NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Tuntas

Kisah Yang Belum Tuntas

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuryanthi Sudarma

Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.

Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Hari sudah hampir gelap namun Vano belum juga pulang. Luna yang cemas harus mondar-mandir mengintip dari jendela. Mau nanya masih dimana tapi nomor Adnan saja dia tidak punya. Waktu pria itu memberikan kartu ATM-nya, Luna menolak bertukar nomor whatsapp. Siapa sangka sekarang dia menyesal karena tak bisa mencari tahu keberadaan Vano. Bisa saja pria itu menbawanya kabur. Rasa cemasnya baru mmeudar saat mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumahnya.

"Dari mana aja sih," tanya Luna ketus saat Adnan yang ada di belakang Vano menghampirinya dengan tangan yang penuh jinjingan.

"Biasa namanya juga jalan-jalan. Lain kali biar kamu gak overthinking ikut aja," balas Adnan meletakan jinjingannya di dekat pintu. Dia kembali lagi ke mobil dan mengeluarkan motor cross anak yang harganya bukan hanya satu atau dua juta. Beserta mainan yang lain yang tentunya disambut gembira oleh Vano.

"Vano suka?" tanya Adnan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Vano.

"Suka sekali, Ayah, terima kasih."

Seketika Luna melotot mendengar sebutan ayah pada Adnan. Dia hendak protes namun Adnan lebih dulu pamit dan masuk ke dalam mobil.

Sekarang rumahnya yang minimalis semakin minim ruang karena banyaknya mainan besar yang diberikan Adnan. Belum lagi beberapa roll kain yang baru datang tadi siang.

"Van, kenapa tadi kamu panggil ayah sama Om Adnan?" Luna tak dapat lagi menahan rasa penasaran. Jangan-jangan Adnan mulai mensounding anaknya agar mudah dibawa oleh pria itu.

Vano yang semangatnya masih full karena banyak mainan baru itu menoleh. "Soalnya tadi aku dengar Om Adnan bilang dia pacarnya Ibu. Jadi aku harus panggil ayah karena Ibu akan menikah sama dia."

Luna yang biasanya punya seribu bahasa mendadak lidahnya kelu. Namun rasa kesal di dalam hati untuk Adnan semakin menyeruak. Jika saja Andan masih ada di depannya sudah pasti pipinya akan memerah karena ditampar keras seperti waktu di kantor.

Di tempat lain Adnan baru saja memasuki apartmennya. Dia duduk di sofa depan televisi namun bukan menontonnya. Justru saat itu dia tengah membayangkan ekspresi Luna setelah mendengar Vano memanggilnya ayah. Pasti lucu.

Beberapa hari lalu dia menyadari satu hal. Luna pasti tidak akan menyerahkan Vano padanya secara sukarela. Jadi jalan satu-satunya untuk terus bersama sang Vano adalah menikahi Ibunya. Memang tidak mudah membujuk perempuan keras kepala seperti Luna. Namun jika Vano berada dipihaknya maka kemungkinan untuk menang itu ada.

***

"Ibuuuuuuu!" teriakan itu berasal dari Vano yang baru pulang sekolah. Menghampiri Luna di rumah kerja dan mencium tangannya.

"Seneng banget kayaknya. Ada apa nih?" Seperti biasa akhir-akhir ini Vani seperti menyembunyikan sesuatu. Dia menjawab dengan gelengan kepala, "langsung ganti pakaian ya terus makan. Ibu sudah siapkan makanan kesukaan Vano di atas meja," kata Luna yang sibuk menggerakan kaki serta tangan di atas mesin jahit.

Saat itu memang Luna sedang tidak bisa menjemput karena banyaknya pesanan yang harus dia selesaikan secepat mungkin. Akhirnya dia meminta bantuan Aas. Namun Aas baru dia hubungi beberapa menit lalu. Rasanya tidak mungkin Vano akan tiba secepat itu di rumah jika Aas yang menjemput. Jarak rumah Aas ke sekolah Vano sama dengan jarak dari rumahnya.

"Vano dijemput siapa?" Sekarang hanya ada satu nama yang menjadi tersangka tuduhannya. Adnan.

"Dijemput ayah. Ibu aku senang dijemput sama ayah. Sekarang aku jadi sama seperti teman-temanku. Aku juga punya ayah. Iya kan Ibu, iya kan." Ketika bersangkutan dengan ayah, Anak itu selalu menjawab dengan wajah yang berseri-seri. Selalu memberikan senyum yang menunjukan deretan giginya yang kecil serta rapih.

Luna mengangguk mengizinkan Vano ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Saat itu dia tidak punya banyak waktu untuk mendebat. Masih banyak pekerjaan yang menumpuk dan akan ngaret jika waktunya terbuang cuma-cuma. Dia kembali melanjutkan pekerjaan namun beberapa saat kemudian menghentikan saat belum melihat lagi Vano. Dia turun dari mesin jahit dan mencari Vano ke dapur tapi tidak ada. Makanan siangnya pun masih utuh.

Dia melangkah ke kamar dan menemukan putranya masih di sana lengkap dengan seragam yang belum di ganti. Anak itu tengah bermain bersama mainan barunya.

"Vano!"

"Sebentar Ibu," jawab Vano tanpa menoleh.

"Vano!" Kali ini Luna memanggilnya dengan nada sedikit naik. Akan tetapi Vano menghiraukan panggilan dari ibunya. Luna masuk dan merebut mainan dari tangan membuat anaknya melayangkan tatapan protes. "Gak ada main sebelum ganti seragam juga makan. Cepat ganti pakaiannya."

Luna tinggalkan putranya, namun setelah mengganti pakaian Vano malah kembali bermain. Lupa kalau dia harusnya makan siang dulu.

Luna berdecak saat melihat Vani masih di kamar. Sekali lagi dia meminta Vano untuk makan. Tetapi Vano menolak. Habis sudah kesabaran Luna. Semua gara-gara Adnan. Dia ambil mainan Vano dan melakukannya ke dalam kardus. Vano yang tidak rela melakukan pemberontakan. Dia tantrum dan sulit ditenangkan. Setelah capek nangis anak itu tertidur dalam pelukan ibunya.

Semua memang rencana Adnan. Dia sengaja memberikan banyak mainan agar Luna kesal. Sebab sudah bisa ditembak bagaimana sifat seseorang seperti Luna yang pasti akan mementingkan kebaikan untuk anaknya serta sifat anak yang mendapatkan mainan baru. Saat Vano berontak, Adnan yakin anak itu akan lari pada dirinya yang telah memberikan kenyamanan. Di saat itu dia akan masuk dan membujuk Luna untuk hidup bersama. Semua demi Vano demi generasi yang akan melanjutkan bisnisnya nanti.

Katakan saja Adanya licik, namun Vano merupakan hal yang harus pertahankan.

Keesokan harinya, Luna meninggalkan sejenak pekerjaan demi menjemput Vano sekaligus agar bertemu Adnan. Dia yakin pria itu selalu menemui Vano tanpa sepengetahuan dirinya. Dan dirinya tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi. Orang yang dia tunggu akhirnya datang. Pria itu menghampirinya yang duduk di bangku taman di bawah pohon rindang.

"Duduk! Saya mau bicara," kata Luna tegas dan terdengar dingin.

"Kita sudah mirip sepasang suami istri yang sama-sama menjemput anak," kekeh Adnan yang duduk di sebelah Luna. Dia abaikan tatapan dingin dari perempuan itu.

"Saya ingin Anda tidak menemui Vano lagi," kata Luna langsung pada inti.

"Karena?" Adnan menoleh, kedua alisnya memiliki menyatu di tengah.

"Karena dia bukan anak Anda."

"Tahu, tapi kamu juga tidak bisa menyangkal kalau di dalam tubuh Vano mengalir darah saya." Adnan benaran posisi duduknya hingga menghadap Luna yang menatap lurus ke depan. "Luna ... bagaimana kalau kita memperbaiki apa yang kurang di masa lalu. Kita ... menikah."

Luna menoleh, sorot matanya tetap tajam jika berhadapan dengan Adnan. Apakah kali ini dia bisa memilih atau sama seperti yang sudah-sudah. Pasrah menerima apa yang dikatakan pria di hadapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!