no diskripsi langsung baca lebih bagus 😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka manga toon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Part 12...
Rina terus menangis di dalam kamar tamu itu , ia sengaja memilih tidur di kamar itu karna saat ini ia tidak ingin tidur dalam satu kamar dengan Arga .
Rina benar-benar tidak percaya jika Arga berani melayangkan tangan nya ke pipi Rina . Bahkan rasa perih di pipinya masih sangat terasa dan itu adalah bukti jika Arga benar-benar sudah menamprnya.
Tok
Tok
Tok
" Rina ... Maafkan. aku , aku benar-benar tidak sengaja menampar mu " ucap Arga dari luar sana seraya menyandar keningnya di depan pintu kamar itu
Arga terus mengetuk pintu itu dan berharap orang yang berada di dalam sana membukakan pintu itu untuknya.
" Rina,,, aku salah,, tolong maafkan aku. Buka pintunya , kumohon " ucap Arga lagi
Namun Rina masih terus terdiam sambil menutupi kupingnya, ia tidak ingin mendengar suara Arga memohon untuk membukakan pintu. Sudah cukup seharian ini dirinya merasakan sakit hatinya, ia tidak sanggup lagi jika Arga menyakiti dirinya untuk ke sekian kalinya.
Rina bersandar di pintu menekuk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya pada kedua tangannya yang berlipat di atas lutut, tangisannya terdengar begitu pilu. Sejak tadi ia berusaha menahan tangisannya namun tidak untuk sekarang.
Arga yang masih berdiri di depan pintu kamar Rina hanya bisa terdiam mendengar tangisan pilu wanita itu , seketika hatinya merasakan sakit saat mendengar betapa pilunya tangisan wanita manisnya itu .
Arga pun meneteskan air matanya tanpa ada suara isakkan. ia menyesal sudah membuat Rina jadi seperti ini. namun kata menyesal tidak bisa membuat Arga meninggalkan Jenie.
Katakan saja jika Arga sangat mencintai sosok Jenie saat ini. hingga ia tega menyakiti perasaan Rina yang selama ini selalu menemaninya dalam kondisi apapun.
Jika ia di suruh memilih...?
Arga tidak akan memilih karna ia mencintai keduanya dan ia juga tidak ingin kehilangan keduanya.
Seketika tangisan Rina terhenti saat merasakan sakit di kepalanya bersamaan dengan darah yang kembali menetes dari lubang hidungnya. Rina pun terjatuh saat dirinya mencoba untuk berdiri.
" Sakiiiit hiks..hiks.." Rina mencoba memeluk kepalanya berharap rasa sakit itu akan berkurang namun bukannya berkurang malah rasa sakit itu kian bertambah.
Rina melihat ada sebuah tissue di atas laci dan ia pun mencoba berdiri namun lagi-lagi ia terjatuh karna rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.
Rina tidak kehilangan akal , ia menyeret kedua kakinya menuju ke arah laci dan mencoba mengambil tissue tersebut. Setelahnya Rina pun berhasil mengambil beberapa lembar tissue untuk ia tutupi ke lubang hidungnya. Ia mendongakkan kepalanya di atas ranjang berharap mimisannya akan berhenti.
" Tuhan , kenapa nasibku begitu menyedihkan. Dalam sehari aku mendapati orang yang aku cintai sedang berhubungan badan dan juga aku harus berperang melawan penyakit ku ini. Rasa sakit di kepala ku bisa ku tahan tapi tidak dengan perasaan ku , tuhan " gumam Rina seraya menatap langit-langit dan kembali meneteskan air matanya tanpa isakkan.
Sementara Arga masih berdiam diri di depan kamar Rina yang terdengar sepi. Ia berpikir jika Rina sudah tertidur akhirnya Arga pun memutuskan kembali ke dalam kamarnya.
Namun kenyataannya Rina belum tertidur, ia menatap kosong ke arah Langit-langit kamarnya dengan air mata yang masih menetes dengan sendirinya .
.
.
.
.
.
.
Pagi pun kini telah datang dan Rina pun terbangun saat mendengar suara ponselnya yang berdering, ia melihat nama Santa terpampang jelas di sama
" ada apa Anta ? " tanya Rina di balik ponselnya
" Baru bangun...? " tanya Santa dan Rina pun berdehem sebagai jawabannya.
" Dasar pemalas ! " goda Santa
" Biarin ! " jawab Rina dengan suara ketus yang ia buat.
" Mau jalan gak ? " tawar Santa di balik ponselnya.
" Kemana ? "
" Kemana aja, asalkan jalan berdua sama kamu dan tanpa Arga " ucap Santa hingga membuat Rina tersenyum tipis saat mendengar nama Arga.
" Aku gak bisa, Anta ! Aku mau ke rumah sakit " terang Rina sebelum Santa bertanya alasannya menolak pergi.
" Kamu sakit ? " tanya Santa dengan suara yang terdengar begitu khawatir di seberang sana
" Tidak! Aku cuman mau nebus obat vitamin aja. kemaren lupa gak aku tebus " ucap Rina berbohong
Rina hanya tidak ingin Santa tau soal penyakit yang di deritanya. Ia tidak mau Santa melihatnya dengan tatapan kasian.
" Aku antar boleh ? " tanya Santa menawarkan diri
" Tidak perlu ! , Aku bisa kesana sendirian , Santa " Tolak Rina sopan
" Tidak ada penolakan, Rina !" ucap Santa dan Rina pun hanya bisa menghela napas panjangnya.
" Dasar ! , Untuk apa kamu nanya segala kalau kamu tidak mau di tolak " ucap Rina sambil tersenyum saat mendengar suara tawa Santa di balik ponselnya.
" Aku siap-siap dulu ya , kamu tunggu aku di jalan perempatan depan. Jangan jemput aku di depan rumah kalau gak mau di hajar sama Arga" ucap Rina dan mematikan panggilannya tanpa mendengar jawaban Santa
Rina pun melihat jam yang ada di layar ponselnya dan saat ini jam menunjukkan tepat pukul sembilan pagi. Baru kali ini Rina bangun tidur kesiangan, biasanya ia akan bangun pukul lima pagi dan mulai memasak untuk sarapan Arga namun hari ini entah kenapa Rina merasa malas untuk melakukan apa yang biasa ia lakukan.
Rina pun bangun dari ranjangnya menuju meja rias dan melihat tampilan dirinya di depan cermin . Terlihat jelas pakaiannya yang acak-acakan dan terdapat banyak bercak darah kering di sana , bahkan tissue yang ia pakai masih menempel di lubang hidung kirinya.
Rina baru ingat semalam ia langsung tidur tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu bahkan ia tidak tau kemana larinya tissue yang ada di lubang hidung kanannya itu.
Rina menghela napas lelahnya saat melihat darah di lantainya. Dengan cepat Rina membersihkan bagian lantainya sebelum membersihkan tubuhnya...
.
.
.
.
.
secepatnya kalau update, gk sabar buat baca terusannya