NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 : Perempatan Margonda

RUMAH MAKAN DERMAWAN MARGONDA. MESS KARYAWAN LANTAI 3. JAM 04.01 SUBUH.

Tas sudah di punggung. Napas Rifki berat, ini adalah keputusannya.

"Mang... gue pamit. Zuan.." Rifki pamit dengan wajah yakin.

Agus mengangguk. Pelan. Tanpa suara.

Rifki mendekat, salim ke tangan Agus yang dingin.

"Ki, kalau lu sampai Bogor... kabarin." Ujar Agus, meski Agus tak yakin.

"Gue janji, Mang." Rifki jawab seolah ada secercah harapan.

Zuan maju. Memeluk Rifki, "Maafin gue, Ki." Zuan bisik.

Rifki menepuk punggung Zuan,"Maafin gue juga kalau gue ada salah selama kita temenan di sini." Rifki bilang.

Pelukan itu pun lepas.

"Lu nggak ada salah." Jawab Zuan tersenyum lepas.

Rifki balas tersenyum.

"Ki, saran gue jangan lewat depan. Lewat gang belakang. Lebih cepat ke perempatan, tembusnya ke jalan besar nanti." Zuan ngomong. Senyumnya tipis.

"Tapi sepi. Gue pernah lewat." Rifki jawab.

"Makanya aman. Belum pernah ada kejadian apa-apa di sana." Zuan meyakinkan.

"Oke. Makasih, Bro." Rifki mantap. Dia sudah tau jalan itu.

Rifki mengambil kunci Beat dari meja.

"Kalau gue hidup... gue bakal cari cara buat nyelamatin kalian." Rifki bilang.

Agus tertawa hambar, "Lu hidup aja udah mukjizat, Ki. Sekarang pergi. Keburu subuh." Agus nyahut.

Rifki menoleh sekali lagi. Pukul 04.14. Baterai 100%.

Pintu ditutup pelan.

Di kamar, Agus merebahkan badan.

"Lu yakin dia selamat?" Agus nanya.

Zuan duduk di tepi tempat tidur, jempolnya bergerak cepat di layar HP.

"Gue ke dapur dulu, Mang. Haus." Zuan jawab. Dia keluar.

Agus tentu saja merasa heran namun dia tidak bertanya, "Gue pengecut... Istri gue hamil, tapi gue nggak bisa di samping dia." Agus gumam mengingat istrinya yang sudah hamil besar di rumah orang tuanya.

_

Rifki menuruni tangga. Lampu merah CCTV berkedip. Dia tidak peduli.

Di luar, Beat hitam sudah siap. Helm dipasang.

Ia menoleh ke rumah makan untuk terakhir kali. Ada rasa lega dalam dirinya karna akan lepas dari tempat ini.

Gas ditarik pelan. Rifki masuk gang belakang. Belok kanan. Lurus.

Namun tak lama.

Lampu mobil menyorot dari depan. Avanza hitam. Menutup jalan.

Rifki mengerem mendadak.

Pintu depan terbuka.

Alangkah terkejutnya Rifki saat Pak Dermawan keluar dari mobil.

Dari pintu kemudi, Hendri. Kemeja putih, rambut klimis. Ia membuka pintu belakang, menarik seorang wanita. Mulut dan tangannya dilakban.

Hendri mengangkat tangan, santai. Seolah sedang menyapa, "Lho... Rifki? Jam segini mau ke mana?" Hendri nanya dengan wajah pura-pura polos.

Rifki memundurkan motor, "S-saya... mau ke apotek, Mang. Mang Agus butuh obat." Rifki gugup.

Pak Dermawan menggeleng pelan.

"Apotek tutup jam sembilan malam, Rifki. Yang buka dua puluh empat jam setiap hari cuma satu di Margonda." Pak Dermawan bilang.

Rifki merinding.

"Apotek Nyawa. Dan nyawa kamu terlalu berharga untuk saya biarkan pergi." Pak Dermawan lanjut.

Hendri mendekat. Meremas bahu Rifki, "Tau cewek itu buat apa? Darahnya untuk ritual cabang BSD bulan depan." Hendri bisik sambil nunjuk cwe itu.

Rifki mencoba menarik gas, tapi badannya kaku.

Hendri tersenyum. Melepas tangannya. Lalu...

Suara lonceng menghantam kepalanya.

TENG!

"ARGH!" Rifki jatuh dari motor. Helm menghantam aspal. Motor menimpa pahanya.

Pak Dermawan tertawa, "Kamu pikir kamu akan bisa bebas seperti Naya bebas? Apa kamu tidak tau kalau Naya sudah meninggal terkena serangan jantung tadi siang?"

Rifki yang mendengar itu kaget bukan main, "PEMBOHONG!"

"Namun itu kenyataannya, siapapun yang kabur dari rumah makan Dermawan akan terkena imbas. Orang yang tau apapun tentang rumah makan Dermawan pantas di bunuh." Tegas Pak Dermawan tanpa pikir dua kali.

Rifki menangis pilu, Naya benar-benar meninggal.

Hendri berjongkok.

"Dengar apa yang di katakan bos kita? Tak ada jalan keluar untuk selamat. Daripada mati sia-sia mending lu jadi tumbal buat cabang BSD. Cabang BSD butuh tumbal bulan depan. Lu mau jalan sendiri ke mobil, atau gue gendong?" Hendri nanya. Terdengar santai.

Rifki merangkak. Ingin rasanya dia menghajar semua orang yang ada disini jika saja beat s1alan ini tidak menimpa pahanya yang membuatnya terasa akan patah.

"AGHHH...!" Ia berhasil menarik kakinya dari bawah motor.

Tapi seseorang sudah berdiri di depannya. Sepatu yang ia kenal.

Rifki mendongak. Mata mereka bertemu.

"Maafin gue, Ki." Zuan bilang. Datar.

"BANGS4T LU, ZUAN!" Rifki teriak saat menyadari jika Zuan lah yang pasti mengadukan semuanya kepada Pak Dermawan. Dan bodohnya Rifki baru ingat jika rute ini adalah jebakan Zuan untuk menjadikannya tumbal.

"ZUAN BODOH, APA GARA-GARA LU JEBAK JUGA NAYA KABUR?!" Teriak Rifki yang sangat tidak terima dengan berita kematian Naya.

Zuan kaget bukan main,"Naya?"

"NAYA MENINGGAL!" Teriak Rifki memukul-mukul aspal dengan marah.

Zuan terdiam. Naya meninggal?

Pak Dermawan menepuk pundak Zuan dengan bangga, "Anak pintar. Kamu tahu caranya bertahan di sini." Pak Dermawan bilang.

Rifki yang mendengar itu masih berteriak dengan marah, "PENYEMBAH SETAN!! KALIAN SEMUA PERGI KE NERAKA!!"

"Merasa terkhianati? Di sini tidak ada teman, Rifki. Yang ada hanya pilihan. Zuan memilih hidup. Kamu memilih jadi tumbal." Pak Dermawan bilang ke Rifki.

"Angkut dia. Lakban mulutnya." Perintah Pak Dermawan pada Hendri yang dengan sigap melakukannya.

Hendri membekap mulut Rifki dengan lakban, mengikat tangannya, "Sst... Cabang BSD sudah menunggu, baby." Hendri bisik.

Hendri mengangkat Rifki ke dalam mobil. Lalu mengangkat wanita itu juga. Dengan mudah dia melakukannya.

Pak Dermawan menatap Zuan, "Kamu yakin tidak ingin menandatangani surat kontrak dengan Iblis?"

Zuan tak menjawab.

"Gian, Hendri, Pak Harto, Bu Siti bahkan Rosa melakukannya." Ujar Pak Dermawan, "Jika kamu melakukannya juga, cabang baru akan jatuh ke tanganmu, Zuan."

Zuan ragu.

"Zuan..." Pak Dermawan bisik. Dekat. Kelewat dekat.

"Gian nggak nyesel. Hendri? Dia sekarang bisa beli apartemen mewah bahkan mobil mewah buat dirinya sendiri. Pak Harto? Bu Siti? Anaknya kuliah di Jerman. Rosa..." Pak Dermawan senyum, "Rosa gak akan pernah tua, Zuan. Kecantikannya abadi, mau dia di usia berapa pun, lelaki mana pun akan tetap banyak mengejarnya."

"Saya nggak maksa. Cuma nawarin masa depan yang lebih menjamin buat kehidupan miskin kamu." Pak Dermawan dengan senyuman lebar berkata.

Zuan menelan ludahnya kasar.

"Gak ada lagi kemiskinan. Semuanya emas." Tegas Pak Dermawan.

Zuan belum menjawab.

Pak Dermawan menepuk bahu Zuan dengan wajah puas, lalu masuk ke mobil meninggalkan Zuan bergelut dengan pikirannya sendiri.

Zuan tetap berdiri di tempat. Menatap Avanza hitam itu menjauh. Tanpa kata.

Zuan menundukkan wajah melihat kedua tangannya. Dengan sadar dia tahu jika dia sudah membunuh Rifki dengan cara menjebak temannya itu.

"Ini satu-satunya cara bertahankan." Ujar Zuan mencoba menghilangkan rasa bersalahnya, "Ini satu-satunya cara agar Rosa sudi melihatku juga."

"Bukan dengan tatapan sebagai tumbal, tapi sebagai seorang lelaki." Zuan meremas kedua tangannya.

_

12/09

RSUD Kota Depok, Ruang ICU Melati Lantai 2.

Mata Naya perlahan terbuka. Putih. Bukan tembok — lampu ICU.

Dingin. Bau obat + karbol + sesuatu yang anyir.

Tit... tit... tit...

Mesin di samping ranjang bunyi lambat. Kayak jantungnya males hidup.Selang oksigen di hidung. Selang infus di tangan kiri. Naya melirik perlahan ke pintu kaca. Di luar, suster mondar-mandir.

'Rumah sakit.' Pikirnya.

Pintu geser kebuka. Cewek hijab biru dongker masuk. Nggak pake APD lengkap, cuma masker. Bawa tas kresek isi buah.

"Ya Allah... Akhirnya bangun?"

Wanita itu melihat monitor, liat infus, liat muka Naya pucat kayak mayat hidup.

"Aku Ranti. Temen kakak kamu, Salsa. Tadi kakakmu nelpon, histeris. Katanya kamu pingsan depan Polsek, terus kritis. Dokter bilang asam lambung, dehidrasi parah, syok. Nyawa kamu hampir terancam, Naya." Jelas Ranti.

Ranti duduk di kursi. Nggak berani sentuh Naya.

"Kamu ngigau mulu dari UGD. Nyebut Eyang... Eyang.. Ngigau pengen balik ke rumah makan..." Ranti nggak lanjut. Dia noleh ke mesin EKG.

Naya mau ngomong. Pas bibirnya buka, cairan infusnya terasa mendidih di darahnya.

Ting... ting... ting...

Urat tangannya kebakar.

Mesin EKG juga bunyi kencang.

Tit tit tit tit

Detak jantungnya naik gila.

"Ahh!" Teriak Naya kejang merasakan jantungnya sakit. Ingin lepas.

Suster di luar nengok. Ranti langsung berdiri panik. Suster berlari ke Naya dan langsung melihat kondisinya. Naya nangis. Air mata doang yang bisa keluar.

Di monitor, detak jantungnya turun lagi.

Tit... tit... tit...

Tapi di telinga Naya, ada suara lain yang numpang lewat.

TENG!

Suara lonceng dari dalem selang infus yang menghantam suara kepalanya.

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!