semuanya terlihat begitu menggemaskan di mata Aeros.
"Tidurnya kayak bayi begini," bisik Aeros lirih, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
Tangan Aeros bergerak, menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi pipi Sael dengan ujung jarinya.
Kulit Sael terasa begitu halus. Jantung Aeros kembali berdetak kencang. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk mengecup dahi gadis itu, namun Aeros segera menarik tangannya kembali. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 ... 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩, batinnya memperingatkan diri sendiri.
Dengan helaan napas berat, Aeros bangkit berdiri. Ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan tengkuk Sael, lalu mengangkat tubuh Sael yang seringan kapas.
Sael sempat melenguh kecil, menyurukkan kepalanya ke dada Aeros untuk mencari posisi nyaman, membuat Aeros sempat menahan napas karena syok.
Aeros membaringkan Sael di atas ranjang dengan sangat perlahan, lalu menarik selimut tebal hingga sebatas dada gadis itu. Setelah memastikan Sael tidur dengan nyaman, Aeros kembali ke meja kerja, merapikan semua berkasnya ke dalam map, dan mematikan lampu meja.
Sebelum melangkah keluar, Aeros berbalik sekali lagi di ambang pintu, menatap Sael yang tertidur pulas.
"Mimpi indah, Sael," bisiknya pelan, sebelum akhirnya menutup pintu kamar dengan rapat.