⚠️ UNTUK 18TH KEATAS, BIJAKLAH DALAM MEMBACA!
Caleste seorang gadis Werewolf yang terlanjur "Having Fun" dengan seorang Vampire bernama Ian, ternyata dari hubungan terlarang itu Caleste hamil. Bayi Hybrid percampuran Werewolf dan Vampire.
Bayi yang menjadi ancaman kaum Werewolf, Vampire maupun Witch. Disisi lain Ian ternyata malah jatuh cinta dengan seorang manusia i'm, Freya gadis blonde yang merupakan seorang Psikolog.
Apa yang akan terjadi pada bayi Hybrid itu?
Read more...
"I'm Fallin Love With Devil"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vietha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 | You Are My Family.
Kelanjutan cerita kemarin...
"Kau dan Davina?! Kau sangat munafik, kau menyiksa kaum Penyihir itu tapi kau malah bersenang-senang layaknya Romeo dan Juliet dengan Davina?!"
Ucap Ian terkekeh dalam sebuah Bar bersama Daniel. Mereka berdua saat ini tengah asik menikmati sebotol Bourbon sambil berbincang layaknya teman.
"No... No, bukan seperti itu, kami hanya saling memuaskan!" saut Daniel santai membalas kelakar Ian sambil menenggak minumannya.
"Hahaha, tetap saja kau seorang Raja yang memiliki banyak selir sekarang, lantas apakah perasaan sebenarnya masih ada pada adikku Bianca?!" saut Ian kini menanggapi.
"Walaupun begitu kau pasti akan menghalanginya bukan?!" ucap Daniel setelahnya sambil menghabiskan minuman itu.
"Kau bahkan tak berubah sedikit pun sejak 500 tahun lalu, masih saja bisa membalas perkataanku!" tawa Ian lagi padanya.
"Aku sudah melakukan banyak hal, tapi aku masih tidak bisa membiarkan anak-anak tersakiti!" ucap Daniel kini dengan lirih pada Ian.
"What do you mean?!" saut Ian terheran.
"Davina menceritakan tentang ritual kaum Penyihir saat itu, termasuk menumbalkan 4 orang gadis belia di dalamnya, beruntunglah aku datang ke sana, walaupun sudah terlambat tapi aku masih bisa menyelamatkan seorang Penyihir kecil di sana!" kata Daniel bercerita.
[Berarti Claire Penyihir cilik itu memiliki hubungan yang kuat dengan Daniel], bisik Ian dalam hatinya setelah mendapatkan jawaban itu.
"Kenapa kau menyelamatkannya?!" lanjut Ian.
"Dia adalah seorang pejuang, dia sempat melawan dalam ritual itu, mengingatkan aku saat kau menyelamatkanku dulu ketika Ayah tiri sialan itu mencambuk ku dari belakang!" jelas Daniel menatap Ian.
Ian pun hanya tersenyum tipis sambil menatap balik ke arah Daniel, dan menenggak lagi minumannya.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
⚜️Disisi lain⚜️
"Kau mau kemana?!"
Tanya Bianca kini melihat Caleste tengah bersiap-siap keluar dari rumah.
"Ke Hutan, aku mau mencari jejak Serigala yang menyelamatkanku semalam!" jelas Caleste.
"Kau tidak akan kemana-mana, mengingat sekarang aku menjadi baby sister mu sebelum Gillbert kembali!" tegas Bianca sambil melipat tangannya dan menuruni anak tangga.
"Dengar, alasan utama ku datang ke kota ini adalah untuk mencari tau keberadaan Orang tua ku, aku telah mengetahui bahwa Daniel mengusir Werewolf keluar dari Kota sejak lama, dan semalam aku yakin ada beberapa Serigala yang menolongku di Hutan dari kawanan Penyihir itu!" sambar Caleste sembari memakai sepatunya.
"Oh God, betapa susahnya berbicara dengan wanita hamil!" saut Bianca kesal.
"Karena aku tak akan menjadi tahanan rumah dengan hormon wanita hamil dalam tubuhku ini!" jelas Caleste lagi padanya.
"Seriously?!" saut Bianca tercengang.
"Kau mau ikut atau tidak?!" tanya Celeste.
Bianca pun hanya bisa memutar bola matanya ke atas dan mengenakan sepatunya, untuk menemani Caleste pergi ke Hutan.
⚜️Sesampainya di Hutan⚜️
"Aku sudah menemani mu ke Hutan saat ini tanpa hasil, dan ini perjalanan mu ke sini yang terakhir!" cecar Bianca sepanjang perjalanan.
"Aku merasa ini adalah mimpi, mendapatkan banyak masalah dalam mencari keluargaku yang asli di Kota ini, rasanya seperti aku sedang melawan dunia!" ucap Caleste yang juga nampak kesal kini.
"Oh Right, mendengar kau mengatakan tentang keluarga mu yang asli membuat ku sedikit kesal, aku tak mau mengotori sepatuku yang bagus dengan lumpur di Hutan ini!" sentak Bianca kemudian.
Lalu Caleste berbalik menatap Bianca yang ada di belakangnya kini sambil tersenyum.
"You are my family, baiklah ayo kita pulang!" lanjutnya kemudian.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
⚜️Sesampainya di Rumah⚜️
Bianca kini telah kembali ke rumah bersama dengan Caleste. Setelah menutup pintunya, betapa terkejutnya Bianca melihat Gillbert tengah duduk di Sofa menatapnya.
"Aaaaa... Brother!"
Dengan cepat Bianca berlari memeluk saudaranya itu. Ian pun ada di sana kini. Dalam pelukan Bianca sang adik yang sangat di sayangnya itu, Gill menatap ke arah Caleste yang kini juga tersenyum padanya. Tak lama Caleste pergi melangkah dari sana menuju balkon atas sambil mengibaskan rambutnya.
"Wait a moment sweetheart!" ucap Gillbert dengan Bianca.
Lalu Gill pergi menyusul Caleste ke atas. Ian pun hanya menatap mereka dari belakang.
Sesampainya di Balkon...
"Bagaimana keadaan mu?!" tanya Gillbert seketika melihat Caleste berdiri di hadapannya kini.
Tiba-tiba,
Plaaakk...
Tamparan keras mendarat di pipi Gillbert dari tangan kecil Caleste.
"Jangan membuat janji yang tak bisa kau tepati, welcome home!" ucap Caleste tersenyum manis padanya.
"Maafkan aku yang tak menjaga mu beberapa hari ini!" kata Gillbert dengannya.
"Aku terkurung di rumah dengan bayi ini!" ucap Caleste seketika sambil tersipu malu.
"Bagaimana perasaan mu menjadi seorang Ibu?!" tanya Gillbert kemudian.
"Aku ditinggalkan Orang tua sejak aku kecil, jadi aku sendiri tidak tau bagaimana perasaanku menjadi seorang Ibu!" jelas Caleste padanya.
Ternyata saat ini Ian ada di pintu Balkon sambil melipatkan tangannya dan mendengar pembicaraan itu.
"Dia hampir saja membunuh Bayi Kecil ku yang belum lahir, karena berlarian di Hutan kemarin!" saut Ian kini.
"Well, ternyata kau sudah mau mengakui Bayi itu, perkembangan yang lumayan bagus saat aku kembali!" sarkas Gillbert sambil berjalan menepuk pundak Ian di sana dan pergi kemudian.
Caleste hanya tersenyum saja kini dan beranjak pergi dari sana.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
⚜️Saat ini di Kamar Freya⚜️
Freya tengah menatap dirinya tajam di depan cermin Kamarnya. Udara dingin malam ini membuat kibasan pada kain jendelanya. Sontak Freya menoleh ke arah jendela dan menutupnya.
Saat Ia berbalik Ian sudah ada di belakangnya kini.
"Oh my God kau mengagetkan ku!" ucap Freya terkejut.
"Aku tidak bisa tidur malam ini!" kata Ian mendekati Freya.
"Ku pikir sesi terapi kita masih esok lusa, jadi kenapa kau kemari?!" tanya Freya padanya.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa wajah mu muram dan belum tidur kini?!" tanya Ian balik ke Freya.
Kemudian Freya melangkahkan kakinya dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Kau memang pria yang sensitif, aku sedang memikirkan Saudara ku Sean, Ia meninggal setahun lalu saat tiba di Kota ini!" ucap Freya lirih bercerita.
"Jadi itu lah tujuan mu datang ke Kota ini?!" kata Ian menyautinya.
"My twin brother, aku terikat hidup dan mati dengannya, aku ingin mencari tau tentang kematiannya, begitu mengetahui di sini banyak sekali Vampire, Witches atau makhluk apapun itu aku jadi semakin berfikir, namun setelah kau menghapus memoriku semuanya bagaikan samar lagi!" jelas Freya kini.
"Kau adalah gadis pemberani, andaikan aku tidak mengenal mu dengan situasi sekarang ini... " ucap Ian terputus.
Kini Ian menatap dalam ke wajah Freya yang sedang meneteskan air mata di pipinya. Dengan perlahan Ian menyeka air mata Freya di sana. Tangannya yang kini memegangi wajah Freya seketika menariknya ke dalam sebuah ciuman.
Ian mencium Freya dalam diamnya, begitu pula dengan Freya yang membalas ciuman itu. Mereka menyapu bibir satu sama lain dengan hangat. Sesekali tangan Ian membelai rambut indah Freya di sana.
Tak lama Freya tersadar dan melepaskan ciumannya dari seorang Vampire yang diingatnya itu. Lantas Freya terdiam membisu sambil memegangi bibirnya.
"I'm Sorry..." ucap Ian seketika sambil memalingkan wajahnya.
Freya masih terdiam di tempatnya. Seketika dengan cepat Ian menatap tajam mata Freya dan menggunakan Compulsion-nya lagi, Ia kembali menghipnotis Freya.
"Malam ini kau akan tertidur nyenyak dan melupakan semua kejadian yang barusan terjadi, kau tak mengingat apapun, dan menjalani hidup mu dengan tenang karena Saudara mu sudah berada dalam damai, dan yakinlah suatu saat aku akan memberikan keadilan atas kematian Saudara mu!" ucap Ian dalam hipnotisnya.
Seketika Freya terkulai lemas dan tersentak dari lamunan, Ia melihat sekitar kamarnya dan tak ada seseorang pun di sana. Kemudian Freya pun tertidur nyenyak malam ini.
༶•┈┈⛧┈♛❀♛┈⛧┈┈•༶
⚜️Lanjut di Next Bab⚜️
tak bisa berkata-kata 😎
apa talinya kendor ya...??🙄🙄