NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Pilihan Hati

Bukan Pengantin Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Bukan Pengantin Pilihan Hati

"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"

Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.

Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.

Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.

Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Sang Tuan Sempurna

Suasana di dalam dapur minimalis itu hanya diisi oleh suara desis minyak zaitun yang bertemu dengan potongan dada ayam di atas wajan antilengket.

Naura bergerak dengan cekatan, membalik potongan daging tersebut seraya sesekali melirik mangkuk berisi asparagus dan brokoli yang sudah selesai dikukus.

Wangi gurih bawang putih dan aroma panggangan yang khas perlahan memenuhi seluruh ruangan, menciptakan atmosfer hangat yang asing namun menenangkan di rumah besar itu.

Arka duduk di salah satu kursi bar konter dapur, tidak jauh dari posisi Naura memasak. Pria itu sudah melepas kemeja kerjanya, menyisakan kaus oblong berwarna abu-abu kasual yang mencetak jelas lekuk bahunya yang tegap.

Di hadapannya, sebuah laptop menyala menampilkan deretan grafik saham dan laporan keuangan yang rumit. Meski tangannya lincah mengetik di atas papan ketik, fokus Arka tidak sepenuhnya berada di sana. Sepasang mata elangnya berulang kali terangkat, diam-diam memperhatikan bagaimana jemari lentik Naura mengayunkan sudip dengan begitu telaten.

"Sudah matang, Kak," ucap Naura memecah keheningan seraya mematikan kompor. Ia menata dada ayam panggang, asparagus, dan sesendok nasi merah di atas piring porselen putih dengan rapi, lalu menyajikannya di depan Arka.

Arka menutup laptopnya perlahan, lalu menggesernya ke samping. Ia menatap hidangan di hadapannya, lalu beralih menatap Naura yang kini sedang melepas celemek kainnya.

"Terima kasih, Naura. Ini terlihat sangat enak," ujar Arka dengan nada bariton yang tulus. Ia mengambil sendok dan garpu, namun tidak langsung menyuap makanan tersebut. Pria itu menunggu Naura mengambil porsinya sendiri dan duduk di kursi bar di sebelahnya. Sikapnya yang selalu mendahulukan kesopanan dan menghargai keberadaan Naura kembali terlihat jelas.

Pernikahan ini baru berjalan hitungan hari, namun Naura mulai menyadari satu hal yang krusial tentang suaminya. Arka Pratama adalah definisi nyata dari seorang pria yang terdidik dengan sempurna. Di balik reputasinya di dunia luar sebagai CEO muda yang kaku, dingin, dan tidak tersentuh, di dalam rumah ini ia menampilkan sisi yang sangat bertolak belakang. Arka adalah pria yang luar biasa teratur, sopan, dan memegang teguh tanggung jawabnya tanpa pernah mengeluh.

"Bagaimana rasanya, Kak? Apakah terlalu hambar?" tanya Naura sedikit cemas setelah Arka mengunyah suapan pertamanya. Ia tahu Arka menghindari garam berlebih, sehingga ia sangat berhati-hati saat meracik bumbunya tadi.

Arka menoleh, garis bibirnya yang tegas sedikit melunak membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. "Sempurna. Rasanya pas sekali di lidahku. Kamu pandai memasak."

Pujian sederhana itu entah mengapa membuat pipi Naura terasa sedikit menghangat. Ia menunduk, menyembunyikan senyum kecilnya dengan berpura-pura sibuk mengunyah nasi merahnya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, pengamatan Naura terhadap Arka semakin mendalam. Pria itu tidak pernah memperlakukannya seperti beban atau orang asing yang mengganggu ruang pribadinya. Arka memegang teguh komitmen moral yang tinggi.

Setiap kali pulang terlambat karena urusan bisnis, ia selalu mengirimkan pesan singkat beberapa jam sebelumnya agar Naura tidak menunggunya dengan cemas.

Setiap kali hendak memasuki kamar utama yang kini mereka bagi bersama meski Arka tetap tidur di sofa pria itu selalu mengetuk pintu kayu jati tersebut dengan sopan dan menunggu jawaban Naura, memastikan privasi wanita itu tidak terganggu.

Tidak hanya itu, tanggung jawab finansial yang diberikan Arka pun sangat luar biasa. Di hari kedua setelah pernikahan mereka, Arka meletakkan sebuah kartu debit hitam di atas meja rias Naura.

(“Gunakan ini untuk semua keperluan pribadimu dan kebutuhan rumah tangga. Tidak ada batasan nominal, gunakan saja kapan pun kamu butuh,”) ingat Naura akan ucapan Arka saat itu.

Ketika Naura sempat menolak karena merasa belum memberikan apa pun dalam pernikahan ini, Arka hanya menatapnya lurus dan berkata, (“Menafkahimu adalah kewajiban mutlakku sebagai suami sejak saya mengucapkan kabul di depan penghulu, Naura. Tolong jangan membuatku lalai dalam menjalankan tugasku.”)

Kata-kata itu terus terngiang di kepala Naura. Sifat penyayang dan penuh perhatian yang ditunjukkan Arka melalui tindakan-tindakan kecil yang teratur ini perlahan-lahan mulai mengikis rasa takut dan benci di hati Naura.

Dinding pertahanan yang semula ia bangun tinggi-tinggi untuk membentengi diri dari pria asing pilihan ayahnya, kini mulai retak di beberapa bagian. Sifat protektif Arka yang begitu jantan saat menghadapinya dari gangguan Rama di supermarket kemarin sore juga menjadi pemicu terbesar berubahnya pandangan Naura.

Setelah menyelesaikan makan malam dalam keheningan yang nyaman, Arka bangkit terlebih dahulu. Persis seperti pagi hari, ia membawa piring kotornya sendiri ke bak cuci piring.

"Kak, biar aku saja. Itu tugas istri," cetus Naura ikut berdiri, mencoba mengambil piring dari tangan Arka.

Arka menahan piring itu dengan cengkeraman halus, matanya menatap Naura dengan binar jenaka yang samar.

"Pernikahan adalah kerja sama, Naura. Kamu sudah lelah memasak sejak sore, jadi tugasku adalah membersihkannya. Duduklah, istirahat."

Naura kehilangan kata-kata. Ia akhirnya kembali duduk, memperhatikan punggung lebar Arka yang kini sibuk membilas piring dengan sabun di bawah kucuran air keran.

Ada rasa hangat yang aneh yang perlahan menyelimuti dada Naura. Diperlukan waktu bertahun-tahun bagi sebagian wanita untuk menemukan pria yang memperlakukan mereka dengan tingkat rasa hormat setinggi ini, dan Naura mendapatkannya dari seorang pria yang dinikahinya secara paksa melalui sebuah wasiat.

("Apakah ini alasan Papa bersikeras menjodohkanku dengan Kak Arka?") batin Naura berbisik. Pertanyaan yang selama ini dipenuhi rasa amarah kini mulai berubah menjadi rasa penasaran yang mendalam.

Ayahnya pasti melihat sesuatu yang luar biasa di dalam diri Arka, sesuatu yang membuat beliau yakin bahwa putrinya akan aman berada di bawah perlindungan pria ini jika beliau tiada.

Pukul sembilan malam, suasana rumah sudah semakin larut. Naura berada di dalam kamar, duduk di tepi ranjang berukuran king size seraya menyisir rambut panjangnya yang basah sehabis mandi.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Arka keluar dengan pakaian tidurnya yang santai kaus oblong hitam dan celana panjang longgar. Handuk kecil tersampir di lehernya untuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah.

Arka berjalan menuju sofa tempat tidurnya seminggu ini. Namun, sebelum ia membaringkan tubuhnya, langkahnya terhenti. Ia menatap Naura yang sedang menaruh sisirnya di atas meja nakas.

"Naura," panggil Arka lembut.

"Ya, Kak?"

Arka berjalan mendekati tepi ranjang, mengulurkan tangannya yang memegang sebuah botol kecil berwarna cokelat pekat.

"Ini minyak esensial lavender. Ibu sering menggunakannya jika sedang sulit tidur atau merasa cemas. Aku melihat lingkaran hitam di bawah matamu malam ini. Kamu pasti masih sering terjaga sampai larut, kan?"

Naura tertegun. Ia menerima botol kecil itu dari telapak tangan Arka. Kulit mereka sempat bersentuhan selama satu detik, mengirimkan sengatan listrik halus yang membuat jantung Naura berdegup tidak beraturan. Perhatian Arka begitu mendetail, bahkan sampai menyadari pola tidurnya yang berantakan.

"Oleskan sedikit di pelipismu sebelum tidur, itu akan membantu merilekskan pikiranmu," sambung Arka lagi, suaranya terdengar sangat penyayang, tipe suara yang bisa menenangkan badai paling hebat sekalipun di dalam kepala Naura.

"Terima kasih banyak, Kak Arka. Kakak ... selalu tahu apa yang aku butuhkan," lirih Naura, matanya menatap botol kecil di genggamannya dengan perasaan haru yang membuncah.

"Sudah kewajibanku," jawab Arka pendek. Ia memberikan anggukan kecil, lalu berbalik kembali menuju sofanya. Ia mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur dekoratif di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kuning keemasan yang temaram dan hangat.

Rumah itu kembali jatuh dalam keheningan malam yang sunyi. Namun, malam ini, dinginnya udara AC tidak lagi membuat Naura merasa kesepian.

Ia mengoleskan sedikit minyak lavender di kedua pelipisnya seperti yang disarankan Arka, menghirup aroma menenangkan yang segera memenuhi indra penciumannya.

Sambil berbaring miring menghadap ke arah sofa di seberang ruangan, Naura memandangi siluet punggung tegap Arka yang terbungkus selimut tebal.

Pria itu tampak tertidur dengan tenang. Di tengah kegelapan malam, Naura menyadari sebuah kebenaran baru yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Sifat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian yang ditunjukkan Arka secara konstan setiap hari telah berhasil mengetuk pintu hatinya yang semula terkunci rapat.

Rasa asing itu perlahan menguap, digantikan oleh sebuah perasaan baru yang belum berani ia beri nama.

Arka Pratama, sang tuan sempurna yang kaku itu, ternyata memiliki cara tersendiri untuk membuat seorang wanita merasa begitu berharga.

1
falea sezi
kenapa g jujur
MayAyunda: belum waktunya kak 😁🫢
total 1 replies
~SasMaya ✧
suami idaman
MayAyunda: jadi pengen ya kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
sekalian nyindir ga sih 😂
MayAyunda: ha..ha ..bisa jadi
total 1 replies
~SasMaya ✧
apa keinget Rama 🫣
MayAyunda: he ..he
total 1 replies
~SasMaya ✧
berbunga-bunga pasti Naura 🤭
MayAyunda: sampai berkembang kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ah.. kan manis banget arka ini
MayAyunda: semanis yang baca 😍😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
frustasi kah Rama? sampe g sempet cukuran
MayAyunda: iya kak😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
Araka sama Rama, sama-sama baik...
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
secara ga langsung Arka menghargai Naura
MayAyunda: betul kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... jadi kaya nikah kontrak ya
MayAyunda: iya 😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ahh... kasiannya Rama.
MayAyunda: he he
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... gimana sama Rama, kasian... keknya Rama juga baik.
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
~SasMaya ✧
sabar ya Naura, aku tahu rasanya /Whimper/
~SasMaya ✧
Naura udah ga punya ibu juga kah?
MayAyunda: iya sudah meninggal
total 1 replies
~SasMaya ✧
keknya papahnya tau sesuatu yang Naura ga tau, makanya di jodohin sama Arka.
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
Naura pasti dilema banget ini
~SasMaya ✧
keluarga pasti ikut syok banget /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!