NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Mengubah Takdir / Persahabatan
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: LieN'da

Anzel memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah kelicikannya di ketahui keluarga angkatnya, ia tidak mau keluarga yang sudah menyelamatkannya menjadi keluarga pembunuh.

Tubuhnya mungkin sudah tiada namun tidak dengan jiwanya yang bertransformasi kedalam tubuh Mikadeo Aileen.



bagaimanakah kehidupan keduanya, apakah ia akan memperbaiki sikapnya atau tetap menjadi pribadi seperti anzel...




hasil mikir jadi jangan coba-coba plagiat, mari mendukung penulis dengan vote dan komentar di setiap chapter...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LieN'da, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Melawan Jimi

Mika mencoba bersikap setenang mungkin untuk menghadapi kakak kelas dihadapannya, ia ingat pemuda tersebut, dia adalah orang yang memeluk Revan saat insiden di kantin kemarin.

Jimi menaikkan sebelah alisnya menyadari Mika menatap datar, bisa-bisanya adik kelas yang seharusnya menunduk takut justru bersikap biasa saja.

"Tadi Lo bilang pengen make lapangan kan?" tanya Jimi.

"Iya kak, ini kan fasilitas sekolah. Rasanya tidak adil jika kelas saya tidak diperbolehkan memakai lapangan sekolah. Jika kelas kakak dan saya jam pelajaran olahraganya di waktu yang sama, kan kita bisa berbagi kak, bukannya menggunakan sendiri." Mika berbicara sesopan mungkin, dia tidak boleh mencoreng citranya sebagai murid beasiswa.

"Boleh." kata Jimi di barengi senyum smirknya.

"Beneran kak." kata Mika penuh antusias.

"Tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya kak."

Dibelakang mereka, siswa siswi mulai berbisik. Mika tidak memperdulikan itu, tapi ia kembali merasakan perasaan tidak enak dihatinya.

"Syaratnya kita tanding basket sekarang, siapa yang bisa masukin 10 bola pada ring lawan dia yang menang." ucap Jimi sambil menatap remeh pada Mika.

"Terus apa taruhannya kak?" Mika menghela nafas, ia sangat malas meladeni syarat dari Jimi.

"Kalau gw kalah kelas Lo boleh pake ni lapangan, tapi kalau Lo yang kalah kelas Lo gak boleh pake lapangan sampe lulus dan satu lagi, Lo harus keluar dari sekolah ini. Gimana, Lo terima gak tantangan gw." jelas Jimi.

Mika terlihat berpikir sejenak, ia melihat kearah teman sekelasnya yang sudah berkumpul dipinggir lapangan basket. Mereka terlihat kesal pada Mika, mereka juga menatap rendah padanya.

Sejenak Mika memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang, ia seperti tidak punya pilihan lain selain menerima tantangan dari Jimi.

"Saya terima kak." ucap mantap Mika.

Beberapa murid mulai bersorak, ini menjadi tontonan yang jarang terjadi. Karena biasanya tidak ada satupun orang yang berani melawan Jimi dalam permainan bola basket, Jimi memang seorang pemain basket handal sekaligus ketua dari klub olahraga tersebut.

Kabar tentang anak baru yang menantang Jimi menjadi buah bibir di situs sekolah, murid-murid lain juga mulai berdatangan untuk melihat pertandingan itu.

"Aturan mainnya cuma 1, siapa yang bisa masukin 10 bola duluan ke ring lawan dia yang menang dan main sportif." kata Jimi yang diangguki Mika.

Pemainan dimulai dengan bola pertama dipegang oleh Mika, tapi Jimi langsung bisa merebut bola tersebut yang sedang di dribel oleh Mika dengan mudahnya.

Jimi memasukkan bola pertama membuat teman-teman bersorak gembira, mereka juga mulai mengolok-olok Mika.

Jimi kembali melempar bola pada Mika, membiarkan anak tersebut membawa bola ke ring nya. Saat mencoba memasukkan bola, dengan mudah Jimi mencegahnya dan kembali memasukkan bola ke ring Mika. Mika seperti dipecundangi oleh Jimi. Bayangkan saja, tinggi Mika hanya 166cm berbeda jauh dengan Jimi yang tingginya 185cm.

Jimi sudah memasukkan 7 bola sedangkan Mika belum memasukkan 1 bola pun, mereka sudah bisa menebak siapa pemenang. Mika memejamkan matanya sejenak, saat membuka matanya tatapan teduh miliknya berubah menjadi tajam.

Jimi mendribble bola, hendak memasukkan bola ke 8. Namun entah bagaimana Mika berhasil merebut bola ditangan Jimi, ia menembakan bola tersebut dari sisi lapangan lain dan masuk. Murid-murid yang saat menonton langsung terdiam melihat apa yang Mika lakukan.

"Itu cuma kebetulan." ucap Jimi.

"Gak ada yang namanya kebetulan kak, ayo kita nikmati permainannya." ucap Mika, entah dari mana hawa suram mulai menyelimuti sekitar tubuhnya.

Jimi yang menyadari perubahan sikap Mika tidak begitu menghiraukannya, ia kembali mengambil bola dan lagi-lagi direbut oleh Mika dan berhasil menjadi poin untuk Mika.

Dalam beberapa menit, Mika berhasil membalikkan kedudukan, kini poin mereka 7:9 dengan keunggulan untuk Mika. Tinggal 1 bola lagi, Jimi yang sudah bermain serius dari pertengahan waktu pertandingan mulai frustasi.

"Kenapa kak, mana kesombongan kakak tadi." Mika tersenyum sinis sambil mendribble bola, Jimi mencoba merebut namun terus gagal.

Dari salah satu sisi lapangan, Jean bersama abang-abangnya datang menghampiri lapangan tersebut.

"ABANG MIKA, SEMANGAT." Jean berteriak dari samping lapangan, membuat seluruh atensi tertuju padanya.

"Jangan berteriak baby, nanti tenggorokan kamu sakit." ucap Brian. Abang-abangnya menatap tajam pada Jean.

Mika meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya sambil terus mendribble bola dengan tangan satunya mengisyaratkan pada Jean untuk diam.

Memanfaatkan kelengahan dari Jimi, Mika langsung melempar bola kearah ring dan masuk. Membuat Jean bersorak senang sambil berlari menuju tempat Mika.

"Jangan lari baby." kata Vian yang tidak dihiraukan oleh Jean.

"Berhenti Jean." ucap Mika saat Jean ingin memeluknya.

"Kenapa.?" lirih Jean sambil menunduk.

"Gw keringetan, jangan dipeluk, ok." kata Mika yang diangguki oleh Jean.

"Wih, gak nyangka Lo hebat juga bisa ngalahin raja basket sekolah ini." kata Law, ia juga menatap rendah pada Jimi.

"Gak kok kak, jangan puji gw tinggi-tinggi kak takut pas jatuh nanti rasanya sakit banget." Mika tersenyum, raut wajah seriusnya sudah hilang saat melihat Jean menghampirinya.

"Oh ya kak, sesuai perjanjian tadi karena saya yang menang jadi kelas saya boleh pake lapangan saat jam olahraga kan?" tanya Mika mencoba meyakinkan perkataan Jimi tadi takut kakak kelas itu berbohong.

"Iya, mulai sekarang kelas Lo boleh pake lapangan." ucap Jimi yang di balas senyuman oleh Mika.

Wajah Jimi langsung bersemu saat melihat senyum manis diwajah Mika, sangat menggemaskan menurut Jimi. Tapi ia langsung mendatarkan wajah sehingga tidak ada yang menyadari ekspresi Jimi tadi, bisa gawat jika ada yang menyadari dan pasti ia akan dicap sudah belok.

"Cabut." perintah Jimi pada teman-temannya.

Mereka berbondong-bondong meninggalkan lapangan basket tersebut.

"Makasih ya kak." ucap Mika setengah berteriak pada Jimi yang dibalas lambayan tangan tanpa membalikkan tubuhnya.

"Kalian lihat, gw bisa ngalahin tuh kakak kelas dan buat kelas kita bisa menggunakan lapangan." kata Mika pada murid sekelasnya yang juga ikut menonton pertandingan Mika tadi.

"Asal Lo tahu aja kita gak akan berterima kasih sama lo." ucap Dion yang di setujui oleh semua teman-temannya.

"Kok kalian gitu sih, bang Mika sudah berjuang loh untuk kelas kalian."kata Jean sambil menatap tidak suka pada Dion.

"Udah Jean, gak usah dipeduliin. Lagian gw juga gak butuh ucapan terimakasih dari mereka." Mika mengelus rambut Jean, membuat bocah dihadapannya tersenyum merasakan elusan dari tangan Mika.

Jean berlari kearah Kahfi, mengambil botol air mineral yang hendak abangnya minum lalu menyerahkannya pada Mika. Kahfi sempat terkejut, lalu menatap tajam pada Mika.

"Abang Mika pasti haus, ini minum dulu." Jean menyerahkan botol minuman milik Kahfi yang langsung di minum habis isinya.

Mika tidak menghiraukan tatapan menusuk dari Kahfi, ia sangat haus dan ia perlu minum pikir Mika.

"Makasih ya Jean, sekarang balik kekelas geh. Ini kan bukan jam istirahat jadi mending balik kelas." ucap Mika.

"Gak mau bang, mending kekantin aja yuk. Jean laper soalnya." Mika melihat Jean memegangi perutnya sambil menatap penuh harap padanya.

"KANTIN." kata Brian penuh penekanan sambil menatap tajam pada Mika agar ia menuruti keinginan baby-nya.

"Gak Jean, kekantinnya jam istirahat aja ok. Jangan dibiasakan bolos, nanti kamu jadi bodoh loh, emang mau.?" Mika menatap Jean, mengabaikan para singa lapar yang siap menerkamnya.

"Gak bang." Jean menggeleng ribut kepalanya.

"Kalau gitu Mika kekelas dulu ya, lagian bentar lagi jam pelajaran olahraga habis dan Mika juga mau ganti baju

. Jean juga balik kelas ok." kata Mika yang dibalas anggukan oleh Jean.

Mika melenggang pergi dengan santainya, ia benar-benar mengabaikan abang-abang Jean yang seperti singa menurutnya.

"Abang ayo anterin Jean kekelas." Jean berkata manja pada Brian dan teman-temannya.

"Ayo." jawab Vian sambil menggendong Jean ala koala.

Jean yang merasa nyaman dalam gendongan Vian menempelkan kepalanya didada bidang milik Vian. Yang lain hanya menatap biasa pada mereka berdua, toh itu sudah menjadi kebiasaan Jean. Brian juga tidak pernah merasa cemburu dengan kedekatan adiknya dengan teman-temannya, asalkan Jean aman dan senang sudah cukup untuknya.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Revan menatap Jean penuh kecemburuan. Tubuhnya bergetar menahan marah, Liam yang berdiri disebelah Revan mengelus punggung anak tersebut agar tenang. Revan membalikkan tubuhnya masuk kedalam pelukan Liam yang membalas pelukan tersebut.

1
⑅⃝Lirae_StarInSky~
udah satu tahun aja,, masih berharap Mika muncul lagi
⑅⃝Lirae_StarInSky~
tahun baru, baru saja berlalu.. aunty cienda gk niat kembali kah?
⑅⃝Lirae_StarInSky~
aku senang akhirnya ketemu cerita ini lagi, tapi aku sedih karena cerita ini belum di lanjut lagi 😭
⑅⃝Lirae_StarInSky~
huhuhu 😭😭 tan up lgi dong 😭😭😭😭
⑅⃝Lirae_StarInSky~
ahhh Mika ku 😭😭😭
⑅⃝Lirae_StarInSky~
akhirnya ketemu cerita yang ku kangenin, otw begadang ini mah 😁
⑅⃝Lirae_StarInSky~
aku tuh nyariin cerita ini nih kemana loh, pas cerita yang di wp udh gk up lagi...


😭😭😭
⑅⃝Lirae_StarInSky~
Akhirnya ketemu lagi nih cerita 😭😭😭
Iyang Raiyah
Thor kapan up lagi, saya sudah dua kali baca ni novel loh. padahal saya nunggu kelanjutannya
⑅⃝Lirae_StarInSky~: sama, saya pun 😭
total 1 replies
missmiyu
up lagi thor.... lama ga up ini
missmiyu
semogaaaa mika hidup bahagia tanpa gangguan dean lg☺☺😊
Hehe😁
kakak nulis di wp juga ya? aku pernah baca cerita yg sama persis kaya gini soalnya. namanya juga sama persis
Hehe😁: owala pantesan
total 2 replies
missmiyu
wahhh.... apalagi nih rencana xaniel... bikin penasaran aja deh.... tpi bener juga sih kata xaniel kalo mika itu harus hidup sebagai mika bukan sebagai anzel lg. biarpun nanti keluarga kandungnya ga tau kalo anzel adalah putra bungsu mereka yg dlu diculik, tpi justru hidup sebagai mika dia bisa dapet kasih sayang yg utuh dri keluarga lavande.... lanjut thor
missmiyu
akhirnya mika dapet kasih sayang dri keluarga barunya... biarpun mereka tidak tau bahwa mika adalah keluarga mereka yg hilang dlu, tpikasih sayang mereka tulus buat mika.... semoga mika aman dri sifat depresinya dean. lanjut thor... semangattt
Helmi Sintya Junaedi
dean bukan sayang tapi benci dan dendam...
missmiyu
lanjut thor.... akhirnya mika berani juga sama dean
missmiyu
akhirnya xaniel ngasih tau mika juga ttg kebenarannya... semoga mika/anzel bisa lebih hati2 lg sama dean mulai sekarang.... makasih thor udah bikin alur ceritanya kya gini... semangat author lanjutinnya
arockz
ini cerita tentang apa? romance? gay? aksi? drama? atau apa??
Liana_Ciienda: transmigrasi dan brothership
total 1 replies
missmiyu
depresinya dean bisa buat mika/anzel dalam bahaya nih... duh semoga aja xaniel bisa ngelindungin mika.... semangat thor lanjutin nulisnya
Helmi Sintya Junaedi
jangan pernah kembali ke keluarga yg sudah membunuh mu anzell,,, sekarang kau adalah mikadeon... ingat itu!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!