Alana seorang gadis cantik penderita Tryphanophobia atau takut akan jarum suntik.
Menikah dikarenakan perjodohan
Dengan dokter muda yang bernama Dava Agatha mahesa
Dava tidak mungkin menolak keinginan ibu tersayang nya sehingga dia menerima perjodohan ini
Dia si gadis polos pecinta coklat dan warna pink.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Kantin SMA Garuda
"Lu mau makan apa Al?" tanya Rika.
"Gue jus jeruk sama pecel," selang Nadia.
"Gue nawarin Alana bukan lu,"
"parah banget jadi temen,"
Setelah memesan makanan mereka makan dengan tenang, Alana merasa tak enak dengan perutnya pun berjalan ke arah toilet.
"Ah leganya," ucapnya memukul perutnya pelan, saat Alana sedang mencuci tangan, dengan sengaja seseorang menarik rambut Alana.
"Awh sakit!" ringis Alana memegang kepalanya yang terasa kebas dan merasa kulit kepalanya akan lepas.
"Lemah lu! Gini aja sakit," ucap perempuan dengan pakaian ketat.
Alana tak tinggal diam, segera ia menarik tangan perempuan itu dan melintirnya.
"Awh, sakit ****," ucap perempuan itu.
"Kamu juga lemah, gitu aja sakit," ucapan Alana membuat skakmat perempuan itu. Dan pergi meninggalkannya.
"Ah ******* lu!" teriak perempuan itu.
Alana berjalan ke arah kelasnya namun fokusnya terhenti ke arah perempuan yang sedang duduk sendirian di taman.
Alana berjalan ke arahnya, dengan perlahan Alana menyentuh bahunya.
Perempuan itu berbalik arah menatao Alana, dengan air mata yang mengalir. Ia Langsung menghapusnya dan tersenyum ke Alana.
Alana tau betul perempuan ini adalah seseorang yang pernah menembak Aldi. Perempuan manis dengan lesung pipi di bagian kanannya, mata yang sayu namun menenangkan.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Alana perlahan.
"Aku gak kenapa-napa kok ka, aku baik-baik aja," ucapnya meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
Alana tersenyum menatapnya, mengusap pipi perempuan itu lembut seketika Alana merasakan bahwa perempuan itu rapuh.
"Kak Alana boleh aku peluk kakak?"
Alana menganguk "dengan senang hati," ucapan Alana membuat perempuan itu menangis di bahunya.
"Siapa nama kamu?" tanya Alana.
"Clara kak," jawabnya terisak.
Clara melepaskan pelukannya.
"Kenapa kakak mau peluk aku? Bahkan orang tua aku aja gak pernah mau peluk aku,"
Ucapan Clara membuat hati Alana berdenyut nyeri, apa Clara kurang kasih sayang orang tuanya?
"Temen aku jauhin aku, guru juga gak suka sama aku," ucapnya dan air matanya langsung berderai.
"Kamu gak boleh ngomong gitu, banyak yang peduli sama kamu. Termasuk aku," ucap Alana tersenyum, senyuman yang menenangkan bagi Clara.
"Hari ini aku ulang tahun kak, orang tua ku hanya merayakan untuk kembaranku dan melupakan aku,"
"Selamat ulang tahun Clara," ucao Alana tulus.
"Terima kasih kak, ucapan kakak membuat aku bertahan dan memiliki harapan untuk hidup," ucap Clara tersenyum getir.
"Apa sebelumnya kamu gak memiliki semangat hidup?" tanya Alana.
Clara menggeleng lemah.
"Aku punya penyakit kak, bahkan orang tua ku tak oernah mau mendengat keluh kesahku setiap malam," ucapnya lemah. Alana masih setia mendengarkan ucapan selanjutnya.
"Setiap malam aku gak bisa tidur tanpa bantuan obat tidur, setiap dua minggu aku harus menjalani cuci darah. Dan untuk sebulan ini aku tidak melakukannya."
Alana tetap manusia, hatinya pun lemah. Dengan diam Alana menangis dan langsung memeluk Clara.
"Kakak mau jadi teman Clara?"
Clara mengulurkan tangannya bergetar, dengan senyuman Alana menjabatnya.
"Kenapa kamu gak melakukan cuci darah?"
"Clara capek kak, setiap cuci darah gak ada yang nemenin Clara," ucap Clara sendu.
"Alana temen Clara, nanti Alana temenin Clara cuci darah boleh?" pertanyaan Alana membuat Clara bahagia.
Clara mengangguk antusias.
"Kakak pacaran sama kak Aldi?" tanya Clara dengan takut.
"Hehe, enggak lah. Kan Aldi sukanya sama kamu," ucap Alana berbohong.
"Kak Alana bohong, kemarin aku denger dia gak suka aku," ucapnya lemah.
"Kamu harus terus berjuang,"
Clara mengangguk dan memeluk Alana.
"Jangan tinggalin Clara sendiri kak, Clara takut. Jangan seperti mereka ya kak, Clara butuh kakak," ucap Clara membuat Alana tak kuat menahan tangis.
'Mengapa aku harus dipertemukan dengan dia sekarang,' batin Alana menyesal.
Dikelas
Keadaan kelas sangat ramai, layaknya pasar malam. Ada yang memukul meja, Nadia yang sedang bernyanyi lagu korea dengan lirik yang salah namun tak memperdulikannya.
Alana datang ke kursinya.
"Lama amat? Dari mana aja lu?" tanya Rika.
"Alana punya temen baru, nanti Alana akan kenalkan dia sama Rika dan Nadia. Dia butuh dukungan,"
Rika menatap Alana bingung.
"Ikut ke rumah sakit setelah pulang sekolah ya?"
Rika mengangguk.
®®®®
Clara menunggu di depan kelas Alana, banyak yang menatap nya tak suka. Clara hanya menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
"Clara, kamu sudah lama?" tanya Alana.
"Clara kenalin ini sahabat kakak, yang ini namanya Rika, dan ini Nadia,"
"Hai kak Rika, kak Nadia," sapa Clara.
Rika dan Nadia pun tersenyum, mereka sudah di ceritakan Alana, dan mereka pun ikut bersedih.
Clara merasa bahagia karena kali ini ia memiliki teman untuk melakukan cuci darah.
Clara banyak bercerita, Mobil Rika berhenti di sebuah rumah sakit.
"Kak Alana mau ikut masuk?" Tanya Clara.
"Duh, aku gak ikut maaf ya, aku gak kuat liat jarum suntik,"
Clara tersenyum dan mengangguk.
"Biar gue sama Nadia yang nemenin Clara,"
Alana mengangguk setuju.
Cukup lama Alana menunggu, ia merasa bosan.
Kemudian pintu ruangan terbuka, menandakan bahwa cuci darah sudah selesai.
"Alana, kamu ngapain disini?"
Alana mengangkat kepalanya.
'Kak Dava?'