Sabrina Delina Arnabella yang lahir dengan nama belakang Alvarendra sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan hubungan antar dirinya dengan ayahnya Winata Alvarendra karena ayahnya memutuskan hubungan dan menikahi wanita yang memiliki satu anak bernama Renata Wijaya.
Besar tanpa sosok ayah dan harus menghadapi kenyataan kalau ibunya meninggal karena kecelakaan mobil semakin memperburuk mental Sabrina.
Namun sebuah kabar kalau ayahnya meninggal membalikkan seluruh kondisinya, tanpa diduga seluruh aset milik Alvarendra jatuh ketangan Sabrina.
Ancaman dan teror serta kelicikan dari Renata yang ingin merebut segalanya semakin membuat Sabrina waspada.
Bagaimanakah cara Sabrina mengatasi semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Rofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Pagi harinya Renata dan Elena langsung menuju bank untuk mengurus kartu-kartu milik mereka.
Berkat bantuan dari salah satu temannya Elena bisa memesan satu kamar hotel untuknya dan Renata.
" Maaf nyonya kartu-kartu ini telah dibekukan dan tidak bisa digunakan lagi " kata pegawai bank itu.
" Dibekukan? Kartu-kartu ini milik saya tidak mungkin orang lain bisa melakukan itu tanpa seijin saya " balas Renata.
" Memang begitu kenyataannya nyonya, sebaiknya anda tanyakan langsung pada yang bersangkutan kenapa semua kartu ini dibekukan " ucap pegawai itu.
" Dasar tidak berguna " umpat Renata.
" Ayo kita pergi '' ajak Renata.
" Ma, bagaimana ini aku tak mungkin meminjam uang temanku lagi. Mau taruh dimana mukaku jika aku terus-menerus berhutang pada mereka " kata Elena.
" Diamlah, anak itu tidak main-main. Dia merebut semua milik kita dalam sekejap kita sudah jatuh miskin " balas Renata.
" Lalu kita harus bagaimana ma? " tanya Elena sedikit frustasi.
" Ikut mama " kata Renata seraya tersenyum penuh arti.
Saat ini Sabrina tengah membaca beberapa berkas di Amortage, kemarin dia sudah memberitahu Hendra kalau hari ini dia tidak bisa datang kesana.
" Nona sudah saatnya, kita bisa langsung menuju ke cabang butik pertama yang akan kita resmikan " ucap Kinara yang datang untuk mengingatkan.
" Semuanya sudah siap? " tanya Sabrina.
" Sudah nona, mereka juga akan menyiapkan sambutan untuk anda " ucap Kinara.
Sabrina membereskan berkas-berkas itu dan memisahkannya agar tak tercampur dengan berkas yang belum dia baca.
Di depan ruangannya Vano dan Zayn sudah berdiri menunggu, begitu Sabrina keluar mereka langsung mengikuti langkahnya.
Saat sampai di loby perusahaan, terdengar suara keributan dari luar sangat ricuh karena beberapa petugas keamanan yang berjaga berusaha menghadang mereka untuk masuk.
Sabrina yang melihat itu hanya mengernyitkan dahinya, pagi tenangnya tiba-tiba rusak begitu saja karena melihat kericuhan di depannya itu.
" Biarkan kami masuk " teriak Renata lada beberapa petugas keamanan disana.
" Matikan kameranya jika tidak kami akan bertindak kasar " kata petugas itu.
" Apa perlu kamu bereskan nona? " tanya Zayn yang melihat keberadaan Renata dan Elena disana.
" Biarkan " balas Sabrina, dengan langkah pasti Sabrina mendekat ke tempat keributan itu.
Renata yang melihat kedatangan Sabrina langsung saja ingin menyerangnya namun berhasil ditahan oleh petugas-petugas itu.
" Kemari kau dasar anak sialan!! " umpat Renata pada Sabrina.
Vano memberikan kode pada para bawahannya untuk ikut membantu para petugas keamanan yang mulai kuwalahan itu karena Renata datang dengan membawa para media.
Menerima perintah dari bosnya para bawahan Vano langsung membentuk barikade untuk menghalangi para media.
" Kembalikan seluruh harta milik kami, kau sama sekali tidak punya hak untuk merampas seluruh milik kami " teriak Renata dengan lantang.
" Alvarendra adalah milik kami " lanjut Renata.
" Kau juga dengan tega mengusir kami dari rumah milik kami sendiri " timpal Elena dengan tangan yang menunjuk Sabrina.
" JAWAB!!! Jangan diam saja, biarkan seluruh dunia tahu kebusukanmu " kata Renata yang terpancing karena sedari tadi Sabrina hanya diam.
" Jangan jadi pecundang, di depan kami kau begitu sombongnya. Apa kau takut sifat aslimu akan terbongkar sekarang? " ucap Renata lagi.
" Bukankah dengan membawa begitu banyak media sifat asli anda sendiri yang terbongkar dihadapan publik? " Sabrina akhirnya membuka suaranya.
'' Pecundang? kata itu pantas untuk menyebut anda sendiri bahkan untuk menyerangku saja anda perlu bantuan dari orang lain " balas Sabrina lagi.
" Kau telah merebut semua warisan yang ayah berikan kepadaku dan mengusir kita dari rumah milik kita sendiri " ucap Elena.
'' Kau hanyalah anak sambung, bahkan pernikahan ibumu juga tidak terdaftar. Cari dimanapun data pernikahan antara Winata Alvarendra dengan Renata Maheswara maka kalian tidak akan pernah mendapatkan apapun " balas Sabrina yang membuat seluruh orang yang mendengarnya terkejut.
" Tentang warisan bukankah sudah jelas, kalian berdua juga hadir dalam pembacaan warisan itu perlu aku ingatkan lagi apa isinya? " tanya Sabrina.
" Jadi sebelum aku membongkar semuanya lebih baik kalian berdua pergi, bawa antek-antek kalian juga jangan kotori tempatku dengan pecundang seperti kalian " ucap Sabrina dengan tegas.
" Kembalikan harta kami baru kamu akan pergi darisini " kata Renata.
" Harta? Sejak kapan harta itu menjadi milik kalian? " kata Sabrina.
" Jangan bermimpi mendapatkan harta itu karena sampai kapanpun itu tidak akan pernah menjadi milik kalian " lanjut Sabrina.
" Dan ingat anak sah tidak akan pernah kalah dengan anak tiri bahkan status pernikahanmu juga siri '' peringat Sabrina.
" Mau menuntutku dimata hukum pun posisi kalian sangat lemah " sambungnya.
" Sudah puas merekamnya? sebarkan itu biarkan publik tahu kebenarannya " perintah Sabrina.
" Anda ingin menggunakan ini untuk menyerangku bukan? Kita lihat bagaimana serangan itu berbalik mengenai anda '' kata Sabrina.
" Selama sepuluh tahun anda dan anak anda hidup dengan sedekah yang diberikan oleh Alvarendra, dan sekarang aku tidak ingin berbaik hati lagi jika kalian ingin uang jual saja perhiasan yang melekat ditubuh kalian itu " ucap Sabrina.
Renata dan Elena menjadi gak berkutik, dia tak menyangka Sabrina akan membongkar status pernikahannya dengan Winata selama ini.
" Usir mereka " perintah Sabrina lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan perasaan malu Renata dan Elena lagi-lagi diusir oleh orang-orang Sabrina. Dia pikir datang kemari adalah solusi namun sepertinya masalah baru akan mereka hadapi setelah ini.
Blankkk
Sabrina menutup pintu mobil itu begitu keras, suasana hatinya benar-benar buruk karena kejadian ini. Dia sama sekali tidak pernah merasakan ketenangan sejak berurusan dengan duo parasit itu.
" Nona, apa perlu saya membungkam para media itu? " tanya Zayn yang sudah duduk di kursi kemudinya dengan Vano yang berada disampingnya.
" Biarkan saja aku tidak peduli bagaimana respon publik nanti " jawab Sabrina.
" Apa kita batalkan saja jadwal hari ini? " tanya Kinara.
" Tetap lakukan sesuai jadwal " jawab Sabrina walaupun suasana hatinya tak begitu bagus dia harus tetap bekerja secara profesional.
Dalam sekejap berita mengenai kejadian pagi hari itu di perusahaan Amortage dengan cepat tersebar. Bahkan Renata dan Elena tak mengetahui kalau aksi mereka tadi disiarkan secara langsung.
Berbagai hujatan langsung Renata dan Elena dapatkan mereka disebut tidak tahu diri oleh netizen setelah fakta pernikahan siri dengan Tuan Winata terbongkar.
" Sekarang kita malah menggali lubang kuburan sendiri. Niat hati ingin menjatuhkan Sabrina sekarang publik berbalik menghujat kita ma " lapor Elena.
" Bantu mama cari solusinya jangan hanya omong doang, kamu seharusnya cari cara supaya bisa bersaing dengan anak itu " kata Renata.
" Aku juga lagi mikir ma, aku nggak bisa langsung ngasih solusi buat mama jika salah langkah sekali saja hancur semuanya " Elena membela diri.
" Apa hasil pemikiran kamu nggak ada, selama ini mama hanya mikirin supaya kamu bisa hidup enak '' Ucap Renata
" Buat apa kamu kuliah diluar negeri kalau akhirnya kalah sama anak sialan itu " sambungnya.
" Mama jangan nyalahin aku terus dong, mama pikir aku selama ini nggak ikut andil sama seluruh rencana yang mama buat " bantah Elena.
" Permisi " seseorang tiba-tiba menghentikan perdebatan mereka.
" Siapa kau? " tanya Renata yang melihat orang itu.
" Anda berdua bisa ikut kami sebentar? " tanya orang itu.
" Kau suruhan anak itu? " tanya Renata.
" Bukan nyonya, tuan kami ingin bertemu dengan anda '' jawab orang itu.
" Siapa? " tanya Renata lagi.
" Ikut kami terlebih dahulu baru anda akan tahu semuanya '' balas orang itu.
" Anda tenang saja nyonya, kami tidak akan melakukan kekerasan selama anda bersedia untuk ikut dengan kita '' kata orang itu lagi.
" Baiklah " balas Renata tanpa ada rasa curiga mengiyakan ajakan itu.
Sabrina dan yang lainnya langsung menuju tempat pembukaan butiknya yang pertama yang seluruhnya akan menjual karya-karya gaun pengantin maupun gaun untuk acara formal lainnya.
" Selamat datang nona " sambut para karyawan yang ada disana.
" Hmmm " balas Sabrina.
" Mari saya antar nona untuk melihat-lihat terlebih dahulu " ucap pegawai itu
Sabrina diikuti yang lainnya melihat-lihat butik yang nampak seperti galeri itu karena gaun-gaun yang dipanjang disana merupakan karya desainer ternama yang telah setuju untuk bekerjasama dengannya.
" Apa ada kendala? Tanya Sabrina.
" Sejauh ini belum nona, tapi jika saya boleh menyarankan sebaiknya kita menempatkan satu desainer disini entah yang sudah memiliki nama ataupun tidak yang penting dia paham mengenai hal ini supaya nanti jika klien yang datang ingin memesan disini sudah ada ahlinya yang nanti akan meneruskan ke perusahaan " jelas pegawai itu.
" Kau terlihat cukup berpengalaman " balas Sabrina.
" Saya pernah bekerja di sebuah butik nona " jawab pegawai itu.
" Siapa namamu? " tanya Sabrina.
" Nama saya Sandra Tivania anda boleh memanggil saya Sandra " jawab Sandra.
" Saya suka saranmu, teruslah bekerja seperti ini jika nanti kau terus memberikan masukan-masukan yang baik bagi perusahaan tak menutup kemungkinan kau akan mendapatkan promosi " kata Sabrina.
" Terimakasih nona, saya akan berusaha lebih keras lagi " balas Sandra.
" Baiklah kembalilah bekerja " perintah Sabrina.
Sabrina dan yang lain langsung pergi dari butik itu, hari ini rencananya mereka akan datang ke lima butik baru karena hari ini adalah pembukaan untuk butik mereka.
" Untuk yang lain anda tidak perlu datang nona, karena semuanya sudah mengirimkan laporan pertama mereka. Jikapun anda tidak datang tak akan menjadi masalah " lapor Kinara. Sebenarnya Sabrina hanya perlu mendatangi satu butik saja sebagai bentuk pembukaan secara simbolis.
" Kenapa baru mengatakannya sekarang '' balas Sabrina.
" Maaf nona " jawab Kinara tak enak hati.
" Sudahlah, kalian semua ikut aku ke Alvarendra ada yang perlu kita bahas bersama paman Hendra '' Ucap Sabrina.
next semngt sukses selalu