Dicintai dua orang yang mereka adalah kakak beradik membuat Arra bimbang bukan main. Awalnya ia jatuh cinta dengan sang adik, namun kebersamaan Arra dengan sang kakak, Edo Ajiwasita, membuat cinta itu lambat laun tumbuh.
Edo yang terlalu mencintai sang adik, lebih memilih mengalah, meskipun Arra protes dan merasa di permainkan.
Bagaimana kisah mereka? Apakah benar Edo ikhlas melihat gadis yang ia cintai bersanding dengan sang adik? Atau ada jalan lain yang membuat mereka bisa bersatu?
Spin off dari Novel pertama saya di platform ini "CINTA JAS PUTIH"
Sangat disarankan untuk mampir kesana sejenak supaya tahu awal mula kisah ini berawal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GILA
Edo menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya. Matanya terpejam erat, kenapa jadi seperti ini sih? Kepalanya makin pening, kenapa sih harus ada saingan baru? Kenapa sosok itu harus muncul?
Edo teringat obrolannya dengan Wahyu dan Zadid tadi, menghamili Arra? Gila apa? Apakah tidak ada cara lain? Lagipula Arra baru tiga belas tahun! Masa depannya begitu cerah, masa iya Edo tega menghancurkan begitu saja masa depan gemilang gadis jenius itu?
Bisa-bisa ia tidak cuma bakal dibunuh Om Yudha, tapi bakal dapat hujatan dari seluruh netizen Indonesia. Tidak, dia tidak mau! Ia ingin memiliki gadis itu dengan cara baik-baik, bukan cara macam itu!
Bagaimana kalau dia jujur pada Arra tentang perasaannya? Tapi apakah tidak terlalu dini? Bagaimana kalau cintanya bertepuk sebelah tangan dan setelah itu Arra malah tidak mau bertemu atau berbicara lagi dengan dirinya? Bakal gawat bukan?
Edo mengacak rambutnya dengan gemas, kenapa sih cinta harus serumit ini? Benar kata papanya, memahami cinta dan wanita itu kebih sulit daripada memahami teori-teori kedokteran.
***
"Al! Belajar!" guman Adnan ketika sepulang dari umah sakit menemukan si Aldo sudah begitu asyik dengan iPhone-nya di halaman belakang.
"Pa, memangnya Aldo dari pagi sampai menjelang sore tadi di sekolah ngapain? Jualan cilok?" guman Aldo santai, matanya tidak beranjak dari depan layar iPhone-nya.
Adnan mendengus kesal, kalau sudah begini ia memilih menyingkir. Ia melangkah masuk ke kamarnya tanpa banyak berkata-kata lagi. Memang Aldo itu luar biasa! Sangat berbeda dengan sang kakak. Adnan akui itu.
Adnan meraih Smartphone miliknya lalu menghubungi nomor Edo, ia sudah rindu dengan si sulungnya itu.
"Hallo, gimana Pa?"
Adnan tersenyum setelah mendengar suara itu, suara putra kebanggaannya.
"Papa kangen kamu, Do. Sudah pulang koas?" tanya Adnan lalu duduk di tepi ranjang.
"Sudah dari tadi sih pah, agak telat balik juga karena tadi ada cito mendadak."
"Asik kan di ruang Ok? Besok jadi ambil bedah?" Adnan tersenyum, Edo ingin mewarisi keahliannya di meja bedah.
"Asik pah, tergantung kasusnya juga sih," guman Edo lalu tertawa.
"Jangan lelah belajar terus dan mengasah kemampuan ya, Kak. Papa bangga sangat dengan dirimu!"
"Siap pah, terimakasih banyak sudah banyak menginspirasi Edo,"
Dada Adnan rasanya ingin pecah, sungguh Edo sejak dulu selalu memberikan kebanggaan untuknya.
"Semua akan papa lakukan demi kamu dan adikmu, Do. Kalian tanggung jawab papa, ingat itu!" guman Adnan lirih.
"Iya pah, Edo paham."
"Yasudah, kamu istirahat dulu ya. Jaga kesehatan mu, Do. Kalau uang mu habis, WhatsApp papa saja ya!"
"Iya baik, pah. Maaf Edo masih merepotkan papa."
Adnan tersenyum, "Tidak, Nak. Jangan pernah punya pikiran seperti itu ya, Oke?"
Adnan meletakkan kembali Smartphone setelah Edo mengucap salam dan menutup panggilan mereka. Ia sudah sangat tidak sabar melihat Edo kemudian di Lantik menjadi dokter, diambil sumpahnya. Sungguh pasti akan sangat membanggakan, bukan?
***
Edo baru saja selesai mandi ketika kemudian ada pesan masuk. Dari Arra!
[ Kak, anterin Arra yuk, bosen di kost pengen jalan-jalan. ]
Senyum Edo sontak merekah, tentulah Edo mau! Ia segera menekan nomor WhatsApp Arra, dan menghubungi dia.
"Hallo, gimana kak?"
"Kakak perjalanan ya, tunggu saja!" Edo tersenyum, sangat manis bukan suara itu.
"Oke, hati-hati ya kak!"
Edo meletakkan iPhone miliknya, lalu bergegas mengganti bajunya, menyisir rambut dan menyemprotkan parfum. Setelah semuanya oke, ia bergegas melangkah ke parkiran guna membawa mobilnya menuju kost Arra.
Jangankan suruh antar jalan-jalan, dia minta ke bulan pun Edo antar kok, kalau dia punya roket tapi. Edo bergegas menghidupkan mesin mobil lalu membawa mobilnya menuju kost gadis pujaannya itu.
Sepanjang jalan Edo bersenandung ria, toh walaupun bukan pacar setidaknya ia dan Arra bisa menghabiskan waktu untuk bersama-sama bukan? Ia bisa mengawasi Ara, dengan siapa saja ia bergaul, mengontrol pergaulannya, bukankah itu lebih menguntungkan untuk Edo?
Tak perlu waktu lama Edo sudah sampai depan kost Arra, gadis itu sudah cukup rapi dan cantik dengan setelan batik berwarna cerah itu. Kulitnya yang putih jadi makin menonjol dan yang jelas dimata Edo sosok itu begitu luar biasa cantik.
Arra bergegas menghampiri mobil Edo, membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Dan Edo benar-benar terpukau melihat betapa cantik wajah itu dari dekat.
"Malioboro yuk, kak!" ajaknya ria sambil memakai seat belt-nya.
"Oke, gass my sweetie!"
Arra sontak menoleh, menatap Edo yang sudah membawa mobilnya pergi itu. Dipanggil seperti itu membuat paras Arra memerah, dan ia sangat suka saat-saat mereka bersama seperti ini.
"Gimana, sudah Nemu kesulitan belum di materinya?" tanya Edo ketika Arra hanya mematung dalam diamnya.
"Belum sih untuk saat ini, nggat tahu kalau besok kak," Arra tersenyum lebar, ia sih berharap bisa mengahadapi semua materi itu dengan baik.
"Kakak percaya kamu mampu kok, kemampuan kamu luar biasa Arra."
"Jangan terlalu memujiku seperti itu, Kak. Aku nanti jadi besar kepala."
Sontak Edo terkekeh, kan faktanya memang seperti itu bukan? Dia superior! Dan semua orang mengakui itu. Ahh ... andai ia yang kelak berjodoh dengan gadis ini, bisa dibayangkan bukan bagaimana superiornya nanti anak-anak mereka?
***
"Pah, bilang om Yudha dong, Dicky juga mau kok kalau disuruh antar jemput Arra kayak si Edo!" Dicky tengah menelepon sang ayah, berharap dapat lobi agar bisa selangkah lebih dekat dengan Arra.
"Eh, serius kamu? Jangan bilang kamu naksir Arra?" Yanuar terkekeh di ujung telepon, dasar anak muda!
"Kalau naksir apa salahnya sih? Kan Dicky sudah gede pah, sudah dua puluh tahun."
"Nggak salah sih, cuma kau tau sendiri kan Arra itu masih umur berapa?"
"Cepet kok nanti nunggu dia gede buat dinikahin," jawab Dicky santai.
"Ehh ... mau langsung kamu nikahin?" Yanuar terperanjat, gila benar! Pesona anak Yudha benar-benar luar biasa!
"Mau cari yang kayak gimana lagi sih memangnya Pah? Arra sudah jelas kan keturunannya, cantik, jenuis lagi, papa nggak mau punya mantu potensial kayak Arra gitu?" cerocos Dicky panjang lebar.
"Ya mau lah! Gimana sih?" Yanuar kembali terkekeh, "Tapi dia sebenarnya sudah dijodohkan sama anak Om Adnan sih."
"Siapa? Edo? Yang benar?" Dicky tampak terkejut, pantas disuruh Edo antar jemput! Ahh, dia kalah start!
"Bukan-bukan! Kabarnya dengan adik Edo, si Aldo."
"Ahh, kalau nanti ujungnya Arra mau sama Dicky, memang bisa apa sih?" ujar Edo jumawa.
"Terserah deh, papa dukung kalau kamu mau kejar si Arra, yang jelas jangan sampai kau buat bapak kau ini berkelahi dengan sejawatnya."
"Oke sip, jangan khawatir pah! Dicky tahu kok apa yang harus Dicky lakukan!"
---
Nah, makin panas ya saudara-saudara 😂😂😂
Jangan lupa like, comment dan share yaa
Kira-kira Arra bakal sama siapa nih?
Ayoo tebak-tebakan 😂😂😂