Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melayani Suami
"Perempuan itu belum bangun juga," gumam Widitama sembari menggulir layar gawai di tangannya.
Sepasang matanya yang dilindungi kacamata dengan bingkai tipis sesekali menoleh ke arah pintu kamar. Tapi tak ada tanda-tanda Amaia akan membuka pintu tersebut. Padahal semalam dia tidak membuat perempuan itu kelelahan. Ya, Widitama tak menyentuhnya.
Dia memang menginginkan Amaia, tapi tidak untuk memaksakannya. Berusaha menahan diri dan bersabar adalah keputusan yang telah dia buat. Namun, Amaia sekarang membuatnya agak kewalahan. Karena begitu tumbuh menjadi gadis dewasa, Amaia benar-benar merepotkan dan tahu cara melawan.
Seringai Widitama terlukis setelah menyesap kopi paginya. Sejujurnya dia suka melihat Amaia berani menjawab atau melawan. Karena itu diperlukan sewaktu-waktu untuk menyikapi orang-orang seperti Rakha dan mamanya.
"Kita akan berangkat sekarang, Pak Widi? Pesawat akan take off satu jam lagi." Edgar yang sudah datang ke unit akhirnya bicara setelah sekian detik.
Widitama beranjak setelah mengunci layar tablet digital dan menyerahkan pada Edgar. Dalam sekejap, kemeja hitamnya sudah tertutup jas.
"Mas Widi!"
Suara itu membuat langkah kedua pria tersebut tertahan di depan lift foyer. Tiba-tiba Amaia datang dengan wajah kantuk setengah jengkel. Wajahnya benar-benar tak ramah seperti hari yang telah lewat.
"Turun duluan, Gar. Saya mau bicara dulu dengannya," titah Widitama. Edgar segera patuh.
Sesaat setelah Edgar menghilang di balik pintu lift, Amaia tak sungkan mendekati sang suami. Pagi-pagi begini Widitama harus meladeni kemarahan Amaia. Padahal ia harus berangkat ke Surabaya untuk mengecek progres proyek pembangunan komplek perumahan perusahaan keluarganya.
Tentu saja sebagai Direktur Operasional yang sangat dipercaya sang ayah, Widitama tak hanya menyibukkan diri di kantor. Namun, ia tetap turun ke lapangan untuk memantau jalannya proyek. Hal seperti ini yang membuat Ferdian kini berada di pihaknya, alih-alih di pihak Rakha.
Namun, Widitama tak boleh senang. Karena Rakha bisa sajau muncul dan membuat gebrakan baru.
"Ayo bicara! Jangan menunda-nunda terus," kata Amaia.
"Nanti. Saya harus ke Surabaya. Kamu tunggu saja saya pulang. Banyak pekerjaan yang harus saya tangani dan itu penting." Widitama menekankan kalimatnya.
"Jadi, menurut kamu, janji yang waktu itu kamu katakan nggak penting?"
Widitama mengedikan bahu. "Jangan cerewet, Mai Kecil. Kalau tetap saya bicara tentang hal itu, ikuti saja perkataan saya. Sekarang jangan ganggu saja dulu."
"Mas ...." Amaia berkata lirih. Sepertinya suda sangat lelah menghadapi sikap Widitama.
Semalam pria itu tak langsung membeberkan semua hal yang diketahuinya tentang Rakha dan Sasti. Juga tentang rencana pribadi yang dia maksud waktu itu. Amaia memang menunggunya di kasur. Tapi Widitama langsung menjatuhkan tubuh ke kasur dan terlelap.
Kini Widitama mengerti mengapa Amaia terlihat sangat marah.
"Kamu denger nggak?" Amaia setengah ketus.
Pria bertubuh kekar itu menghela napas. Ia meraih kedua bahu Amaia dan mengangkat tubuh mungilnya. Amaia menjerit saat Widitama mendudukkan tubuhnya ke atas meja foyer. Lengan kekar Widitama menjebak tubuh Amaia saat menekan telapak tangan ke permukaan meja. Sementara Amaia memundurkan kepala saat jarak wajahnya dengan Widitama cukup dekat.
"Saya nggak akan lupa dengan janji itu, Amaia," ucap Widitama, "jadi jangan berisik. Saya pasti akan mengatakannya."
"Kamu cuma mengulur waktu."
"Setelah kamu tau kebenarannya, apa yang akan kamu lakukan? Melabrak mereka semua? Kamu harus menyusun rencana dengan matang untuk membalas mereka." Widitama sedikit berbisik.
Tak ada tanggapan dari Amaia.
Diamnya Amaia membuat Widitama tersenyum tipis. "Kamu cukup dengarkan saya dan jangan bertingkah. Mengerti?"
"Kalau aku nggak mau?"
"Saya buat kamu melayani saya setiap saat. Setiap saya menginginkan ...." Widitama mendekatkan bibirnya ke telinga Amaia. "Tubuhmu."
Gadis kurus itu refleks mendorong tubuh Widitama. Decak jengkel terdengar dari bibir tipisnya yang kemerahan. Amaia melompat turun dari meja dan bergegas meninggalkan sang suami.
"Kalau tetap bersikap seperti ini, saya benar-benar harus melatih kamu agar bisa melayani suamimu dengan benar!" Widitama berseru.
"Diam!" Amaia berteriak seraya menutup keras pintu kamar.
Widitama terkekeh puas setelah menggoda istrinya.
*****
Terik matahari Surabaya menyambut kedatangan Widitama. Ia turun dari SUV hitam yang menjemputnya di bandara dam dikendarai seorang sopir. Suara mesin ekskavator bersahut-sahutan. Truk pengangkut material berlalu-lalang di jalan tanah yang masih dipenuhi debu. Dia dan Edgar berdiri tak jauh dari gerbang proyek.
Seorang pria paruh baya berhelm putih bergegas menghampiri. Lantas Widitama meminta helm proyek putih dan rompi keselamatan untuk dikenakan. Ia tak sabar untuk berjalan-jalan mengecek progres proyek tersebut. Ferdian dan Dipo—Direktur Utama Tedjasukmana Property—mempercayakan semua itu padanya.
Ya, saat ini kursi Dirut tidak sedang kosong. Kursi itu masih dipercayakan oleh Ferdian kepada sahabat lamanya. Namun, karena sebentar lagi Dipo akan lengser dan mengalu usianya sudah tak kuat lagi menanggung banyak beban pekerjaan, maka Ferdian bersama komisaris lain dan pemegang saham akan mempercayakan kursi itu pada salah satu di antara anak-anaknya.
Saat ini, Widitama adalah kandidat terkuat. Apalagi setelah Rakha menghilang tanpa kabar.
Widitama berjalan pelan tanpa mengalihkan pandangan dari deretan rumah yang sedang dibangun.
"Langsung saja ke progres proyek, Pak Irfan. Bagaimana?" tanya Widitama.
Irfan si manajer proyek terkekeh canggung. "Baik, Pak. Semuanya berjalan lancar."
Mereka berjalan memasuki area proyek.
Tepat di hadapan mereka berdiri puluhan unit rumah yang sebagian sudah selesai dicat, sementara sebagian lain masih berupa struktur beton. Widitama berhenti, keningnya mengernyi. Ia meminta tablet digital pada Edgar.
Widitama membuka benda itu. "Laporan terakhir yang saya terima minggu lalu menyebut progres keseluruhan mencapai tujuh puluh dua persen."
"Ya, seperti itu, Pak Widi."
Sepasang mata Widitama teralihkan pada pria kurus itu. "Sekarang?"
Dengan sedikit gugup, Arman berkata, "Tujuh puluh lima persen, Pak."
Sepasang kaki Widitama yang tadinya sudah berjalan lagi, mendadak berhenti. Ia mengangkat kepala, beralih pandang dari tablet digital. "Jadi cuma naik tiga persen?"
Sepertinya Irfan langsung tahu nada datar itu pertanda buruk. "Seharusnya minggu ini kita sudah menyentuh delapan puluh persen."
Kedua mata Widitama memejam sejenak. "Tadi Anda bilang semuanya lancar. Lalu kenapa sekarang progresnya hanya naik tiga persen saja?"
"Maaf, Pak Widi, tapi kendala utama ada di pengiriman material dari pemasok baja ringan. Mereka terlambat sepuluh hari dan alasannya distribusi dari gudang pusat mereka mengalami hambatan," jelas Irfan.
Widitama merasa ada yang tidak beres. Entahlah, insting bisnisnya selalu tepat di saat seperti ini. Dia menyipitkan mata saat menatap pekerja di depanya. "Saya akan bicara sengan mereka. Tak pernah mereka seperti ini selama bekerjasama dengan kita. Lain kali, laporkan lebih cepat kalau ada keterlambatan seperti ini, Pak Irfan."
Sang bawahan mengangguk dan menunduk meminta maaf. "Kami berencana akan mengajukan surat komplain resmi, Pak."
"Jangan." Singkat. Tapi tak ada siapa pun yang berani memprotes.
Rombongan para pria itu kembali berjalan menyaksikan area pembangunan lain. Widitama menyerahkan gawai kepada Edgar yang setia di sisinya.
Ia berhenti lagi dan menatap Edgar. "Hubungi Procurement. Mulai besok cari alternatif vendor."
Irfan menimpali. "Kalau ganti vendor sekarang, biayanya mungkim sedikit lebih tinggi, Pak Widi."
Ucapan Irfan memang ada benarnya. Namun, ayahnya yang ambisius dan ingin segera proyek berjalan sesuai target, pasti akan setuju dengan ide tersebut.
Widitama melepas rompi dan helm proyek, lalu menyerahkan pada Irfan. "Lebih mahal dua miliar atau terlambat dua bulan?"
Sepasang mata Irfan berbagi tatap dengan Edgar, lalu beberapa orang lainnya. Dia berkata yakin, "Terlambat dua bulan."
Seringai Widitama terlukis. "Bagus."
Sesaat setelah berkeliling mengawasi proyek, Widitama hendak kembali dengan Edgar. Rencana makan siang adalah pilihan yang tepat. Namun, Edgar berhenti di ambang pintu mobil, mencegah langkah Widitama yang hendak masuk.
"Kenapa?"
"Ada laporan dari orang kita, Pak Widi." Edgar mengarahkan layar ponsel kepada bosnya. "Pak Rakha terlihat di Bali hari ini."