Ava Nandita adalah seorang remaja yang kaya dan cerdas namun terisolasi. Dia pecinta lolipop dan selalu membawa permen kesayangannya itu kemanapun dia pergi.
Suatu hari, Ava menemukan toko kecil di ujung jalan dekat tempat kursusnya. Dia membeli 2 toples besar berisi banyak sekali lolipop unik yang baru pernah dia lihat. Selain unik, lolipop ini ajaib. Setiap kali dia memakannya, dia bisa langsung pindah tempat dan waktu.
Awalnya, Ava terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi padanya. Tetapi kesempatan ini dia gunakan untuk menggali pengetahuan tentang sejarah dan berpetualang menjelajah tempat-tempat eksotis.
Namun suatu hari, Ava menemukan seorang pria di abad ke-19 bernama Ethan yang membuatnya jatuh cinta. Ketika dia semakin terlibat dengan Ethan, hatinya terbelah antara cinta dan kewajiban untuk kembali ke waktunya sendiri.
Apakah Ava akan tetap bertahan di abad ke-19 atau kembali ke tempatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just.penelop3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yes, bisa bertemu lagi!
Kembali ke kamar hotel, aku melihat jam masih sekitar jam setengah 6 sore. Aku ingin mencoba pergi untuk bertemu Elisa. Ku pikir masih banyak waktu.
Tapi sebelum menemui Elisa, aku pergi ke luar hotel dan mencari rumah makan. Aku menemukan rumah makan Jepang, yang membuatku ingin membeli sushi. Aku memesan beberapa porsi sushi untuk dibawa pulang. Sambil menunggu sushi siap, aku pergi ke mini market di samping rumah makan tersebut untuk membeli beberapa cemilan untuk Elisa.
Setelah semua sudah ada di tanganku, aku kembali ke kamar hotel. Memasukkan cemilan ke dalam tas ranselku dan mengeluarkan lolipop berwarna cokelat.
Aku langsung memakan lolipop itu dan..
‘Yes. Aku ada di Norwood park.’ Batinku riang.
Aku menyimpan lolipopku ke dalam kotak yang aku bawa di dalam tas dan langsung berjalan cepat ke arah rumah Elisa. Sudah mulai gelap dan sepi di taman itu.
Sesampai di depan rumah Elisa, aku memencet bell. Tak lama seorang laki-laki tampan yang mirip dengan Elisa membuka pintu untukku.
“Bisakah aku bertemu dengan Elisa?” tanyaku, “Namaku Ava.”
Laki-laki itu berteriak memanggil Ava.
“Masuklah.” Pintanya mempersilahkan aku masuk.
Aku pun masuk ke dalam rumah dan duduk menunggu Elisa di ruang tamu.
“Apakah kamu kakaknya Elisa?” tanyaku padanya yang masih berdiri memperhatikanku.
“Ya.” Jawabnya singkat.
Elisa pun datang dan memelukku.
“Ayo kita ke kamarku.” Ajak Elisa sambil menggandengku berjalan ke kamarnya.
Sesampai di kamar Elisa, aku memberikan sushi yang ku beli sebelum ke sini.
“Aku membawa sushi, kita makan bersama.” Ajakku.
“Ini makanan Jepang?” ujar Elisa dengan semangat.
Aku mengangguk.
“Pasti mahal.” Ujar Elisa.
“Tidak apa-apa.” Ujarku. “Tadi kakakmu, Elisa?” tanyaku.
Elisa hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku membawa banyak sushi, kita bisa membaginya dengan kakakmu.” Ujarku.
Elisa berteriak memanggil kakaknya dan membuatku kaget.
“JAMEEEEES..” teriaknya.
“Oh my God, Elisa. Kamu mengagetkan aku.” Ujarku.
“Maaf Ava.” ujar Elisa sambil tertawa.
Tak lama James datang ke kamar Elisa.
“Ada apa?” tanya James.
Elisa memberikan satu box isi 10 potongan sushi pada James.
“Ava bawa sushi, dan ini untukmu.” Ujar Elisa.
“Sushi?” tanya James sambil mengambil kotak dari Elisa dan membukanya. “Terima kasih, Ava.
Aku mengambil sumpit kayu dari dalam tas belanja dan memberikannya pada James.
“Ini sumpitnya.” Ujarku.
“Terima kasih” ujar james.
Dia pun berjalan keluar dari kamar Elisa.
“Terima kasih Ava. Ini enak. Ayo makan.” Ujar Elisa sambil memakan sushi.
Aku pun makan dengannya. Cacing-cacing di perutku memang sudah mengamuk minta makanan.
Setelah kita berdua menghabiskan sushi, aku mengeluarkan cemilan yang ku beli untuk Elisa.
“Aku bawa ini untukmu.” Ujarku sambil menyerahkan cemilan pada Elisa.
“Wah, makanan dari masa depan.” Ujar Elisa dengan girang.
Aku juga mengeluarkan baju Elisa yang kupinjam.
“Ini bajumu, Elisa. Terima kasih sudah meminjamkannya.”
Elisa mengambil baju itu.
“Wangi sekali.” Ujarnya sambil mencium aroma dari bajunya.
Aku hanya terkekeh mendengar dan melihat tingkah Elisa.
Aku mengambil kembali lolipop dan memakannya. Aku ingin lebih lama di sini, tapi aku harus cepat pulang.
“Aku seharusnya datang kemarin.” Ujarku. “Tapi aku terdampar di Paris di tahun 1940.”
“Mengapa bisa begitu?” tanya Ava kaget.
“Aku memakan lolipop dengan warna dan rasa lain. Aku pikir aku akan kembali ke sini. Ternyata tidak. Jadi aku simpulkan setiap rasa dan warna lolipop aku akan pergi ke beda tempat.” Ujarku.
Elisa mengangukan kepalanya.
“Aku mengerti sekarang. Lalu bagaimana keadaan di tahun itu?” tanya Elisa.
“Saat ku tiba, seluruh warga sedang mengungsi ke gereja karena ada perang di sana.” Jawabku.
“Ya, di tahun itu mereka sedang perang dengan Jerman.” Ujar Elisa.
“Benar, Elisa. Untung aku bertemu dengan tentara tampan yang bisa berbahasa Inggrs dan dia yang membantuku.” Ujarku.
“Tampan?” tanya Elisa dengan wajah yang mengintimidasiku. “Apakah kamu jatuh cinta padanya pada pandangan pertama?”
“Elisa.” Ujarku sedikit berteriak.
Aku tidak menyangka dia akan mengatakan hal itu saat ku bilang tampan. Namun aku terkekeh mendengarnya.
“Jawab aku.” Pinta Elisa menuntut.
Aku tertawa mendengar tuntutannya.
“Avaaa.. “ ujar Elisa menunggu jawabanku.
“Ok..ok..” ujarku sambil menahan tawa. “Dia memang tampan tapi aku tidak jatuh hati padanya. Aku menyukainya tentu. Karena dia seperti penyelamat untukku dan sangat baik.”
“Lalu?” tanya Elisa. “Apa dia tahu kamu dari masa depan, Ava?”
“Ya.. Aku menceritakannya. Dia membawaku ke gereja tempat para warga mengungsi dan merupakan tempat pengobatan bagi para korban. Setiap yang mengungsi di sana, membantu untuk merawat korban atau membantu di dapur. Dia menanyakan apa yang aku bisa bantu. Saat itulah aku menceritakan padanya bahwa aku dari tahun 2023.” Jawabku.
Elisa hanya terdiam dan menyimak ceritaku.
“Dia membawaku ke ruangan bawah tanah, karena tidak ingin ada orang yang mendengarkan percakapan kita. Dan aku mulai menjelaskan semuanya.” Ujarku.
“Apakah dia percaya?” tanya Elisa.
“Sama seperti pertama kali aku menceritakan padamu, Elisa. Dia pun tidak mempercayaiku. Namun aku menunjukkan bukti seperti hpku padanya, menunjukkan makanan ringan untuknya agar dia bisa melihat tanggal pembuatan dan tanggal kadarluasanya. Dia pun mulai berpikir dan mempercayaiku” jawabku.
“Lalu?” tanya Elisa yang ingin tahu kelanjutannya.
“Dia menjadikanku tamunya, jadi aku tidak membantu di tempat pengobatan atau dapur. Dia mengajakku berkeliling. Saat kami berkeliling, salah satu tentara memberitahukan dia bahwa di tempat pengobatan kekurangan perban. Aku mendengarnya dan aku datang lagi tadi siang ke sana untuk membawa beberapa perban.” Ujarku.
“Mengapa harus kamu yang membawanya, Ava?” tanya Elisa aneh.
“Aku bertanya padanya mengapa kekurangan itu. Dia menjelaskan mobil yang membawa semua kebutuhan terjebak karena jembatan yang roboh. Jadi membutuhkan beberapa hari untuk sampai. Jadi aku memutuskan untuk memberi bantuan yang ku bisa.” Jawabku.
“Aku mengerti sekarang.” Ujar Elisa.
“Kamu mau lihat Marc?” tanyaku.
“Marc?” tanya Elisa heran.
“Maksudku tentara tampan itu.” Jawabku.
“Oh,, Namanya Marc. Tentu!” ujar Elisa.
Aku mengeluarkan hpku dan menunjukkan foto-foto dan videoku dengan Marc pada Elisa.
“Dia tampan sekali, Ava.” Ujar Elisa kagum. “Aku iri padamu bisa berfoto dengannya.”
Aku hanya tertawa mendengarnya. Elisa pun ikut tertawa.
“Oh ya” ujarku yang mengingat sesuatu.
“Apa, Ava?” tanya Elisa.
Aku membuka tasku dan mengeluarkan kotak kecil.
“Di dalamnya ada foto-foto kita yang sudah aku cetak.” Ujarku sambil menyerahkan kotak itu pada Elisa.
Elisa mengambilnya, membuka kotak, dan melihat setiap foto yang ku cetak.
“Ini untukku?” tanya Elisa.
“Ya.” Jawabku.
“Terima kasih, Ava.” Ujar Elisa sambil memelukku.
Lalu Elisa berdiri dan berjalan ke arah meja belajarnya dan menempel semua foto di dinding.
“Aku akan memajangnya di sini. Untuk mengingat kalau aku memiliki teman dari masa depan.”
“Elisa, maafkan aku karena aku tidak bisa lama di sini. Ini sudah malam. Aku harus segera pulang.” Ujarku.
Waktu menunjukkan sudah jam setengah 10.
“Aku mengerti. Tapi kamu akan kembali lagi kan?” tanya Elisa.
“Ya, lain kali aku akan menginap.” Ujarku.
bunga 🌹 untuk si lolipop😁