Ketika hubungan Raffael dan Yayank mulai goyah karena pengakuan Raffael akan cintanya pada Hanna, Hanna terjebak dalam kebingungan. Di saat yang bersamaan, Rey mulai merasakan dilema. Adik angkatnya, Ella, dengan berani mengungkapkan perasaannya, meski Rey sudah berulang kali menolak. Rey merasa hidupnya mulai semakin rumit dengan adanya perasaan-perasaan yang tidak seharusnya muncul, baik terhadap Ella maupun Hanna.
Di tengah kekacauan itu, mereka bertiga harus menghadapi kenyataan bahwa cinta sering kali hadir dengan cara yang tidak terduga. Hanna terjebak di antara dua pria yang sangat penting baginya. Raffael, sahabat setia yang selalu ada, dan Rey, yang meskipun keras kepala, mampu membuat jantungnya berdebar. Akankah persahabatan mereka mampu bertahan di tengah badai perasaan yang terus bergolak? Atau, salah satu dari mereka harus mengorbankan segalanya demi sebuah cinta yang tak terungkap?
Happy Reading guys 🧾🧾🧾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunianya Hancur
"Keruanganku sekarang!" Perintah Rey terdengar ketus.
"Aku duluan.." Imbuh Hanna pada Hanif, setelahnya berlalu mengikuti langkah Rey menuju ruang kerjanyanya.
Ditempatnya berdiri, Hanif hanya menatap bingung atas perubahan sikap Rey yang tampak dramatis. Diruang rapat tadi Rey masih tampak baik - baik saja. Bahkan Rey sampai mengajaknya untuk makan siang bersama nanti untuk membahas lebih lanjut tentang pekerjaan mereka, tapi kini Rey justru mengabaikannya begitu saja di hadapan Hanna. "Apa aku salah bicara?" Gumam Hanif, sambil menggaruk - garuk kepala bagian belakangnya. Ia pun ikut beranjak dari sana setelah itu, menuju ke ruang kerjanya.
Hanna berlari kecil untuk menyeimbangi langkah panjang Rey.
"Rey, tunggu.." Pinta Hanna.
Rey menghilang masuk kedalam ruang kerjanya, sedang Hanna masih tertinggal beberapa langkah di belakang.
Hanna berdengus kesal, ketika Rey tampak tak menggubris panggilannya. Hanna mendorong pintu ruang kerja Rey dengan kasar. "Rey..." Imbuh Hanna tepat setelah Hanna masuk kedalam ruang kerja Rey, dan baru saja membuka mulut untuk menegur sikap Rey. Tampa aba - aba, Rey langsung menarik pinggang ramping Hanna, mendekapnya dengan mesra dan me lu mat bibir ranum yang sedang setengah terbuka itu.
"Emm.." Desis Hanna kaget ketika tiba - tiba Rey mendaratkan ci umannya.
Rey melepaskan ci umannya, lalu menatap Hanna dalam. "Kau bahagia, bertemu lagi dengan cinta pertamamu?" Kalimat itu terdengar seperti ejekan.
"Ch!" Hanna tersenyum miring lalu mengalihkan pandangannya. "Omong kosong!" Gerutu Hanna, "Apa... Kau cemburu?" Selidik Hanna, diiringi dengan kerlingan matanya yang kembali menatap kedua manik Rey yang seakan membara.
"Aku? Cemburu padanya?" Rey terkekeh pelan, mengelak dengan keras tuduhan Hanna. "Apa dia pantas, dibandingkan denganku?" Sarkas Rey.
"Kau terlalu percaya diri, Tuan Rey." Hanna menyipitkan matanya, "Aku belikan kue kesukaanmu." Hanna mengangkat paper bag di tangannya. Lalu melepaskan diri dari dekapan Rey, ia berjalan menuju sofa dan duduk disana sambil mengeluarkan kue dari paper bag tersebut.
"Tolong minta Rada untuk buatkan Teh Chamomile.." Pinta Hanna.
Rey menuruti, ia mengambil langkah menuju meja kerjanya, lalu menghubungi Rada melalui panggilan telpon kantor. "Rada, tolong buatkan teh Chamomile." Perintah Rey.
"Baik, Pak." Jawab Rada dari balik telepon itu.
Rey kembali melangkah menuju sofa, dan duduk disamping Hanna.
"Mengapa tak ada butter tart?" Dengan tatapan yang tertuju ke arah kue yang tersusun di atas meja. Karena Rey sangat tahu, kue butter tart lah yang paling disukai Hanna.
"Because today, especially for you." Seloroh Hanna dengan senyuman yang mengembang.
"Mencurigakan! Pasti ada sesuatu jika kau sudah bersikap seperti ini." Rey meraih satu cup Custard Buttercream. "Tapi mengapa kau beli terlalu banyak?"
"Sebagian untuk Deon."
Lirikan mata Rey langsung tertuju ke arah Hanna. Kunyahannya melambat setelah mendengar kalimat itu.
"Apa menurutmu, Deon juga menyukai ini. Sama sepertimu! Atau justru menyukai Butter tart, seperti ku?" Pertanyaan Hanna yang terdengar lebih seperti gumaman.
Tok!Tok!
Rada masuk setelah mengetuk pintu, lalu menyajikan teh Chamomile di atas meja.
"Rada," Panggil Hanna, sebelum Rada bergegas pergi. "Untukmu dan yang lainnya." Hanna menyerahkan satu lusin Custard Buttercream pada Rada.
"Terimakasih, Bu Hanna.." Rada menganggukkan kepalanya sambil menerima kue pemberian Hanna tersebut, dan setelahnya berlalu pergi dari ruang kerja Rey.
"Hanna.." Lirih Rey, lalu kembali meletakkan Custard Buttercream yang baru satu gigitan itu kembali ke atas meja.
Lirikan mata Hanna mengikuti gerakan Custard Buttercream tersebut, lalu perlahan pandangan itu beralih ke arah netra Rey.
Rey membenarkan posisi duduknya, lalu menggenggam tangan Hanna lembut. Kini tatapannya juga sedang lekat menatap Hanna.
"Hanna, Aku tahu. Kau sangat terobsesi dengan apa yang dikatakan Lucy. Percaya bahwa Deon selalu berada di dekat kita. Bukan berarti aku tak percaya dan menentangnya, hanya saja... itu sedikit diluar nalar. Bisakah, jika kau yakini itu hanya sebagai ocehan anak kecil. Lagi pula Deon pasti sudah tenang di alam sana." Rey berucap penuh hati - hati.
Hanna hanya terdiam tanpa ekspresi. Membuat Rey sulit menebak antara Hanna marah atau tidak.
Rey hanya tidak ingin Hanna terus saja bertingkah seakan - akan Deon benar - benar berada di tengah - tengah mereka. Sejujurnya, dari awal Rey sulit untuk mempercayai itu. Namun juga sulit untuk meyakini Hanna kalau itu hanya ocehan anak kecil yang mereka sendiri tidak tahu itu benar atau tidak.
Raut wajah Rey menegang, ia takut Hanna marah. Tapi jika di biarkan, ia juga takut jika Hanna bersikap berlebihan.
"Aku juga berharap, bahkan sangat berharap jika apa yang dikatakan Lucy itu benar, tapi hanya saja-"
"Aku mengerti Rey.." Sela Hanna, memangkas kalimat Rey. Diiringi dengan ekspresi wajahnya yang berubah, Hanna memaksakan senyum di wajahnya.
"Sudah aku duga, dari awal kau memang tak percaya tentang itu." Hanna menghela napas, lalu mengulur tangannya untuk meraih cangkir teh.
Hanna menyeruput teh Chamomile setelah menghirup sebentar aroma menenangkan dari teh tersebut.
"Apa sikapku selama ini berlebihan?" Hanna kembali menoleh ke arah Rey. "Maaf jika sudah membuatmu khawatir tentang itu." Lanjut Hanna.
"Hanna, aku-"
"Baiklah..." Sela Hanna, lagi dan lagi. "Aku janji tidak akan bahas hal itu lagi." Ucap Hanna mantap.
"Kau marah?" Rey memastikan.
"Tentu saja tidak!" Hanna menunjukkan senyumannya, untuk meyakinkan Rey kalau ia baik - baik saja. Ia sama sekali tak marah.
"Syukurlah, jika kau mengerti dengan maksudku." Rey menghela lega.
"Em, syukurlah.." Gumam Hanna pelan, sambil menatap cangkir teh di tangannya.
"So... Bagaimana kisah kau dan Hanif saat di SMA dulu?" Rey mengalihkan pembicaraan, agar Hanna tidak larut dalam pikirannya.
"Kau yakin ingin tahu?" Hanna memastikan.
Rey mengangguk, mengiyakan.
Dan...
Mulailah Hanna bercerita tentang kisah sewaktu dirinya SMA, sesekali Hanna terkekeh ketika membayangkan betapa konyolnya ia dulu. Pun dengan Rey yang langsung berubah menjadi pendengar setia, ia menyimak dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Hanna, pandangannya tak lekang menatap wajah cantik itu. Ia benar - benar bersyukur Hanna tak marah setelah apa yang sudah ia utarakan tadi.
"Kami berpisah, karena pada saat itu Hanif dan keluarganya pindah ke London. Dan semenjak itu, kami tak pernah lagi berkomunikasi." Kalimat itu menjadi penutup dari cerita Hanna.
"Kau tidak pernah mencoba mencarinya?" Pertanyaan yang akhirnya di ajukan Rey.
Hanna menggeleng, mulutnya terbuka untuk menerima suapan Tourtière dari Rey.
"Itu hanya hubungan sesaat, lagi pula aku sangat sibuk dengan duniaku sendiri pada saat itu." Hanna menunduk, tiba - tiba ia menjadi sedih. Ya, karena pada saat itu, Hanna juga harus kehilangan kedua orang tuanya disaat yang bersamaan karena sebuah kecelakaan tragis.
Dunia Hanna hancur saat itu, ia tak punya waktu untuk mengejar cintanya, karena ia sendiri harus bertahap hidup dengan susah payah.
To Be Continued >>>
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......Hi ladies and gentlemen... ^^......
...Terimakasih sudah singgah dan menjadi pembaca setianya...
...'Rey & Hanna'...
...Ayo dukung terus novel ini dengan cara berikan gift dan vote sebanyak-banyaknya 🫰...
...Agar novel ini bisa terus berkembang dan berkesempatan masuk ke 'Rangking Populer' agar orang lain juga bisa dengan mudah menemukan novel 'Rey & Hanna'...
...Terus berikan masukan dan dukungan kalian untuk Author yaa gengsss .....
...Apalah arti Author tanpa kalian semua, peluk jauh dan lope banyak-banyak untuk kalian gengssss ... ^^...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
semangat lg thoorr..... 💪💪🌹🌹
sampai lupa jalan critanya 🤭😁
sudahi hiatus nyaaaa
cepat lah up thorrrrr 🤧🤧🤧
tak kasatmata=tk dapat di lihat,tidak nyata.
tak kasatmata= tak dapat di lihat,tak nyata.
klo aku yg di tanya Ray kmu mau makan apa. jwananku, aku mau makan kamu Ray... km menggemaskan 🤣
Lanjut ka Thor and ttp semangat💪