Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa dengan Tia?
Sementara itu, Fabian berjongkok dan mengambil satu per satu uang, lalu menyimpannya dalam saku celana. Dia sengaja berlama-lama sambil melirik ke sana kemari, mencari barang yang kira-kira bisa digunakan untuk melancarkan aksinya.
"Jika sudah, cepat pergi! Jangan berlama-lama di sini!" hardik Delara sambil melipat tangan di dada.
Akan tetapi, di luar dugaan ia mendapat serangan mendadak dari Fabian. Dari posisi jongkok, Fabian bangkit dan menendang kaki Delara, hingga wanita itu terhuyung dan tersungkur di dekat kaki meja.
"Beraninya kamu menyerangku! Kamu tidak tahu siapa aku, hah!" Delara berteriak sambil berusaha bangkit.
Namun, Fabian pun tak tinggal diam. Dengan sigap dia berlari menuju meja dan meraih vas bunga yang ada di sana. Dengan gerakan ngawur, Fabian melempar vas itu. Sedikit meleset, tetapi masih membuahkan hasil.
Vas itu mendarat di pelipis Delara. Namun karena lemparannya sedikit lemah, jadi tidak membuatnya terluka, hanya sedikit merah saja.
Melihat hal itu, Fabian kembali beraksi. Dia mengambil semua benda dan melemparkannya pada Delara.
Benda terakhir yang melayang adalah botol minuman keras. Kali ini tepat sasaran dan melukai kening Delara, membuatnya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Fabian tersenyum puas, lalu mendekati ranjang dan melepas tali yang mengikat tubuh Tia.
"Jangan ikut campur urusanku!" teriak Delara. Meski keningnya berdarah, tetapi ia tidak pingsan. Bahkan, dengan tertatih dia berusaha bangkit.
Namun, Fabian tidak peduli. Dia terus fokus dengan Tia, yang saat ini sudah lemas karena takut.
"Terima kasih, Mas. Maaf sudah merepotkan, aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa," bisik Tia.
"Jangan sungkan, yang penting Anda selamat," jawab Fabian.
Beberapa detik kemudian, Fabian berhasil melepas ikatan di tubuh Tia. Lantas, membimbingnya bangkit dan turun dari ranjang.
Sementara itu, Delara sudah berdiri dengan tatapan yang nyalang. Sebelah tangannya menggenggam pisau kecil yang terlihat tajam.
"Kalian tidak akan bisa keluar! Kalian akan mati di sini!" ancam Delara sambil mendorong kasar daun pintu, hingga menutup dengan keras.
"Mas, bagaimana ini, Mas?" Tia ketakutan.
"Tenang, Bu. Kita pasti bisa," jawab Fabian.
"Demi mobil, demi mobil, aku harus bisa," sambung Fabian dalam hatinya.
"Serahkan dia padaku atau kamu juga akan kubunuh!" bentak Delara sambil menatap Fabian.
"Tidak akan. Kamu adalah penjahat! Aku tidak akan menyerahkan Bu Tia padamu. Lagipula, kamu yang menjadi orang ketiga, kenapa malah berniat membunuh Bu Tia yang menjadi istri sah? Yang seharusnya marah itu dia, bukan kamu!" Fabian menyahut dengan berani.
"Oh, kamu menantangku?" Delara menyeringai.
Fabian sempat gusar saat Delara berjalan ke arahnya. Tenaga wanita itu tampak kuat meski sudah terluka, belum lagi tatapannya yang benar-benar menakutkan. Fabian bergidik ngeri jika terus menatapnya.
"Aku harus mencari senjata untuk melawannya," batin Fabian. Matanya melirik jeli ke sana kemari, tetapi tak menemukan apa pun yang bisa digunakan untuk melumpuhkan Delara.
Sampai akhirnya, tangan Tia yang lemah menggenggam tangan Fabian dan menyerahkan senjata api padanya.
"Gunakan ini!" ucap Tia.
Fabian keheranan. Dalam hatinya sempat bertanya-tanya, dari mana Tia mendapatkan senjata itu?
"Gunakan saja, kita tidak punya banyak waktu!" Tia kembali bicara.
Fabian mengangguk dan tanpa pikir panjang menodongkan senjata itu tepat ke arah Delara. Meski sebelumnya belum pernah menggunakan senjata api, tetapi setidaknya cukup meyakinkan jika untuk menggertak saja.
"Biarkan kami keluar atau aku akan menembakmu!" ancam Fabian dengan nada yang sungguh-sungguh.
Delara gugup. Apalah arti pisau jika dibandingkan dengan senjata api.
"Minggir dan biarkan kami pergi!" bentak Fabian karena Delara masih diam.
"Baik, kali ini kalian kubebaskan, tapi ... jangan pikir semua akan berakhir di sini. Terutama kamu ... tunggu saja pembalasanku!" geram Delara sambil memandang Fabian dengan tatapan benci.
Akan tetapi, Fabian tak peduli. Pikirnya, yang penting hari ini bisa keluar dengan selamat dan berhasil mengklaim hadiah.
Dengan sedikit takut, Fabian menuntun Tia dan mengajaknya keluar kamar. Kepergian mereka diiringi sumpah serapah dari mulut Delara.
"Bu Tia tadi naik apa?" tanya Fabian.
"Aku bawa mobil, ada di parkiran," jawab Tia.
"Kenapa ... tadi Anda bisa diikat dan hampir dibunuh? Memangnya apa yang terjadi?" Fabian tak bisa lagi membendung rasa penasarannya.
"Dia selingkuh dengan suamiku, yang notabennya tangan kanan dia. Tadinya aku ingin memergoki mereka, tapi nahas, suamiku sudah pergi dan malah aku yang diserang Delara. Aku tidak bisa berbuat banyak karena hotel ini milik ayahnya, orang-orang di sini pasti lebih tunduk pada Delara," jawab Tia dengan penuh sesal.
"Oh begitu." Fabian mengangguk-angguk. "Tapi ... kenapa Bu Tia tidak menggunakan senjata barusan? Delara hanya membawa pisau, dengan senjata api harusnya bisa teratasi, kan?" sambungnya.
Tia menghentikan langkah dan menatap Fabian dengan penuh arti.
"Karena aku ... butuh bantuanmu," ucapnya sambil tersenyum.
"Maksud Bu Tia?" Fabian keheranan.
"Suatu saat nanti kamu akan mengerti," jawab Tia. Lantas, dia melangkah pergi dan meninggalkan Fabian yang masih kebingungan.
"Ada apa ini?" batin Fabian dengan pandangan yang tak beralih dari tubuh Tia.
Wanita yang tadi tampak lemas dan takut, kini terlihat bugar dan berani. Ada rahasia apa di balik kejadian ini? Pikir Fabian kala itu.
Bersambung...