Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 11
+
+
Kay menarik tangan Lily keluar dari perpustakaan setelah gadis itu memakai jubah yang sebelumnya Kay pakai untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang. Salahkan saja Kay kenapa merobek bajunya.
“Pelan-pelan, aku takut terjatuh.” Ujar Lily pada laki-laki di depannya seraya memperhatikan langkah karena Kay yang entah kenapa malah berjalan tepat di sisi kolam renang padahal jalan di sampingnya masih lega.
Memang aneh bukan.
Saat berada di tengah-tengah kolam Kay tiba-tiba berhenti lalu berbalik menatap Lily yang mengerjap menatapnya bingung.
“Apa?” Tanya Lily sedikit curiga, bagaimana pun pikiran laki-laki di depannya tidak bisa di tebak.
“Kau sudah mandi?”
“Tentu saja sudah.” Memangnya kenapa menanyakan hal seperti itu.
“Kapan.”
“Emm, pagi.” Lily memang belum mandi lagi karena asik membaca buku. Tapi tubuhnya tidak mengeluarkan bau yang aneh malah masih tercium harum dari parfum yang aromanya sangat Lily sukai.
“Pantas saja kau bau.”
Byurrr
Tanpa di duga tiba-tiba saja Kay mendorong badan Lily ke dalam kolam hanya dengan jari telunjuknya saja.
“KAY!” Lily berteriak setelah keluar dari dalam air.
“Apa.” Jawab Kay dengan biasa tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Apa-apaan, ini tidak lucu.” Saat akan naik ke atas bahunya kembali di dorong hingga tubuhnya masuk kembali ke air.
“KAY! APA SIH MAUMU HAH?” Lily kembali berteriak karena merasa di permainkan.
“Hanya, ingin?” Jika saja dekat Lily ingin sekali menonjok wajah Kay yang terlihat menyebalkan.
Lily berenang menjauh dari Kay menuju bagian samping kolam yang terdapat pijakan untuk naik. Sedangkan Kay hanya memperhatikannya dengan tangan yang dia simpan didepan dada.
Lily berjalan dengan kaki yang di hentakkan. Saat akan melewati Kay, laki-laki itu menahan tangan Lily membuat gadis itu memberontak ingin di lepaskan.
“Apalagi Kay, tidak cukup kau membuatku kedinginan.” Lily mencoba sabar. Menatap Kay yang memperhatikannya.
“Tutup badanmu.” Kay melemparkan sebuah handuk yang sebelumnya dia ambil ke wajah Lily.
Saat akan memakai handuknya mendadak wajah hingga telinga Lily memerah ketika sadar bahwa dia hanya memakai sebuah jubah berwarna putih tanpa dalaman menyebabkan tubuh bagian atasnya menerawang. Dengan cepat Lily membelit tubuhnya dengan kain hangat itu.
“Setelah mandi, datang ke ruang makan.” Perintah Kay yang samar-samar Lily dengar karena dia berjalan dengan sedikit cepat karena tubuhnya mulai menggigil.
Gila saja air di kolam tadi sangat dingin seperti air es, jika saja yang masuk ke dalam air itu tidak terbiasa dengan dingin seperti Lily pasti esoknya akan langsung sakit.
Setelah selesai memakai baju Lily kembali ke lantai bawah sesuai dengan perintah Kay yang memintanya untuk ke ruang makan.
Tiba di sana mata Lily langsung di suguhi berbagai jenis makanan khas negara ini yang Lily sendiri kebanyakan tidak tahu namanya, hanya beberapa saja yang dia tahu.
“Cepat makan.” Tentu saja Lily langsung menuruti perkataan Kay dengan senang hati.
Lily tidak sanggup lagi makan karena perutnya terasa penuh setelah menghabiskan beberapa hidangan.
“Kay sudah.”
“No, makanannya masih banyak.” Kay menyandarkan punggungnya ke belakang.
“Sungguh, jika aku makan lagi nanti muntah.” Ujar Lily dengan sungguh-sungguh.
“Baiklah, kali ini akan aku biarkan,” Kay mengangguk-anggukan kepalanya. “Ayo.” Lanjutnya.
“Kemana.” Lily bertanya pada Kay yang sudah beberapa langkah di depannya sedangkan gadis itu masih duduk di kursi.
“Tidur.”
Lily melangkahkan kakinya mengikuti Kay. Saat akan membuka pintu kamarnya tangan Lily di tahan oleh Kay.
“Apa.”
“Siapa bilang tidur di kamar ini, ikut denganku.” Kay menarik tangan Lily menuju kamarnya.
“Ta-tapi Kay kamar yang selama ini aku tempati yang itu.” Lily berusaha melepaskan tangannya seraya menunjuk pintu kamarnya.
“Diam!”
Dengan pasrah Lily mengikuti kemauan laki-laki di depannya meskipun dengan hati yang menggerutu.
Lily di bawa masuk ke dalam sebuah kamar yang luasnya dua kali lipat lebih besar dari kamarnya. Mengedarkan pandangan mata Lily di buat buram rasanya karena barang-barang di sini hampir semuanya berwarna hitam.
“Kay ini kamar siapa.”
“Kita.”
“H-hah?” Tentu saja jawaban Kay membuat Lily syok. “Maksudnya?”
“Kurasa kau tidak terlalu bodoh untuk mengerti ucapan ku.”
“Tapi kenap- tidak maksudku untuk apa kita sekamar.” Protes Lily.
“Hanya ingin.”
“Kenapa jawabanmu selalu seperti itu.” Keluh Lily seraya melepaskan tangannya dan berhasil.
“Cepat tidur.”
“Tidak, lebih baik aku kembali ke kamar biasa.”
Saat Lily akan berbalik, badannya tiba-tiba melayang lalu tubuhnya di hempaskan ke ranjang membuat Lily mengaduh meskipun tidak terasa sakit sama sekali karena ranjangnya yang empuk.
“Cepat tidur.”
“Tidak mau aku ingin kembali ke kamar ku.” Saat akan menuruni kasur tubuh Lily kembali di tarik oleh Kay.
“Menurut Jillian.”
“Aku hanya ingin gosok gigi.” Cicit Lily.
“Kenapa tidak bilang.” Kay menaikkan sebelah alisnya.
“Kau tidak bertanya.” Lily mendongak untuk menatap laki-laki didepannya.
“Cepat setelahnya langsung tidur.”
Setelah menggosok giginya, dengan perasaan kesal Lily menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya lalu mencoba menutup matanya. Dan karena memang sudah mengantuk Lily langsung tertidur.
Sedangkan Kay sedang mempersiapkan barang yang akan dia bawa besok karena memang selama ini jika ingin bepergian dia akan menyiapkan barangnya sendiri karena tidak ingin orang lain menyentuh barang pribadinya.
Keluar dari kamar mandi Kay melangkahkan kakinya menuju ranjang dan naik ke atas kasur. Dia menarik selimut yang menutupi badan Lily sampai lehernya. Tangan Kay terulur untuk merapikan rambut Lily yang menutupi wajah gadis itu.
Kay sangat suka memandang wajah cantik Lily. Dia merasa beruntung karena menemukan berlian cantik ini dengan cepat. Kay memajukan wajahnya dan mengecup kening gadis itu sedikit lama. Lalu beralih ke pipinya dan terakhir bibir.
Karena tidak ingin keterusan Kay segera menjauhkan wajahnya lalu segera membaringkan badannya dan menarik badan Lily hingga keduanya menempel.
Saat akan menarik selimut tangan Lily membelit pinggang dan membenamkan wajahnya di dadanya membuat Kay berhenti sejenak.
Lily terbangun dengan perasaan yang cukup baik. Saat sadar di mana dirinya tertidur gadis itu segera mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan siapa pun, membuka selimut lalu bernafas lega karena pakaian masih utuh.
“Dimana laki-laki itu.” Lily turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka.
Lily turun ke lantai bawah meskipun dirinya belum mandi karena ingin mencari di mana keberadaan Kay. Dia ingin bertanya apakah hari ini dia akan latihan.
Sama saja di bawah pun Lily tidak mendapati di mana keberadaan Kay. Lily juga belum menemukan pengawal yang biasanya berlalu-lalang untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang mencurigakan yang terjadi di rumah ini.
Pergi ke dapur akhirnya Lily menemukan seorang koki yang sedang memasak.
“Paman apakah kau melihat Kay?” Tanya Lily yang sepertinya mengejutkan pria di depannya.
“Maaf nona, saya tidak melihat keberadaan tuan.” Koki itu membungkuk pada Lily membuat gadis itu merasa tidak nyaman walaupun Kay bilang harus terbiasa.
Lily berniat untuk kembali ke kamarnya dan di jalanan dia menemukan Paulina yang sepertinya baru datang.
“Kak Pau!” Lily sedikit berteriak membuat Paulina menghentikan langkahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Setelah tahu yang berteriak adalah nona nya Paulina segera menghampiri Lily.
“Kau belum mandi?” Tanya Paulina melihat rambut Lily yang masih berantakan.
“Belum.” Lily menggaruk lehernya membuat Paulina menggelengkan kepalanya.
“Ayo kita ke atas, kau harus segera mandi.” Paulina menggandeng tangan Lily.
“Kak, kau tahu Kay pergi ke mana.” Tanya Lily setelah mereka berdua berada di kamar.
“Tuan pergi ke New York.”
“Apa? New York?” Lily menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu kamar mandi dan melihat ke arah Paulina yang yang sedang menyiapkan baju yang akan gadis itu pakai.
“Ya.”
Kenapa Lily tidak di beri tahu jika laki-laki itu akan pergi, jadinya kan Lily tidak perlu mencari keberadaannya seperti orang gila. Mendadak perasaan kesal menyelimutinya.
“Kak Pau aku ingin jalan-jalan.” Ujar Lily seraya memperhatikan Paulina dari kaca meja rias yang sedang fokus dengan rambut yang sedang dia ikat.
“Tidak, nanti tuan marah Lily.” Paulina tidak ingin mengambil resiko.
“Kan Kay tidak ada.”
“Tetap saja.”
“Kak Pau tidak asik.” Lily mencebikkan bibirnya.
“Iya.”
“Kak Pau punya kontaknya Kay?” Lily masih belum menyerah.
“Tidak, tapi aku punya kontaknya tuan Elger.”
“Bisa, Kak Pau cepat hubungi Elger aku ingin bicara pada Kay.” Paulina menuruti perintah Lily dan segera menghubungi Elger.
Tanpa menunggu lama Elger menerima panggilan Paulina. Sedangkan Paulina segera menyerahkan ponselnya pada gadis di depannya.
“Ada apa.”
“Elger, ada Kay?"
“Nona, sebentar.”
“Oke.” Lily mengayunkan kakinya.
“Ada apa.” Suara Kay terdengar di seberang sana.
“Kay, aku ingin keluar jalan-jalan apakah boleh.”
“Tidak.” Jawaban Kay membuat bahu Lily meluruh.
“Kay please aku ingin keluar.” Mohon Lily.
“Tetap tidak, di luar sana tidak aman untukmu.”
“Kalau di sekitaran rumah.”
“Kau bisa bermain dengan Zoe.” Mendengar nama itu membuat tubuh Lily merinding.
“Sekali saja, aku akan keluar bersama Paulina.” Terdengar decakan di seberang sana membuat Lily menggigit bibirnya.
“Jangan lama-lama.”
“Jadi, kau izinkan aku untuk keluar?” Tanya Lily dengan antusias.
“Ya, nanti Carol datang”
“Terima kasih Kay.” Lily segera mematikan sambungan teleponnya dan langsung menyerahkannya pada Paulina.
“Ayo kak Pau kita jalan-jalan.”
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
..."Let's go"...
sukses otor, dan semangat 💪😘