NovelToon NovelToon
AST

AST

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Teman lama bertemu kembali / Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Sci-Fi
Popularitas:42.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yuni_Hana

Adnan dan Adara. Dua sahabat yang terpisah karena bencana yang melanda dan konflik antar aliansi negara di Bumi. Sedang Cosmo yang merupakan torus perdamaian, kini tidak bisa mencegah perang yang akan terjadi.

Bagaimana nasib mereka? Berhasilkah Adnan menyelamatkan sosok yang penting baginya?

Sebuah kisah bagaimana dua sahabat memperjuangkan cinta dengan berbagai konflik yang terjadi di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni_Hana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PHASE 12 . SURAT KALENG

Erick bungkam. Mulutnya terkunci rapat, sedang kepalanya setengah tertunduk. Bola matanya masih menatap tungkai-tungkai yang berdiri di hadapannya. Ada yang masih berdiri terpaku, ada pula yang berjalan ke sana kemari.

“Sedang apa kau di sana?” tanya pria yang sejak tadi berjalan layaknya setrika di hadapannya.

Erick bergeming, tidak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu.

“Tinggalkan kami!” Pria itu lantas meminta kepada rekan-rekannya untuk keluar dari ruangan, meninggalkan dia dan Erick yang masih berlutut di hadapannya.

“Erick!” gertak pria berambutcokelat itu. “Apa kau melupakan nasihatku, hah?!”

Pemuda itu masih saja menutup mulut, bahkan setelah dirinya tersentak saat pria di hadapannya menggertak barusan.

“Kau sudah tahu jika bocah berengsek itu adalah anak dari Harris. Kenapa kau masih bergaul dengannya?”lanjut pria tersebut.

Erick sontak mengangkat pandangan menghadap pria tersebut. Diabangkit dari posisi. “Tapi Adnan sama sekali tak melakukan kesalahan apa pun!” balasnya sedikit menaikkan nada bicara.

Pria itu mengerutkan kening, memandang penuh tanya pada pemuda di hadapannya. “Apa dia juga telah mencuci otakmu, huh?” selisiknya.

Erick berdecih. Emosinya seakan meluap ke permukaan, tetapi diamasih berusaha menahannya.

“Apa yang Ayah tahu tentang hubungan kami?” tegasnya. “Ayah bahkan tak pernah mengangkat panggilanku selama ini. Dan sekarang, kenapa Ayah kemari menanyakan hal itu padaku?”

Pria itu terdiam. Bibirnya tercekat seketika. “Kau masih sama seperti dulu. Terlalu mencampuri urusan orang lain,” katanya kemudian.

Erick kembali tersentak. Saliva meluncur sempurna di kerongkongannya. Sementara itu, pria yang dipanggilnya ‘Ayah’ itu terdiam sejenak.

“Keberadaan Cosmo terancam,” kata pria itumemecah keheningan.

Erick melebarkan bola matanya. Kaku dan juga terperanjat. Sampai di detik selanjutnya, sang ayah kembali menatap lurus padanya.

“Kau tentu sudah tahu jika aliansi kita menyatakan perang terhadap aliansi timur. Dan kini, Cosmo berada dalam kekuasaan kita. Meski begitu, akan ada waktu di mana mereka akan mengkudeta tempat itu. Dengan situasi sekarang, kemungkinan adanya penyusup ke dalam kelompok kita demi menghancurkan Cosmo sangat—”

“Apa maksud Ayah ... pihak timur mengirimkan mata-mata ke Cosmo?” potong Erick seketika.

Pria yang memiliki warna rambut serupa dengan Erick tersebut melirik tajam kepada putranya. Dia tampak merogoh sesuatu dari saku dan melemparnya ke arah pemuda itu.

Secarik kertas.

Erick bergegas membuka dan membaca sesuatu yang tertulis di dalamnya. Ada beberapa percikan darah di sana. NetraErick melebar sejenak kala membaca tulisan di kertas tersebut.

“Tapi ... siapa yang mengirimkan ini?” tanyanya.

Pria itu berdecak sejenak. “Siapa yang tahu? Jika surat itu ditujukan kepada aliansi barat, maka kemungkinan besar memang ada penyusup yang sudah tahu gerak-gerik kita selama ini,” katanya, “kalau begini terus, keberadaan Cosmo akan semakin terancam.”

Erick terdiam dan berpikir sejenak.

“Bukankah Cosmo ada untuk perdamaian dunia?” gumamnya. “Lalu kenapa sekarang kita saling memperebutkannya? Untuk apa?”

“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Si Brengsek itu?!”

Erick tersentak. Ayahnya sigap menyambar kertas yang digenggamannya dan bergegas melenggang pergi menuju pintu keluar. Sepersekian menitselanjutnya, pria itu berhenti.

“Harris menyulutkan api di antara kita,” katanya. “Camkan itu!”

Erick terdiam kaku. Air liurnya hampir saja tercekat di kerongkongan. Mendengar perkataan ayahnya yang terakhir membuat emosi Erick memuncak. Namun, dia tahu bahwa tidak boleh membuat api di tempat ini. Pangkalan ini adalah bagian dari kekuasaan aliansi barat—kelompoknya—dan apa pun yang akan dilakukannyameski itu berkaitan dengan Adnan sekali pun, itu akan dianggap sebuah larangan.

Erick sendiri tidak mengerti kenapa begitu banyak orang membenci Harris, termasuk ayahnya sendiri. Dia tidak pernah memedulikan itu karena Adnan menyakinkannya untuk jangan terpengaruh terhadap hal-hal yang menyinggung soal Harris—ayah Adnan.

Dalam kekalutannya, Erick terperanjat. Diaharus segera kembali ke ruang kendali untuk menghubungi Adnan. Pemuda itu pasti sudah menunggu dirinya.

Langkahnya dipercepat, menuju ke salah satu ruangan di mana sang ayah berhasil menemukannya tadi. Erick buru-buru menyambar knop pintu, membukanya, dan masuk ke ruangan itu. Diamengerahkan seluruh kemampuan dan kepintarannya demi kembali melacak keberadaan rekannya itu. Namun, sesuatu membuat bibirnya tercekat seketika.

Maniknya memelotot. Napas dan degup jantungnya saling memburu kala melihat sesuatu pada layar besar di

hadapannya.

“Adnan?”

***

Jo keluar dari sebuah ruangan dengan segelas kopi hangat. Diamenyandarkan kedua lengan pada pagar pembatas gedung bertingkat tempatnya berada saat ini. Matanya mengedarkan pandangan, menyapu keseluruhan sisi spot besar yang telah menyelamatkan mereka beberapa hari yang lalu.

Diatertegun. Rasanya sudah seperti mimpi. Ingatannya beberapa hari lalu kembali terngiang. Dirinya, Jun, dan Adara, melangkahkan tungkai demi mencari spot untuk menyelamatkan diri dari neraka di luar sana. Peluh, lapar, dahaga, mungkin sudah menyatu dan membuatnya lupa dengan duka yang dirasakan karena kehilangan orangtuanya.

Pemuda itu masih beruntung memiliki Jun. Gadis kecil yang tidak tahu bagaimana rasa luka akibat kehilangan itu tetap ceria, seakan tidak ada beban dalam hidupnya. Dia tidak seperti Jo yang terkadang tidak bisa menahan emosi, dan seringkali pesimis terhadap usaha yang dilakukannya.

Sesekali Jo meneguk kopi, merasakan kehangatan yang perlahan membasahi kerongkongannya. Netra pemuda itu masih memandang jauh ke beberapa bangunan semi permanen di dekat gedung bertingkat yang dipijakinya. Banyak orang lalu-lalang, sibuk dengan pekerjaan mereka. Area ini bisa dibilang aman dari bahaya luar untuk sementara waktu, sampai pihak berwajib mampu menghubungi markas pusat dan mengungsikan penduduk ke sana.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya seseorang setengah mengejutkan pemuda tersebut.

Jo memandang pria yang baru saja datang dan tidak pernah mengganti seragamnya sejak kali pertama mereka bertemu. Diamafhum identitas pria itu yang sebenarnya dan kini benar-benar merasa canggung berhadapan dengan pria yang rambutnya selalu terlihat berantakan itu.

“Anu ... Letnan—”

“Panggil Jason saja,” potong pria itu. “Aku hanya prajurit biasa sekarang.”

Jo tersentak sejenak, sebelum akhirnya kembali ke posisinya semula. “Maaf,” lirihnya.

“Untuk apa?” tanya Jason sembari menyandarkan kedua lengan pada pagar di dekatnya.

“Aku tak tahu kalau kau—”

“Sudah melepas jabatanku,” sela Jason kembali. Dia menatap lekat ke arah pemuda di sampingnya itu. “Meski baru beberapa bulan, tapi menurutku itu sudah lama,” katanya. “Aku lebih memilih berjuang bersama prajurit lain daripada harus berpangku tangan di balik kemudi. Perang saat itu ... adalah perang pertamaku menjadi seorang

prajurit biasa.”

Jo beralih memandang Jason. Wajah tegas pria itu menandakan bahwa selama ini diatelah banyak mempertaruhkan nyawa di neraka sana.

“Lalu,apa yang kau lakukan di luar spot saat menyelamatkan kami kemarin?” tanya Jo.

“Bunuh diri ... mungkin,” jawab pria itu enteng. Lekuk menanjak pada kedua belah bibirnya terbentuk, seperti sedang meledek diri sendiri. “Egois. Tampaknya aku seperti itu. Saat perang pun aku lebih memilih menyelamatkan diri sendiri ketimbang rekanku.”

Jason berdecih. Sorot matanya tampak sendu, memandang jauh ke arah langit senja di mana terlihat siluet burung-burung yang mulai bergerak menuju ke peraduannya. Sementara, Jo menelan liur. Matanya turut memandang bola mega di ufuk barat.

“Kalau kau egois, kau tak mungkin menyelamatkan kami kemarin,” kata pemuda tersebut.

Pria itu mengangguk lemah. Dia terdiam, merangkul kesunyian sesaat, sebelum akhirnya berbalik. “Tidurlah yang nyenyak malam ini,” ucapnya.

“Anu ... boleh aku bertanya?” Jo menegapkan tubuh seraya menghabiskan cairan kopi terakhirnya.

“Apa?”

“Penyerangan aliansi barat,” kata pemuda itu. “Apakah masih berlanjut?”

Jason bergeming. “Selama kau di spot ini, semuanya akan aman,” timpalnya.

“Apa kita sama sekali tak melakukan serangan balasan?” tanya Jo lagi.

Pria itu kembali terdiam dan dipandangnya Jo selama beberapa detik. “Kita tak punya banyak senjata di sini, kecuali ....”

Kening Jo saling bertaut. “Kecuali apa?”

“Kecuali kau bisa menggunakan Paladin.” Jason kembali memandang Jo hingga kedua mata mereka bersirobok. Cukup lama.

“Paladin?” gumam Jo penasaran.

“Paladin. Clibanarii yang tersimpan sejak lama bahkan sebelum bencana besar saat itu terjadi. Sang pelindung, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menggunakannya. Lima tahun lalu ada orang yang berhasil mengendarainya. Tapi ....” Jason bergeming, mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. Dia kembali menatap Jo yang kini tengah berpikir keras. “Sudahlah, tak usah dipikirkan,” katanya. “Lagipula, setahuku, Paladin sekarang berada di markas pusat dan kalau pun kau ditakdirkan untuk menggunakannya, kau belum bisa menyentuhnya sekarang.”

Pria itu menepuk mantap pundak Jo. Senyumnya yang menggurat tipis tampak jelas, sebelum akhirnya berbalik dan beranjak pergi dari tempat tersebut. Sementara itu, Jo sendiri masih terdiam memikirkan ucapan Jason. Paladin. Clibanarii. Kedua kata itu kini saling bertaut dalam sebuah tanda tanya besar di otaknya.

***

1
Cheonma
Semangat updatenya kak ....
LhyLynna
❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!