NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemegahan Kota Besar dan Standar Kenyamanan si Pemalas

​Begitu roda kereta kuda spiritual melewati gerbang raksasa granit putih, gemuruh suara hiruk-pikuk keduniawian langsung menyergap indra pendengaran. Ji Huang menyibak sedikit tirai sutra jendela kereta, menatap pemandangan di balik gerbang dengan kelopak mata yang masih terasa berat.

​Di depan matanya, terhampar Kota Utama Keluarga Huang yang luar biasa megah.

​Jalanan kota begitu luas, dilapisi oleh kepingan batu marmer putih bersih yang tersusun sangat rapi tanpa celah. Di kanan dan kiri jalan, berjejer bangunan-bangunan bertingkat tinggi dengan arsitektur spiritual yang rumit, dihiasi oleh ukiran giok dan panji-panji emas yang berkibar megah. Kereta-kereta mewah yang ditarik oleh binatang buas eksotis bercakar tajam berlalu-lalang di antara kerumunan manusia, menciptakan atmosfer sebuah kota metropolitan kultivasi yang sangat sibuk dan makmur.

​Tak hanya secara visual, atmosfer udara di Kota Utama ini juga terasa sangat berbeda. Fluktuasi energi spiritual (Qi) di tempat ini berkali-kali lipat lebih padat dan murni dibandingkan dengan Kota Amerta yang terpencil. Bagi para kultivator biasa, menghirup udara di kota ini saja sudah cukup untuk membuat sirkulasi darah mereka terasa segar dan bersemangat.

​Huang Fu yang sudah melompat turun dari kereta langsung berjalan di depan. Dia membusungkan dadanya yang dibalut jubah sutra putih, sengaja berjalan dengan langkah kaki yang dihentakkan dengan penuh wibawa. Sesekali, dia melirik ke belakang dengan senyuman arogan, bersiap melihat ekspresi norak atau ketakutan dari wajah Ji Huang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pusat kota.

​Namun, Ji Huang justru berjalan jauh tertinggal di belakang dengan santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam lipatan lengan jubah compang-campingnya, sementara sepasang sandal rumah kayunya yang longgar terus mengeluarkan suara pletag-pletog yang monoton di atas marmer putih yang mulus.

​Mata polos Ji Huang bergerak mengamati sekeliling. Alih-alih terpukau oleh menara tinggi tempat latihan kultivasi atau formasi array pelindung kota yang megah, analisis di dalam benak sang mantan Dewa Pedang justru melenceng jauh dari jalur yang normal.

​“Wah, batu marmer yang digunakan untuk melapisi jalanan kota ini benar-benar rata, halus, dan terasa sejuk,” batin Ji Huang sangat polos. “Kalau seandainya di tengah perjalanan nanti aku mendadak merasa mengantuk, aku tinggal menggelar selembar tikar di atas lantai ini dan tidur siang. Punggung fanku pasti tidak akan terasa sakit sama sekali. Kota besar ini benar-benar didesain dengan sangat ramah bagi kaum pemalas.”

​Hiduuup.

​Tepat saat rombongan mereka melintasi kawasan pasar tengah kota yang ramai, penciuman tajam Ji Huang mendadak menangkap sekelebat aroma yang sangat luar biasa harum. Itu adalah aroma daging panggang yang gurih, berpadu dengan manisnya madu hutan yang terkaramelisasi oleh bumbu rempah-rempah tingkat tinggi.

​Ji Huang seketika menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh otomatis ke arah sebuah restoran bintang lima berlantai tiga di pinggir jalan, di mana terpampang plang nama emas bertuliskan: Restoran Bebek Panggang Madu Surgawi. Di balik kaca etalasenya yang bersih, tampak barisan bebek utuh berwarna cokelat keemasan yang berkilau karena lumuran madu, sedang dipanggang menggunakan sisa panas dari api spiritual yang stabil.

​Ji Huang berdiri mematung di depan restoran itu, menolak untuk melangkah maju lagi walau hanya satu senti.

​Huang Fu yang menyadari tawanan utamanya mendadak berhenti di tengah jalan tol kota langsung berbalik dengan wajah tegang. Dia menyadari bahwa tindakan Ji Huang yang mematung di depan restoran bebek panggang telah membuat rombongan mereka menjadi pusat perhatian dan tontonan menggelikan bagi orang-orang kota yang melintas. Seorang Tuan Muda Agung dari Keluarga Utama terpaksa menghentikan barisan pasukannya hanya karena seorang pemuda compang-camping menolak jalan demi melihat makanan!

​"Ji Huang! Bajingan kecil!" Huang Fu melangkah mendekat dengan setengah berbisik namun penuh penekanan, wajah tampannya memerah menahan malu di depan publik. "Kita ini sedang berjalan menuju Aula Penegak Hukum Pusat untuk menyidang tindakan kriminalmu! Nyawamu sedang berada di ujung tanduk, dan berani-beraninya kamu malah berdiri memikirkan makanan di pinggir jalan?!"

​Ji Huang perlahan mengalihkan pandangannya dari bebek panggang, menatap wajah emosional Huang Fu dengan ekspresi tanpa dosa yang luar biasa jujur tanpa filter sedikit pun.

​"Orang Sok Keren, perut yang lapar itu adalah musuh utama dari sebuah tidur siang yang berkualitas," ucap Ji Huang blak-blakan dengan nada santai yang konsisten. "Jika nanti di dalam ruang sidang kalian yang berisik itu aku mendadak lemas dan ketiduran karena kelaparan saat diinterogasi, bukankah itu terdengar sangat tidak sopan bagi para tetua agung kalian? Jadi, demi menjaga tata krama, lebih baik kamu belikan aku satu ekor bebek panggang madu itu dulu menggunakan uang sakumu. Baru setelah itu aku mau jalan lagi."

​"K-kamu...!" Huang Fu hampir saja menyemburkan seteguk darah segar karena syok menahan amarah yang mendadak menyumbat dadanya. Menjaga tata krama dengan cara memintanya membelikan bebek panggang mahal? Logika konyol macam apa ini?!

​Melihat Ji Huang yang tetap bergeming di tempat dengan pandangan polosnya yang kokoh, ditambah dengan tatapan penasaran dari orang-orang pasar yang mulai berbisik-bisik, Huang Fu akhirnya tidak punya pilihan lain demi menyelamatkan harga dirinya yang tersisa.

​"Paman Lin... ambilkan satu ekor bebek itu untuk bajingan ini!" desis Huang Fu dengan gigi geram kepada pengawalnya.

​Sang pengawal paruh baya berbaju abu-abu yang jiwanya masih sedikit trauma akibat teror mental di dalam kereta tadi langsung bergerak cepat tanpa membantah. Dalam hitungan detik, dia kembali dengan sebuah bungkusan kertas minyak tebal yang mengeluarkan uap panas dan aroma bebek panggang madu yang sangat menggugah selera.

​Ji Huang menerima bungkusan itu dengan senyuman polos yang puas. Tanpa menunggu lama, dia langsung merobek daging paha bebek yang empuk dan berminyak itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut sembari kembali melanjutkan langkah kakinya yang pletag-pletog.

​Sepuluh menit kemudian, setelah melewati beberapa blok bangunan, rombongan mereka akhirnya tiba di depan sebuah kompleks bangunan raksasa yang terletak di zona khusus pusat kota.

​Bangunan itu didominasi oleh batu kuarsa hitam pekat, berdesain kokoh, kaku, dan memancarkan aura otoritas absolut yang sangat dingin. Di atas gerbang utamanya, tergantung sebuah papan nama besar dari kayu cendana hitam dengan guratan tulisan perak yang tegas: Aula Penegak Hukum Pusat Keluarga Huang. Bagi para murid atau kultivator biasa, hanya dengan memandangi gerbang hitam itu saja sudah cukup untuk membuat nyali mereka menciut ketakutan.

​Di depan gerbang, delapan orang prajurit penjaga berwajah sangar dengan zhirah besi hitam pekat berdiri tegak, masing-masing memegang tombak spiritual yang memancarkan kilatan energi. Mereka sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan "tersangka pembangkang" dari klan cabang, sehingga mereka sengaja memasang pose paling intimidatif untuk menghancurkan mental Ji Huang sejak menginjakkan kaki di pintu depan.

​Namun, seluruh skenario intimidasi visual yang sudah dipersiapkan dengan matang itu seketika rusak berantakan dalam sekejap.

​Ji Huang melangkah melewati barisan penjaga zirah hitam itu dengan sangat santai. Tangan kanannya sibuk memegang sepotong tulang dada bebek, sementara bibirnya dipenuhi oleh sisa-sisa minyak bumbu madu yang berkilau di bawah sinar matahari. Dengan wajah lempeng, dia menyeka noda minyak di bibirnya menggunakan ujung lengan jubah linen compang-campingnya yang sudah kotor.

​Para penjaga berwajah sangar itu mendadak melongo, tombak spiritual mereka agak turun karena kebingungan melihat seorang tahanan kelas berat masuk ke area pengadilan agung dengan gaya seperti turis yang sedang melakukan wisata kuliner santai.

​Ji Huang menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk aula dalam yang remang-remang. Dia mendongak, menatap plang nama besar itu dengan pandangan polosnya yang khas, lalu mengangguk-angguk kecil dengan puas.

​"Tempatnya cukup besar, berwibawa, dan yang paling penting... suasananya di sini terasa sangat sunyi dan tidak berisik seperti di pasar tadi," gumam Ji Huang dengan nada malas dari balik sisa kunyahan bebeknya. "Baguslah. Tempat yang sunyi seperti ini biasanya merupakan tempat yang paling cocok dan ideal untuk numpang tidur siang dengan tenang. Mari kita masuk, Orang Sok Keren. Aku ingin melihat apakah hakim di dalam sana menyediakan kursi yang lebih empuk daripada kursi di kereta kudamu tadi."

​Huang Fu yang berjalan di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, sementara sang pengawal baju abu-abu di belakang mereka terus menunduk ngeri, sadar bahwa Aula Penegak Hukum yang sakral ini akan segera diubah menjadi kamar tidur pribadi oleh sang mantan Dewa Pedang yang kelewat santai.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!