Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyi yang Berbahaya dan Luka di Balik Debu
Setelah pesta gala beberapa yang lalu.
Pagi di mansion Thorne biasanya dimulai dengan simfoni yang sangat spesifik: deru mesin penyedot debu yang menyerang setiap sudut lantai marmer, dentingan ember plastik yang beradu dengan lantai, dan yang paling utama—omelan melengking Sloane Sterling yang memarahi debu atau memprotes cara Alistair meletakkan jas. Alistair sudah terbiasa terbangun dengan "alarm" manusia yang tidak mengenal tombol snooze itu.
Namun, pagi ini berbeda. Sangat berbeda.
Alistair terbangun tepat pukul enam pagi. Ia duduk di tepi tempat tidur, menunggu suara cicit sepatu taktis Sloane di lorong. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Mansion mewah di Mayfair itu terasa begitu luas, dingin, dan... sunyi. Keheningan yang biasanya Alistair cintai kini terasa seperti tekanan udara yang mencekik paru-parunya.
"Nona Sterling?" panggil Alistair saat ia melangkah keluar kamar.
Tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang memantul di dinding galeri.
Alistair turun ke lantai bawah dengan langkah cepat. Ia memeriksa dapur—kosong. Tidak ada uap saus gosong, tidak ada ceceran tepung, dan tidak ada aroma lemon yang menyengat. Ia memeriksa ruang tamu. Piano hitamnya bersih, tapi tidak ada sosok gadis galak yang sedang mengelap tutsnya dengan tatapan penuh dendam pada kuman.
Alistair mulai merasakan denyut kecemasan di pelipisnya. Apakah Sloane pergi? Apakah musuh-musuhnya dari faksi The Red Fang berhasil masuk tanpa terdeteksi dan menculiknya? Pikiran itu membuat Alistair secara refleks meraba pistol di balik pinggangnya.
Langkah kakinya yang berat membawanya kembali ke lantai atas, tepat di depan pintu kamar Sloane. Alistair berhenti sejenak, lalu mencoba memutar kenop pintu.
"Nona Sterling, kau benar-benar ceroboh secara administratif! Bagaimana bisa kau tidak mengunci pintu di rumah seorang ketua gangster—"
Kalimat omelannya terhenti seketika saat pintu terbuka. Alistair melihat ke arah tempat tidur yang berantakan. Sloane masih di sana, meringkuk di balik selimut tebal yang ditarik hingga ke dagu. Wajah manisnya yang biasanya penuh energi kini tampak pucat pasi, namun pipinya merah merona karena panas yang membakar dari dalam. Tubuhnya gemetar hebat, giginya gemeletuk karena kedinginan yang amat sangat.
"Sloane!" Alistair menerjang masuk, mengabaikan segala protokol kesopanan yang selama ini ia agungkan.
Ia duduk di tepi kasur dan menyentuh dahi Sloane. Tangannya segera ditarik kembali karena panasnya suhu tubuh gadis itu yang luar biasa. Gadis yang biasanya meledak-ledak dan bar-bar ini kini terkulai tak berdaya, seperti mawar yang layu karena panas matahari yang ekstrem. Alistair merasa jantungnya seperti diremas. Rasa panik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bahkan saat ia terkepung peluru musuh—kini menguasai dirinya sepenuhnya.
Alistair menarik Sloane ke dalam pelukannya, membungkus tubuh kecil itu dengan selimut dan dadanya sendiri untuk memberikan kehangatan. "Sloane, bangun. Lihat saya," bisiknya kaku, suaranya yang biasanya dingin kini terdengar rapuh.
Sloane tidak membuka matanya. Ia justru semakin meringkuk ke dalam dekapan Alistair, mencari perlindungan di dada pria itu. Alistair merogoh saku kemejanya dengan tangan yang gemetar hebat, mencoba mencari ponsel untuk menghubungi dokter pribadinya. Namun, saat ia hendak melepaskan pelukannya untuk menelpon, tangan Sloane tiba-tiba mencengkeram kemeja Alistair dengan sangat erat.
"Jangan... jangan pergi..." gumam Sloane pelan, suaranya parau dan penuh penderitaan. "Jangan tinggalkan aku lagi... tolong..."
Alistair membeku. Ia melihat air mata merembes dari sudut mata Sloane yang masih terpejam, membasahi kain kemeja putih mahalnya. Mengapa gadis seberani Sloane menangis dengan begitu sedih? Apa yang sedang ia alami di balik kabut demamnya?
Di dalam pikirannya yang sedang meracau karena panas, Sloane terseret kembali ke masa tiga tahun yang lalu.
London, musim dingin 2023. Sloane yang berusia dua puluh tahun sedang tertawa bersama teman-temannya di sebuah kafe kecil. Ia baru saja mendapatkan nilai sempurna untuk tugas kuliahnya. Ayah, Ibu, dan kedua adiknya melambai dengan hangat saat ia berangkat sore itu, menjanjikan sup hangat saat ia pulang nanti. Itu adalah keluarga yang sangat rukun, sederhana, dan penuh cinta.
Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama. Baru dua jam Sloane pergi, sebuah panggilan telepon merobek dunianya. Ia berlari kembali ke lingkungannya hanya untuk menemukan rumahnya telah menjadi neraka merah yang menjilat langit malam. Api besar melalap segalanya. Orang tuanya, adik-adiknya... semuanya terjebak di dalam tanpa sempat keluar.
Sloane hanya bisa terduduk lemas di trotoar yang dingin, menatap puing-puing rumahnya yang menghitam oleh abu. Tidak ada yang tersisa. Sejak hari itu, Sloane bersumpah untuk selalu membersihkan setiap debu dan noda yang ia temui, seolah-olah dengan membuat dunianya bersih, ia bisa menghapus noda abu yang tertinggal di hatinya akibat malam berdarah itu.
Kembali ke masa kini, Alistair masih tidak tahu tentang tragedi yang membentuk sifat galak Sloane. Ia hanya tahu bahwa Sloane, gadis yang biasanya memerintahnya dengan kemoceng, kini sedang ketakutan setengah mati.
Alistair membatalkan semua jadwal bisnisnya hari itu. Ia tidak pergi ke kantor, tidak melakukan pertemuan dengan faksi mana pun. Ia tetap di sana, di samping tempat tidur Sloane. Ia mengganti kompres di dahi Sloane setiap satu jam sekali, memberikan air minum dengan sendok secara perlahan, dan membiarkan Sloane menggenggam tangannya erat, seolah-olah tangan Alistair adalah satu-satunya jangkar yang menahan gadis itu agar tidak hanyut ke dalam kegelapan.
"Cepat sembuh, Mawar Jalanan yang Berisik," bisik Alistair pelan saat hari mulai sore dan napas Sloane mulai sedikit lebih teratur, meskipun tangannya masih enggan melepas genggamannya.
Tanpa sadar, karena rasa sayang dan kekhawatiran yang sudah melampaui batas logikanya, Alistair membungkuk dan mencium kening Sloane dengan sangat lembut. Sebuah kecupan yang tulus dan penuh perlindungan.
Begitu bibirnya menyentuh kulit Sloane, Alistair tiba-tiba tersadar. Ia menarik diri dengan cepat, wajahnya yang biasanya sedingin es kini berubah menjadi merah padam. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan secara refleks, seolah takut ada anak buahnya yang sedang mengintip melalui celah pintu.
"Apa yang... apa yang baru saja saya lakukan secara administratif?" gumam Alistair sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Ia merasa malu sekaligus bingung. Bagaimana bisa seorang Alistair Thorne, predator paling ditakuti di London, melakukan hal se-sentimental itu?
Namun, saat ia melihat Sloane yang kini tertidur lebih tenang—masih menggenggam jarinya—Alistair tidak beranjak. Ia rela duduk kaku di kursi kayu yang keras itu sepanjang malam, hanya untuk memastikan bahwa saat Sloane terbangun nanti, gadis itu tidak akan menemukan keheningan yang menyakitkan lagi.
To be continued...