NovelToon NovelToon
KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Komedi / Romantis
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.

Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.

Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!

Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBAIKAN YANG TERSEMBUNYI.

Ghufran mematung di sudut kamar rawat ibunya, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Kabar kematian Asep yang mendadak terasa seperti hantaman ombak yang mengacaukan isi kepalanya. Rasa iba dan bersalah mendadak bercampur aduk di dalam dadanya.

Rian yang berdiri di dekat pintu menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu. "Fran, gue bingung melihat jalan pikiranmu. Dulu, waktu Zhawa masih berstatus tunangan orang, elo kejar dia sampai masuk selokan dan sawah tanpa tahu malu. Sekarang, saat dia sudah sendiri dan sedang berduka, elo malah bersembunyi seperti pengecut."

Ghufran membalikkan badan, menatap Rian dengan tajam. "Sudahlah, Rian. Hal itu tidak perlu Lo bahas lagi. Situasinya sudah berbeda sekarang."

"Apanya yang berbeda? Bukankah ini kesempatan Lo untuk menjadi pahlawan kesiangan," cibir Rian.

"Gue tidak mau menjadi oportunis yang menari di atas penderitaan orang lain, Rian. Kalau gue muncul sekarang, Zhawa pasti berpikir gue senang atas kematian tunangannya," sahut Ghufran dengan nada suara yang meninggi. Ia mengembuskan napas berat, mencoba meredam emosinya. "Sudahlah lupakan! Yang penting sekarang, Lo carikan dokter spesialis terbaik untuk menangani penyakit jantung Ayah Zhawa. Bila perlu, panggil dokter dari luar negeri yang ahli di bidangnya."

Rian membelalakkan matanya. "Haaah, Dokter luar negeri? Lo tahu sendiri kan biayanya bisa selangit?"

"Soal biaya, gue yang akan menanggung semuanya. Berapa pun jumlahnya, pasti gue bayar tunai," tegas Ghufran tanpa ragu sedikit pun. "Tapi ingat satu hal, Rian. Jangan pernah memberi tahu Zhawa tentang keterlibatan gue dalam masalah ini. Gue nggak mau dicap sebagai pria yang memanfaatkan keadaan untuk mencari perhatian. Lo paham?"

Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah bingung. "Iya, gue paham. Tapi kalau nanti Zhawa mendesak dan bertanya siapa yang membiayai semuanya, gua harus jawab apa?"

"Terserah elo mau jawab apa. Pokoknya jangan pernah menyebut nama gue," kata Ghufran. Ia melangkah mendekati Rian, lalu mengangkat tangan kanannya, membentuk gestur pisau yang digesekkan ke lehernya sendiri dengan wajah dingin. "Kalau sampai mulut Lo bocor dan menyebut nama gue ke Zhawa. Maka elo and gue kreez! Dan persahabatan kita selesai."

Rian seketika bergidik ngeri, melangkah mundur satu langkah. "Ih, seram amat sih lo, Fran! Gestur Lo itu udah seperti pembegal motor di jalanan sepi tahu tidak?"

"Bodo amat, emang gue pikirin. Sudah ah, gua mau pulang dulu ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan tidur nyokap," ujar Ghufran sembari menyambar kunci mobilnya.

Rian langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras. "Astaga, Fran! Aku baru ingat tujuan utamaku datang ke sini kan ingin menjenguk emakmu! Masa elo tega meninggalkan gue sendirian di sini setelah menyuruh gua menjadi mata-mata?"

"Terserah elo, pokoknya gue mau balik sekarang," sahut Ghufran dingin, mengabaikan protes sahabatnya.

Pikiran Ghufran benar-benar kalut. Mengetahui wanita yang pernah dicintainya sedang menanggung beban duka yang begitu berat membuat hatinya kacau tidak karuan. Ia berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, menuju pintu keluar utama. Namun, belum sempat kakinya menyentuh pintu kaca otomatis, mata tajam Ghufran menangkap sosok Zhawa berjalan dari arah luar, hendak masuk ke dalam lobi.

Panik melanda Ghufran seketika. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Ghufran melangkah ke sisi dinding yang berbeda, berpura-pura sangat sibuk mengamati papan pengumuman jadwal dokter dengan tubuh yang sengaja membelakangi jalan utama. Jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar tidak ingin Zhawa melihat kehadirannya di tempat ini dalam situasi seperti sekarang. Setelah memastikan dari sudut matanya bahwa Zhawa telah berjalan jauh memasuki area lift, Ghufran langsung mengembuskan napas lega dan bergegas keluar menuju parkiran.

Keesokan harinya, Rian bergerak cepat memenuhi perintah sahabatnya. Melalui jaringan relasi bisnis GA Corp, Rian berhasil mendatangkan Dokter Albert, seorang profesor sekaligus dokter spesialis jantung legendaris yang sangat dihormati di dunia medis. Tanpa menunggu lama, Ayah Zhawa langsung dipindahkan ke ruang perawatan intensif dan segera menjalani tindakan operasi darurat hari itu juga.

Beberapa jam pasca-operasi, Dokter Albert keluar dari ruangan dengan senyuman kecil di wajahnya, menandakan bahwa tindakan berjalan dengan sangat sukses dan kondisi pasien telah stabil. Zhawa yang sejak tadi menangis di ruang tunggu langsung mengusap air matanya. Ia segera menghampiri Rian yang sedang duduk di bangku tunggu koridor.

"Kang Rian, terima kasih banyak," ucap Zhawa dengan suara serak, matanya berkaca-kaca menatap Rian. "Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Kang Rian dengan cara apa lagi. Biaya operasi dan dokter ahli ini pasti sangat mahal, padahal tabungan kami tidak akan pernah cukup."

Rian tersenyum canggung, merasa tidak nyaman menerima pujian yang bukan haknya. Mengingat ancaman potong leher dari Ghufran kemarin, Rian memilih untuk jujur namun tetap menjaga rahasia. "Zhawa, kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku. Sejujurnya, semua biaya dan dokter ahli ini bukan berasal dari uang pribadiku."

Zhawa mengernyitkan dahi, tampak sangat terkejut. "Lalu, kalau bukan dari Kang Rian, dari siapa? Siapa orang baik yang mau menolong keluarga kami sampai seperti ini, Kang?"

Rian bangkit dari kursinya, merapikan pakaiannya dengan tenang. "Orang yang menolongmu adalah seorang hamba Allah yang tidak ingin namanya dikenal di dunia. Jadi, jika kamu ingin berterima kasih, berterima kasihlah langsung kepada Sang Pencipta yang telah menggerakkan hatinya untuk membantumu. Aku pamit dulu ya, Zhawa. Masih ada urusan di kantor."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Rian langsung membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan koridor, meninggalkan Zhawa yang terpaku menatap punggungnya dengan sejuta tanda tanya di kepala.

Zhawa menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang berkecamuk. Ia kemudian melangkah menuju ruang perawatan VIP baru tempat ayahnya dipindahkan. Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, langkah Zhawa terhenti ketika mendengar suara bisikan dari dua orang suster yang sedang berjaga di meja konter samping ruangan.

"Eh, kamu tahu tidak pasien di kamar VIP nomor kosong tujuh itu?" bisik suster berambut pendek dengan wajah penasaran.

"Iya, tahu. Itu kan pasien rujukan dari desa terpencil. Memangnya ada apa?" sahut suster satunya.

Suster berambut pendek itu mendekatkan wajahnya, merendahkan volume suaranya. "Sebenarnya siapa sih wanita berhijab lusuh itu? Penampilannya sangat biasa saja, bahkan cenderung seperti orang susah. Tapi herannya, dia bisa membayar ruang perawatan kelas VIP paling mahal di rumah sakit ini secara instan. Bukan hanya itu, dia bahkan bisa mendatangkan Dokter Albert sang legenda dari kedokteran! Katanya, untuk memanggil dokter itu saja butuh biaya yang luar biasa besar karena beliau jarang ada di Indonesia. Siapa sebenarnya orang kuat di belakang wanita itu ya?"

Mendengar gosip para suster tersebut, dada Zhawa mendadak berdesir kencang. Pertanyaan yang dilemparkan perawat itu kini juga berputar-putar di dalam otaknya. Siapa sebenarnya sosok misterius yang disebut Rian sebagai hamba Allah itu? Mengapa ada orang sekaya dan sekuat itu yang sudi menolong keluarganya tanpa ingin menampakkan diri?

1
Nana Biella
penyesalan datang kan
Radya Arynda
sadar fran ghufran,,,,dholim sama istri itu yang parah
Nana Biella
lanjutkan
Radya Arynda
akhirnyaaa bangun juga,,,,ya zhawa di angurin biar aja bebas cari suami yang mencintainya
Ira Imel
di balik cuek bebe nya
Radya Arynda
mantap rian,,,biar ghufan bangun nanti sydah tidak menyalahkan mi
Nana Biella
ternyata si keponakannya sendiri
Enny Suhartini
semangat Rian 👍
Enny Suhartini
Alhamdulillah berlanjut lagi cerita nya
terimakasih
Indriani Kartini
dzolim sih sama istri jdi usahanya hmpir bangkrut
Radya Arynda
semogah saat kamu bangun nanti sudah ngaak sombong dan angkuh lagi fran ghufran
Ira Imel
menurutku cerita ini sangat menarik ada sedih ketawa keluargah bahkan sangat menghibur
Ira Imel
kejutan inmah yeyeyehhh di lanjut😄
Indriani Kartini
sombong bngt kamu, ktanya dah tobat, masa masalh seoerti itu aja ga termaafkan dasar bujang lapuk
Rima R P
alhamdulilah di lanjut lagi semangat thor😍
Radya Arynda
haguh ghufran,,,kamu akan menyesal kalau udah bangkrut Bari tau rasa
Rohmi Yatun
ehh ternyata dilanjutkan lg ni novel.. makasih Thor.. semangat ya👍💪
Indriani Kartini
klau jodoh ga akan ke mana
Siti Hawa
kasihan jahwa gufran pora2 ga pefuli
Siti Hawa
jahra harus bersabar menunggu gunung es cair
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!