NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

(Flashback H-5 sebelum pernikahan)

Pagi itu dimulai dengan langit yang cerah dan udara yang terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya matahari jatuh lembut menembus jendela kamarku, memantul di lantai dan dinding dengan warna keemasan yang tenang. Namun entah mengapa, sejak membuka mata, jantungku sudah berdegup sedikit lebih cepat dibanding hari-hari sebelumnya.

Hari ini Sarah menjadwalkan fitting gaun pengantin dan pemilihan cincin pernikahan untukku dan Mason. Dan meskipun aku tahu semua ini mungkin tidak memiliki arti sebesar itu bagi Mason, tetap saja untukku, hari ini terasa penting. Bahkan terlalu penting hingga aku harus beberapa kali menarik napas pelan di depan cermin hanya untuk menenangkan diriku sendiri.

Aku merapikan rambutku perlahan, menatap pantulan wajahku sendiri yang tampak jauh lebih gugup daripada yang ingin kuakui. Sudah beberapa hari berlalu sejak keputusan Mason untuk mempercepat pernikahan kami. Dan sejak saat itu pula, aku seperti hidup di antara dua perasaan yang saling bertabrakan.

Antara bahagia, dan sedih. Bahagia karena akhirnya aku benar-benar akan menikah dengannya. Sedih karena aku tahu, keputusan itu lahir bukan karena cinta.

Suara klakson mobil dari luar rumah membuat lamunanku buyar. Aku segera mengambil tasku dan berjalan turun ke lantai bawah. Saat keluar rumah, mobil Mason sudah terparkir di depan pagar. Ia berdiri di samping pintu mobil dengan setelan gelap sederhana, tampak rapi seperti biasa.

Tatapannya jatuh padaku beberapa detik sebelum ia membuka pintu mobil tanpa banyak bicara.

“Pagi,” ucapku pelan.

“Pagi,” balasnya singkat.

Aku masuk ke mobil, lalu perjalanan kami dimulai dalam suasana yang nyaris sepenuhnya tenang. Tidak canggung seperti dulu, tapi juga tidak hangat. Kami seperti dua orang yang perlahan mulai terbiasa berada di dekat satu sama lain, tanpa benar-benar tahu harus menjadi apa.

Aku menoleh sebentar ke arah Mason yang fokus menyetir sejak tadi. Garis wajahnya tampak tenang, terlalu tenang hingga sulit ditebak apa yang sedang ia pikirkan.

“Aku tidak menyangka semuanya jadi secepat ini,” kataku akhirnya, memecah keheningan.

Mason tidak langsung menjawab. Tangannya tetap berada di kemudi, matanya lurus ke depan. “Sarah ingin semuanya segera selesai.”

Jawaban itu membuat dadaku terasa sedikit sesak, meskipun aku sudah menduganya. 'Selesai', seolah pernikahan ini hanyalah sesuatu yang harus dituntaskan. Namun aku tetap memaksakan senyum kecil di wajahku dan menoleh ke luar jendela, mencoba menenangkan pikiranku sendiri. Setidaknya, ia tetap datang hari ini. Setidaknya, ia tetap ada di sini bersamaku.

Butik pengantin yang Sarah pilih berdiri di salah satu sudut jalan elit kota dengan bangunan serba putih dan jendela-jendela kaca tinggi yang memantulkan cahaya matahari. Begitu kami masuk, beberapa staf langsung menyambut dengan ramah.

“Selamat datang, Tuan Mason, Nona Hazel.”

Aku masih belum terbiasa mendengar namaku disebut berdampingan dengannya seperti itu.

Mereka membawa kami masuk ke ruangan khusus fitting yang dipenuhi gaun-gaun putih indah dengan berbagai detail yang membuatku hampir sulit bernapas hanya karena melihatnya. Untuk sesaat, semuanya terasa begitu nyata. Aku benar-benar sedang memilih gaun pengantin. Gaun untuk menikahi Mason Roux.

“Silakan coba yang ini dulu, Nona,” ujar salah satu staf sambil menunjukkan sebuah gaun putih dengan detail renda halus di bagian bahunya.

Aku mengangguk pelan dan masuk ke ruang ganti dengan jantung yang terus berdegup aneh di dalam dada.

Beberapa menit kemudian, aku keluar perlahan dari balik tirai. Gaun itu jatuh pas di tubuhku, dengan rok panjang yang menjuntai lembut hingga lantai. Saat aku mengangkat wajah, tatapanku langsung mencari Mason hampir secara refleks. Ia duduk di sofa dekat jendela sambil memperhatikanku.

Lalu, salah satu staf tersenyum lebar. “Tuan Mason, pasangan Anda terlihat sangat cantik.”

Mason menatapku beberapa detik sebelum mengangguk kecil. “Ya,” katanya tenang. “Itu bagus.”

Bagus. Hanya itu. Aku tersenyum kecil sambil menunduk, meskipun entah kenapa hatiku terasa sedikit kosong. Aku tidak tahu, apakah ia benar-benar melihatku. Atau hanya melihat gaun itu.

Aku mencoba beberapa gaun lain setelahnya. Yang sederhana, yang lebih elegan, dan yang memiliki veil panjang. Bahkan yang sedikit lebih modern atas saran para staf butik. Dan setiap kali aku keluar dari ruang ganti, aku selalu tanpa sadar mencari reaksinya.

“Yang tadi lebih bagus, atau yang ini?” tanyaku sambil merapikan bagian pinggang gaun ketiga yang kupakai.

“Semuanya cocok.”

“Kalau model ini?”

“Terserah kau.”

Jawabannya tidak pernah buruk, tidak kasar, dan tidak dingin seperti dulu. Tapi tetap terasa jauh.

Aku berdiri di depan cermin besar saat salah satu staf membenarkan veil di kepalaku. Pantulan diriku di sana terlihat seperti seseorang yang benar-benar akan menjadi pengantin dalam beberapa hari lagi. Cantik, rapuh, dan penuh harapan yang diam-diam berusaha kusembunyikan sendiri.

Lalu mataku menangkap pantulan Mason di belakangku. Ia masih duduk di tempat yang sama, tenang dan datar, seolah hanya sedang menunggu seluruh proses ini selesai. Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang terasa begitu menyakitkan.

Aku sedang berdiri di dalam momen yang terasa sangat penting bagiku. Sementara untuknya, ini mungkin hanya kewajiban lain yang harus dijalani.

“Aku bingung harus memilih yang mana,” kataku pelan setelah mencoba gaun terakhir. Aku berdiri di hadapannya dengan sedikit gugup, berharap kali ini ia akan benar-benar membantuku memilih.

“Pilih saja yang kau suka,” jawabnya.

Aku tersenyum kecil. “Tapi aku ingin tahu pendapatmu.”

Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata, “Menurutku semuanya terlihat sama.”

Kalimat itu sederhana, tidak tajam, dan tidak dingin. Namun anehnya, dadaku tetap terasa sesak mendengarnya. Bagaimana sesuatu yang begitu penting bagiku, bisa terlihat sama saja untuknya?

Aku menunduk sebentar sambil tersenyum kecil, mencoba terlihat baik-baik saja. “Kalau begitu… aku pilih yang tadi.”

Mason hanya mengangguk kecil. Dan aku kembali berpura-pura bahwa hatiku tidak baru saja retak sedikit lagi.

Setelah selesai di butik, kami pergi ke toko perhiasan untuk memilih cincin pernikahan. Tempat itu dipenuhi cahaya hangat yang memantul dari etalase kaca dan permukaan berlian kecil yang tersusun rapi.

“Selamat datang. Kalian pasangan yang serasi sekali,” ujar salah satu staf dengan ramah.

Aku tersenyum sopan. Sementara Mason hanya membalas dengan anggukan tipis. Kami duduk berdampingan di depan meja kaca sementara beberapa cincin mulai diperlihatkan satu per satu.

Aku mencoba sebuah cincin sederhana dengan batu kecil di tengahnya lalu mengangkat tangan pelan. “Yang ini terlalu sederhana?”

“Bagus.”

Aku mencoba yang lain. “Kalau yang ini?”

“Itu juga bagus.”

Jawabannya selalu pendek dan selalu datar. Seolah ia hadir di sana hanya karena memang harus hadir. Dan perlahan, aku mulai berhenti bertanya terlalu banyak. Karena aku sadar, akulah satu-satunya orang yang terus mencoba membuat hari ini terasa istimewa.

Saat staf mengukur ukuran cincin kami, tanganku dan tangan Mason sempat bersentuhan tanpa sengaja. Hanya sebentar, sangat biasa. Namun jantungku tetap berdegup lebih cepat karenanya.

Aku bahkan hampir ingin tertawa kecil pada diriku sendiri. Menyedihkan sekali, aku masih bisa sebahagia ini hanya karena sentuhan sekecil itu.

Setelah semua selesai, kami keluar dari toko bersama. Matahari siang mulai turun perlahan, menyisakan cahaya lembut di sepanjang jalan. Aku menggenggam tas kecilku erat sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.

“Kalau kau tidak sibuk…” kataku hati-hati. “Mungkin kita bisa makan siang bersama?”

Aku berusaha terdengar biasa saja, dan tidak berharap terlalu banyak. Namun Mason langsung menoleh pada jam tangannya.

“Aku harus kembali ke kantor.”

Ada jeda singkat sebelum ia melanjutkan. “Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan.”

Aku tersenyum kecil meskipun rasanya sulit. “Oh… ya. Tentu.”

“Aku sudah memesankan taksi untukmu.”

Dan entah mengapa, kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada penolakannya tadi. Karena bahkan sebelum aku selesai berharap, ia sudah menyiapkan jalan pulangku sendiri.

Taksi itu datang beberapa menit kemudian. Mason membukakan pintunya untukku dengan sikap sopan seperti biasa. “Hati-hati di jalan.”

Aku mengangguk kecil. “Kau juga.”

Lalu ia menutup pintu dan berjalan kembali menuju mobilnya sendiri tanpa menoleh lagi. Aku hanya bisa memandang punggungnya menjauh perlahan hingga akhirnya menghilang di tengah jalan kota yang ramai.

Sepanjang perjalanan pulang, aku memeluk kotak kecil berisi cincin pilihan kami di atas pangkuanku. Hari ini aku memilih gaun pengantinku. Aku juga memilih cincin pernikahanku. Aku menghabiskan hari bersama pria yang akan menikahiku. Namun anehnya, aku tetap merasa sendirian.

Aku menatap pantulan diriku di jendela mobil dengan tatapan kosong yang perlahan melemah. Aku terus berjalan menuju pernikahan ini, sementara Mason masih berdiri diam di tempat yang sama.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!