Sesungguhnya mencintai seseorang dengan setulus hati itu sangatlah sederhana, tak ada alasan, tak ada tuntutan, juga tak berharap balasan, cukup melihatnya tersenyum bahagia maka hatimu akan merasa bahagia.
Seseorang yang memiliki ketulusan dalam cintanya akan terus berusaha agar orang yang di cintainya merasa bahagia, meskipun terkadang tanpa sadar telah menyakiti dirinya sendiri.
Seperti dalam kisah ini.
Seorang gadis yang setia menunggu cinta pertamanya yang hampir 3 tahun tak ada berita, tiba tiba saja di lamar oleh seorang pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya di masa lalu. kebimbangan menimpanya,sampai akhirnya mereka menikah atas permintaan orangtuanya, perlahan diapun mulai menyukai suaminya.
Namun entah apa yang terjadi, setelah hampir satu tahun berumah tangga, suaminya merasa dirinya tak mampu membahagiakan istri yang sangat ia cintai, dia pun berusaha untuk mempersatukan kembali istrinya dengan cinta pertamanya. Apa yang terjadi?...
yuk readers ikuti kisah serunya 😉
❤❤❤
happy reading.... 😊🤗👏
=====================================
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana pindah rumah
Mobil hitam itu melaju meninggalkan toko. Sekitar lima belas menit perjalanan, Fauzi membelokkan mobilnya ke sebuah area parkir restoran yang tampak elegan namun nyaman.
“Kamu lapar?” tanya Fauzi tiba-tiba, seolah bisa membaca isi kepala Afifa yang sejak tadi ingin menanyakan hal yang sama, tapi terlalu canggung untuk mengutarakannya. “Kita makan dulu,” lanjutnya sambil mengangkat alis, memberi isyarat agar Afifa ikut turun.
Afifa mengangguk pelan. “Iya, Kak…”
Mereka turun bersamaan, berjalan beriringan ke dalam restoran.
Seorang pelayan segera menghampiri dengan senyum ramah.
“Selamat siang, Pak Fauzi. Silakan, sudah kami siapkan,” ucapnya sambil membungkuk sopan. Pelayan itu seolah sudah sangat mengenal tamunya.
Afifa sedikit terkejut. Hmm, sampai hapal begini, pasti sering ke sini… pikirnya.
Fauzi hanya mengangguk singkat dan tersenyum sopan, lalu berjalan mengikuti pelayan menuju meja yang berada di sudut ruangan, agak tersembunyi dari keramaian. Afifa mengikutinya diam-diam, jantungnya berdegup kencang entah kenapa.
Setelah mereka duduk dan makanan datang, suasana hening menyelimuti meja itu. Hanya terdengar suara gesekan sendok dan garpu. Sesekali, mata mereka beradu. Sekejap. Lalu sama-sama mengalihkan pandangan, kembali pura-pura sibuk dengan makanan masing-masing.
Afifa menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum malu. Kenapa hening begini? Harusnya aku bilang apa, ya…
“Gimana makanannya? Enak?” Suara Fauzi memecah keheningan, membuat Afifa sedikit terlonjak.
“A… iya, enak, Kak,” jawabnya tergesa sambil tersenyum canggung. “Hehe…”
Fauzi mengangguk pelan, bibirnya melengkung samar. “Syukurlah.”
Afifa mengerling sekilas, dalam hati mendengus gemas. Cuma mau bilang itu doang? Ya ampun…
Beberapa detik kemudian, Afifa mencoba memberanikan diri bertanya. “Emm… sepertinya mereka sangat mengenal Kakak.” Ia menunjuk ke arah pelayan dengan sendok kecil di tangannya.
Fauzi menoleh santai. “Kakak sering makan di sini,” jawabnya singkat.
“Oh… langganan, ya.” Afifa mengangguk paham, suaranya dibuat selembut mungkin, meski dalam hati sedikit geli sendiri.
Fauzi menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Kenapa? Cemburu?”
Afifa terkejut, pipinya langsung merona. “H-hah? Enggak kok… siapa juga yang cemburu…” balasnya cepat sambil kembali fokus ke piringnya.
Fauzi terkekeh pelan, senyumnya kali ini lebih jelas. “Santai aja, Dek. Kakak nggak kemana-mana. Kakak cuma sama kamu.”
Afifa terdiam. Hatinya berdebar tak karuan. Entah bagaimana ia menahan senyum yang hampir pecah di wajahnya.
Setelah selesai makan, Fauzi berdiri, membayar ke kasir, lalu kembali mengajak Afifa ke mobil. Perjalanan pulang pun dilanjutkan.
***
Mereka tiba di rumah Afifa sekitar pukul empat sore. Tanpa banyak bicara, keduanya segera berganti pakaian dan melaksanakan shalat Asar berjamaah di kamar Afifa.
Selesai salam, Afifa menunduk, mencium tangan suaminya. Sentuhan itu terasa begitu hangat, menenangkan, membuat hatinya bergetar. Ya Allah… inilah momen yang aku impikan sejak dulu… menjadi istri yang sah…
Fauzi menatap istrinya yang masih menunduk. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Besok… kita pindah ke rumah kita. Kamu bereskan barang-barangmu, ya. Kakak akan bicara sama Umi dan Abi.”
Afifa mengangguk pelan. “Iya, Kak…”
Fauzi tersenyum, lalu beranjak keluar kamar. Ia menghampiri Umi dan Abi yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Assalamualaikum, Abi, Umi,” sapa Fauzi sopan.
“Waalaikumussalam,” jawab keduanya hampir bersamaan. Abi menatap menantunya dengan ramah. “Ada apa, Nak Aji?”
Fauzi menarik napas, menata kalimatnya. “Sebenarnya, Aji mau minta izin, Bi, Mi.”
Abi mengerutkan dahi samar. “Izin? Untuk apa, Nak?”
Fauzi tersenyum. “Aji ingin membawa Afifa ke rumah kami, Bi, Mi. Alhamdulillah, rumahnya sudah selesai direnovasi. Sudah layak untuk ditempati.”
Abi mengangguk-angguk, wajahnya terlihat bahagia dan bangga. Sementara Umi, meski turut bahagia, tak bisa menyembunyikan guratan sedih di wajahnya. Hatinya terasa perih membayangkan putri pertamanya akan segera meninggalkan rumah.
Melihat itu, Fauzi segera menenangkan. “Umi nggak perlu khawatir. Umi dan Abi bisa datang kapan saja. Rumahnya nggak jauh dari sini, sekitar satu jam perjalanan naik mobil. Kami juga pasti sering pulang ke sini.”
Umi menarik napas panjang, berusaha menahan air mata. “Bukan khawatir, Nak… Umi cuma… terharu. Afifa akhirnya akan hidup mandiri bersama suaminya. Umi bersyukur, Allah mengirimkan Nak Fauzi untuk putri Umi.”
Fauzi tersenyum lega. “Besok, Umi dan Abi bisa mengantar kami, kan?”
“InsyaAllah,” jawab Abi dan Umi bersamaan sambil mengangguk.
Di pintu, Afifa berdiri terdiam. Matanya berkaca-kaca melihat percakapan itu. Perlahan, ia melangkah masuk, duduk di samping Umi, lalu memeluk ibunya erat-erat. Air mata tak terbendung lagi, mengalir di pipinya.
Umi membalas pelukan putrinya, mengusap punggungnya pelan. Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukan itu, menatap wajah putrinya, lalu mengusap lembut pipinya.
“Kamu beruntung, Nak… Suamimu sangat baik, dan aku tahu dia sangat menyayangimu.”
Afifa mengangguk, terisak pelan. “Iya, Mi…”
Umi memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Sementara Fauzi dan Abi hanya menatap keduanya dengan senyum penuh haru.
Di sudut hatinya, Fauzi berjanji dalam diam: Aku akan menjaga Afifa. Selalu.
Bersambung… 😊❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
InsyaAllah dibaca SCA 2 nya, semakin menarik sepertinya dan bikin penasaran dengan kisah Fauzi dan Afifa, Farid dan Wulan bagaimana ya 🤔🤔🤔
Semangat kak Rahma dan teruslah berkarya
👍👍👍🤗🤗🤗
😊😊😊
🤣🤣🤣
Doa terbaik buat kak Rahma dan keluarga, sehat sehat dan sukses selalu 🤗🤗
🤗🤗🤗
🤧🤧🤧
🤔🤔🤔