Di tengah kegaduhan mengenai rumor yang beredar bahwa putra tunggal penerus Winner Group berinisial EPW (Edwin Putratama William) ternyata seorang gay menjadi sorotan serta perbincangan hangat di kalangan pebisnis, hal itu tentu saja membuat orang tua nya murka berharap segera menemukan solusi yang tepat untuk memulihkan nama baik keluarga dan perusahaan. bagaimanakah kisah kelanjutan nya, apakah dia benar seorang gay atau sebalik nya ? nantikan kisah nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
H-1 Pernikahan
Tanpa terasa tiba saatnya hari dimana pertemuan dua keluarga di langsungkan, hari itu Qiana berencana pergi bekerja setengah hari, namun gadis itu menyadari ada yang tidak biasa dari sikap kedua oang tua nya, pagi itu tuan Hengky dan Nyonya Eri nampak sangat sibuk.
"Ayah dan Ibu ada acara apa pagi-pagi begini sudah sibuk sekali ?"
"Nanti kan akan ada pertemuan keluarga sayang, kamu lupa ya ?"
"Ya aku ingat Bu, tapi bukankah hanya acara kecil saja, kenapa sepertinya akan ada pesta ?"
"Tentu saja akan ada pesta, besok adalah hari yang sangat bagus untuk pesta pernikahan kalian"
"Apaaaaaaa.......?"
"Maaf sayang ibu lupa mengabari kamu, karena beberapa hari ini kamu selalu pulang larut malam"
"Lalu pestanya akan di adakan dimana ?"
"Di sini Qia, di kediaman kita tepatnya di taman besar, memangnya kamu tidak lihat banyak dekor bunga di sana ?"
Qiana yang terkejut mendengar pesta dadakan itu langsung berlari menuju jendela kaca yang menghadap ke taman. Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari kalau dari kemarin taman itu sudah berhiaskan banyak bunga-bunga dengan nuansa pernikahan.
"Bagaimana Qia apa kamu suka ? Maafkan ayah ya sayang karena pestanya mendadak dan kami juga melakukan sesuai permintaan kamu kalau pestanya digelar secara tertutup. meskipun sesungguhnya Ayah dan Ibumu ingin sekali memeriahkannya"
Apa boleh buat, semua sudah di atur oleh kedua orang tuanya, mau tidak mau gadis itu hanya menurut dan berpangku tangan. Lagi pula ia sendiri yang meminta agar pernikahannya dengan Edwin di adakan secara tertutup tanpa mengundang banyak tamu, mengingat hubungan diantara mereka hanya sebatas kesepakatan dalam waktu singkat.
Qiana juga tidak ingin mengecewakan orang tua nya yang dengan penuh semangat mempersiapkan semuanya.
Akhirnya hari itu Qiana membatalkan niatnya untuk pergi ke Sentral Plaza, ia menelfon Sekretaris Hani agar dapat menemaninya, gadi itu juga membuat janji temu dengan Teman kecilnya yaitu Dokter Melissa pemilik Melissa Aesthetic Clinic atau disingkat (MAC) merupakan klinik kecantikan terbesar dikota A.
Tanpa menunggu waktu lama Sekretaris Hani sudah berada di kediaman keluarga Hengky. Sama halnya dengan Qiana Sekretaris Hani juga tidak kalah terkejut ketika melihat kondisi taman yang sudah disulap menjadi dekor nuansa pernikahan.
Ia ingin segera bertanya, namun saat melihat raut wajah Nona muda yang nampak suram Sekretaris Hani dapat menyimpulkan kalau Nona juga tidak tahu apa-apa mengenai hal itu.
"Anda beruntung sekali Nona, tanpa repot-repot mencari jodoh Tuhan justru menurunkan seorang pangeran tampan yang akan menikah dengan anda"
"Berhenti menggodaku Hani..."
"Aku yang menikah tap aku juga yang paling tidak tahu apa-apa soal ini"
"Lihatlah taman itu, aku bahkan tidak menyadari kapan mereka meletakkan semua itu" ucap Qiana menunjuk ke arah taman yang penuh dekorasi
"Tentu saja Nona, itu dikarenakan anda selalu pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi sekali."
"Ahhh tudak tahu, aku tidak tahu, kali ini aku pasrah saja. Membantah juga tidak ada gunanya"
"Baik, kalau begitu mari saya temani anda bertemu Dokter Melissa"
.
.
.
Sesampainya di klinik MAC Qiana disambut langsung oleh Dokter Melissa beserta tim nya, Dokter itu senang sekali saat mendengar Qiana akan datang menemuinya. Dua wanita cantik itu saling berpelukan melepas rindu. Meski berteman cukup lama namun mereka jarang sekali bertemu, dikarenakan selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Qia lama sekali kita tidak bertemu"
"benar sekali kak Mell, terakhir kali aku kesini saat kakak sedang diluar negri"
Qiana memanggil Dokter muda itu dengan sebutan Kakak karena Melissa memang sedikit lebih tua dari Qiana, gadis itu sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri, begitupun dengan Melissa.
"Ada apa Qia, pagi sekali kamu datang kesini ? Apa sedang libur ?"
"Tidak kak, aku memang berinisiatif datang kesini ingin karena besok aku akan menikah"
"Appaaaaaa......?" kamu pasti bercanda kan Qia ?"
"Aku serius kak Mell"
"Menikah dengan siapa Qia, setahu kakak kamu tidak punya pacar"
"Kak Mell benar, aku memang tidak punya pacar" gadis itu mulai berkaca-kaca saat mencoba menjelaskannya pada Melissa.
"Ehhh ehhh kenapa jadi sedih begini..... Ya ampun" Dokter itu segera memeluk temannya yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.
Tanpa bercerita pun Melissa tahu bahwa ini semua bukan atas keinginan Qiana melainkan atas kehendak kedua orang tuanya, ia juga tahu bahwa Qiana sangat lemah jika menyangkut masalah orang tua. sebegai pendengar dan teman yang baik Dokter Melissa tidak ingin menghakimi siapapun, ia hanya mencoba menjadi penengah di antara keduanya.
Sebenarnya Melissa sendiri masih tidak percaya dengan kabar yang baru saja ia dengar , sementara Qiana terus bercerita dan menjawab berbagai pertanyaan dari Melissa sambil melakukan satu per satu rangkaian perawatan kecantikan. Untuk menghibur adiknya Dokter itu juga menceritakan pengalamannya saat pertama kali ia menikah dan berumah tangga.
"Kak Mell..."
"Iya...?"
"Kakak kan sudah menikah"
"Lalu...?"
"Bagaimana rasanya menikah ?"
"Yang kamu maksud itu rasanya menikah atau rasanya malam pertama setelah menikah hihi ?"
Dokter cantik itu mulai mengejek Qiana, saat menyadari bahwa gadis cantik itu tidak bersedih lagi. Begitu juga dengan Sekretaris Hani, ia hanya tertawa melihat perubahan emosi Nona yang sangat sulit ditebak.
"Aduh bagaimana ya menjelaskannya, pokoknya kamu akan tahu sendiri nanti. Tidak seru jika semua di ceritakan"
"Kalau ada waktu Kak Mell harus datang ya besok"
"Kakak tidak janji, tapi akan kakak usahakan ya"
"Tidak masalah kak, lagipula aku sangat paham kalau jadwal kak Mell sangat padat"
"Qia sayang, dengarkan aku baik-baik ya. apapun yang akan terjadi kedepannya seberat apapun rintangannya semua itu pasti akan mendewasakan kita, maka bersikaplah bijak dalam menghadapinya. Mau tidak mau, suka tidak suka semua itu harus kalian hadapi bersama."
"Terimakasih kak Mell"
Akhirnya gadis itu merasa sedikit lega mendengar yang dikatakan Melissa.
.
.
.
Tanpa terasa hari itu berlalu begitu cepat , Qiana masih bersiap dikamarnya, sementara para kakak dan kedua orang tuanya sudah berkumpul di bawah.
Saat seorang pelayan mengetuk pintu dan menyampaikan kalau para tamu sudah datang barulah gadis itu bergegas turun.
Untuk pertama kalinya hari itu keluarga William datang dan berkunjung di kediaman Tuan Hengky setelah beberapa tahun lamanya. Kedatangan mereka kali ini merupakan momen penting bagi keduanya. Dimana persahabatan antara Hengky dan William akan benar-benar menjadi sebuah keluarga.
Ketika seorang gadis cantik menuruni anak tangga, saat itu juga semua mata tertuju padanya. Sementara tanpa sadar seorang lelaki nampak menelan saliva sembari melonggarkan dasinya.
Gadis itu tersenyum sangat manis dan memberi salam kepada Tuan William dan juga Nyonya Ajeng.
"Hallo sayang, kamu benar-benar cantik dan manis sekali" ucap nyonya Ajeng sambil matanya berbinar memegang kedua tangan Qiana dan memeluk gadis cantik yang akan segera jadi menantunya itu.
"Tante juga sangat cantik, beruntung sekali kak Edwin memiliki Ibu secantik tante Ajeng"
"Katanya Qia punya butik sendiri ya ? tante ingin sekali melihat-lihat koleksi pakaian yang Qia desain"
"Tentu saja Tante, tante bisa kesana kapanpun tante mau"
"Ehemmm, punyaku saja belum jadi kan ?" Sahut Edwin disela-sela perbincangan Qiana dengan Ibunya.
"Ehhh, Edwin sudah lebih dulu kesana rupanya ?" Tanya nyonya Ajeng melirik kearah Qiana
"I...iya tante sudah" jawab gadis itu malu-malu karena lirikan Nyonya Ajeng yang penuh arti
"Tante jadi tidak sabar menunggu hari esok"
Sore itu berlalu dengan obrolan hangat yang tidak pernah di sangka-sangka sebelumnya oleh Tuan Hengky maupun Tuan William, sementara disebuah taman penuh dekorasi itu duduk sepasang calon pengantin yang nampak seperti tidak akur satu sama lain.
"Kau gugup ?"
"Tidak"
"Kesempatanmu hanya sampai besok,, kalau kau takut dan ingin kabur lebih baik lakukan sekarang juga"'
"Cih memang siapa yang takut"
"Baguslah kalau begitu, mari lakukan kesepakatan ini dengan baik"
Meski hanya pernikahan palsu dan semua sudah tertera didalam kontrak perjanjian, namun tetap saja gadis itu terus meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana.
Tidak akan ada cinta diantara mereka, Edwin juga tidak akan menyentuhnya. Jika yang dikatakan Amara tempo hari benar bahwa lelaki itu telah kehilangan hasratnya. Namun bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya ? Pertanyaan itu terus-menerus hinggap di kepalanya.
Sementara dalam pemikiran seorang Edwin ia masih meyakini bahwa mencintai seseorang adalah sebuah kesalahan sekaligus kebodohan terbesar dalam hidupnya. Jadi sangatlah mustahil baginya untuk mengulangi hal yang sama.
Namun pada kenyataannya, saat pertama kali bertemu dengan Qiana hatinya mulai berkata lain.
qiana ngambek ke edwin sepertinya bawaan orok, hamil yg belum disadari
lanjut kak
sabar ya ivana yg cantik.....sekertaris jul pasti akan ungkapin cintanya
tapi nanti saat acara syukuran kehamilan istri edwin/Frown//Frown/
lanjut kak
sambil membawa paperbag yg ada di depan pintu tuh
lanjut kak