Namaku Yuta Mayasaki, aku mempunyai seorang pacar bernama Giza, gadis cantik yang merupakan madona sekolah SMA Jayakarta.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, Ayahku yang seorang duda membawa pacarnya dan juga seorang gadis yang merupakan anak dari pacarnya.
Namun saat aku melihat penampilannya... ya, benar sekali, anak dari pacar ayahku itu adalah Giza.
Bagaimana hubunganku dengan Giza seterusnya? Apakah masih boleh kita berpacaran walaupun kita kakak adik? Bukankah ini cinta terlarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noya Clarissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.11 Giza?
Kejadian kemarin membuat aku berada di sini sekarang ....
Ya ... sekarang aku berada di rumah seorang putri dari pengusaha ternama itu, Ayane Kamiyata. Atau lebih tepatnya sekarang aku berada di kamarnya.
Di hadapanku sekarang Ayane—dengan pakaian dress tidur berwarna hitamnya—bersandar di tembok kasur.
Dia sedang membaca sebuah buku ...? Novel, ya kurasa itu novel. Dia sedang membaca novel sambil beberapa kali meminum teh yang ada di meja kecil samping ranjangnya.
Perpaduan antara dress yang dipakainya dengan rambut berwarna merah itu sangat membuat dirinya terlihat seperti putri. Aku sampai bingung harus melihat kemana.
"Etto ... bagaimana keadaanmu, Ayane-san?"
"...."
Dia tidak menjawabnya.
Haah ... lagi pula kenapa aku dianggap sebagai orang yang membahayakan Ayane? Aku hanya berniat mengantarnya pulang, loh.
Dan juga, orang-orang berbaju hitam itu ... kurasa mereka sudah tahu keberadaan Ayane dari awal. Tetapi mereka membiarkannya karena tidak mau mengganggu waktu Ayane.
Pikirkan saja, beberapa detik setelah Ayane tiba-tiba pingsan kemarin, orang-orang itu langsung berdatangan entah dari mana. Mengelilingi aku dan juga Ayane yang sudah jatuh ke tanganku.
Ya, aku sempat menahannya agar dia tidak jatuh ke tanah, kupikir itu akan menyakitkan jika membiarkannya terjatuh.
Lalu tanpa persetujuanku, mereka membawa aku dan juga Ayane ke mobil mereka.
Dan berakhirlah aku di kamar ini ....
"Yuta-san."
"A-ah! Iya?"
"Pijat kakiku."
"...Hah?"
Aku tidak mengerti lagi dengan sikap gadis ini. Terkadang dia baik, tapi sekarang berlagak seperti seorang putri. Ya walaupun dia memang putri sih.
Dengan perasaan yang sedikit aneh—karena aku tidak pernah menyentuh kulit gadis selain Giza, aku mendekatkan tanganku ke arah kaki Ayane.
Lagi pula apa yang harus kupijat? Dia bilang kaki ..., berarti ini bukan?
"Ahn ...."
"O-oi! Jangan membuat suara yang aneh!"
Kulitnya yang berwarna putih terasa seperti kain ..., aku jadi teringat Giza.
"Ahn ... Ahn ...."
"?! Sudah kubilang jangan membuat suara yang aneh."
"H-habisnya ...."
Saat aku menoleh ke arahnya, aku melihat Ayane menaruh jari telunjuknya di depan dagu, lalu mukanya memerah seperti terkena air panas.
Jujur, aku tidak berbuat apa-apa dengan gadis ini!
"Nee ... apakah aku masih belum boleh pulang?"
Ekspresi Ayane tiba-tiba berubah menjadi serius. Ia menutup novel yang ia baca lalu menaruhnya di pangkuannya.
"Kamu lupa dengan perkataan ayahku?"
Seketika aku teringat dengan kejadian beberapa beberapa jam yang lalu.
Ayahnya itu berkata "Karena kamu sudah membuat anakku pingsan, kamu tidak boleh pulang sebelum putriku memperbolehkan kamu pulang." seperti itu.
"T-tapi, aku sudah menemani kamu selama satu hari, loh?"
"Haah ..., memangnya kenapa sih? Kamu tidak mau menemani aku lagi?"
"B-bukan begitu ...."
Aku bolos sekolah selama satu hari demi menemani Ayane di sini. Giza juga sempat mampir ke sini karena mengkhawatirkan keadaanku dan juga Ayane.
Aku sudah bilang ke Giza kalau ini adalah kesalahpahaman, Giza tahu akan hal itu dan malah memintaku untuk menyelesaikan masalah ini sendirian.
"Tidak bisakah kamu ...."
"...Iya?"
"Tidak apa-apa."
Aku memiringkan kepalaku. Suara dia terlalu kecil sampai-sampai aku sulit untuk mendengarnya.
"Tunggulah sebentar lagi, aku akan memperbolehkanmu pulang nanti."
"Baiklah ...."
Akupun melanjutkan aktivitasku—memijat kaki Ayane. Ayane masih saja membuat suara-suara aneh setiap aku menyentuh kakinya meskipun sudah kuingatkan untuk berhenti.
***
Hari yang sama, malam hari.
"Aku pulang."
Seraya melepas sepatu, aku mendengar suara yang menyambutku pulang. Akupun menoleh ke arah sumber suara itu.
"Ah, selamat datang kembali, Yuta-san.
Sesaat setelah aku menoleh ke arah sumber suara itu, aku melihat Ibuku yang sedang memasak di ruang dapur. Dan juga ayahku yang sedang menonton acara TV sambil duduk di sofa ruang tamu.
Mereka sudah pada pulang ya ... wajar sih, lagi pula ini sudah malam banget.
"Hey, Yuta, kemana saja kamu dua hari ini?"
Astaga, aku lupa mengabari ibu dan ayahku. Bukan lupa sih, lebih tepatnya aku tidak membawa smartphoneku jadi aku tidak bisa mengabari mereka.
"Ada banyak hal deh, aku tidak mau mengingatnya lagi."
Ekspresi ayahku tiba-tiba berubah menjadi bertanya-tanya. Memang seharusnya sih karena dia adalah orang tuaku, kan?
Dan juga aku sudah males banget buat menjelaskannya. Aku berjalan lesu ke arah kulkas sambil menanyakan di mana Giza berada ke ibuku.
"Ibu, Giza ada dimana?"
Seraya aku membuka dan mengambil minum dari kulkas, ibu menjawabku.
"Eh? Giza ada di kamarnya kok."
"Ah, baiklah, terima kasih, Bu"
Aku menutup kulkas dengan perlahan dan segara berjalan ke lantai 2 untuk menuju ke kamar Giza.
Selama berjalan, pikiran-pikiran tentang Ayane terus bermunculan di kepalaku. aku takut jika Giza mengetahuinya, ia akan marah denganku.
Beberapa detik setelahnya, aku sampai di depan pintu kamar Giza. Aku menarik nafasku sejenak dan memejamkan mataku.
Ku hembuskan nafasku seraya membuka mataku, lalu aku mengetuk pintu kamar Giza.
"H-halo Giza? Apa kamu ada di dalam?"
3 detik berlalu ...
5 detik berlalu ...
7 detik berlalu ...
Eh? Kok nggak dijawab?
Aku sempat memikirkan hal-hal yang seram—seperti Giza yang ternyata keluar rumah dan sebagainya. Tetapi itu tidak mungkin.
Aku memutuskan untuk memanggilnya lagi.
"Giza ... ini aku."
"Hmm ..."
D-dia marah? Tidak seperti biasanya Giza bersuara jutek seperti itu. Aku mulai panik nih gara-gara Giza jutek. Kalau aku langsung masuk boleh gak ya?
"Giza, aku masuk ya ...."
Tanpa menunggu jawaban dari Giza lagi, akupun perlahan membuka pintu kamar Giza dan berniat masuk ke dalam kamarnya.
Saat pintu masih terbuka sedikit, aku bisa melihat sosok Giza dari sela-sela pintu. Giza kelihatannya sedang murung.
Giza menutup tubuhnya menggunakan selimut hingga hanya terlihat kepalanya saja sambil menonton anime di TV digitalnya.
Akupun akhirnya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar kembali dengan perlahan. Kamar Giza dingin banget, bisa-bisanya dia menggunakan air conditioner sedingin ini.
Tetapi yang lebih terasa dingin sekarang adalah sikap Giza terhadapku. Giza memancarkan aura seperti putri yang tidak ingin disentuh oleh pangeran manapun.
Namun aku masih belum menyerah. Masih dalam keadaan berdiri di tempat, aku memanggil Giza sekali lagi berharap ia akan menjawabnya.
"Giza ...? Kamu kenapa?"
"...."
Tetap tidak dijawab olehnya. Aku mulai berpikir kalau Giza pasti marah sama aku. Ini pertama kalinya Giza bersikap dingin kepadaku.
Karena aku merasa tidak dianggap oleh Giza, akupun menarik nafasku dan perlahan berjalan ke arah Giza yang masih menonton anime.
Sambil berusaha untuk tidak membuat satu suarapun—yang dapat mengganggu Giza, aku mendekati Giza secara perlahan.
Namun, saat aku semakin dekat dengannya, aku yang dari tadi tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas sekarang dapat melihatnya.
Namun hal pertama yang aku lihat dari wajahnya adalah ....
"Air ... mata ....?"
***
diriku adalah masa depanku
setetes air diujung ranting
terjebak dalam masa lalu
happy Reading ❤️
kn kasian pacarin adik sendiri🥹