Dia menikah, semata-mata hanya untuk terbebas dari siksaan keluarga. Namun, nyatanya, semua itu tidak sesuai harapan. Pernikahan dini yang dipaksakan, bukanlah pernikahan impiannya.
Seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
"Mah, apa Mamah menyadari sesuatu?" bisik Salsa setelah Wulan dan Sandi pergi meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar mereka.
"Apa kamu pikir bajunya? Atau ada yang lain?" ucap Susi sambil menyuapkan makanan yang dibuatnya sendiri tanpa selera.
"Benar, sepertinya baju itu baru. Bukankah dia tidak pernah membeli baju sebelumnya? Juga sejak kapan ada cincin di jari mereka? Seingatku semalam tidak ada acara pemasangan cincin?" terang Salsa.
Dia meringis saat lidahnya menyentuh makanan yang dibuat Susi.
"Makanan ini tidak enak, bagaimana jika memesan makanan saja, Mah. Aku lapar," ucapnya secara terang-terangan mengejek masakan Susi.
Wajah wanita paruh baya itu memerah, tapi kemudian dia pun mengakui jika makanan itu memang tidak enak untuk dimakan. Helaan napasnya menguar, diletakkan sendok di atas piring dengan malas.
"Baiklah. Sebaiknya segera pesan, Mamah juga lapar." Susi terlihat kesal karena harus mengeluarkan uang hanya sekedar untuk sarapan.
"Sialan si Wulan, dia sudah berani melawan sekarang. Mereka pikir bisa bersikap sombong selamanya?" geram Susi sambil mengepalkan tangan.
"Tapi baju yang dikenakan Wulan terlihat mahal meski sederhana. Apa itu memang baju mahal, atau hanya barang diskon yang dia beli? Tapi dari mana Wulan mendapatkan uang?" Salsa terbayang-bayang gaun yang dikenakan Wulan pagi itu.
Tak habis pikir dari mana Wulan bisa memiliki pakaian tersebut. Memikirkan hal itu wajah Salsa mengeras, tidak terima jika Wulan bisa lebih mencolok dari pada dirinya.
"Sudahlah, mungkin pakaian itu bekas kakaknya Sandi. Kamu lihat suaminya, dia seperti orang kaya berbeda dengan Sandi," celetuk Susi teringat pada laki-laki yang dikenalkan sebagai ipar Sandi semalam.
Salsa mengangkat alis, mengingat kembali siapa saja yang datang semalam ke rumahnya. Lalu, mengangguk-anggukkan kepala setuju dengan apa yang dikatakan mamahnya itu.
"Mamah benar, itu bisa saja terjadi."
Obrolan mereka berhenti tatkala suara mobil menderu di halaman. Keduanya memanjangkan leher untuk dapat melihat siapa yang datang.
"Apakah itu Yoga? Kamu bilang dia akan datang menjemput?" tanya Susi teringat kekasih Salsa yang rutin datang setiap akhir pekan menjemput dan mengajaknya berjalan-jalan.
"Sepertinya benar, aku hafal betul suara mobilnya." Dia terburu-buru pergi meninggalkan ruang makan menuju teras. Senyum berkembang di pipinya tatkala sesosok pria berpakaian rapi keluar dari mobil tersebut.
Usianya lebih dewasa dari pada Salsa sendiri, seorang anak pengusaha sukses yang akan mewarisi kekayaan keluarga, katanya. Selalu tampil elegan dengan balutan jas yang melekat di tubuhnya. Salsa berlari, memeluk laki-laki itu tanpa segan.
"Kamu sudah siap?" tanya Yoga setelah memberikan kecupan di pipi mulus Salsa.
"Aku menunggu sarapan, Wulan tidak membuatkan kami sarapan. Jika kamu bersedia, kita sarapan dulu sebelum pergi," ucap Salsa sambil bergelayut manja di lengan laki-laki itu.
Ia mengangguk dan mengikuti ajakan Salsa untuk masuk ke dalam rumah. Disambut dengan baik oleh Susi, calon menantu kesayangan. Kepala Yoga berputar ke sekitar rumah, mencari-cari sesuatu.
Di mana Wulan? Kenapa tidak terlihat? Wanita itu selalu bisa lolos dariku!
Hatinya bergumam menelisik seisi ruangan mencari sosok Wulan. Ada apa dengan Yoga? Kenapa dia mencari Wulan?
Sementara di dalam kamar, Sandi tengah memperhatikan sang istri yang mengamati benda pipih di tangan. Seumur hidup, Wulan tidak pernah tahu tentang ponsel. Memegang saja baru kali ini dia rasakan.
"Apa kamu tidak pernah memiliki ponsel sebelumnya?" tanya Sandi sambil tersenyum. Benda itu adalah miliknya, niat awal ingin memotret Wulan, tapi gadis itu justru enggan.
Wulan menggelengkan kepala, menyerahkan benda di tangannya kepada Sandi.
"Hanya melihatnya di iklan-iklan pinggir jalan saja. Aku tidak pernah memiliki benda-benda seperti itu walaupun hanya barang bekas," ucap Wulan menunduk sedih dan malu.
Sandi menimang benda di tangan, hatinya merasa pilu setiap kali mendengar cerita Wulan. Tak adakah episode bahagia dalam lembar perjalanan hidupnya?
"Kemarilah, duduk di sini!" panggil Sandi sambil menepuk-nepuk pahanya.
Wulan membelalak, kedua pipinya merona, berpaling dengan cepat.
"U-untuk apa?" tanyanya gugup.
Tanpa menjawab, Sandi menarik tangan Wulan dan mendudukkannya di pangkuan. Mengangkat benda tersebut ke atas, mengarahkan kamera pada mereka berdua. Satu jepretan ia dapatkan. Wulan berkedip, tak ada ekspresi yang ditampilkan karena tak ada persiapan.
Sandi terkekeh setelah melihat hasilnya.
"Ada apa? Apakah tidak bagus?" tanya Wulan merebut benda tersebut dari tangan Sandi. Matanya melebar, kemudian dia berpaling karena malu melihat pantulan dirinya di dalam gambar tersebut.
"Kamu terlalu kaku, tapi aku suka," ucap Sandi melingkarkan tangan di tubuh Wulan. Laki-laki itu memperlakukan Wulan selayaknya istri meski mereka belum saling mengenal satu sama lain. Seolah-olah Wulan adalah wanita yang dia cintai.
"Maaf." Wulan memberikan ponsel tersebut tanpa berpaling pada Sandi.
"Baiklah, mobil jemputan akan datang. Sebaiknya kita keluar dari kamar dan bersiap untuk pergi," ucap Sandi, tapi tangannya justru semakin kuat mendekap tubuh Wulan. Enggan melepaskan dan harus kehilangan momen hangat itu.
"Aku tidak bisa bangun," lirih Wulan melirik tangan Sandi yang melingkar kuat di tubuhnya.
Laki-laki itu terkekeh, mengendurkan lingkaran agar Wulan dapat berdiri meski enggan. Mereka seperti sepasang suami istri yang saling mencintai, padahal hanya orang asing yang baru bertemu satu sama lain. Wulan mendorong kursi roda keluar, pancaran kebahagiaan jelas terlihat di wajahnya yang sederhana tanpa polesan make-up.
Namun, langkah Wulan terhenti mendadak ketika tiba di ruang tamu, di mana Yoga duduk bersama Salsa dan bermesraan tanpa segan.
"Ada apa?" tanya Sandi mendongak memperhatikan ekspresi wajah Wulan yang dihiasi kecemasan serta ketakutan.
Wulan lekas menunduk ketika Yoga mengangkat pandangan. Lalu, menggeleng dan melanjutkan langkah keluar rumah.
"Heh, mau pergi ke mana? Buatkan minuman dulu!" sergah Salsa ketus seperti biasa. Lelaki di sampingnya mengernyitkan dahi dalam-dalam, menelisik Sandi yang duduk di kursi roda juga Wulan di belakangnya.
"Jangan dengarkan, kita memiliki keperluan sendiri," ucap Sandi ketika Wulan lagi-lagi berhenti melangkah.
"Sialan! Kamu pikir kamu ini siapa? Wulan tidak pernah membantah sebelumnya. Kamu sudah mencuci otaknya untuk menjadi pembangkang terhadap keluarga sendiri!" Susi meradang, berdiri dengan berang. Habis sudah kesabarannya terkikis oleh sikap Sandi yang terus menerus melawan.
Sandi memutar kursi rodanya, sementara Wulan tetap bergeming membelakangi. Matanya enggan bersitatap dengan lelaki di samping Salsa.
"Sudah aku katakan, aku adalah suaminya dan tidak ada yang bisa memerintah istriku. Siapapun, tidak terkecuali!" ingat Sandi sambil tersenyum enteng. Ia menatap Yoga yang terus memperhatikan Wulan. Ada hal mencurigakan dari sosoknya.
"Jika kamu terus menerus menatap istriku, akan kucongkel bola matamu itu!" kecam Sandi dengan penuh penekanan dan ancaman yang tidak main-main.
Salsa melebarkan mata, dan Yoga berpaling sambil tersenyum tanpa dosa. Meremehkan Sandi yang duduk tak berguna di atas kursi roda, tak mampu melakukan apapun.
"Beraninya kamu mengancam calon suamiku! Kamu tahu siapa dia? Dia bisa membuat hidupmu menderita selamanya," hardik Salsa tak terima.
Sandi tertawa, merasa ucapan Salsa hanyalah omong kosong belaka.
"Simpan itu untuk dirimu sendiri!" ucapnya seraya mengajak Wulan segera pergi karena mobil jemputan sudah tiba di halaman.
"Sialan! Laki-laki miskin itu semakin berani saja," umpat Salsa setelah mereka menghilang di teras. Susi membanting diri di sofa, semakin lama semakin dibuat frustasi oleh sikap Sandi.
"Memangnya siapa dia? Laki-laki tidak berguna saja beraninya dia mengancamku," celetuk Yoga.
"Hah, sudahlah. Itu tidak penting hanya merusak suasana pagi saja."
Jadi, Wulan sudah menikah? Ah, sialan! Tapi tak apa, laki-laki itu sepertinya tidak berguna. Aku masih punya kesempatan.