"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 20
Dinda duduk sendirian di ruang tengah, sembari memangku laptop dan beberapa lembar revisi desain milik klien butik. Sesekali jemarinya mengetuk meja pelan, berusaha fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Namun pikirannya terus melayang, pada bayi kecil bernama Glenka. Entah kenapa, wajah mungil itu terus muncul di kepalanya sejak semalam.
Cara Glenka menggenggam bajunya, cara bayi itu berhenti menangis saat berada di pelukannya. Dan mata bulat kecil yang terlihat sangat polos.
“Astaga, Din...” gumamnya pelan sambil memijat pelipis. “Kenapa jadi kepikiran terus sih?”
Padahal biasanya Dinda tidak terlalu mudah dekat dengan anak kecil. Namun Glenka terasa berbeda.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat lamunannya buyar. Itu pasti ulah ibunya.
“Dinda, ada tamu,” ujar ibunya dari dapur.
“Siapa, Buk?” sahut Dinda mulai menebak.
“Nggak tahu. Cowok.” Ibunya tersenyum kecil sembari menunjukkan wajah penuh godaan ke arahnya. Dinda langsung mengernyit begitu mendengarnya.
Cowok?
Belum sempat dirinya berpikir lebih jauh, suara salam terdengar dari arah depan rumah.
“Assalamualaikum.”
Dan saat mendengar suara itu—Dinda langsung membeku.
Raka.
Dengan cepat wanita itu bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Begitu melihat sosok pria itu berdiri di depan pintu sambil menggendong Glenka, mata Dinda langsung melebar.
Bayi kecil itu mengenakan jumper krem dengan rambut halus yang sedikit berantakan. Wajahnya tampak mengantuk, namun matanya langsung membulat begitu melihat Dinda.
“Eh?” lirih wanita itu refleks.
Sedangkan Glenka tiba-tiba menggerakkan tubuh kecilnya sambil mengulurkan tangan mungil ke arah Dinda.
“Da... da...” Raka langsung tertawa kecil.
“Nah kan.” Ucap pria itu kewalahan.
Dinda masih bengong. “Kenapa dia—”
“Dari tadi rewel nyari orang.”
“Nyari orang?” beo Dinda kebingungan.
“Kayaknya nyari lo.” Raka berucap mantap.
Jantung Dinda langsung berdetak aneh. Sedangkan Glenka semakin aktif menggapai ke arahnya sambil merengek kecil.
“Daaa...”
Dengan ragu, Dinda akhirnya menggendong bayi itu dari pelukan Raka. Dan seperti kemarin—Glenka langsung anteng.
Bahkan kepalanya otomatis bersandar nyaman di pundak Dinda sambil memainkan ujung rambut wanita itu pelan.
“Astaga...” bisik ibu Dinda yang diam-diam memperhatikan dari dapur. “Lucu banget anaknya.”
Dinda sendiri masih belum bisa mencerna situasi ini. “Dia kenapa dibawa kesini?” tanyanya pelan.
Raka menghela napas panjang sebelum mendudukkan tubuhnya di sofa.
“Gue nggak tidur semalaman.”
“Kok bisa?”
“Dia demam habis nangis terus.”
Seketika wajah Dinda berubah panik. “Sekarang gimana?” Wajahnya mendadak pucat pasi, takut terjadi apa-apa dengan bayi itu.
“Udah mendingan.” Raka menenangkan.
Tanpa sadar, telapak tangan Dinda langsung menyentuh dahi kecil Glenka memastikan suhu tubuhnya.
Dan aksi refleks itu—entah kenapa membuat Raka diam memperhatikan.
Karena cara Dinda menyentuh putrinya terasa sangat alami, sangat lembut. Seolah wanita itu memang sudah terbiasa menjadi seorang ibu.
“Udah minum obat?” tanya Dinda lagi.
“Udah.”
“Makannya?” tanya Dinda menyelidik.
“Masih dikit.”
Dinda langsung mengerucutkan bibir kecil.
“Kasihan banget...”
Sedangkan Glenka justru sibuk memperhatikan wajah Dinda dari jarak dekat. Bayi kecil itu tiba-tiba menyentuh pipi wanita tersebut dengan jemarinya.
Dan lagi-lagi—hati Dinda terasa hangat.
“Dia suka banget sama lo,” gumam Raka pelan.
“Mungkin cuma lagi nyaman aja.”
“Enggak.” Raka membantah saat itu juga. Pria itu tersenyum kecil. “Glenka nggak pernah segampang ini sama orang.”
Ucapan pria itu, berhasil menghangatkan sudut hati Dinda yang mulai membeku.
*****
Siang harinya, rumah kecil orang tua Dinda berubah jauh lebih hidup dari biasanya. Karena keberadaan Glenka.
Bayi kecil itu kini duduk di atas karpet ruang tengah sambil memainkan boneka kain pemberian ibu Dinda. Sesekali terdengar suara tawanya yang kecil dan menggemaskan.
“Ya Allah, pipinya...” gemas ibu Dinda sambil mencubit pelan pipi bulat Glenka. Sedangkan Dinda hanya terkekeh melihatnya.
“Dia mirip kamu waktu kecil,” celetuk sang ibu tiba-tiba.
“Hah?”
“Iya. Matanya mirip." Ibunya tak kunjung henti berdecak kagum menyaksikan boneka hidup itu.
Dinda langsung memutar bola mata malas. Namun diam-diam, dirinya memperhatikan Glenka lebih lama.
Dan entah kenapa—semakin dilihat, bayi itu memang terlihat sangat manis.
“Ma...” Seketika, tubuh Dinda membeku. Begitupun Raka yang sedang minum air di sebelahnya.
Sedangkan Glenka, kembali mengoceh kecil sambil menatap Dinda.
“Maaa...” Ruangan langsung hening beberapa detik.
“Dia ngomong apa tadi?” bisik ibu Dinda pelan.
Raka langsung berdehem kecil sambil mengusap tengkuknya. “Belum jelas itu.”
Namun Dinda justru diam membeku. Karena dadanya tiba-tiba terasa sesak. Sangat sesak.
Satu kata sederhana itu—entah kenapa terasa menghantam bagian paling rapuh dalam dirinya.
Ma. Sebuah panggilan yang selama ini sangat ingin ia dengar. Dan ironisnya—justru keluar dari bibir mungil anak orang lain.
“Din?”
Suara Raka membuyarkan lamunannya.
Wanita itu langsung tersadar lalu tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai memanas.
“Lucu ya...” lirihnya pelan.
Namun Raka tahu, wanita itu sedang menahan sesuatu.
*****
Sore harinya, hujan mulai reda.
Raka membantu ayah Dinda memperbaiki atap belakang rumah yang sedikit bocor. Sedangkan Dinda sibuk menyiapkan makanan di dapur sambil sesekali memperhatikan Glenka yang duduk di baby chair kecil.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?”
Suara ibunya membuat Dinda tersentak kecil.
“Hm? Enggak kok.” Dinda salah tingkah.
“Bohong, ah...” Wanita paruh baya itu terkekeh pelan sambil membantu memotong sayuran.
“Rumah jadi rame lagi ya?” Kalimat sederhana itu sukses membuat Dinda terdiam.
Karena memang benar. Sudah lama sekali rumah ini tidak terasa sehangat hari ini. Ada suara tawa bayi, ada suara langkah kecil. Ada seseorang yang terus mencari dirinya dengan tangan mungil terbuka.
Dan anehnya—semua itu membuat hati Dinda perlahan terasa hidup kembali.
“Buk...” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kalau ada anak kecil di rumah... ternyata menyenangkan ya.” Ucapan Dinda terdengar sangat memilukan.
Ibunya langsung menoleh. Tatapan wanita itu berubah lembut. “Karena kamu memang suka anak kecil dari dulu.”
Seketika tenggorokan Dinda terasa tercekat.
Karena kalimat itu mengingatkannya pada semua mimpi yang dulu pernah ia bangun bersama Ervin. Tentang kamar bayi, tentang nama anak, tentang keluarga kecil mereka.
Namun semuanya hancur begitu saja.
Dan kini—justru seorang bayi kecil bernama Glenka yang perlahan mengisi ruang kosong dalam hatinya.
*****
Malam harinya, setelah makan malam selesai, Raka bersiap pulang. Namun masalah muncul, ketika Glenka mulai merengek begitu dipindahkan dari gendongan Dinda.
“Huaaa...”
“Eh sayang...” Dinda langsung panik.
Sedangkan bayi kecil itu justru menangis makin keras sambil mengulurkan tangan ke arah Dinda.
“Glen masih mau sama Tante Dinda, ya?” goda ayah Dinda pelan, sembari mencolek bahu anak perempuan satu-satunya.
Namun Glenka benar-benar menangis kali ini. Raka bahkan sampai kewalahan mencoba menenangkannya.
“Biasanya nggak begini,” gumam pria itu frustasi.
Sedangkan Dinda terlihat tidak tega. “Aku gendong dulu sini.”
Dan ajaibnya—begitu kembali ke pelukan Dinda, Glenka langsung diam. Hanya tersisa isakan kecil sambil memeluk leher wanita itu erat.
Ruangan langsung hening. Bahkan Raka terlihat terpaku cukup lama. Karena baru dua hari mengenal Dinda—namun putrinya sudah sangat bergantung pada wanita itu.
“Kayaknya dia udah milih orang favoritnya,” celetuk ayah Dinda sambil tertawa kecil.
Sedangkan Dinda justru salah tingkah. Namun tanpa sadar—untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dirinya kembali dibutuhkan oleh seseorang.