NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 - Blooming

Angin musim gugur di pertengahan Oktober berembus membawa hawa dingin yang mulai menusuk tulang, menerbangkan pusaran daun maple berwarna keemasan dan tembaga melintasi pelataran Universitas Collux. Namun, hawa dingin itu sama sekali tidak mampu mendinginkan kepanikan yang mendidih di dalam dada Kevin.

Keesokan harinya, atmosfer di kampus elit itu terasa sangat berbeda dan mengancam bagi pemuda tersebut. Alih-alih menikmati status barunya sebagai mahasiswa, Kevin memulai harinya dengan langkah seribu. Ia bergerak lincah dan waspada di antara pilar-pilar marmer dan koridor gedung fakultas, menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah ia adalah seorang agen rahasia yang sedang menjalankan misi spionase tingkat tinggi.

Target yang ia hindari hanya satu: Gwen.

Kevin menghindari putri Inspektur Tertinggi Kepolisian itu secara terang-terangan dan radikal. Jika ia melihat kilau rambut pirang platinum dari kejauhan, Kevin akan langsung berbalik arah atau bersembunyi di balik rak perpustakaan. Tingkah laku aneh dan paranoidnya ini tentu saja tidak luput dari perhatian Mike dan beberapa mahasiswa lain di kelasnya, yang menyadari betapa protektif dan tertutupnya Kevin terhadap ruang pribadinya hari ini.

Di sisi lain, Gwen, yang seumur hidupnya selalu dipuja dan menjadi pusat tata surya ke mana pun kaki berbalut sepatu hak mahalnya melangkah, dibuat kewalahan dan kebingungan. Gadis itu terus mencoba melacak dan mendekati Kevin dengan gigih. Ia mencarinya ke seluruh penjuru sudut kampus mulai dari ruang baca utama perpustakaan, lobi fakultas bisnis, hingga taman belakang yang dipenuhi hamparan daun gugur. Namun, Kevin entah bagaimana selalu berhasil meloloskan diri dari radius pandangan matanya, menghilang tepat sebelum bibir berpoles lipstik merah Gwen sempat memanggil namanya.

Tentu saja, bukan tanpa alasan yang kuat Kevin bersikap seliar itu. Selain karena ia adalah seorang pria teguh yang sudah terikat secara hukum dalam komitmen pernikahan, ada satu alasan absolut yang membuat darahnya berdesir ngeri: bayangan kemarahan Ashley Giovano jauh lebih menghantui setiap sel di tubuhnya.

Bagi Kevin, ancaman bernada es yang dilontarkan istrinya tadi malam terasa berkali-kali lipat lebih mematikan daripada kemarahan atau kekecewaan putri seorang pejabat polisi mana pun di negeri ini. Kehilangan nyawa, atau lebih buruk lagi, memicu perang proksi yang bisa menghancurkan masa depan keluarga Hamilton, jauh lebih mengerikan daripada sekadar kehilangan predikat "teman" dari seorang primadona kampus yang haus validasi.

Setelah sukses bermain petak umpet selama tiga jam penuh, Kevin akhirnya bisa bernapas sejenak saat jam istirahat tiba. Di salah satu meja sudut kafetaria kampus yang luas dan bising oleh dengung obrolan mahasiswa, ia menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Ia membiarkan dahinya bersentuhan langsung dengan permukaan kayu yang keras dan dingin, mencoba mendinginkan otaknya yang nyaris terbakar.

Mike yang sudah duduk santai di seberangnya sejak tadi, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas berat melihat kelakuan absurd sahabatnya itu.

"Sumpah, kau ini kenapa terus menghindarinya seperti melihat hantu seharian ini, sih?" tanya Mike sembari menopang dagu, menatap Kevin yang akhirnya mengangkat wajah dengan tatapan mata kosong karena kelelahan mental. "Apakah pengawal raksasa berpakaian preman yang selalu mengawasi langkahmu dari jauh itu diam-diam bertugas melapor pada si 'tante kaya' misteriusmu?"

Kevin mendengus keras, mendelik tajam ke arah sahabatnya. "Sudah kubilang ribuan kali, Mike. Berhenti memanggilnya 'tante kaya'. Dan tidak, aku menghindar murni karena aku memang sama sekali tidak tertarik pada Gwen. Intuisiku menolak. Itu saja alasannya."

"Tapi yang sedang kita bicarakan ini Gwen, Kev! Astaga, kau ini pria normal atau bukan?" Mike mencondongkan tubuhnya ke depan, mencoba meyakinkan dengan nada yang dipenuhi ketidakpercayaan. "Kau tidak pernah mendengar rumor di fakultasku? Ada seorang aktor papan atas muda yang tahun lalu pernah melamarnya untuk berkencan, tapi pria itu ditolak mentah-mentah di depan umum! Dan gadis itu justru mengejarmu!"

"Hah? Lalu kenapa aku harus peduli dan tahu soal itu?" jawab Kevin datar, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lelah. "Aku sudah cukup pusing dan sibuk dengan tugas makroekonomi yang menggunung ini."

Meski di permukaan ia beralasan soal tugas, dalam hati Kevin tahu betul bahwa alasan sebenarnya jauh lebih rumit, berbahaya, dan mematikan dari sekadar setumpuk esai kuliah.

"Yah, kurasa keajaiban dunia ke delapan memang sedang terjadi," sindir Mike sambil memutar-mutar sedotan di gelas es kopinya. "Mungkin memang hanya seorang Kevin Hamilton yang punya nyali dan kebodohan untuk menolak primadona secantik dan sekaya Gwen."

Mendengar rangkaian nama itu, tubuh Kevin membatu sesaat. Kevin Hamilton. Sudah cukup lama telinganya tidak mendengar nama belakang aslinya itu disebut secara utuh dan lantang. Sejak ia secara resmi "dijual" sebagai kolateral untuk melunasi utang judi ayahnya dan masuk ke dalam lingkaran eksklusif keluarga Giovano, identitas aslinya seolah perlahan terkikis, digantikan oleh nama Kevin Givano yang tercetak di kartu identitas barunya.

Kevin berdehem kecil, berusaha cepat menetralkan kegugupan dan gelombang nostalgia yang mendadak menyerangnya, lalu mengalihkan pembicaraan sebelum Mike menyadari kekakuannya.

"Kalau kau memang sebegitu memujanya, lalu kenapa bukan kau saja yang mendekatinya? Toh kau yang menyukainya, kan?" tembak Kevin balik.

Mike terkekeh hambar, sebuah tawa yang kehilangan nada cerianya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sudah pernah kucoba, Kawan. Tahun lalu," jawab Mike dengan senyum asimetris yang dipaksakan. "Langsung ditolak mentah-mentah pada usaha pendekatanku yang pertama. Tragis."

"Padahal seingatku, saat kita masih SMA dulu, kau cukup populer di kalangan gadis-gadis cheerleader. Ternyata status sosial dan lingkungan elit di sini memang segalanya, ya?" Kevin tersenyum penuh simpati.

"Yah, walaupun track record-ku agak berandalan dan suka bermain wanita saat SMA, tapi setidaknya untungnya sel-sel otakku cukup pintar sampai bisa menembus masuk Collux ini melalui jalur beasiswa prestasi," balas Mike, mencoba mencairkan kembali suasana yang sempat canggung.

"Itu fakta mutlak, aku sama sekali tak bisa membantahnya," Kevin mengangguk setuju, menatap Mike dengan intensitas seorang kawan lama. "Aku ingat betul, dulu aku selalu mati-matian belajar karena ingin mengalahkanmu dalam peringkat sepuluh besar di kelas, tapi otak jeniusmu itu selalu berhasil melangkah selangkah di depanku."

Percakapan yang mulai hangat itu terhenti saat tatapan analitis Mike tanpa sengaja beralih dan terkunci pada barang-barang yang tergeletak di atas meja Kevin, sebuah laptop super tipis berbahan karbon dan layar ponsel tiga lipatan yang memantulkan cahaya lampu kafetaria.

"Tapi jujur saja padaku, Kev," Mike menurunkan suaranya, menatap sahabatnya dengan serius. "Mengesampingkan soal pacar rahasiamu, perusahaan raksasa mana yang sebenarnya mensponsori dan memberimu beasiswa penuh untuk masuk ke kampus ini?"

Kevin terdiam cukup lama. Tenggorokannya mendadak terasa kering seperti gurun pasir. Roda gigi di kepalanya berputar liar. Haruskah dia menyebutkan secara gamblang bahwa Ashley Giovano, istrinya sendiri, berencana memberikan tampuk kekuasaan penuh atas Giotech C&T kepadanya setelah ia lulus nanti? Mustahil. Rahasia itu bisa memicu gempa bumi di kampus ini.

"Beasiswaku berasal dari... salah satu anak perusahaan di bawah naungan Giotech Corp," jawab Kevin akhirnya, memilih kalimat yang paling aman dari kebohongan.

Jawaban jujur namun setengah matang itu sudah lebih dari cukup untuk membuat rahang Mike menganga lebar.

"Astaga! Jangan bilang... beasiswamu turun langsung dari Giotech Titan?!" Mike menggebrak meja dengan kepalan tangannya, menciptakan bunyi buk tumpul yang membuat beberapa pasang mata mahasiswa di meja sebelah menoleh ke arah mereka dengan kening berkerut. "Sialan, itu seratus persen menjawab teka-teki gilaku! Pantas saja kau memiliki akses untuk menggunakan ponsel purwarupa dan laptop model terbaru mereka bahkan berbulan-bulan sebelum barang itu resmi dirilis ke pasar global!"

"Ahahaha... tebakanmu memang selalu tajam, Tuan Jaksa," Kevin tertawa canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung bagaimana harus merespons antusiasme berlebih itu tanpa harus membongkar seluruh kebenaran tentang status pernikahannya dengan sang CEO perfeksionis tersebut.

Namun, tawa canggung Kevin terputus dan mati seketika saat penciumannya menangkap sebuah anomali di udara. Sebuah aroma parfum ekstrak bunga mawar yang kuat, manis, dan sangat ia kenali dari insiden kemarin sore tiba-tiba menusuk indra penciumannya dari arah belakang.

Bulu kuduk Kevin meremang. Sebelum ia sempat menoleh, sebuah tangan berkulit mulus dengan kuku berpoles french manicure mendarat lembut di bahu tegapnya. Sepersekian detik kemudian, sebuah suara manis yang mematikan mengalun tepat di samping telinganya.

"Ketemu juga akhirnya," bisik Gwen dengan nada kemenangan.

Gwen dengan santai menggeser sebuah kursi kosong dan langsung menjatuhkan dirinya duduk tepat di samping Kevin. Gadis pirang itu sepenuhnya mengabaikan eksistensi Mike, yang mendadak berubah kikuk dan membeku di tempat duduknya layaknya patung es.

"Kenapa kau terus berlari dan menghindariku sejak pagi tadi, Kevin?" rajuk Gwen, menatap Kevin dengan mata birunya yang bulat dan berkaca-kaca, sebuah taktik manipulasi emosional dan rayuan klasik yang sangat jarang gagal menaklukkan pria mana pun. "Apa aku tanpa sadar melakukan sebuah kesalahan padamu?"

Kevin memajukan tubuhnya, mencoba menarik bahunya dari sentuhan tangan Gwen. "Aku... aku sama sekali tidak menghindar, Gwen. Aku hanya sedang sangat sibuk dengan draf tugasku," jawab Kevin defensif, berusaha keras membangun kembali dinding jarak di antara mereka.

"Hanya sibuk?" Gwen mencondongkan wajahnya lebih dekat, mengikis jarak hingga Kevin bisa merasakan embusan napas hangat gadis itu menyapu permukaan pipinya. "Atau... kau sebenarnya sedang merasa takut? Takut kalau kau terus menghabiskan waktu bersamaku, kau akan benar-benar jatuh cinta padaku dan melupakan akal sehatmu? Aku tahu kau diam-diam memperhatikanku tadi saat di kelas makroekonomi. Jangan berbohong padaku, Kevin. Mulutmu bisa mengelak, tapi tatapan matamu tidak bisa menipu."

Kevin menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik panik ke sekeliling kafetaria yang ramai. "Gwen, kumohon. Tolong jaga jarakmu. Ini tempat umum, semua orang bisa melihat kita..."

"Lalu kenapa jika mereka melihat?" potong Gwen cepat, suaranya tetap mengalun selembut sutra namun membawa dominasi yang tegas. Ia sama sekali tidak peduli pada tatapan mahasiswa lain. Dengan gerakan berani, tangan kirinya menyusup ke bawah meja, meraih punggung tangan Kevin dan mengusapnya dengan gerakan ibu jari yang pelan dan menggoda.

"Dengarkan aku, Kevin. Aku sama sekali tidak peduli jika seluruh dunia tahu kalau aku menyukaimu," bisik Gwen intens. "Kau pria yang cerdas, kau pasti tahu kapabilitas keluargaku. Aku bisa memberikan apa pun yang kau butuhkan untuk memuluskan jenjang kariermu di masa depan. Jabatan ayahku, akses tanpa batas ke koneksi pejabat tinggi negara... atau jika kau tidak butuh itu, aku bisa memberikan diriku sendiri, sepenuhnya, sebagai teman bicaramu setiap malam untuk melepas lelah."

Rentetan rayuan maut yang ditawarkan dengan sangat frontal dan agresif itu terus mengalir tanpa henti, membelit mental Kevin dan membuatnya merasa benar-benar terpojok di tepi jurang. Ia mencoba menarik tangannya di bawah meja, tetapi cengkeraman Gwen cukup kuat.

Di tengah situasi yang terasa seperti mimpi buruk itu, sebuah getaran halus menyelamatkan nyawanya. Dering singkat dari ponsel di saku celana Kevin memutus konsentrasi Gwen.

Kevin setengah melompat, merogoh saku celananya dengan gerakan kasar layaknya orang tersengat listrik. Di layar ponselnya yang menyala, tertera sebuah pesan singkat terenkripsi dari Jonathan, pengawal bayangannya:

"Nyonya Ashley sudah tiba di mansion. Jadwal pulang lebih awal."

Membaca satu baris kalimat itu, darah di wajah Kevin seketika surut. Wajahnya berubah pucat pasi, pucat seputih kertas. Ashley, yang biasanya gila kerja, sudah pulang? Di jam seperti ini? Insting bertahan hidup Kevin langsung berteriak memperingatkan akan datangnya bahaya.

Tanpa memedulikan etiket, Kevin segera berdiri dengan gerakan tergesa-gesa, nyaris menjatuhkan kursi yang ia duduki ke belakang.

"Mike, aku harus pergi sekarang juga. Kondisi darurat!" seru Kevin sambil menyambar tas ranselnya. Ia kemudian menatap gadis di sampingnya dengan raut wajah kaku. "Gwen, maafkan aku. Aku tidak bermaksud kasar, tapi aku ada urusan yang sangat mendadak dan menyangkut nyawa. Permisi."

Tanpa menunggu respons dari keduanya, Kevin berbalik dan berlari menerobos keramaian kafetaria, meninggalkan Gwen yang termangu dengan tangan menggantung di udara, dan Mike yang mengedipkan mata tak percaya.

Perjalanan kembali ke kawasan bukit Glenville terasa seperti ujian waktu yang menyiksa. Begitu ban mobil sedan mewahnya berdecit berhenti di teras, Kevin melompat turun dan langsung berlari memasuki pintu ganda mansion mewah yang kini ia tinggali.

Namun, segera setelah langkahnya melewati foyer utama, Kevin instan merasakan atmosfer yang sangat ganjil dan berbeda seratus delapan puluh derajat.

Biasanya, saat pulang, Ashley akan menyambutnya dari ruang tamu dengan tatapan mata sedingin es yang mengintimidasi, atau perempuan perfeksionis itu sudah mengurung diri di ruang kerjanya, sibuk menatap layar tablet dan tumpukan draf kontrak korporasi.

Namun malam ini, pemandangan itu tidak ada. Lampu kristal besar di ruang tengah sengaja tidak dinyalakan seluruhnya, hanya menyisakan pendar lampu pilar yang kuning dan temaram. Di tengah keheningan yang mencekam itu, Ashley Giovano duduk di ujung sofa kulit raksasa. Kaki jenjangnya menyilang dengan anggun. Beberapa map dokumen penting tergeletak berserakan di atas meja kaca di depannya, namun tatapan mata wanita itu tampak kosong, sama sekali tidak fokus pada tumpukan pekerjaan yang biasanya menjadi napas hidupnya.

Kevin melangkah mendekat dengan sangat hati-hati.

"Kau terlambat sepuluh menit dari estimasi perjalanan normalmu," ucap Ashley memecah kesunyian, tanpa repot-repot menolehkan kepalanya untuk menatap Kevin.

Kevin bersiap menghadapi amukan dan nada sedingin silet seperti kemarin sore. Namun anehnya, suara Ashley saat ini sama sekali tidak terdengar mengancam atau marah. Suaranya justru terdengar sangat... lesu dan lelah.

"Maafkan aku. Ada... sedikit kendala teknis dan keramaian di kampus tadi, Ash," jawab Kevin pelan, suaranya tertahan saat ia melepaskan jaket musim gugurnya dan menggantungkannya di lengan.

Mendengar suara suaminya, Ashley bangkit berdiri. Ia berjalan melintasi karpet tebal itu, melangkah mendekati Kevin dengan gerakan yang sedikit gontai. Bukannya melipat tangan di dada dan memulai sesi interogasi ala detektif seperti kebiasaannya, wanita pimpinan perusahaan raksasa itu justru menghentikan langkahnya tepat di depan Kevin.

Tanpa aba-aba, Ashley menundukkan wajahnya dan menyandarkan dahinya dengan pasrah ke dada Kevin.

Tubuh Kevin menegang kaku layaknya papan kayu. Ia menahan napas saat merasakan hembusan napas hangat Ashley menembus kemejanya. Wanita itu menarik napas panjang, sengaja menghirup dalam-dalam sisa aroma udara yang menempel pada pakaian suaminya.

"Kau... pakaianmu bau parfum wanita," gumam Ashley. Nada suaranya bergetar, sama sekali bukan intonasi seorang penguasa bisnis yang mengintimidasi, melainkan terdengar sangat lemah, merajuk, dan kekanak-kanakan secara tiba-tiba.

"Ash...?" Kevin terkejut setengah mati. Ia menurunkan pandangannya, menatap pucuk kepala istrinya dengan raut kebingungan yang absolut. Perubahan sikap drastis ini jauh di luar prediksinya.

Ashley perlahan mengangkat kedua lengannya, melingkarkannya dengan posesif namun rapuh di pinggang Kevin. Pelukan itu erat, seolah ia sedang mencari tempat berlindung dari badai tak kasat mata. Ia kemudian mendongakkan kepalanya dari dada Kevin. Mata cokelatnya yang tajam, yang biasanya mampu membuat para dewan direksi gemetar ketakutan, kini menatap Kevin dari bawah dengan sorot mata sayu yang sangat menuntut perhatian dan kehangatan.

"Katakan padaku..." bisik Ashley dengan suara serak. "...apakah gadis berambut pirang itu masih terus mengejarmu dan mengganggumu hari ini?"

Kevin hanya bisa mematung tak berdaya. Lidahnya kelu. Kedua tangannya perlahan terangkat untuk membalas pelukan di punggung istrinya. Di tengah temaram lampu mansion malam itu, otak Kevin menyadari satu realitas emosional yang mencengangkan: Ashley Giovano, Ratu Es yang dikenal sangat dingin, perfeksionis, dan menakutkan itu, kini bisa berubah wujud menjadi sosok wanita yang sangat haus akan perhatian, rapuh, dan emosional hanya dalam sekejap mata.

Dan celakanya, Kevin tahu, ia telah jatuh terlalu dalam pada pesona anomali wanita ini.

1
Bunga
cerita yang indah thor🙏
Seira J.: Terima kasih sudah membaca♡❤️
total 1 replies
Bunga
😍
Bunga
wow😍
Bunga
iistrimu hamil kev😍
Bunga
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!