we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 para tetua
Pria bertopeng itu mundur beberapa langkah.
Namun semuanya sudah terlambat.
BOOOOOOM!!!
Cahaya emas menghantam tubuhnya secara langsung.
“ARGHHHHH!”
Tubuhnya terpental seperti daun diterpa badai.
Topeng hitamnya retak.
Darah menyembur dari mulutnya.
Ia menghantam beberapa lapis dinding sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
Seluruh anggota organisasi membelalakkan mata.
“Apa yang terjadi?!”
“Siapa yang menyerang?!”
“Apakah Tetua Agung sudah kembali?!”
Tidak ada yang bisa menjawab.
Karena tidak seorang pun menemukan sumber serangan tersebut.
Di luar cermin—
We Lin hanya menghela napas.
“Cermin ini benar-benar rusak.”
Menurutnya, semua itu hanyalah gangguan gambar.
Tiba-tiba sebuah layar transparan muncul di hadapannya.
[SELAMAT]
[Pengguna berhasil membantu Organisasi Rasi Bintang]
[Hadiah diterima]
[Cermin Mata Dewa telah aktif]
We Lin menatap tulisan itu beberapa saat.
Kemudian mengusap dahinya.
“Lagi-lagi sistem aneh itu.”
“Padahal aku tidak melakukan apa-apa.”
Saat itu retakan di bingkai cermin mulai bersinar.
Cahaya emas perlahan berkumpul di tengah permukaan kaca.
Lalu...
Muncul sebuah mata emas.
Mata itu terbuka perlahan.
Menatap langsung ke arah We Lin.
“...”
Suasana toko mendadak sunyi.
Beberapa detik kemudian suara mekanis terdengar.
"Pengguna baru terdeteksi."
"Memulai sinkronisasi..."
"1%..."
"2%..."
We Lin langsung mengernyit.
“Berisik.”
"...”
Suara itu berhenti.
Tulisan sinkronisasi langsung menghilang.
Beberapa saat kemudian muncul tulisan baru.
[Perintah diterima]
[Mode Diam Diaktifkan]
[Otoritas Pengguna: Tertinggi]
“Nah.”
We Lin mengangguk puas.
“Begini lebih baik.”
Ia lalu meletakkan cermin itu di atas meja kasir dan kembali merapikan etalase.
Sementara itu...
Di pojok toko.
Tetua Morcant yang sedang tidur tiba-tiba mengernyit.
"Hm...?"
Mata tuanya terbuka sedikit.
Untuk sesaat ia merasa ada sesuatu yang sangat aneh muncul di dalam toko.
Perasaan itu membuat jantungnya berdebar.
Namun rasa kantuk masih jauh lebih kuat.
Ia melihat We Lin yang sedang sibuk menyusun kalung.
Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
“Ah... mungkin cuma mimpi.”
Tetua Morcant menarik selimutnya.
Lalu membalikkan badan.
Beberapa detik kemudian—
Ngorrr...
Suara dengkuran kembali terdengar.
Di saat yang sama...
Jauh dari Kota London.
Di sebuah markas rahasia yang tersembunyi di balik pegunungan.
Puluhan layar kuno yang telah mati selama ribuan tahun tiba-tiba menyala bersamaan.
Para tetua berjubah bintang langsung berdiri.
Wajah mereka dipenuhi keterkejutan.
Di layar utama hanya terdapat satu kalimat.
[Pemilik Mata Dewa Telah Terhubung]
Ruangan menjadi sunyi.
Seorang tetua tua dengan rambut putih gemetar menatap layar itu.
“Tidak mungkin...”
“Setelah ribuan tahun...”
“Pemilik Mata Dewa benar-benar muncul?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka semua tahu arti kalimat tersebut.
Legenda yang selama ini mereka cari...
akhirnya menunjukkan jejaknya.
Sementara para petinggi Organisasi Rasi Bintang dilanda kegemparan...
Penyebab semua kekacauan itu justru sedang sibuk menyusun kalung di dalam toko kecilnya.
“Yang ini di sebelah sini.”
“Yang itu di sebelah sana.”
We Lin sama sekali tidak sadar bahwa namanya baru saja mengguncang salah satu organisasi paling misterius di dunia.
Pagi berlalu dengan tenang.
We Lin masih berdiri di belakang etalase sambil menyusun beberapa cincin yang baru selesai dibersihkan.
Di atas meja kasir, Cermin Mata Dewa tergeletak diam.
Sejak diperintahkan untuk diam, benda itu benar-benar tidak mengeluarkan suara lagi.
“Lumayan patuh.”
gumam We Lin.
Baginya, cermin itu tidak lebih dari artefak aneh yang suka berbicara sendiri.