NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"A Safwan ..." lirih Freya dalam hatinya. Dia tidak menyangka, jika cinta pertamanya sekaligus mantan kekasihnya itu begitu lengket dengan Pitaloka.

Lagi, ingatan masa lalu menghantam. Ketika Safwan memutuskan hubungan saat ia baru saja diperkosa oleh Lingga ... dan Safwan terhasut oleh video-video serta foto-foto tak senonoh yang dikirimkan oleh Pitaloka.

"Sepertinya Safwan dan Pitaloka berpacaran." Batinnya berbisik sendu. "Cukup, Freya. Jangan terbawa masa lalu. Lupakan. Ingat kembali pada tujuan awalmu," desisnya masih dalam hati. Freya mengenyahkan semuanya. Ia melempar senyum menawan pada sepasang kekasih itu. Lalu buru-buru masuk ke dalam mobil.

"Wanita tadi siapa sih? Dia kok cantik banget," ujar Pitaloka sembari memandangi mobil Freya yang sudah melaju pergi.

Sementara Safwan, terpaku. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak menentu. Ada rasa aneh yang menyelinap kalbunya. Seperti rasa perih sekaligus rindu.

Di ruang kerja Zainal ... Lingga sedang melobi ayahnya. "Yah, pokoknya selama kita bekerja sama dengan perusahaannya Freya, Ayah harus bisa membujuk dia supaya mau tinggal di sini. Aku ingin sekali mengenal dia lebih dekat. Bukan hanya sebagai partner bisnis, tapi partner hidup juga."

Zainal tertawa pelan. "Kamu tertarik padanya?"

Tanpa ragu, Lingga mengangguk. "Ya, tentu saja. Selain karena dia cantik dan tubuhnya yang bak gitar spanyol ... Freya juga pintar dan kaya raya. Dia adalah calon pendamping hidup yang pas untukku. Katanya Ayah sudah ingin punya menantu. Ayolah ... bujuk dia ya, Yah. Please ..." Lingga merengek, sembari menyatukan kedua telapak tangan di depan dada.

"Gercep amat kamu kalau sama wanita cantik mah." Zainal menarik Lingga ke dalam pelukan sambil tertawa. "Nanti Ayah usahakan, ya," tukasnya yang membuat Lingga bersorak bahagia.

Di lantai bawah, setelah Safwan berpamitan pulang, Pitaloka buru-buru menghampiri ibunya yang sedang membuat teh di dapur. "Bun, perempuan yang baru saja keluar itu siapa? Tamunya Ayah atau Kakak?"

Lastri menoleh sambil tersenyum. "Yang cantik tadi?" Dia malah balik bertanya.

"Iya," balas Pitaloka.

"Namanya Freya," jawab Lastri sambil duduk di kursi. "Dia itu datang ke sini menawarkan kerja sama membangun resort tea dan agrowisata ke Ayahmu. Dan ya, Ayahmu setuju."

"Ooh ... jadi dia rekan bisnisnya Ayah? Kirain kenalannya Kak Lingga."

"Rekan bisnis Ayahmu. Tapi kayaknya Kakakmu langsung naksir sama dia," kekeh Lastri menyesap tehnya.

"Ya iyalah pasti naksir. Aku juga yang cewek terpesona sekali melihat kecantikannya. Apalagi Kak Lingga yang playboy cap kakap," celetuk Pitaloka yang langsung mendapat pelototan dari ibunya.

"Hus! Sembarangan kalau ngomong. Kakakmu bukan playboy. Tapi rebutan para gadis," ralat Lastri memperbaiki ucapan anak bungsunya.

"Iya, idola para gadis." Pitaloka mengiyakan. Tapi dalam hatinya ia tahu, kalau kakaknya tukang gonta-ganti pasangan.

______

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, melelahkan dan menguras emosi tertahan, Freya kembali ke rumah yang telah disiapkan Shankara Birawa. Bangunan modern yang sunyi, terlalu sunyi untuk disebut rumah. Jauh dari pemukiman penduduk, lebih mirip villa.

Begitu pintu kamar tertutup, Freya mengembuskan napas panjang.

Blazernya dilepas, disusul kemeja yang ia gantungkan asal di sofa yang ada di kamarnya. Tinggal tanktop tipis yang membalut tubuhnya.

Baru saja ia melangkah menuju jendela untuk menghirup angin sore ... sepasang lengan tiba-tiba melingkar dari belakang.

Freya menegang seketika.

Jantungnya berdegup keras saat aroma maskulin yang sangat ia kenal menyergap inderanya.

"Semua lancar, kan, Freya?" Suara Shankara rendah, dekat di telinganya. Entah kapan lelaki itu masuk ke kamarnya, atau mungkin sudah sejak tadi ia berada di kamar Freya. "Mereka mau bekerja sama denganmu?" lanjutnya.

Freya menelan ludah. "L-lancar, Tuan," jawabnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil. "Mereka menerima dengan sangat terbuka."

Pelukan itu tak dilepas.

Freya semakin gugup. Ini adalah pertama kalinya Shankara menyentuhnya seperti ini sejak hampir satu tahun mereka hidup di bawah atap yang sama. Selama ini, lelaki itu selalu dingin, menjaga jarak, seolah Freya hanyalah aset.

Namun sore ini ... berbeda.

"Bagus." Embusan napas hangat Shankara menerpa tengkuk gadis itu. "Freya," panggil Shankara pelan, nadanya berubah berat. "Kau masih ingat perjanjian kita?"

Tubuh Freya menegang lebih keras.  Sebelum akhirnya ia menjawab. "Ingat, Tuan."

"Good." Shankara kian mendekatkan wajahnya ke tengkuk Freya. "Kau milikku. Meskipun kau kuperintahkan untuk membuat Lingga Buana tergila-gila, tapi ingat satu hal ..." Nada suara Shankara mengeras. "Jangan biarkan dia menyentuhmu. Karena aku tidak suka milikku disentuh orang lain. Paham?"

"Paham, Tuan," jawab Freya lirih.

Ciuman singkat mendarat di tengkuk Freya, membuat tubuh gadis itu meremang, antara takut dan tak berdaya. Shankara kemudian memaksanya berbalik menghadapnya.

Tatapan mereka bertubrukan.

Dominasi. Kepemilikan. Tekanan.

Shankara merunduk, Bibirnya tiba-tiba menyentuh bibir Freya ... bukan lembut, melainkan menuntut. Freya memejamkan mata, hatinya berperang antara patuh dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Udara di kamar itu terasa memberat. Di luar, senja perlahan turun.

Shankara mendorong Freya hingga merebah di atas ranjang besar itu dengan bibir yang masih saling bertaut.

"T-Tuan ..." Freya melirih di sela pagutan tersebut.

Shankara memisahkan sejenak bibirnya. Menatap Freya yang ada di bawahnya. "Relaks, Freya. Aku tidak akan melakukannya dengan kasar," ucapnya dengan suara berat dan parau. Lalu ia menunduk lagi, menyapa kembali bibir Freya.

Setiap sentuhan terasa asing, berat, dan memaksa. Dada Freya terasa sesak oleh kenyataan bahwa ini terjadi bukan karena cinta, melainkan karena perjanjian dan demi balas dendam. Ia memejamkan mata, menahan diri, membiarkan pikirannya melayang pada wajah Galih, pada sumpah dendam yang telah ia ikrarkan. "Ini adalah harga yang harus kubayar," bisiknya dalam hati.

Namun ketika milik Shankara mulai bersiap masuk ke tubuhnya, Freya menegang hebat. Ingatan malam kelam itu menembus, membuat ia nyaris mendorong Shankara dari atas tubuhnya. Tapi dengan gerakan cepat, lelaki bertato pedang di dada itu mengunci kedua tangan Freya di atas kepala gadis itu sendiri. "Tenang, Freya. Tatap wajahku dan lupakan tragedi malam itu," desis Shankara dengan nada pelan, namun tajam.

Freya mengangguk, meski takut. Ia menatap wajah Shankara dalam-dalam. Lalu dengan sekali hentakan keras, tubuhnya melengkung. Rasa perih menjalar di bagian bawah tubuhnya. "T-Tuan ... akh ... ss-sakit," cicitnya berkaca-kaca.

"Tahan. Sakitnya tidak akan lama." Shankara menunduk, meraup kembali bibir Freya yang setengah terbuka.

Perlahan, rasa sakit itu menghilang. Freya mulai terbawa suasana dengan ritme yang diberikan Shankara Birawa.

Rintihannya berubah menjadi desahan lirih yang kian membangkitkan hasrat Shankara.

Lelaki itu makin kuat menggempur Freya. Hingga akhirnya, desahan mereka memenuhi kamar itu, saling bersahutan syahdu.

Saat segalanya usai, Freya terbaring diam, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tangannya mencengkeram selimut yang menutupi tubuh polosnya.

Shankara bangkit lebih dulu, kembali menjadi sosok dingin yang seolah tak tersentuh apa pun. "Tidurlah. Aku mau keluar sebentar. Ada urusan yang harus aku selesaikan," ucapnya datar.

Freya menoleh perlahan, lalu mengangguk. Di dalam hatinya, sebuah janji baru terukir. "Setelah dendam ini terbalaskan ... aku akan pergi dari kehidupan Shankara Birawa."

1
Sayekti 0519
Alhamdulillah. akhirnya. semua bs terselesaikan dengan baik i
Ama Apr: iya kk🫰
total 1 replies
Sayekti 0519
itu pilihan yg ada saat ini,dan km tidak punya apa2 kecuali dendam.bersabarlah....
Sayekti 0519
nikmati lah...semua sebelum penyakit kelamin datang
Sayekti 0519
tangkap sekap si lingga itu.lecehkan balik bila perlu kasi k tuh orang biar dobol tuh burit
Les Tary
ngeri si lingga ga takut penyakitan doyan celap celup
Rina Arie
good book
Ama Apr: makasih kk
total 1 replies
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
kurang panjang ceritanya Thor🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
seperti itu yang dirasakan seorang wanita yg di perkosa kakamu ....itu. yg dirasakan Galuh
Ama Apr: betul
total 1 replies
Sari Nilam
kasihan freya
Ama Apr: iya kk🥲
total 1 replies
Sari Nilam
panas panas...ada yang kebakaran tapi gak perlu prmadam
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
Sari Nilam
narkoba ...wah2 makin kelam.itu
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
Sari Nilam
nah kan gimaba,rasaya dirudapaksa 4 0rang ? itu yang dirasakan Galuh saatbkkmu merudapaksa dirinya
Sari Nilam
nah kena deh gadis sombong
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
ya kok end
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
safwan dpet jalang kapok. lu
falea sezi
ternyata cm selingkuh an nasib mu freya
falea sezi
hahaha kapok
awesome moment
😄😄😄bnr2 berlipat tuaiannya
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
awesome moment
😄😄😄😄😄teman anak sendiri digebet jg. keren2 bnr2 animal moral
Ama Apr: huhu🥹
total 1 replies
awesome moment
animal instink
Ama Apr: iya kk🥹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!