NovelToon NovelToon
Perjodohan Yang Tak Terduga

Perjodohan Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Aliansi Pernikahan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Falco Kaiseradler

Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan

Satu minggu telah berlalu semenjak mereka menikah, dan dinding kecanggungan yang membatasi Fadli dan para istrinya sudah mulai runtuh. Fadli bahkan sudah tidak lagi menggunakan bahasa formal yang kaku dan sopan ketika berbicara dengan kelima istrinya itu. Ya, walaupun alasan utamanya adalah karena desakan Visha dan adik-adiknya yang terus-menerus meminta Fadli untuk bicara lebih santai dan akrab layaknya suami biasa.

Saat ini mereka sedang berkumpul santai di ruang bermain, dan Sasha mulai menunjukkan sifat manjanya kepada Fadli.

"Mas, Mas yang adil dong! Masa seminggu ini Mas tidur sama Mbak Visha terus? Sekali-kali ke kamar Sasha juga dong, Sasha kan juga istri Mas," rengek Sasha sambil memeluk leher Fadli yang sedang duduk di sofa dari arah belakang dengan erat.

"Iya nih, Mbak Visha nggak boleh monopoli Mas Fadli sendirian begitu, bagi-bagi dong jatahnya sama kami." Tasha langsung menimpali, mendukung penuh perkataan Sasha dengan nada protes yang dibuat-buat.

"Lah, jangan salahin aku dong. Kalian kalau memang mau tidur bareng Mas Fadli, ya kalian langsung minta ke orangnya saja!" balas Visha membela diri, meski wajahnya sedikit memerah.

Mereka semua serentak langsung menoleh ke arah Fadli dengan tatapan mata penuh pengharapan yang sulit untuk ditolak.

"Iya deh, iya. Mulai nanti malam aku akan bergiliran tidur dengan yang lain," kata Fadli akhirnya, mengiyakan permintaan para istrinya itu sambil tersenyum pasrah.

"Eh, kita kan sudah seminggu nikah, gimana kalau kita liburan ke mana gitu?" usul Misha tiba-tiba dengan mata berbinar.

"Aku setuju banget sih, bosan juga seminggu di rumah terus tanpa kegiatan seru," lanjut Masha mendukung kembarannya.

"Boleh saja, kalian mau liburan ke mana memangnya?" tanya Fadli kepada kelima istrinya, memberikan kebebasan memilih.

"Mas maunya ke mana? Kami ikut saja pilihan Mas," tanya Visha balik, mencoba menjadi istri yang penurut.

"Aku anak rumahan, aku jarang sekali keluar, jadi aku enggak tahu tempat-tempat bagus untuk berlibur," jawab Fadli jujur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ke pantai aja gimana? Main air pasti seru!" saran Sasha dengan semangat.

"Wah boleh tuh, biar kerasa juga suasana bulan madunya," jawab Tasha setuju, membayangkan suasana romantis di pinggir laut.

"Pantai? Oke. Mau menginap atau enggak?" tanya Fadli memastikan rencana mereka.

"Menginap dong pastinya!" jawab Misha cepat.

"Iya, nanggung banget kalau ke pantai cuma sebentar doang, mumpung kita masih masa libur sekolah," lanjut Masha memberikan alasan.

"Oke, mau berangkat kapan? Aku kapan saja bisa kok," tanya Fadli sekali lagi.

"Besok aja gimana?" tanya Visha yang langsung dibalas anggukan antusias oleh yang lainnya.

"Yay! Liburan ke pantai!" Sasha yang dari tadi masih memeluk Fadli dengan manja langsung mencium pipi Fadli dengan gemas. "Makasih Mas!"

Fadli hanya tersenyum kepadanya, sementara itu kakak-kakak Sasha merasa sedikit iri saat melihat keberanian si bungsu, khususnya Visha.

Walaupun Visha adalah istri nomor satu dan sudah seminggu tidur satu ranjang dengan Fadli, tapi dia masih belum memiliki keberanian untuk mencium Fadli seperti itu.

'Sasha bener-bener serius pengen membuat Mas Fadli jatuh cinta sama dia huh? Aku gaboleh kalah nih,' batin Visha, Tasha, Misha, dan Masha dalam hati mereka masing-masing, memunculkan sedikit persaingan sehat di antara para istri.

Setelah makan siang, Visha dan adik-adiknya mulai sibuk mengemasi dan mempersiapkan pakaian serta barang-barang yang akan mereka bawa untuk liburan ke pantai esok hari.

Fadli sebenarnya juga ingin mengemas barang-barangnya sendiri, tapi para istrinya memaksa untuk mengemaskan untuknya sebagai bentuk bakti mereka. Jadi Fadli hanya mengambilkan barang-barang dan pakaian yang ingin dia bawa, dan kelima istrinya yang akan melipat dan menatanya dengan rapi ke dalam tas.

Lalu malam harinya, sesuai permintaan dan kesepakatan dari para istrinya yang lain, Fadli tidak tidur dengan Visha melainkan pindah ke kamar Tasha. Tentu saja suasana kamar langsung menjadi sedikit canggung dan hening, persis seperti saat Fadli pertama kali tidur dengan Visha dulu.

Namun, Fadli teringat perkataan dari Visha untuk tidak lagi menjaga jarak dengan para istrinya, jadi dia memberanikan diri untuk berbaring mendekat dan memeluk pinggang Tasha.

Tasha awalnya sedikit terkejut dan tubuhnya menegang dengan gerakan tiba-tiba itu, tapi tidak perlu waktu lama dia langsung merasa nyaman dan langsung memeluk balik tubuh Fadli dengan erat.

Keesokan harinya, setelah selesai bersiap-siap dan memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka semua langsung berangkat menuju pantai menggunakan mobil keluarga yang dikendarai oleh Fadli.

"Jadi mau ke pantai yang mana nih? Tau sendiri kan sepanjang pesisir pantai selatan ada banyak sekali pantai bagus," tanya Fadli sambil memegang kemudi.

"Pantai yang belum pernah Mas datangi saja, biar jadi kenangan baru," jawab Visha yang duduk di kursi penumpang depan.

"Oke," jawab Fadli dengan singkat dan langsung melajukan mobilnya membelah jalanan menuju pantai.

Perjalanan menuju pantai berlangsung dengan sangat menyenangkan; mobil itu penuh dengan suara mereka yang terkadang bernyanyi bersama lagu di radio, mengobrol, dan bercanda tawa.

Visha yang duduk di kursi sebelah Fadli menjalankan perannya sebagai navigator sekaligus istri yang perhatian, beberapa kali menyuapi Fadli makanan ringan dan menyodorkan minum sambil mengobrol santai.

Perjalanan menuju pantai dari rumah mereka membutuhkan waktu sekitar 3 jam, dan ketika mereka sampai, rasa lelah perjalanan terbayar lunas saat mereka langsung terkesima melihat pantai biru dengan hamparan pasir putih yang sangat indah membentang di depan mata.

Fadli memarkirkan mobil mereka di area parkir hotel tempat mereka akan menginap. Walaupun cukup sulit mencari kamar dadakan, tapi untungnya mereka berhasil memesan kamar hotel yang cukup besar untuk menampung mereka berenam.

Namun, saat mereka melakukan proses check-in di lobi hotel tersebut, resepsionis hotel melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh dan penuh selidik, karena Fadli yang sudah dewasa sekitar 25 tahun terlihat menginap di satu kamar hotel bersama dengan lima gadis yang terlihat masih belasan tahun.

Fadli dan Visha yang menyadari tatapan menghakimi dari resepsionis itu langsung bertindak tegas dengan menunjukan buku nikah mereka di atas meja.

"Kami sudah menikah sah secara negara dan agama, jadi bisakah Anda berhenti menatap kami seperti itu?" kata Visha dengan nada sedikit ketus karena merasa disinggung.

Resepsionis itu yang sadar kalau dia sudah bersikap tidak sopan langsung menjadi gugup, meminta maaf berkali-kali kepada mereka, dan dengan cepat memberikan kunci kamar mereka.

Suasana hati Visha yang awalnya bahagia dan berbunga-bunga karena sedang liburan bersama, langsung berubah menjadi buruk dan kesal gara-gara tatapan resepsionis tadi.

"Resepsionis tadi beneran bikin kesel, tatapannya itu lho," Visha sedikit menggerutu saat mereka sudah sampai di dalam kamar dan meletakkan tas.

"Ya kalian kan memang masih sangat muda sementara aku udah umur segini, jadi wajar kalau orang-orang merasa curiga," Fadli mencoba menjelaskan situasi dengan tenang dan menenangkan Visha.

"Tapi tetap saja, kami kan udah pakai cincin kawin di jari manis, masa masih gak sadar aja kalau kita udah nikah," jawab Visha masih sedikit kesal sambil melipat tangannya.

"Udah-udah, kita di sini buat liburan bersenang-senang, jangan marah-marah kaya gitu nanti cantiknya hilang," Fadli mengelus kepala Visha dengan lembut dan kata-kata itu berhasil menenangkan amarahnya.

Setelah meletakan barang-barang mereka di hotel dan berganti pakaian santai, mereka berenam langsung berjalan kaki pergi ke bibir pantai.

"Pantai!!" Sasha, Misha, dan Masha langsung berteriak girang dan berlari kencang ke pinggir pantai untuk bermain di air laut.

Sementara Visha dan Tasha hanya tersenyum melihat sifat kekanakan adik-adik mereka, dan Fadli menarik napas dalam-dalam, menikmati udara pantai yang sangat segar dan aroma garam yang menenangkan.

Sayangnya karena sedang musim angin kencang, ombak di pantai sedang cukup besar, dan karena kawasan pantai selatan menghadap langsung ke laut lepas, mereka hanya diperbolehkan bermain dan berenang di area dangkal dekat pesisir saja.

Sementara Visha, Tasha, Misha, Masha, dan Sasha asik bermain ciprat-cipratan air dan berenang, Fadli hanya duduk santai di tepi pantai sambil membenamkan kakinya ke dalam air laut yang dingin.

"Mas, ngapain Mas diam di sini aja? Ayo renang bareng kami!" ajak Sasha dengan penuh semangat sambil melambaikan tangan yang basah.

"Kalian renang bersama saja sana, aku enggak bisa renang," jawab Fadli dengan jujur.

"Enggak bisa renang? Serius, Mas?" tanya Sasha dengan mata terbelalak kaget.

Fadli mengangguk dengan santai mengakui kelemahannya, dan Sasha langsung tertawa renyah.

"Enggak Sasha sangka Mas Fadli yang gabisa berenang," kata Sasha sambil tertawa lucu.

"Tapi Mas kan tinggi, walaupun gak bisa renang pasti aman lah, kita juga mainnya enggak ke tempat dalam kok, cuma di pinggir," Sasha masih saja gigih mencoba mengajak Fadli untuk bermain bersama.

"Iya deh, iya," Fadli akhirnya menyerah pada bujukan istri bungsunya itu, bangkit berdiri, dan ikut bermain air bersama dengan para istrinya di bawah sinar matahari pantai yang hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!