...Neng..neng..neng...glungg..
Suara alunan gamelan tembang girap kebo giro pengiring pengantin menggema di dalam gua gelap ini.
Tubuh Satya semakin gemetar ketakutan tatkala mendengarnya.
"Si...siapa yang sedang menikah di dalam gua seram ini?", gumamnya sembari memegang ponsel sebagai penerang gua ini.
Ia semakin masuk ke dalam gua yang tak berujung, hingga tiba-tiba kakinya tanpa sengaja menyandung sebuah kaki manusia yang tergeletak bersama badannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Berbaju Merah
Keysa merasa kesal dengan pernyataan Satya tadi. Hanya karena gadis misterius dalam gua, Satya jadi berubah seperti ini.
"Apa sih istimewanya Kencana? dia itu cuma nenek-nenek yang beruntung!", umpat Keysa dalam hati.
"Tapi, Satya mencurigai eyangnya adalah suami Kencana. Bagus dong kalau suaminya ketemu!. Tapi bentar deh, kayaknya eyangnya Satya bisa gue ajak kerja sama nih!", gumam Keysa sambil menyusun rencana liciknya.
Ia menyeringai memikirkan rencananya untuk kembali mendapatkan hati Satya.
"Pokoknya Satya harus jadi milik gue"
Ujarnya dengan segenap rasa benci dan iri.
Karena hal tersebut, Keysa jadi banyak diam .Ia tak banyak bicara dan mengabaikan celotehan teman-temannya yang lain.
Seperti ketika Jihan datang secara tiba-tiba dan memberi tahu bahwa Akbar telah menembaknya. Keysa hanya cuek dan tidak menanggapi perkataannya.
"Gue udah jadian Key sama Akbar!", sorak Jihan sambil memperlihatkan cincin putih pemberian Akbar.
Ia terus mengguncang bahu Keysa karena sahabatnya itu tidak menanggapinya.
Biasanya, hal-hal sepele pun, Keysa akan menanggapinya. Namun, karena hati yang di butakan oleh cinta, ia bersikap acuh dan cuek, seolah kehilangan mood booster terbaiknya.
"Key, lo kok cuek sih, gak asih ah lo!", tukas Jihan sambil merengut.
Keysa hanya menoleh dengan mata melotot.
"Terus kenapa? apa hubungannya sama gue? gue harus ucapin selamat gitu?!, gak penting tau gak!", hardik Keysa.
"Seenggaknya kalau temennya seneng ikut seneng kek!", celoteh Jihan.
"Lo enak-enak bahagia, tapi gue sakit Han, sakit!!", hardik Keysa sambil berlalu meninggalkan Jihan.
Jihan hanya terpaku melihat perubahan Keysa. Ia mengelus dada dan menggelengkan kepalanya.
...****************...
Lain halnya dengan Kencana. Gadis itu sepertinya betah dan menikmati hari-harinya bekerja di rumah Satya.
Sekali-kali, ia akan mencuri pandang kepada eyangnya Satya.
Ada kilas balik ingatan tersendiri saat ia menatap mata dan wajahnya. Namun, ia tidak bisa mengenalinya, karena wajah eyang yang sudah menua.
Ia masih ragu, apakah itu suaminya atau bukan.
Namun, tidak dengan eyang. Lelaki sepuh itu masih mengingat dengan jelas siapa Kencana sebenarnya.
Sosok gadis yang ia cari-cari dan mati-matian ia perjuangkan ternyata kini telah kembali di temukan oleh cucu kesayangannya sendiri.
Eyang memandang Kencana yang masih fokus dengan irisan sayuran di tangannya. Netranya tak bisa berpaling darinya.
"Kau masih sama seperti dulu, Kencana. Bedanya sekarang kau masih muda, masih seperti seumuran cucuku", gumam eyang sembari memperhatikan Kencana dari ambang pintu dapur.
Merasa di perhatikan, Kencana menoleh ke arah pintu yang terbuka itu.
"Eyang..", sapanya ketika ia melihat eyang Satya sedang memperhatikannya.
Eyang hanya menampilkan senyuman dan berlalu meninggalkan Kencana yang masih terpaku sendirian.
"Mengapa ia memperhatikanku seperti itu? apa dia Mas Prabu?", gumam Kencana.
Pasalnya, eyang selalu menghindar ketika berpapasan dengan Kencana.
...****************...
Malam kembali merangkak naik. Di atas kasur bekas Bik Minah, Kencana menjejerkan enam buah cunduk mentul miliknya. Air mata menetes dari setiap sudut mata jernihnya.
Cunduk mentul miliknya tidak genap tujuh buah, karena yang satu ada di tangan Mas Prabu.
"Huu...huu..huuu..."
Terdengar suara tangis wanita yang amat menyayat hati. Di iringi bau busuk dan amis yang menguar dari seluruh penjuru kamar Kencana.
Kencana mengedarkan pandangan mencari sumber suara yang semakin lama semakin keras itu.
Tiba-tiba ia terbelalak. Sesosok perempuan berbaju merah bermuka penuh darah tengah meringkuk di bawah ranjangnya.
Kencana menutup mulut ketakutan. Ia beringsut mundur ketika wanita itu mendekatinya.
"Tolooonggg", satu kata itu terucap oleh wanita itu.
Kencana semakin ketakutan, ia terus beringsut mundur perlahan.
"Si..siapa kamu?", tanya Kencana perlahan sambil terus beringsut mundur.
Namun, hantu wanita itu malah keluar kamar dan menembus pintu. Seperti mengisyaratkan sesuatu.
Kencana mengikuti hantu itu.
Hantu itu terus melayang sampai di depan pintu kamar eyang yang sedikit terbuka.
Tiba-tiba, hantu itu menunjuk kamar eyang dan menghilang.
Kencana yang merasa penasaran langsung mengintip kamar eyang dari pintu yang sedikit terbuka.
Asap tipis menyengat keluar dari dalam kamar eyang.
Kencana terbelalak ketika ia menyaksikan eyang tengah bersimpuh di hadapan sesajen lengkap dengan dupa mengepul.
Tak lama kemudian sesosok hitam legam berbulu lebat dan bermata merah mendatanginya dan langsung menyambar sesaji itu dengan ganas dan rakus. Air liur tampak meneter dari taring runcing milik makhluk tersebut.
Kencana menutup mulutnya. Ia ketakutan dan berjalan mundur. Namun, kakinya menyandung kusen pintu dan menimbulkan suara.
Makhluk itu menyadari keberadaan Kencana. Ia menyeringai dan melompat ke arah Kencana.
Kencana berlari sekuat tenaga. Mulutnya seolah terkunci tak bisa mengucap sepatah katapun. Makhluk itu terus mengejarnya.
Tiba-tiba makhluk menyeramkan itu sudah berada di depannya, sontak Kencana terperanjat, kepalanya berdenyut pening dan matanya terasa gelap. Ia ambruk tak sadarkan diri di dekat lantai dapur.
Sosok itu lenyap begitu saja ketika eyang menaburkan kembang melati ke arahnya. Ia tak ingin gadis pujaannya mati konyol di tangan makhluk peliharaannya itu.
"Kencana..Kencana...mengapa kamu begitu penasaran denganku?. Hampir saja kamu mengacaukan ritualku!. Untung saja aku cepat tanggap. Kalau tidak, kamu pasti sudah mati", ujar eyang sambil mengamati Kencana yang masih tersungkur.
Eyang tidak pernah tau, bahwa Kencana sedari tadi tengah di tuntun oleh sosok wanita berbaju merah.
Eyang mengangkat tubuh Kencana dan ia membaringkannya di kamar Kencana. Ia menyelimutinya kembali seolah tidak ada yang terjadi.
"Kurang tujuh purnama dan kurang tujuh gadis perawan lagi, aku akan kembali muda. Tubuhku akan kembali awet muda dan kekuatanku akan bertambah", lirih eyang.
"Kita akan kembali bersama lagi, Kencana sayang. Kita akan abadi. Dan kamu...akan melupakan Prabu, suamimu yang sudah mati di tanganku ini..hahahahaha", tawa eyang menggelegar.
Ia meninggalkan Kencana. Tak lupa ia menaburi sekitar kamar Kencana dengan bunga melati yang telah ia beri jampi agar makhluk peliharaannya tidak mengendus keberadaan Kencana.
Eyang kembali ke kamarnya dan membereskan ritualnya yang hampir gagal. Sosok makhluk berbulu hitam itu berdiri di pojokan kamar eyang dan melotot menampakkan kemarahan, karena eyang telah menggagalkannya memangsa seorang gadis perawan.
"Kau mengacaukan mangsaku! Wisnu Sutrisna!", geram makhluk besar itu sembari menerbangkan semua barang-barang di kamarnya eyang.
"Maafkan aku! aku tidak ingin kamu memangsa calon isteriku kelak!", ujar eyang.
Makhluk itu tertawa lebar. Sangat mengerikan sekali.
"Segeralah beri aku tumbal gadis perawan di tiap- tiap bulan purnama sebanyak tujuh purnama", ujar makhluk itu menggeram.
"Aku akan memberikan apa yang kamu mau! tapi jika kamu tidak bisa, ingat nyawamu sendirilah yang akan aku ambil!, ingat Wisnu Sutrisna! besok adalah bulan purnama ", tutur Makhluk itu menggeram dan kemudian lenyap menjadi kepulan asap hitam.
Perjanjian antara makhluk astral dan eyang Satya yang ternyata adalah Wisnu Sutrisna, mantan kekasih Kencana di masa lalu itu tidak bisa di ubah ataupun di elakkan.
Wisnu Sutrisna, korban cinta yang tak sampai, bertekad memperjuangkan cintanya meskipun dengan cara yang salah.