NovelToon NovelToon
Archiles Heels

Archiles Heels

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Romansa / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:11.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Shamrock

Nadine adalah seorang wartawan yang gigih dan nekat meskipun dia memiliki fisik yang lemah. Kenekatan itu membawanya untuk meliput sebuah kasus besar dan berbahaya yang naasnya keberadaan gadis itu dicium oleh para penjahat yang dia liput. Dalam keadaan terdesak, Nadine memutar otaknya agar tidak ketahuan, yaitu dengan cara mencium sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di depannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Iblis yang tengah menjalankan misi di dunia manusia.

Nadine pikir pertemuannya akan berakhir setelah Elliot, si Raja Iblis pergi, namun takdir berkata lain Raja Iblis yang anti manusia itu terus mendekati Nadine. Pertemuan mereka seperti benang merah yang terhubung di antara benang-benang kusut, berkesinambungan dengan cara yang tidak biasa.

Apa yang dimiliki Nadine hingga sang Raja Iblis terus mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shamrock, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XII WORRY

Cassandra muncul di tengah-tengah kendaraan bermotor yang terparkir dengan rapi. Ketika diminta untuk pergi ke rumah sakit, Cassandra memikirkan tempat paling dia kenali. Kalau tidak salah dia dulu pernah ada misi di tempat ini, dia tidak tahu jika tempat ini akan dia kinjungi kembali.

Cassandra berlarian menuju lorong rumah sakit dengan membopong Nadine di punggungnya. Menghampiri salah satu perawat yang agaknya ada di ruang gawat darurat. "Suster! Cepat tolong dia, dia tenggelam di laut."

Meskipun memberitakan tatapan tidak percaya dengan kata-kata Cassandra, suster yang dihampiri olehnya tetap menangani Nadine dengan cekatan. Agaknya dia pun bingung dengan keberadaan Cassandra membawa pasien tenggelam di laut. Laut. Iya, laut yang jauhnya berkilo-kilo meter dari pusat kota.

Timbang memikirkan bagaimana Cassandra sampai di rumah sakit, sang suster mengabaikan pemikirannya dan fokus untuk menyelamatkan Nadine.

Cassandra menyugar rambutnya, napasnya yang satu-satu menunjukkan bahwa dia berusaha keras agar sampai di sini. Selain itu dalam bayangannya masih segar rona kemerahan di wajah Elliot.

Pasalnya Elliot sebagai raja iblis jarang menunjukkan taringnya, apalagi untuk sesuatu yang remeh. Elliot yang berjuang keras menemukan semua makhluknya sendirian goyah dengan keberadaan satu makhluk mortal yang tidak jelas eksistensinya. Seolah eksistensi itu sebagai garis bergelombang di jalan yang Elliot tempuh.

"Sister, bagaimana Nadine?" Kemunculan Elliot yang merobek ruang dan waktu membuat Cassandra menyadarkan diri dari lamunannya.

"She's fine, sedang di tangani oleh ahlinya. Kau terlihat kacau. Kau tidak pernah sekacau ini, brother." Cassandra menyampaikan kekhawatirannya.

Sekalipun takdir adalah dirinya, tetapi milik makhluk immortal tidaklah semudah itu, apalagi hanya dengan menarik garis lurus dari benang yang kusut. Semua hal dapat terjadi, lebih dari yang dapat mereka bayangkan.

"Bagus kalau begitu." Elliot duduk di sebuah bangku di lorong rumah sakit itu. Mengembuskan napas dengan berat karena telah melalui waktu yang panjang sembari memegang dadanya yang tiba-tiba saja nyeri.

Elliot sadar, dia sendiri hampir gila dengan keadaan Nadine yang tak sadarkan diri. Entah apa yang mendorongnya berbuat hal seperti itu, sesuatu dalam dirinya seolah tidak terima.

Melihat Elliot kesakitan Cassandra menghampirinya. "Kapan terakhir kali kau istirahat? Benar-benar istirahat."

Elliot tau jika istirahat yang dia maksud adalah istirahat dari dunia yang dia hadapi. Elliot hanya diam saja memegangi dadanya yang semakin lama semakin nyeri. Rasanya seperti di tekan oleh ratusan kilogram beban dan di tusuk berkali-kali lipat. Napasnya mulai memburu seperti sedang berlari.

"Elli, kau tidak apa-apa? Stand up, kau harus pulang, akan aku panggilkan Dorme—dia bisa membantumu." Raut khawatir Cassandra tampak dengan kentara. Baru kali ini dia melihat Elliot kesakitan sejak terakhir kali dirinya sekarat.

Elliot menahan lengan Cassandra yang hendak mengangkat tubuhnya untuk melakukan teleportasi. "I'm fine, sister," Ujarnya dengan parau.

"No, you're not! Look at you! Ada apa denganmu sebenarnya?! You're changing!" Setelah menahan diri untuk tidak mengatakannya, Cassandra pun akhirnya meluapkan apa yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Terlepas dari apa yang sedang dialami Elliot, dia menunjukkan perubahan.

"Snake."

"Huh?" Cassandra bingung.

Elliot yang masih memegangi dadanya menatap Cassandra. "Pinta Snake untuk mencari informasi tentang Nadine. Dia pasti akan mendapatkannya, tidak, dia harus mendapatkan informasi itu."

"Elli—" Dua kerutan di dahi Cassandra tercetak, nadanya merendah saat mengucapkan namanya.

Elliot tahu, dia juga menyadarinya, akantetapi tidak membicarakannya adalah hal yang mudah. "Sister, jika Snake mendapatkan petunjuk kita akan tau siapa dia. Satu petunjuk saja, bukan asumsi."

"Tapi kau harus pulang, kita harus mengetahui apa yang terjadi padamu," Tekan Cassandra pada Elliot menimbang kondisi kesehatannya yang meragukan.

"Ini bukan apa-apa, kau pulanglah aku akan di sini untuk sementara."

Ucapan itu terdengar lemah, tapi final bagi Cassandra dan Elliot. Tidak ada lagi perdebatan yang terjadi antara kedua kakak beradik dunia immortal itu. Cassandra pun undur diri, meninggalkan eksistensi Elliot sendirian.

"Jaga dirimu baik-baik," Ucapnya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.

...****************...

Nadine sudah dipindahkan ke ruangan yang lebih baik lagi untuk istirahat. Tidak memerlukan uang, Elliot menggunakan kata-katanya untuk membuat mereka mendapatkan ruangan VIP dengan mudah.

Elliot memandangi wajah Nadine yang tertidur pulas. Rautnya tampak lebih jinak dari saat dia terbangun, karena mulut dan otaknya bekerja lebih cepat saat berhadapan dengan Elliot. Bibir perempuan itu pucat pasi, matanya masih tertutup.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dibarengi dengan kemunculan seorang perempuan dengan aura yang menggelap. Tidak, Elliot bukannya dapat melihat airanya, tapi terlihat dari air mukanya saat membuka pintu.

Perempuan itu adalah Aileen, menatapnya garang seolah dia adalah predator yang siap menerkam. Mungkin dia dihubungi pihak rumah sakit sebagai orang terdekat Nadine.

Tanpa pikir panjang Aileen menarik kerah Elliot tanpa membiarkan Raja Iblis itu berpikir terlebih dahulu. Menariknya dari kursi dan memepetkannya di dinding. Matanya nyalang menatap Elliot.

Elliot kaget setengah sadar, tidak ada seorang mortal pun—garis bawahi—tidak ada seorang mortal pun dengan kekuatan sekuat apapun yanh dapat menariknya, mengangkatkanya, atau memimdahkan dirinya secara paksa. Baik dalam keadaan sadar atau tidak sadar sekalipun, tidak ada.

"Apa yang kau lakukan pada Nadine?!" Sorot matanya yang tajam menatap Elliot tidak melepaskan dari cengkramannya.

"Who are you?" Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu, Elliot justru bertanya hal lain. Pandangannya menelisik menelusuri pada bola mata Aileen.

Nihil, dia tidak menemukannya sejak pertama kali mereka bertemu.

"Apa yang terjadi pada Nadine sampai dia seperti ini?" tanya Aileen kembali.

"Dia jatuh ke laut." Akhirnya Elliot menjawab dengan kewarasannya. "Di dorong oleh salah seorang nelayan."

"Kau ada di sana?" Cercanya kembali, melakukan sesi wawancara yang kejam dan keji. Elliot yakin jika Aileen adalah seorang detektif tidak akan ada satu orang penjahat pun yang berani berbohong. Lihat saja caranya, seperti cara preman.

"Ya, tapi—" Elliot hendak memberikan sebuah alasan, tapi Aileen kembali menyela.

"Kenapa kau tidak menyelamatkannya?! Kenapa kau membiarkannya jatuh?!" tanya Aileen dengan kemarahan.

Elliot terdiam dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan padanya. Sulit berdebat dengan perempuan yang dapat menyudutkannya. Elliot tidak dalam keadaan yang dapat melakukan itu. Dia sadar itu kesalahannya.

Elliot menundukkan kepalanya. Berujar lirih. "Aku berpaling sebentar dan dia sudah terjatuh."

Siapa yang menyangka, jurus itu membuat Aileen melepaskan cengkramannya dari kerah Elliot. Dia mengusap wajahnya frustrasi menyadari keberadaan Nadine yang terkulai lemas di ranjanng.

Duduk di dekat ranjang, menggenggam tangan Nadine. "Nadine, wake up."

...****************...

1
Shamrock
terimakasih sudah mampirr
seruu uyy
owowowowowo
Aish
lanjut Thor,,,semangat upnya🤩🤩
Shamrock: thaknyouu 😁😁😁😁
total 1 replies
Aish
aku suka karyamu thor
Aish
lanjut Thor,,tambah seru
Aish
semangat Thor💪💪,,,sy suka karyamu Thor🌹🌹
Sindi Koldiyah
agak kesel si ya sama nadine, ke apa* tuh engga dipikirin dulu secara matang.
Shamrock: Wkwkw iya, dia emang agak impulsif jadi orang
total 1 replies
Erlina
menarik cerita nya
Shamrock: terimakasih
total 1 replies
Yunita Widiastuti
smangat kakak
Shamrock: wahhh terimakasihh
total 1 replies
Nijino Yume
ayo lanjutkan Athor ✨✨🐈
Shamrock: siaappp terimakasih
total 1 replies
Angeldust
Next semangat, kakk! ceritanya menarik 🔥
Shamrock: terimakasih banyakkk, mampur terus yaaa 🪸
total 1 replies
DegiFiras
Wihh, ditunggu lanjutan critanya 🙏🙏 jangan lama2 bikin penasarannya 🙏🙏
DegiFiras
Mulai memanas 👍👍
DegiFiras
Wihh mantap mantap buat kelanjutan ceritanya ..
DegiFiras
Semangat terus dalam melanjutkan ceritanya 💪💪
DegiFiras
Wih wih wih
DegiFiras
Nice, untuk lanjutan caranya
DegiFiras
"Karna aku lebih suka memelukmu dari pada miminjamkanmu jasku" ucapan yang romantis banget
DegiFiras
Nice, untuk kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!