BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
VISUAL TOKOH MUNGKIN AKAN MENGALAMI PERUBAHAN
Dipertemukan dengan sesama bad guy membuat Bianca dan Alvaro terlihat seperti kucing dan anjing yang saling mengganggu dan tak bisa akur. Dan entah kenapa seorang bad boy itu menjabat sebagai ketua OSIS, anak pemilik yayasan, dan juga menangkup sebagai ketua genk Swataru.
Jika takdir meminta mereka bersama
Jika bumi menginginkan mereka menjadi satu
Dan jika semesta mengharapkan mereka menjadi satu insan
Hati besi pun akan tetap meleleh seiringnya waktu dan seiring logika mau memikirkan hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang tua
“Pokoknya kalian harus mengikutinya, tanpa penolakan. Kalian mengerti?” Sambung Lyla. Ia benar-benar tak menerima penolakan dari dua orang di hadapannya ini. Ia memang sudah tahu bagaimana sifat dari Bianca, tapi ia juga tak bisa menyangkal tingkat kecerdasan gadis itu.
“Nggak” Tolak Bianca ketus. Tak peduli dengan siapa ia dihadapkan, jika itu berhubungan dengan Alvaro. Maka ia akan tetap menolaknya.
“Bianca” Tegur Alvaro.
Drrt..drrt..drrt
Bianca berdecak kesal saat ponselnya bergetar di dalam saku bajunya. Tanpa meminta izin pada guru di hadapannya, Bianca mengambil ponsel itu, “Berikan ponselmu” Ketus Lyla tak suka dengan cara bersikap Bianca.
Papa
Melihat nama orang yang menghubunginya itu, Bianca dengan segera mengangkatnya, “Halo Pa?”
“Bi” Tegur Alvaro dengan suaranya yang berisi peringatan.
Bianca membalasnya dengan tatapan tajam, “Ck, diem” Ketusnya lalu kembali fokus dengan sambungan teleponnya.
“...”
“Hah? Papa pulang hari ini?”
“. . .”
“Memangnya kenapa?”
“. . .”
“Urusan penting? Aku perlu jemput gak?”
“. . .”
“Oh gitu ya udah deh. Hati-hati ya Pa, salam juga buat Mama” Bianca menutup panggilan tersebut lalu memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya. Ia menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap pada Lyla.
“Iya deh Bu, saya akan ikut olimpiade itu. sudah kan? Saya balik dulu” Bangkit berdiri lalu pergi dari situ, mendahului Alvaro yang kelihatannya kesal dengan sikapnya yang kelewat kurang ajar.
“Bianca, lo tahu sopan santun gah sih?” Kesal Alvaro yang belum beranjak dari tempatnya. Ia menatap punggung Bianca yang semakin menjauh.
Lyla menggeleng kecil, ia harus tetap memaklumi sikap kurang ajar Bianca. Karena ini bukan pertama kalinya untuknya mendapatkan perilaku Bianca itu, “Sudah Alvaro, kalian kembali ke kelas saja”
Alvaro menghembuskan nafasnya berat, ia mengangguk lalu bangkit berdiri, “Saya permisi, Bu” Pamitnya lalu melangkah pergi dari situ.
Kelas...
Alvaro menutup bukunya, kelas baru saja selesai dan ia perlu mengistirahatkan otaknya, “Al, lo habis apain Bianca?” Gavin yang duduk di belakang Alvaro mulai mengajaknya berbicara.
"Maksud lo?” Menjawab tanpa menoleh ke belakang.
“Mukanya asem banget tuh” Elvano menimbrungi, ya saat Bianca dan Alvaro keluar dari ruang guru. Kebetulan juga mereka tengah berjalan di koridor dan berpapasan Bianca dengan wajah asamnya.
“Mukanya emang gitu. Asam” Sahut Alvaro datar dengan tak ada perasaan bersalah.
“Al, gue serius” Gavin mendesak dengan kesal pada temannya yang memang agak keterlaluan dengan Bianca.
“Lo pikir gue bercanda?”
“Ya, nggak sih” Hapal betul sikap dari Alvaro
“Tapi ngomong-ngomong soal malam tadi. lo ngejar Bianca?” Elvano melempar pertanyaan itu lantaran matanya melihat bagaimana seorang Alvaro mengejar gadis dengan mengendarai motor dan kecepatan yang di luar kata normal.
Alvaro membuang nafasnya kesal mengingat kejadian malam itu. Entah ada setan apa yang menempelnya sehingga ia sudi mengejar gadis berpakaian minim itu, “Cih, gak usah dibahas”
“Kayaknya gue udah merasakan benih-benih cinta nih” Ejekan dari Gavin itu membuat Alvaro menatapnya tajam. Pikiran macam apa itu? Tawa dari Samuel dan Elvano menyatakan jika apa yang dikatakan Gavin ada benarnya juga.
“Eh lo kalau ngomong ingat-ingat dong. Gue sama Bianca itu gak bakal pernah cocok” Menggunakan nada suara yang menyatakan jika hal itu tak akan pernah terjadi. Walaupun ia tahu jika bumi tak berputar sesuai kemauannya dan segala sesuatu di dunia itu tak pernah sesuai dengan apa yang ia inginkan.
“Kalau jodoh?” Melempar Alvaro dengan pertanyaan yang membuat Alvaro memutar bola matanya malas.
“Gak bakal”
“Siapa tahu, Tuhan bikin lo berdua jadi jodoh” Samuel menyilangkan tangannya di depan dada dan melempar Alvaro dengan tatapan menantang.
“Amin” Elvano ikut menimbrungi.
“Amin” Begitu juga dengan Gavin.
“Ish, gue geplak juga lo” Kesal Alvaro lalu memilih untuk bermain dengan ponselnya. Apa-apaan dengan pemikiran sahabat-sahabatnya itu, mana mungkin dirinya akan berjodoh dengan seorang Bianca. Apalagi kepribadian mereka yang benar-benar berbeda jauh berbeda. Alvaro masih bisa bersikap seolah-oleh dirinya berwibawa. Sedangkan Bianca, cara berpakaiannya saja tak pernah benar di mata Alvaro. Bagaimana pun ia menginginkan seorang pendamping hidup yang lebih baik dan menuntunnya ke arah yang benar.
Pulang sekolah...
Bianca tengah menunggu kedatangan kakaknya. Laki-laki itu mengatakan jika akan menjemput Bianca saat pulang sekolah, jadi di sinilah Bianca menunggu kedatangan kakaknya.
Sebuah motor sport berhenti di hadapannya, Bianca mengalihkan tatapannya dari ponsel yang ia genggam, menatap malas pada laki-laki berhelm full face. tersebut, "Naik"
"Gue nunggu Kak Arkana" Acuh Bianca.
"Ck, naik. Gue yang jemput lo tadi jadi gue juga yang harus ngantar lo pulang" Nada yang menunjukkan pemaksaan itu tak membuat Bianca takut. Sejak kapan ada kosakata takut di kamus Bianca jika berhadapan dengan seorang Alvaro.
Bianca tersenyum miring, ia menyilangkan tangannya di depan dada, "Naksir lo sama gue?" Katanya dengan nada angkuh.
Alvaro berdecih, kenapa gadis itu begitu percaya diri, "Sama cabe kayak lo? Selera gue tinggi dan pasti itu bukan lo yang murahan"
"Ya udah, silakan lo pulang" Menatap remeh pada Alvaro. Ia masih tahan karena dalam mood yang baik.
"Naik, Bianca" Nada suara Alvaro naik satu oktaf, ia memang bukan seorang yang penyabar.
"Maksa banget sih jadi orang" Nada suara datar. Ia menatap ke arah jalanan, pandangannya menatap ke arah mobil yang sangat ia kenali. Senyumnya merekah.
"Kak Arkana"
Mobil Arkana berhenti di belakang motor Alvaro. Ia keluar dari dalam mobil, dan menatap pada Alvaro.
"Belum pulang Al?" Tanya Arkana pada Alvaro yang juga menatap pada dirinya.
"Hm, ya udah gue duluan ya" Mengendarai motornya pergi.
Bianca menghampiri kakaknya yang membukakan pintu mob untuknya. Ah, kenapa manusia semanis ini ditakdirkan menjadi kakaknya, "Papa sama Mama udah pulang Kak?" Tanya Bianca saat Arkana sudah masuk ke dalam mobil dan tengah mengenakan seat belt.
"Iya itu lagi istirahat di rumah" Jawab Arkana dengan senyum manisnya.
"Ooh oke"
. . .
Bianca masuk dengan antusias ke dalam rumahnya. Senyumnya merekah dengan sempurna saat menemukan orang tuanya tengah bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Papa, Mama" Bianca langsung memeluk Siska dan Marsel dengan erat. Satu tahun tak bertemu benar-benar membuatnya rindu. Bagaimana kehidupan SMA nya dijalani tanpa dampingan kedua orang tuanya.
"Kangen..."
"Kami juga kangen sama kamu, Bi" Membalas pelukan putri mereka sama eratnya.
"Kalian bakal tinggal kan?" Mendongakkan kepalanya menatap Mama dan Papa-nya. Dengan puppy eyes-nya berharap kata 'iya' yang ia dapatkan.
Bukannya menjawab, dua pasutri itu malah membalasnya dengan senyum yang memiliki seribu satu macam makna. Mata Siska membulat sempurna saat melihat pakaian yang dikenakan oleh putri semata wayangnya tersebut.
Refleks berdiri dan memegang bahu sang putri, "Astaga sayang, kenapa seragam kamu kayak gini?" Baju ketat dan rok kelewat pendek benar-benar membuatnya terkejut.
Ya Siska tahu, jika ia begitu jarang membelikan anak gadisnya itu pakaian yang agak besar. Kebanyakan ia membelikan yang fresh body. Tapi ia tak menyangka jika Bianca akan membuat seragamnya seperti itu.
"Anu Ma, bajunya kekecilan" Alibinya.
"Kenapa gak beli yang baru? Bukannya Papa masih ngasih uang bulanan? Lagi pula Arkana kan kerja juga, masa masih kurang sih?" Siska memang cerewet. Bianca sampai tertunduk tapi bukan karena merasa bersalah melainkan karena ia tengah mencari alasan lain.
"Emmm...."
"Anak mama yang itu juga gabung sama Genk motor ma" Arkana melaporkan kelakuan adiknya itu. Ia mengambil toples berisi wafer dan menyantapnya, bahkan setelan kantornya belum ia ganti.
Marsel menatap anak gadisnya tak percaya, "Kamu anak mama sama Papa atau anak jalanan sih, Bi?" Katanya.
"Anak Papa sama Mama dong" Menjawab dengan senyum sumringah.
"Terus?"
"Udah keluar kok Pa"
"Dikeluarin" Imbuh Arkana.
"Kak..."
Siska menghembuskan nafasnya pelan, ia kembali mendudukkan tubuhnya di samping suaminya, "Nanti ada yang Mama sama Papa kasih tahu sama kamu. Jadi kamu naik ke atas, mandi terus bantu mama masak. Habis makan malam baru kita ngomongin itu ya" Kata Siska dengan tatapan penuh kasih pada sang anak.
"O--ke" Bianca melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Menuruti perkataan sang Mama
______________
Model seragam SMA Xanendra kurang-lebih gini ya. Anggap aja rok dan celana mereka berwarna abu-abu ya. Makasih.