Haikal, anak SMA yang tak sengaja mabuk dan tidur dengan Valeri. Sampai Valeri hamil. Dia ke rumah Haikal tapi Johnny, bapaknya tak mau masa depan anaknya itu hancur. jadi dia yang bertanggung jawab dan menikah dengan Valeri.
Bagaimana kisahnya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 12
“Gimana?” Valeri bertanya kepada kekasih Haikal. Dia menggeleng.
“Gak diangkat teleponnya Tante.” Kata kekasih haikal.
“Paling juga besok pulang. Biarkan saja. Kalian silakan lanjutkan menikmati acaranya saja. Saya permisi masih banyak tamu yang harus saya dan mamanya haikal temui.” Kata Johnny menggandeng Valeri.
“Tapi-“ Valeri yang khawatir.
“Gak apa-apa. Dia biasa kok ngilang.” Kata Johnny kepada Valeri.
Valeri mengangguk. Dia mencoba tenang dan ikut Johnny menemui teman-teman dan klien kantor johnny. Memperkenalkan dirinya sebagai istri baru Johnny.
Sampai selesai acara, Johnny pulang dengan Valeri ke rumah. Haikal bahkan belum sampai rumah.
“bi, Haikal di rumah?” tanya Valeri kepada bibi yang membukakan pintu.
Valeri sudah mengganti baju pengantinnya di tempat acara tadi. Dia hanya memakai gaun biasa. Bibi menggeleng.
“gak ada. Dari berangkat acara belum juga pulang.” Kata bibi yang membuat Valeri entah kenapa jadi khawatir.
“Tuan, anak tuan belum pulang?” tanya Valeri kepada Johnny yang baru masuk.
“Ya sudah gak apa-apa. Dia seperti itu kok. Saya mau ke atas. Mau cek kerjaan sebentar. Kamu mau apa?”
“Aku disini aja, istirahat di sini sambil nunggu, aku lapar mau makan. Ada makanan bi?” tanya Valeri kepada bibi.
“Gak ada non, mau dimasakkan dulu?” tanya bibi kepada Valeri.
“Kelamaan Bi, udah laper banget. Gak ada yang bisa dimakan bi?” Tanya Valeri lagi.
“Di kulkas, buah atau apa bi?” tanya Johnny kepada bibi.
“Gak mau buah. Mau makanan berat.” Katanya dengan manja menarik lengan baju Johnny, Johnny hanya memakai kemeja putihnya.
“Adanya itu non, roti yang kemarin malam non dan tuan beli itu loh, belum dimakan den Haikal sama sekali. Belum dikasih tahu juga sih ke den Haikal non ganti rotinya.”
Valeri menelan Salivnya. Itu sangat menggiurkan. Dia melirik Johnny.
“tuan, saya boleh makan itu ya? Kedengarannya sangat enak.”
Johnny tersenyum, dia mengangguk, “makan saja. Haikal juga sudah tak akan perduli seperti itu.”
Tanpa diduga, Valeri langsung lari ke dapur. Johnny dan bibi yang melihat yang khawatir.
“Non, aduh. Kebiasaan lari non itu.” Kata bibi takut melihat Valeri lari.
“Val, jangan lari-larian, kamu lagi hamil.” Johnny berteriak keras memanggil Valeri.
Sudah terlambat. Dia sudah Berhenti karena sudah ada di depan kulkas. Valeri langsung membuka kulkasnya dan mengambil rotinya. Johnny menghampiri Valeri dengan wajahnya yang menakutkan. Marah.
“Maaf, tadi refleks lari. Lupa lagi.” Kata Valeri kepada Johnny. Dia berbalik dan takut melihat wajah Johnny yang marah kepada.
“Gak boleh lupa lagi. Jangan lari, lagi hamil. Ok?” Johnny menekan kepala Valeri dengan lembut. Valeri menunduk dan memejamkan mata takut. Tapi Johnny malah mengusap kepalanya. Valeri mengangguk.
“Iya.” Kata dia dengan singkat.
“Iya apa?” Tanya Johnny menunduk menatap Valeri. “buka matanya dulu, bilang iya apa?”
“Iya gak akan lari, gak akan lupa lagi hamil.” Valeri membuka matanya perlahan dan menatap Johnny.
“janji?”
“janji.”
“Ok. Saya mau keatas, jangan lari.”
Valeri mengangguk. Johnny pun naik ke lantai atas. Johnny menitipkan Valeri kepada bibi. Bibi mengajak Valeri makan untuk duduk. Karena dia terlalu lapar dan sangat suka dengan bolu lumernya, dia secara tak sadar makan sambil berdiri.
“Non, makannya sambil duduk. Lagi hamil.”
“Oh iya Bi.”
Valeri pun duduk di sofa. Dia makan sambil nonton tv. Johnny sibuk di atas. Sampai sore dan malam tiba. Haikal tak juga pulang. Bahkan saat jam makan malam. Valeri sejak tadi di bawah dan nonton tv.
Valeri sudah ada di meja makan. Dia ingin mengambilkan makanan untuk Johnny. Dia tak henti melirik pintu utama rumah. Berharap Haikal pulang.
“Tuan, yakin tidak apa-apa? Anak tuan gak pulang sampai jam segini?”
“Iya. Sudah biasa kok. Tanya saja sama bibi.”
Bibi datang dan membawakan makanan. Valeri bertanyalah kepada bibi. Bibi juga membenarkan. Tapi hati Valeri sangat tidak enak.
“Gak mau coba telepon teman-temannya. Tanya dia di tempat mereka atau sama mereka tidak?”
“ok. Tapi nanti setelah makan malam ya. Kita makan dulu.”
Valeri akhirnya mengangguk. Dia mengambilkan makanan untuk Johnny, lalu untuk dirinya, setelah itu di duduk di sebelah Johnny dan makan malam berdua saja dengan Johnny.
Sampai mereka selesai makan. Johnny pergi begitu saja. Valeri menahan tangan Johnny.
“Tuan, katanya mau menelpon teman-temannya anak tuan? Kan sudah selesai makan malam?”
“Gak perlu. Dia biasa kok seperti ini, paling besok pulang untuk ke sekolah. Kalau tidak yang jajan dia akan saya potong.”
Johnny melepas tangan valeri. Johnny ke atas dengan alasan kerja lagi. Tapi dia benar-benar kerja karena banyak file yang harus dia teliti dan baca. Karena pernikahan mereka mendadak kan jadinya tak ada persiapan meninggalkan pekerjaan juga. Jadi Johnny harus mengatur ulang semua pekerjaannya.
Valeri tak mau naik ke atas. Dia menonton tv dengan bibi, meminta ditemani bibi, Valeri itu penakut, tapi dia suka nonton film horor.
Sampai larut malam dan valeri tidur disana. Bibi mau membangunkannya Valeri tapi tak tega. Setelah memastikan jendela dan pintu, bibi ke atas untuk menemui Johnny.
Johnny kalau sudah dengan pekerjaan dia, dia lupa akan segalanya. Bahkan tak lihat waktu.
“Tuan, ini bibi.”
“Masuk Bi, pintunya gak dikunci kok.”
Bibi mengetuk pintu kamar Johnny dari luar. Johnny mempersilakan bibi. Bibi hanya membuka dan berdiri di tengah pintu.
“Ada apa bi?”
“tuan, itu, non Valeri tidur dibawah, di sofa tadi sambil nonton tv. Mau bangunin gak tega tuan. Gimana?”
“Oh, gak papa, saya yang turun dan gendong ke kamar atas aja. Makasih ya Bi.”
“iya tuan.”
Bibi kembali menutup pintunya. Dia pergi dari sana. Bibi turun ke bawah untuk melihat Valeri. Johnny menurunkan laptop yang sejak tadi dia pangku. Dia menaruhnya di meja. Johnny keluar kamar dan turun ke bawah.
“hati-hati den.”
“iya Bi.”
Johnny sudah sampai disana. Dia mau menggendong Valeri. Bibi ikut melihatnya Karena khawatir.
Johnny membopong Valeri dengan mudahnya ke atas. Menidurkan Valeri dengan perlahan dan menyelimuti dia.
“Tuan, lupa tadi. Belum minum susu hamilnya tadi karena banyak ngemil.”
Bibi kembali ke atas. Dia membawakan gelas susu hamilnya Valeri yang masih utuh.
“susah banget sih dibilangin. Ya sudah lah bi, biar besok lagi saja. Nanti minta tolong banget ya Bi, kalau sudah bibi buatkan, suruh minum susu hamilnya dulu.”
“Iya tuan. Saya yang lalai, saya minta maaf ya tuan.”
“enggak, emang anaknya aja ini, ceroboh, pelupa, batu.”
Johnny mengumpat Valeri yang masih tidur. Bibi tersenyum. Dia pun pamit pergi dari sana.
-
Haikal sampai malam di makam mamanya. Valeri bermimpi buruk. Dia terbangun.
“haikal.” Dia teriak memanggil Haikal.