[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 (1)
Di depan Rafa dan Vallen sudah tersaji dua porsi sate, masing-masing mendapat 8 sate plus 2 lontong. Vallen dengan lahap memakan satenya yang belum diberi sambal, hanya ingin merasakan dulu bumbu original dari saos kacang ini. Dia memejamkan mata dan bergumam sendiri. "Hmmmm!"
Beda halnya dengan Rafa yang sedikit tak selera dengan makanan di hadapannya, bukan tak suka hanya tidak mood makan saja, lagi pula Rafa juga bukan orang yang pilih-pilih makanan, pokoknya yang bisa dimakan akan Rafa makan.
Rafa membuka tutup wadah berisi sambal, kemudian menuangkannya langsung ke piring padahal ada sendok kecil di sana.
Vallen yang mendongak melihat Rafa hendak menuangkan itu, seketika membulatkan matanya.
"Rafa!!!" teriaknya bahkan sampai membuat orang di sana melirik ke arah mereka.
Dan alhasil sambalnya banyak yang tumpah ke piring karena cowok itu terkejut. Rafa meneguk ludahnya, tangannya bergetar saat menyimpan kembali wadah sambal.
"Lo pikir itu acar apa! Sini gantian piringnya, lo kan ga suka pedes Fa!" Vallen segera menukar piring mereka. Ia lalu menatap Rafa dengan khawatir. "Kenapa sih?" tanyanya pelan.
Rafa masih bingung dan berusaha keluar dari lamunannya, kemudian ia membalas tatapan Vallen. "Tau darimana gue gak suka pedes?"
"Dari ..." Gadis itu mengetukkan jari di meja, kemudian menggigit bibir bawahnya sambil menengok kedai bakso di seberang lagi. "... bunda lo."
Rafa segera melepaskan tautan mata mereka, lalu mulai makan tanpa bicara lagi.
***
"Rafa ngebut!" pinta Vallen saat setetes air mengenai tangannya. Dan kemudian tetesan itu semakin bertambah tiap waktunya. Vallen menepuk punggung Rafa. "Cepet!"
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan supermarket, sayang parkiran di sana tidak ada kanopinya, jadi saat mereka turun dan melepas helm, otomatis tambah kebasahan. Dengan cepat mereka pun lari masuk ke area supermarket.
Masih di pelatarannya, mereka mengeringkan diri dulu sejenak, setidaknya agar tak terlalu basah. Vallen mengeluarkan tisu, dan mengelap wajahnya. Di pinggirnya, ada Rafa yang tengah mengacak-acak rambut.
Melihat Rafa dari bawah sini, maksudnya karena Vallen lebih pendek 25 cm rasanya seperti ... Rafa lebih argh! Ditambah lagi tetesan air yang masih ada di wajahnya dan mata tajam yang sedang menyipit karena tak mau kena cipratan air yang ia buat sendiri dari gerakan tangan di rambutnya.
"Fa, mau?" Vallen menawarkan tisu. Tanpa menjawab, Rafa segera mengambilnya.
Setelah itu, mereka mengambil troli dan mulai berjalan memilih barang. Vallen mengambil-ambil sayuran secara acak, entahlah dia juga kurang tahu akan masak apa nanti, tapi kan besok Tante Nisa bahkan pembantu Rafa sudah pulang. Tak hanya sayur, Vallen juga membeli buah. Kemudian mereka pindah ke bagian rak yang berisi pasta dan bumbunya, sebagai pilihan masak darurat jika yang bisa masak belum datang juga.
Vallen yang memasukkan barang-barang sedang Rafa yang mendorong trolinya, ah, mereka sudah cocok sebagai sepasang suami istri yang sedang belanja bulanan. Seusai dari lorong itu, Vallen merebut kendali troli, dan mendorongnya cepat hingga ia sampai di lorong ... camilan!!!
Mata cewek itu berbinar dan berteriak girang dalam hati. Tangannya bergerak ke sana kemari untuk mengambil produk dan memasukkannya ke troli. Namun, ia menoleh pada Rafa yang sedang melihat dirinya, cowok itu berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
"Fa, lo bawa uang banyak kan?"
"Menurut lo?"
"Banyak!" jawab Vallen sambil terkekeh. Ia melajukan trolinya lagi ke arah rak minuman.
Kaki gadis itu berlari kecil mengambil ini itu, hingga tangan Vallen penuh dengan kotak susu dan minuman botol. Ia pun berjalan dengan hati-hati menuju trolinya, lalu menumpahkan semua barang itu. "Beres!"
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.