NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 23: Meja Diskusi XII IPA 1

Waktu terus merambat naik.

Jarum jam dinding berbingkai hitam di atas papan tulis sudah menunjuk tepat ke angka 08.25 WIB.

Atmosfer kelas XII IPA 1 dipenuhi keheningan yang sarat konsentrasi. Sebagian siswa sudah menuntaskan lebih dari separuh soal, beberapa masih mengurut kening di nomor lima, dan sisanya baru merangkak sampai nomor tujuh.

Sementara itu, di meja sudut dekat jendela...

Nadira baru saja membubuhkan angka terakhir pada lembar jawabannya. Dengan cermat, jemari lentiknya kembali menyusuri setiap langkah perhitungan dari nomor satu hingga nomor sepuluh. Memastikan tidak ada tanda minus yang melesat, atau angka kalkulasi yang salah berpindah posisi.

Di sebelahnya, Arga menggoreskan pensil mekaniknya untuk tuntas di nomor sembilan.

"Nah... tinggal satu lagi," gumam Arga pelan seraya meluruskan jemarinya yang agak pegal.

Tak berselang lama, dari arah belakang terdengar bisikan memanggil.

"Alyaa..."

Nadira menoleh ke samping. Zera melangkah mendekat seraya memeluk buku catatannya yang terbuka.

"Iya, Zer?" tanya Nadira ramah.

Zera memasang raut canggung. "Alya... kamu udah sampai nomor berapa?"

"Udah nomor sepuluh, Zer," senyum Nadira tipis.

Mata Zera seketika membulat penuh kekaguman. "Lho? Seriusan?!"

"Iya. Kalau kamu?"

Zera menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa miris. "Aku... baru jalan di nomor empat."

Arga yang mendengar angka itu spontan mendongak kaget. "Nomor empat, Zer?"

"Iya, Ga! Soalnya gue bener-bener mentok di sini, bingung banget," Zera mengarahkan lembar jawabannya ke tengah meja. "Nih, coba lihat..."

Nadira menyusulkan pandangannya. Namun hanya butuh beberapa detik membaca, kening gadis itu berkerut heran. "Loh? Kok hasil akhirnya bisa dapet angka segitu, Zer?"

Arga yang ikut mengintip dari samping langsung mendengkus renyah. "Lah... punya lu kok absurd banget angkanya, Zerak?"

Zera seketika meringis pasrah. "Ya diam dulu napa, Ga! Jangan diomelin! Makanya gue bingung setengah mati. Gue udah ngitung bolak-balik tiga kali, tetep dapetnya angka siluman itu!"

Nadira tersenyum geli menenangkan. "Bentar, Zer. Kamu ini salah dari fondasi awal pengerjaannya."

"Hah? Masa sih?"

"Iya," Nadira meraih selembar kertas corat-coret kosong. Jemarinya mulai menuliskan rumus dasar dengan rapi. "Kamu jangan langsung memasukkan variabel angkanya ke dalam persamaan. Tapi bentuk pecahan ini harus kamu sederhanakan dulu."

Nadira menunjuk bagian atas soal. "Nah, baru setelah bentuknya ringkas, angka-angka yang diketahui di soal ini kamu substitusikan satu per satu."

Zera menyimak dengan mata tak berkedip. "Oh... Pantesan! Gue tadi main seruduk langsung masukin angkanya!"

Arga menimpali renyah, "Makanya hasilnya melenceng jauh sampai ke benua lain, Zer. Dari konsep awalnya aja lu udah salah ambil jalur."

Zera manggut-manggut penuh pencerahan. "Oalah... Baru paham gue! Makasih banyak ya, Nad!"

"Sama-sama, Zer. Coba dihitung ulang pelan-pelan," senyum Nadira manis.

Belum sempat Zera melangkah balik ke bangkunya, Rika sudah lebih dulu muncul di samping meja membawa buku matematika.

"Nad... boleh nanya sebentar nggak?"

Nadira terkekeh pelan. "Boleh banget, Rik."

Namun belum usai kalimat itu, Aulia menyusul dari belakang. "Aku juga mau nanya dong, Alya..."

Tak berhenti di situ, Najmi ikut nimbrung memeluk tempat pensil. "Eh, sekalian gue juga mau nanya dong!"

Lalu dari barisan tengah, Adnan berjalan mendekat seraya membawa penggaris. "Ga... boleh minta tolong jelasin nomor delapan bentar nggak?"

Arga dan Nadira saling pandang sejenak, lalu kompak meledakkan tawa kecil tanpa suara.

"Loh... kok mendadak rame gini?" kekeh Arga menggeleng-gelengkan kepala.

Dalam hitungan detik, meja Arga dan Nadira resmi 'dikerubungi' lima orang sekaligus. Rika berdiri di sisi kiri Nadira, Aulia berbaris di belakang, Zera di dekat Arga, sementara Najmi dan Adnan memagari sisi kanan. Semuanya kompak membawa senjata buku dan pensil masing-masing.

Rika buru-buru melempar pertanyaan, "Nad... nomor tiga tuh kenapa harus pakai konsep transformasi yang ini sih?"

Belum sempat Nadira membuka suara, Adnan menyela heboh, "Ga! Kalau nomor delapan... kok hitungan gue hasilnya minus terus ya?"

Arga terkekeh geli menepuk jidatnya. "Satu-satu, Bos! Kalau nanya barengan gini, kepala gue yang ikut berasap."

Tawa renyah meletup di antara kerumunan kecil itu. "Hehe... iya, ampun Pak Kapten."

Nadira menarik kertas kosong baru, mengordinasi suasana dengan tenang. "Oke, kita urut ya. Rika dulu, terus Adnan, Zera, Aulia, baru Najmi. Setuju?"

"Setuju!" sahut mereka kompak.

Nadira mulai menuntun Rika pelan-pelan. "Nih, Rik... Yang pertama, kamu jangan cuma menghafal deretan rumusnya. Pahami dulu alur kenapa rumus ini bisa terbentuk. Kalau kamu udah dapet logika konsepnya, mau bentuk soalnya diputar kayak apa pun, kamu pasti tetep bisa ngerjain."

Rika manggut-manggut takjub. "Oh... iya juga ya!"

Sementara di sisi kanan, Arga mulai membedah lembar kerja Adnan. "Dan, coba lu perhatiin langkah kedua lu nih."

Adnan mendekatkan wajahnya. "Kenapa, Ga?"

"Nah, di sini," Arga menunjuk dengan ujung pensil mekaniknya. "Lu salah saat memindahkan ruas dari kiri ke kanan. Tanda positifnya lupa berubah."

Adnan spontan menepuk jidatnya keras-keras. "Ya Allah! Pantesan aja minus mulu! Konyol banget gue!"

Arga tertawa renyah. "Itu bukan salah hitung rumus, tapi keteledoran teknis."

"Iya juga... Makasih banyak ya, Ga!"

Di saat yang sama, Najmi yang ikut memperhatikan penjelasan Nadira mulai manggut-manggut. "Oh... jadi alur pengerjaannya begitu, Nad?"

Nadira mengangguk mantap. "Iya, Naj. Ingat ya, fokus ke alur prosesnya, bukan sekadar hafal hasil akhirnya. Soalnya kalau cuma nyalin angka pasrah, begitu Pak Rudi ubah angkanya sedikit di ulangan, kalian bakal kebingungan lagi."

"Bener banget," aku Najmi setuju.

Aulia yang sedari tadi menyimak giliran mengangsurkan bukunya pada Nadira. "Alya... kalau nomor tujuh, kenapa hasil akhirnya beda jauh sama hitungan Arga ya?"

Nadira menerima buku Aul dengan lembut, lalu menyisir baris per baris langkah pengerjaannya. Tak sampai sepuluh detik, senyum tipis terbit di wajah Nadira.

"Aul... kamu cuma salah di satu tanda operasional ini nih," tunjuk Nadira manis.

"Hah? Yang mana?"

"Ini, harusnya diubah jadi positif dulu sebelum dikali. Bukan tetap negatif."

Aulia seketika tertawa meratapi nasib. "Ya ampun! Cuma gara-gara satu tanda positif doang!"

"Iya, makanya harus lebih teliti dan jangan terburu-buru," kekeh Nadira.

Suasana di sekitar meja mereka mendadak bertransformasi menjadi kelompok belajar kecil yang begitu hidup dan hangat. Uniknya, tak ada satu pun momen di mana Arga maupun Nadira menyodorkan jawaban 'jadi' begitu saja. Keduanya justru lebih hobi melempar pertanyaan pemicu

"Menurutmu langkah awalnya harus diapain dulu?" "Kenapa pakai rumus yang itu, bukan yang ini?" "Coba jelasin alur mikirmu dulu sampai bisa dapet angka ini..."

Lewat pertanyaan-pertanyaan pemantik itu, teman-teman mereka diajak berpikir dan perlahan menemukan sendiri di mana letak kekeliruannya.

Dari depan kelas, Pak Rudi yang sedang duduk merapikan lembar presensi sesekali mengangkat pandangannya. Beliau memperhatikan kerumunan murid yang memadati area meja Arga dan Nadira.

Namun... tidak ada kegaduhan yang mengganggu. Tidak ada aksi saling tukar lembar pengerjaan secara instan. Yang memantul di indra pendengarannya justru kalimat-kalimat edukatif

"Coba diulang dari baris kedua..." "Kenapa ambil teoremanya yang itu?" "Bagian mana yang bikin kamu masih ganjal?"

Pak Rudi kembali menundukkan kepala seraya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepuasan. Beliau sengaja membiarkan suasana itu mengalir tanpa teguran. Sebab beliau tahu betul, yang sedang terjadi di sudut dekat jendela itu bukanlah aksi menyontek massal, melainkan sebuah diskusi ilmiah yang murni.

Sebuah pemandangan indah yang memang sudah menjadi tradisi di kelas XII IPA 1. Setiap kali ada murid yang mengalami kesulitan, Arga dan Nadira selalu siap menjadi garda terdepan untuk mengulurkan bantuan—bukan dengan menyuapkan hasil instan, melainkan menuntun mereka menemukan jalan pemahamannya sendiri.

Dan mungkin... itulah alasan utama mengapa meja dekat jendela itu selalu menjadi tempat berlabuh paling hangat bagi siapa saja yang benar-benar ingin belajar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!