NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12.

Byur...

"Aaaaahhh...!"

"Tolooong...!"

Seorang siswi perempuan terjatuh ke dalam kolam tanpa kendali. Gemericik air terciprat sana sini. .

Ia menjerit histeris, saat pertama kali air menyentuh kulitnya. Sensasi gatal menjalar ke seluruh tubuhnya.

Sensasi perih pada mata membuatnya tak berdaya. Gerakannya yang asal membuat air kolam tak sengaja tertelan.

Tak ada yang berani mendekat. Semuanya hanya bisa menjadi penonton dalam senyap. Semua orang menjauh, semua orang ketakutan, karena mereka paham jika air kolam itu telah dicampur racun mematikan.

"Jes, lo harus lakuin sesuatu! Lena dalam bahaya..." Angela mendesak tegas, tapi penuh ketakutan.

"Gue udah telfon ambulans, lo jagain dia, gue ada perlu" ucap Jessy cepat. Ia berlari secara sembunyi dengan wajah pucat pasi.

Seorang siswa berbadan gempal secara diam-diam menabur serbuk penawar ke dalam kolam. Hingga tak lama kemudian, beberapa petugas medis berbondong-bondong datang.

"Lenaaa... Ayo bangun...! Lo denger gue...? Lo mesih kuat kan Lena...?"

"Lenaaa...!" Angela menjerit histeris ketika temannya mulai melemah. Diam-diam ia mengepalkan kedua tangannya. "Sialan lo Jessy! Dasar iblis betina...!" umpatnya dalam hati.

Lena memandang sekitar dengan derita. rasa lemas dan pusing mulai mendera. penglihatan mengabur, rasanya ia ingin tertidur. Hingga kekuatannya habis tak tersisa. Efek racun merampas kesadarannya.

Dua orang tim medis melakukan evakuasi, sebelum sang korban benar-benar tenggelam menyentuh dasar.

...****************...

"Momon, tadi itu..." jarinya menunjuk ke arah kericuhan di sana. Rombongan tim medis membawa korban mulai nampak dari kejauhan.

"Pulang!"

"Tapi, tadi itu..."

Langkahnya terhenti sejenak, ketika tim medis melewatinya dengan siswi perempuan yang terbaring lemah di atas brankar. beberapa rombongan siswa mengikuti dari belakang, entah karena beneran peduli atau sekedar menjawab rasa penasaran.

"Ayo!"

Mohan menuntun pelan gadis disampingnya. Ia tau semuanya, ia paham, rencana busuk mereka sudah terbaca di otak pintarnya. Dalam hati ia merasa lega karena Naysilla berhasil selamat, walau sempat hampir terlambat.

"Bentar dulu"

Masih dengan pandangan yang sama. Matanya kembali mengikuti gerak gerik tim medis yang hendak memasuki mobil ambulans. Bunyi sirine kembali meraung di udara, tanpa jeda

"Udah Na!" ucap Mohan lembut. Ia kembali menggenggam jemari lentik gadis itu, lantas menyeretnya pelan ke arah asrama.

"Lho, kita mau kemana Momon... Kamu mau ajak aku bolos yah?" ucapannya dengan wajah berbinar. Seakan-akan kenakalan adalah hiburan untuknya.

"Balik" jawabnya datar.

"Nggak ke kelas dulu?" matanya berkedip-kedip cepat, jelas sekali raut penasaran dan rasa ingin tahunya meluap-luap tak tertahankan.

"Nggak"

"Kenapa?" ia pandangi serius wajah Mohan dari bawah. Ekspresi datar, dingin, tak tersentuh dengan fokus mata yang selalu teralih darinya.

"Capek"

"Tapi gue bosen di kamar mulu ih...!" Naysilla melepaskan tautan tangan mereka. memutar tubuhnya ke samping, berniat hendak kembali ke kelasnya tapi seketika sebuah tangan kekar kembali menggapainya.

"Sama gue" ucapnya dingin. Ia kembali menggenggam tangan gadis itu. Menyatukan kembali tautan yang sebelumnya terbebas, semakin erat, dan sulit terlepas.

"Eh, eh, Momooon...! Pelan-pelan..."

"Sorry" ia melonggarkan cengkraman, tapi tetap tidak mau melepaskan.

Sampai ketika kaki berada tepat didepan pintu kamarnya, tapi ia dipaksa terus melangkah melewatinya.

"Lho, kita kelewat Momon. Kamarku ada di sebelah sana. Kamu lupa yah?" protes Naysilla dengan langkah terburu, mengikuti langkah Mohan yang lebar-lebar tapi tetap tenang.

"Masuk Na!" pintanya cepat. Ia mendorong halus pundak gadis itu, lantas menutup pintu secepat yang ia mampu. Ia menguncinya dari luar, membiarkan gadis itu terkurung di kamarnya sendirian.

"Momon... Buka pintunya Momon...!"

Samar-samar terdengar teriakan dari dalam. Ia tau, gadis itu tengah dilanda kepanikan. Ia kirimkan pesan sebagai penenang. Lantas kembali melangkah dengan satu tujuan.

Keadaan di dalam...

Ting...

"Gue ada perlu, lo lebih aman disitu. jangan keluar! Lakuin yang lo suka, nanti gue balik"

Naysilla menghentikan aksinya setelah membuka pesan dari Mohan. Ia melangkah lunglai dengan wajah menggerutu. Di kepalanya banyak sekali pertanyaan yang akan sia-sia jika dilontarkan. Ia memilih nurut dan diam.

"Apalah si Momon itu, benar-benar seperti manusia robot. Dingin, kaku, tapi banyak aturan.

Ia menghentikan langkahnya ketika berjalan melewati kaca, dan tak sengaja melihat pantulan dirinya

"Ya ampun, gue baru sadar dari tadi belum ganti baju" ucapnya terkekeh geli. Ia menutup wajahnya yang dihiasi semburat merah. Pantas saja, sedari tadi cowok itu terus memaksanya cepat pulang dan enggan menatapnya.

"Ngga nyaman juga pake baju renang tapi ngga renang. pake baju Momon dulu nggak apa-apa kali yah"

Ia membuka lemari baju cowok itu, menatap deretan pakaian yang tertata rapi dengan di dominasi warna biru dan hitam. Pilihannya jatuh pada kaos oversize polos warna biru.

"Gue nggak pernah pake baju kayak gini, tapi cocok juga, lucu. Hihihi..."

Ia mematut diri di depan cermin. Kaos berwarna biru ini terlihat manis dan cocok di kulitnya. Panjangnya sebatas paha, terlihat seperti memakan tubuh mungilnya, menutupi celana pendeknya.

Setelah mendapatkan kenyamanan, ia lantas kembali duduk manis di sofa.

Terlalu lama sendirian tanpa kegiatan, apalagi di tempat yang asing baginya. Membuatnya dilanda kebosanan yang amat parah. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa, hingga lamat-lamat tertidur lelap.

...****************...

"Bawa balik ke kamarnya!" pinta seseorang melalui telepon.

"Baik tuan muda" jawabnya terkesan ramah. Olivia mendekap dua buah tas sekaligus dengan wajah menggerutu. Ada semburat perasaan iri dan cemburu pada nasib baik orang lain.

Setiap langkah terasa berat baginya. sepatunya tanpa sengaja menginjak daun kering, sampai remuk tak berbentuk. Ia memungutnya, menerbangkan setiap serpihan patah, sampai tak tersisa.

Persis seperti mimpinya yang hancur, bahkan ketika ia belum mulai merajutnya. Keinginannya, cita-citanya, dan mimpinya telah patah oleh nasib buruk yang mengikutinya.

"Setidaknya ada yang menganggap aku derajatnya lebih tinggi dari dia" batinnya.

Ia memasuki pintu kamar VVIP tanpa susah payah. Karena sebelumnya ia sudah diberikan akses masuk.

Mendaratkan bokongnya di sofa empuk, menikmati kemewahan yang bukan miliknya. "Setidaknya aku bisa merasakan ini semua. Nikmati apa yang masih bisa di nikmati" batinnya.

"Aku nggak jahat, aku nggak ngaku-ngaku. tapi mereka sendiri yang menganggapku sebaik ini" ia tersenyum bangga dalam hati atas kemenangan yang tanpa sengaja ia raih.

Bagai seorang pencuri yang diam-diam menjarah istana orang lain. Ia berkeliling, memakai apapun yang bisa dipakai. Menikmati apapun yang bisa dinikmati.

Rasa puas sementara membuat ia buta. Ia memakan sepotong kue dengan tangannya langsung, tanpa sempat mencuci tangan, tanpa memperhatikan ada serbuk biru yang menempel di jarinya.

Ding-dong

Kakinya melangkah cepat ketika tanda bel dibunyikan. Ia membuka pintu dengan segera, menemui sejumlah orang asing dengan wajah murka.

"Maaf, ada perlu apa yah?" ucapnya lembut sekali. Ia memasang wajah polos, tersenyum tipis dibalik rasa takutnya.

"Tuh kan, udah dibilang ini kamar Olivia, bukan kamar si jalang"

Dalam hati, Olivia tersenyum penuh kemenangan. kemenangan yang hanya sementara, karena sesudahnya ada rasa tak nyaman di area mulutnya.

Sensasi panas terbakar yang menjalar sampai tenggorokan sungguh meyiksa. Ia menatap tangannya yang masih tersisa jejak biru. Takut, panik, rasanya ia ingin menangis.

"Serbuk tembaga sulfat...?"

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!