(Season dua dari novel Broken Marriage)
Menikah lagi bukan prioritas untuk Alana yang sudah menjanda dua kali, penderitaan yang dialami menyisakan trauma mendalam baginya yang merasa tak akan pernah bahagia dalam ikatan tersebut. Banyak pria yang datang mendekat, namun Alana mengacuhkannya.
Lalu bagaimana jika kedua mantan suaminya kembali datang menawarkan cinta dan sebuah ikatan pernikahan.
"Kali ini biarkan aku berjuang demi cintaku, dan jangan pernah tinggalkan aku." (Gabriel Askara)
"Maafkan aku, aku menyesal telah menyiakanmu di masa lalu, betapa bodohnya aku." (Bayu Adiyaksa)
"ALANA, MENIKAHLAH LAGI DENGANKU!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 (Pertemuan 4)
Gabriel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dia harus segera pulang sebab sekertarisnya baru saja mengabarkan jika ada sesuatu yang darurat di kantor, perjalanan ke kotanya menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan pesawat, karena hari sudah mulai gelap, Gabriel akan tiba larut malam di kotanya.
Sebenarnya Gabriel masih ingin menunggu Joana hingga gadis kecil itu benar- benar bertemu ibunya, entah kenapa melihat Joana hatinya dipenuhi perasaan yang membuncah tapi entah kenapa Gabriel tak tau perasaan apa itu, Tapi kalau tidak segera pulang dia akan menunda banyak waktu pekerjaannya, jadi dengan terpaksa Gabriel memilih pulang. Lagipula ibu gadis itu juga akan segera tiba.
Gabriel menepikan mobilnya saat mengingat jika dokumen pentingnya ada pada Junot, "Ck, aku harus kembali," ucapnya kesal, untung saja dia belum pergi jauh, hingga tanpa menunggu lama dia sudah tiba kembali di restoran.
Pintu restoran yang terbuat dari kaca membuat Gabriel bisa melihat keadaan di dalam sana, apalagi tempat duduk yang tadi dia tempati mengarah langsung ke pintu. Jadi Gabriel bisa melihat bagaimana Joana di pelukan seorang wanita yang berjongkok di depannya, ada perasan terenyuh saat melihat pemandangan itu, pasti ibunya begitu khawatir kehilangan Joana, hingga akhirnya kini bertemu kembali dengan Joana.
Tanpa sadar Gabriel tersenyum, namun mengingat lagi jika dia harus segera pulang, Gabriel membuka pintu sebab harus segera mengambil dokumen di tangan Junot.
Saat membuka pintu dengan tiba- tiba membuat semua perhatian mengarah padanya termasuk wanita yang berjongkok membelakanginya juga ikut menoleh padanya. Gabriel di buat terpaku saat menyadari siapa wanita yang berjongkok di depan Joana dan memeluk gadis kecil itu, kakinya terasa tak bisa digerakan bahkan mulutnya terasa terkunci dengan jantung yang terasa teremas kuat.
"Lana," ucapnya dengan pelan, bahkan dirinya sendiri hampir tak menyadari kata apa yang keluar dari mulutnya, saking terasa kebasnya.
Begitupun Alana yang di buat terkejut dengan kedatangan Gabriel, dia tahu dimana ada Junot disana ada Gabriel, jadi saat menyadari keberadaan Junot, pelukan Alana pada Joana mengerat seolah takut Junot menyadari sesuatu, meski Alana tahu itu sudah terlambat, sejak pertemuan mereka bahkan sudah di mulai sejak satu minggu lalu.
Tapi sekarang ketakutannya terjadi, saat ini di depan sana Gabriel berdiri dengan raut wajah terkejutnya, Alana semakin erat memeluk Joana, apa Gabriel juga sudah bertemu dengan Joana, bagaimana sekarang? Apa yang harus dia lakukan?
Saat suasana masih hening suara Joana mengembalikan keadaan hingga menarik Gabriel dan Alana kembali ke dunia nyata.
"Om tampan, kau kembali lagi?"
Alana menatap Joana yang menatap Gabriel, dan sekarang Alana tahu jika meraka benar- benar sudah bertemu satu sama lain.
Alana memejamkan matanya lalu menelan ludahnya yang tiba- tiba terasa pahit saat Gabriel berjalan mendekat "Ya, ada sesuatu yang terlupa, hingga aku mengumpat karena kesal tadi, tapi sekarang aku bersyukur aku melupakannya hingga aku bisa kembali." Gabriel terkekeh pedih.
Banyak sekali pertanyaan Gabriel saat ini, dan entah apa yang harus dia cari tahu lebih dulu, lalu ucapan Junot terlintas begitu saja di benaknya.
["Tuan, bolehkah aku bertanya sesuatu? Gadis yang hampir aku tabrak sangat mirip denganmu."
"Apa kau memiliki anak diluar nikah dengan wanita lain?"]
["Tuan, ingat yang aku katakan minggu lalu, tentang anak kecil yang hampir aku tabrak? Dia adalah anak itu, bukankah perkataan ku tentang dia mirip denganmu itu benar?" ]
Dan sudah Gabriel katakan jika dia tak pernah melakukannya kecuali dengan Alana.
Gabriel menatap lekat Joana yang kini masih menatapnya dengan mata polosnya, jika kemarin dia menganggap Junot tidak waras karena menuduhnya punya anak dari wanita lain, sekarang dia berharap Joana benar- benar putrinya, meski tak perlu Gabriel ragukan lagi sekarang mengingat Alana adalah ibu dari Joana, dan wajah Joana yang mirip dengannya.
....
Lagi?
Lanjut?
Oke baiklah kita lanjutkan😅
...
Menyadari situasi yang canggung dan seperti akan ada badai Daniel segera beralih pada petugas kepolisian untuk berterimakasih sudah mengawal mereka dari awal hingga Joana benar- benar ditemukan, lalu pada wali kelas Joana yang juga ikut mencari dan mempersilahkan mereka untuk pulang lebih dulu.
"Terimakasih untuk bantuan anda pak, dan Miss, maaf kami sudah merepotkan," ucap Daniel saat mengantar polisi dan wali kelas Joana.
Setelah memastikan mereka meninggalkan restoran, Daniel kembali masuk dan melihat Alana, Gabriel, Joana bahkan Junot duduk di kursi masing- masing, semuanya masih mengunci mulut mereka terutama Junot yang merasa ini bukan ranahnya.
Terlihat Gabriel yang tak melepas tatapannya dari Alana yang menunduk meremas tangannya yang menggenggam tangan Joana, yang justru menatap bingung suasana di sekitarnya.
Daniel menghela nafasnya "Bisakah kalian pesan ruang privat, agar kalian tak jadi tontonan lagi?"
Gabriel mendongak menatap Daniel, jika tidak melihat wajah Daniel yang mirip dengan Alana mungkin Gabriel akan mengira pria muda dan tampan ini kekasih Alana, saat Daniel memeluk dan meminta Alana duduk di kursi tadi, perlakuannya sangat perhatian hingga membuat Gabriel yang melihatnya serasa ingin meledak dengan pemikiran yang tidak- tidak, seperti ... apakah Alana sudah menikah lagi?
Tapi setelah menyadari jika pria itu Daniel, Gabriel berhasil menekan amarahnya, dan memfokuskan diri kembali pada topik utama kali ini, yaitu Joana.
"Junot, pastikan semua orang yang ada tidak merekam dan menyebar rumor buruk!" kata Gabriel akhirnya. Junot mengangguk lalu pergi ke arah manager restoran yang sejak tadi menatap waspada ke arah mereka apalagi melihat polisi yang ikut masuk bersamaan dengan masuknya seorang ibu yang memeluk putrinya.
Setelah memastikan suasana hening, dengan pengunjung restoran yang membubarkan diri, dengan kompensasi yang pantas mereka dapatkan untuk menutup mulut bahkan para pelayan yang tak diizinkan keluar untuk beberapa waktu hingga masalah mereka terselesaikan, kini tersisa lima orang yang masih tak mengeluarkan suara.
"Ana, Om belum makan sejak pagi, maukah kamu ikut om beli makanan," kata Daniel akhirnya.
Joana yang sejak tadi merasa kebingungan dengan suasana di sekitarnya pun memilih mengangguk dan keluar dengan di gandeng Junot.
"Selesaikan yang tertunda, kakak tak boleh menghindar lagi," kata Daniel "Dan kau, apapun yang terjadi saat ini kau tidak boleh menghakimi kakak ku!" peringatnya pada Gabriel.
Daniel meninggalkan Gabriel dan Alana pergi, berharap keduanya bisa menyelesaikan permasalahan mereka yang tertunda.
"Lalu apa yang harus aku lakukan bahkan dia sudah melarang ku untuk menghakimimu?" setelah suasana hening Gabriel angkat bicara.
"Itu, berarti harusnya kamu menjawab semua pertanyaanku yang pastinya kamu tahu apa itu," kata Gabriel lagi.
Alana menghela nafasnya lalu mendongak menatap Gabriel "Jika ini tentang Joana, ya, itu benar dia putrimu."
Gabriel memejamkan matanya lalu mengusap wajahnya kasar, "Astaga, Lana, bagaimana bisa kamu merahasiakan ini dariku, bagaimana kamu bisa tega memisahkan aku dari putriku."
"Apa jika aku tidak bertemu dengannya secara tidak sengaja seperti sekarang kamu akan tetap diam, bahkan hingga aku mati pun?" Gabriel menggeleng tak percaya.
"Ya." ucapan Alana membuat Gabriel tersenyum miris, sebenci itukah Alana padanya hingga dia tak membiarkannya tahu jika selama ini dia memiliki buah cinta bersamanya.
Gabriel terkekeh tatapannya begitu penuh luka, dan Alana menyadari itu, tapi Alana juga tak boleh lemah, apa yang dia lakukan adalah semata karena dia ingin melindungi Joana.
"Benar, bahkan aku tak berhak menghakimimu meskipun aku ingin."
semangat berkarya😍😍
setangkai bunga mawar untuk author 🌹