Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Tawaran
Keadaan Ayah yang telah kembali sehat, membuat ayah mencari pekerjaan serabutan. Karena mobil yang di gunakan saat kecelakaan masih berada di kantor polisi, dan dengan kondisi rusak parah. Akan membutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk mengeluarkan dari kantor polisi dan memperbaikinya.
Karena itu ayah memilih mencari pekerjaan serabutan, dari menjadi kuli bangunan, kuli angkut, ikut pekerjaan lepas membersihkan gedung bertingkat, apa aja yang penting halal. Membuatku, jadi semakin tidak tenang, dengan keselamatan ayah.
Tapi aku tidak bisa melarang ayah, karena ayah bilang hutang di bank masih 15 kali bayar lagi. Jika sudah lunas, ayah baru bisa tenang dan mungkin bisa membiayai kuliahku.
Saat aku bilang, kalau aku yang akan membayarnya ayah malah tidak senang, dan nekat cari kerja.
Jika dulu saat ayah menjadi sopir online, hasil kerja ayah habis untuk membayar hutang dan kontrakan. Sedangkan aku yang juga bekerja hanya membayar air, listrik dan iuran warga. Sedang untuk makan, siapa aja bisa belanja buat kebutuhan dapur, karena baik aku dan ayah lebih sering makan di luar kecuali sarapan pagi.
Ayah masak sebelum berangkat mencari penumpang, dan terkadang membawa bekal. Sedang aku lebih sering jajan.
"TabunganKu sekarang masih 118 juta, hutang ayah di bank tinggal 90 juta lebih, tapi tidak sampai 100 juta. Aku bisa melunasi hutang ayah....tapi bagaimana caranya supaya ayah tidak curiga aku dapat uang dari mana." kataku setelah melihat saldo tabungan ku.
Aku duduk di warnet sambil bermain game dan berpikir, bagaimana cara melunasi hutang ayah, tanpa ayah bertanya aku dapat uang sebanyak itu dari mana.
Meski aku bekerja di dua tempat sejak lulus SMA, tapi mengumpulkan uang sebanyak itu juga mustahil. Karena gajiku di warnet hanya setengah dari UMR dan di kafe juga di bawah UMR, tapi di kafe aku bebas makan dan minum sesuka hati.
Hingga kedatangan pak Rama yang cukup mencolok ke warnet, dengan pakaian formalnya. Celana bahan dengan atasan kemeja yang di lapisi jas semi formal dan sepatu loafer. Ditengah jam warnet yang di penuhi mahasiswa yang sedang bermain game, atau ngerjain tugas.
"Eh pak Rama, ada perlu apa pak?" heran ku sambil berdiri.
Pak Rama mengamati ke sekeliling, lalu mengambil duduk di depanku. "Selama ini pihak Adam tidak menggagumu saya pikir aman, tapi saya salah. Kemarin dia menemui ayahmu, dan hari ini ayahmu berencana mencabut tuntutannya."
"Apa! Apa yang dia lakukan pada ayah, pak?" cemas ku, sambil mengingat ayah yang terlihat murung tadi pagi.
Bahkan ayah sempat berpesan padaku untuk selalu hati-hati, dan langsung menghubunginya jika terjadi apa-apa.
"Tidak terjadi apa-apa, lebih tepatnya belum. Mereka hanya minta ayahmu untuk mencabut tuntutannya, jika ingin selamat. Ayahmu kuatir padamu, makanya berniat mencabut."
Aku langsung duduk lemas, sekaligus juga lega.
"Jujur, saya ingin memberi sedikit pelajaran pada keluarga Smith, karena pernah menjebak dan hampir merusak nama baik saya. Karena itu, saya harap ayahmu tidak berubah pikiran."
"Bagaimana biar ayah saya tenang, pak? Apa saya harus sembunyi, itu jelas tidak mungkin, pak."
"Cari perlindungan dari orang yang bisa melindungimu, dan ayahmu."
Aku menghela nafas sebelum menceritakan, kalau itu tidak mungkin. Karena ibuku menikah dengan keluarga Smith, dan ibu pasti tahu jika aku memanfaatkan orang terdekat kami. Meski ada sepupu jauh yang punya jabatan, tapi itu dari pihak ibu.
"Bagaimana kalau bapak aja," ceplos ku.
"Hah, bagaimana bisa."
"Begini maksudnya, bapak pura-pura menjadi pelindung saya."
"Pura-pura bagaimana? Apa kita pura-pura punya hubungan, gitu?"
Aku mengangguk, "kita pura-pura aja pacaran. Cinta tumbuh karena sering bertemu," ucapku nekad.
Aku pikir jika ayah tahu, aku bisa bohongin ayah untuk pura-pura pinjam uang pak Rama, untuk melunasi hutang ayah.
"Jika semua orang tahu aku punya pacar, meski cuma pura-pura dan hanya kita berdua yang tahu. Aku bisa susah cari pasangan, nantinya."
"Ahh, enggaklah pak. Jika kasus ini selesai, kita bisa tunggu sebulan baru bilang kalau sudah tidak ada hubungan. Alias sudah putus."
"Kamu belum punya pacar?" tanya pak Rama membuatku menggeleng.
Bagaimana mau pacaran, jika hari-hari aku hanya sibuk di kafe dan warnet, bahkan temanku juga hanya itu-itu, aja.
"Kalau pacaran saya tak bisa melindungimu, tapi kita bisa pura-pura menikah."
"Hah menikah?"
"Hanya pura-pura, antara kita berdua aja yang tahu."
"Tapi..."
"Takut dosa?" kata pak Rama terlihat meremehkan aku.
"Bukan gitu, jika ayah tahu ayah akan kecewa."
"Tapi jika kamu menikah denganku, pihak dari ibumu juga akan berpikir dua kali untuk mengancammu." kata pak Rama, yang seperti tahu kalau ibu akan mengancamku.
Karena bertepatan dengan kedatangan ibu, yang terlihat turun dari mobil mewahnya.
"Pak tolong sembunyi dulu, atau pura-pura jadi pengunjung warnet, Please..."
Pak Rama menaikan alisnya, seolah bertanya ada apa. "Ibuku datang," mohon ku.
Pak Rama tidak menjawab, tapi langsung berdiri dan menaruh ponselnya di atas meja, dengan posisi tengkurap sebelum berpindah duduk, di salah satu depan komputer yang kosong.
"Bisa mama bicara sebentar, Lin?"
"Bisa, tapi di sini aja ya bu. Warnet lumayan ramai, aku harus mengawasi mereka, takut mereka butuh sesuatu."
"Ya sudah ke intinya saja, sebenarnya yang beli rumah yang kamu tempati dulu, hingga kamu di usir adalah orangnya Adam. Adam yang menabrak ayahmu adalah keponakan om Nicholas."
"Lalu ibu mau aku mencabut tuntutannya, supaya Adam bebas."
"Iya, karena jika di tuntut, papa Adam, akan mengusik jabatan om Nicholas sebagai GM di hotel. Tolonglah demi mama dan adikmu, adikmu tahun ini juga harus masuk ke perguruan tinggi."
"Lalu membiarkan orang yang membuat ayah kecelakaan bebas, bahkan mereka juga sempat memutar balikkan fakta."
"Kenapa harus diperpanjang, sih. Toh, ayahmu juga sudah keluar dari rumah sakit dan sudah beraktivitas kembali."
Aku pejamkan mataku dengan keraguan, apa benar orang di depanku ini adalah ibu yang melahirkan aku.
"Masalah mobil yang rusak, nanti mama akan minta om Nicholas ganti yang baru, bagaimana?"
"Bagaimana dengan bekas luka yang di alami ayah, yang gak bisa hilang. Bagaimana dengan trauma ayah, pasca kecelakaan bu." lirih ku tak percaya dengan ucapan ibu.
"Jika dari awal Adam mengakui kesalahannya, telah menyebabkan terjadinya kecelakaan. Mungkin aku akan terima, cukup tanggung jawab biaya rumah sakit dan perbaikan mobil. Tapi Adam yang memutar balikkan fakta dan menuduh ayah yang ngantuk lah, yang teledor mengendarai mobil sambil bermain ponsel, bu." kataku dengan menahan amarah yang siap meledak.
"Meski kamu menyewa pengacara, kamu juga akan tetap kalah sayang. Lebih baik berdamai dan dapat mobil baru."
"Dan itu sama aja, membenarkan ucapnya dan menyalahkan ayah, bu. Tidak, aku tidak mau!"
"Mama sudah memperingatkan mu, jangan sampai kamu menyesal jika terjadi apa-apa denganmu dan ayahmu!" marah ibu sebelum pergi.
Membuatku meneteskan air mata, melihat kepergiannya. "Apa benar dia adalah wanita yang telah melahirkanku."
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in