Alvaro dosen muda yang baru saja ditugaskan di salah satu universitas, ia berjalan dengan tegap sambil Menjinjing tas ditangannya.
Sepanjang jalan Alvaro menjadi pusat perhatian wanita, Alvaro mencoba mengabaikan dan tak memperdulikan bisikan bisikan itu.
Brukk
Seorang wanita yang sedang terburu buru tanpa sengaja menabrak Alvaro, keduanya pun saling berpelukan tanpa disengaja.
" Maaf " ucap wanita itu langsung mendorong Alvaro
Namun belum sempat Alvaro menjawab, wanita itu sudah pergi meninggalkan Alvaro yang masih terkejut.
" Bisa bisanya di jadi wanita pertama yang meluk gue selain keluarga gue " gumam Alvaro sambil menatap punggung wanita yang menabraknya
" Lo harus tanggung jawab " ucap Alvaro dengan senyuman penuh arti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Malam hari Alvaro yang tengah duduk di balkon memikirkan Revana, ia pun mencoba menghubungi Revana beberapa kali namun Revana tak menjawab panggilan dirinya.
Alvaro mencoba mengirim kembali beberapa pesan kepada Revana, ia berharap kali ini Revana membalas pesannya.
Alvaro pun merasa cukup lega, ia berniat akan menjemput lebih pagi esok hari.
**
Alvaro sengaja datang pukul 6 pagi, ia takut jika Rencana berangkat lebih awal.
Begitu sampai didepan rumah Revana, Alvaro mengetuk pintu.
Tok .. Tok .. Tok ..
Tak lama menunggu pintu pun terbuka, Alvaro melihat Revana dibalik pintu tersebut.
" Morning " sapa Alvaro sambil membawa coklat untuk Revana
" Mau nyogok saya ceritanya ? "
" Ya kalau gamau ya saya—"
" Masuk dulu " Revana langsung mengambil coklat tersebut dari Alvaro
Raut wajah Alvaro terlihat bahagia, walaupun ia sendiri tak tau apakah Revana sudah memaafkan dirinya atau belum.
" Gimana untuk ujian hari ini ? Udah belajar kan Re ? Awas nanti kayak ujian kemarin nilainya jelek"
Revana yang tengah berada didalam kamar langsung berlari keluar menghampiri Alvaro
" Hah ? Bapa serius ? Berapa nilai saya ? Saya ngerasa jawaban saya bener ko "
" Ya kalau memang ngerasa benar kenapa jelek nilainya, kayak kamu harus les private deh "
" Ah males pak, kalau kayak gitu kapan saya mainnya "
" Heii pikirin nilai kamu sayang, nanti biar saya yang jadi guru kamu "
" Ga dulu..!! Dah saya mau lanjut siap siap "
Revana kembali masuk kedalam kamarnya, dan Alvaro menunggu diruang tengah.
Didalam kamar Revana menatap coklat pemberian Alvaro, walaupun ia masih merasa kesal namun coklat tersebut mampu mengobati sedikit rasa kesal Revana
Setelah dirasa siap Revana keluar kamar menghampiri Alvaro, Alvaro pun bangun dari duduknya.
" Berangkat sekarang ? " tanya Alvaro dan Revana mengangguk
Keduanya pun keluar dari rumah Revana untuk bersiap pergi, Alvaro lebih dulu membuka pintu untuk Revana.
" Saya bisa sendiri " Revana menutup pintu kembali dan membuka kembali
" Dasar perempuan emang ada aja kelakuannya kalau ngambek " gumam Alvaro pelan
Alvaro segera masuk kedalam mobil menyusul Revana, begitu Alvaro masuk Revana tengah mencoba untuk memutar lagu
" Sini saya bantu yah " ucap Alvaro dan Revana tak menolak
" Nah udah bisa, kamu bebas mau setel lagu apapun "
" Hemm " gumam Revana
Alvaro mulai mengemudikan mobilnya, dan Revana mulai mencari lagu yang akan ia putar.
Dia jatuh hati bukan hanya denganku
Ada satu nama selain diriku
Cintaku ini terlalu besar untukmu
Tuhan tolonglah dirinya jadi milikku
Revana menyanyikan lagu tersebut tanpa sadar, Alvaro yang tengah menyetir sesekali melirik ke Revana.
" Kan udah jadi milik kamu Re " ucap Alvaro
" Siapa juga yang nyanyiin buat bapa, ge'er banget "
" Oiya btw Re, kamu ga lupa kan perjanjian kita ? Saya menang loh. Jadi kamu harus ikutin apa kemauan saya, ga boleh curang "
" Saya fikir bapa lupa, emang apasih ? awas ya minta aneh aneh saya gamau "
" Engga dong, aman ga akan ngerugiin kamu Re"
" Oke yaudah, emang apa sih ? "
" Ciee udah ga sabar, nanti kalau kita sampai di suatu tempat yah "
Revana pun enggan bertanya kembali, hingga Alvaro yang akan mengatakannya.
Alvaro menghentikan mobilnya disuatu cafe, mereka pun turun untuk sarapan sebentar.
" Kita masih punya waktu 2 jam, jadi ga apa apa ya disini dulu. Kamu mau belajar juga ga apa apa, biar saya bantu "
" Engga saya udah pinter "
" Iyah deh, berarti sekarang kita bisa pacaran sebelum kuliah kan ? "
" Terserah bapa aja deh "
Alvaro meraih tangan Revana dan mengusap dengan lembut.
" Apa ? Bapa mau modusin saya ? Ga mempan "
" Dih siapa yang mau modusin kamu, saya maunya seriusin kamu tau Re. "
" Tuh modus kan bener " Revana menarik tangannya dari Alvaro
" Yaudah gini saya mau nyebutin apa permintaan saya "
" Hem awas macem macem "
" Pertama saya mau kamu manggil saya dengan sayang yaa atau engga mas, karena kalau kamu manggil saya bapa kesannya saya tuh bapa kamu. Kedua saya sih pengen kita punya waktu dihari Sabtu bareng bareng ya kecuali kamu ada urusan dan saya ada urusan, saya pengen kita ngerayain satu hari setiap Minggu. Ketiga—"
" Banyak amat sih pak, engga engga " Revana dengan cepat memotong ucapan Alvaro
" Loh kan saya menang Re, satu lagi beneran satu lagi "
" Yaudah Iyah apa ? "
" Saya mau kamu terus menjadi pasangan saya, gimana deal ? "
" Emang kalau saya ga setuju boleh ? "
" Engga dong, berarti deal yah "
" Hemm "
Alvaro tersenyum senang karena merasa menang, sedangkan Revana ia merasa sedikit kesal karena permintaan Alvaro.
**
Pukul setengah 9 Revana dan Alvaro sampai di kampus, sebelum turun Revana merapihkan pakaian dan penampilannya.
" Cantik sayang " puji Alvaro membuat Revana salah tingkah
" Gausah modus " jawab Revana
" Ga modus Re, nanti kalau mau pulang kabarin yah. Aku antar"
" Aku ?? biasanya saya "
" Mau dibiasin, yaudah kamu turun duluan aja ga apa apa "
" Iyah "
Setelah melihat sekitar Revana turun dari mobil Alvaro, ia pun segera mungkin menjauh dari mobil Alvaro.
Revana berjalan menuju lift untuk ke kelasnya, saat ia tengah menunggu lift Rio yang baru tiba menghampiri dirinya.
" Hai Re baru Dateng ? " ucap Rio yang kini berdiri disebalahnya
" Iyah, lo sendiri juga baru Dateng ? " Rencana berbalik bertanya
" Engga tadi gue dari kantin "
" Oo " jawab Revana singkat sembari mengangguk
Keduanya bersama menaiki lift, saat lift hampir tertutup ada dua orang yang ikut masuk kedalam lift.
Orang itu adalah Alvaro dan perempuan kemarin yang ia lihat, Revana mencoba bersembunyi agar Alvaro tak melihatnya.
Ting..
Pintu lift menuju kelas Revana terbuka, dengan cepat Revana keluar dari sana
" Permisi " ucap Revana, Alvaro yang mengenali suara tersebut langsung menoleh sedangkan Revana ia terus menatap lurus..
" Dasar cowo sama aja " gumam Revana kesal
Revana masuk kedalam kelas menghampiri Ayu yang sudah sampai sejak tadi.
" Yu pulang nanti kita jalan yuk " ajak Revana tiba tiba
" Kemana ? Tumben banget "
" Ya kemana kek gtu, atau engga kerumah Lo aja gimana "
" Yaudah dirumah gue aja, kita nonton film "
" Okee "
Revana yang kembali kesal kepada Alvaro mencoba menghindari, ia benar benar sudah tak percaya dengan Alvaro
**
Seperti ucapan mereka tadi pagi, kini keduanya sudah berada dirumah Ayu.
Merekapun mulai menyiapkan makanan untuk menemani mereka menonton film, setelah itu mereka barulah memilih film.
" Udah film itu aja Yu kayaknya bagus " kata Revana dan Ayu setuju
Revana dan Ayu pun fokus dengan tontonan mereka, Revana juga mencoba mengabaikan ponselnya.
..
Alvaro yang baru selesai kelas mencoba menghubungi Revana, namun lagi lagi Revana memblokir nomornya.
" Loh sekarang tele juga di blokir, WhatsApp masih di blokir. Terus gue kirim pesannya gimana ini " gumam Alvaro sambil berfikir
Alvaro mencoba mencari kontak Revana yang lainnya, hingga ia menemukan line milik Revana
" Semoga masih aktif " gumam Alvaro
Alvaro berharap Revana dapat di hubungi, ia pun menunggu balasan Revana.
...
" Hahahaha " keduanya asik tertawa bersama
" Re Lo masih pakai line ? Hp Lo bunyi terus " ucap Ayu yang mendengar
" Paling notif notif ga jelas, biar rame aja hp gue "
" Dasar jomblo makanya Re punya pacar "
" Ah yu, Lo aja punya pacar tapi serasa jomblo kan ? "
" Yee engga dong sembarangan "
" Ah gue ke toilet dulu yu " Revana meletakkan ponselnya dan pergi
Ayu pun kini sendiri sambil menonton film, namun Ayu mendengar ponsel milik Revana yang kembali berbunyi.
" Pak Alvaro ? Ngapain dia spam gini Revana " gumam Ayu sendiri
Panggilan dari Alvaro kembali masuk, namun Ayu mencoba meminta izin kepada Revana untuk mengangkat.
" Re hp Lo bunyi terus telpon " teriak ayu dari luar pintu toilet
" Angkat aja yu, bilang aja gue lagi ke kamar mandi " jawab Revana tanpa bertanya siapa yang menghubungi nya
Ayu pun segera mengangkat panggilan Alvaro.
[Alvaro : Re, kenapa kamu ga balas pesan saya ? Kamu marah lagi sama saya ? Kamu dimana ? Biar saya jelasin dulu ya ke kamu, kita ketemu yah]
[Ayu : Hallo Pak, ini saya Ayu. Maaf Revana lagi ke toilet jadi saya yang angkat]
[Alvaro : Oohh gitu yasudah terimakasih]
Alvaro pun mematikan telpon tersebut, Ayu sendiri masih bingung dengan keduanya.
" Siapa yu yang telpon ? " tanya Revana usai kembali
" Lo sama Pak Alvaro ada hubungan Re ? "
Wajah Revana pucat, bisa ia tebak panggilan itu dari Alvaro.
" Gimana yah jelasinnya "
" Seriusan Re ? Lo sama Pak Alvaro ada hubungan ? "
" Engga ada hubungan apa apa Yu beneran "
" Terus maksud dia mau jelasin itu jelasin apa Re, cerita dong ke gue Re "
" Yaa jelasin masalah nilai, ya katanya nilai gue jelek. Pokoknya gitu deh, udah ah gausah di bahas lagian ga mungkin kali gue sama pak Varo pacaran "
" Ya iyah sih yah "
Revana mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan hal lain, ia berharap agar Ayu tak membahasnya.
**
Pukul 8 malam Revana pulang kerumah dengan ojek online, saat Revana sampai disana ada sebuah mobil terparkir dan tentunya Revana mengenal mobil tersebut.
" Ngapain dia disini " gumam Revana dengan kesal
Revana mencoba mengabaikan dan terus berjalan, Alvaro yang melihat langsung dengan cepat keluar menghampiri Revana.
" Revana tunggu " panggil Alvaro dan Revana menoleh
" Udah malem saya mau istirahat " ucap Revana sambil membuka pintu
" Revana kamu kenapa sih, dengerin dulu penjelasan saya " Alvaro ikut masuk kedalam
" Penjelasan apa ? Saya ga marah, udah saya mau istirahat pak "
" Kalau kamu ga marah kenapa kamu ga balas pesan saya ? Kenapa kamu kayak gini ? Ayolah Re jangan seperti anak kecil "
" Loh saya kan emang masih kecil, kalau bapa mau punya pacar dewasa yaudah sana bapa sama cewe itu aja. Udah saya mau istirahat, saya cape pak. " Revana mendorong Alvaro keluar dan ia langsung mengunci pintu
Alvaro hanya diam dan pergi dari rumah Revana, sedangkan Revana ia pun memilih untuk segera tidur tanpa memperdulikan Alvaro
sumpah bikin gedek