Siapa yang kamu pilih? Daniel seorang kristiani berwajah tampan, ramah dan baik hati kepada semua orang. Terlahir dari keluarga kaya tapi tetap rendah hati. Atau Arfan laki-laki shalih, ketua Rohis di kampus, memiliki wajah teduh dan tampan sehingga banyak dikagumi oleh wanita-wanita di kampusnya.
Aku memilihmu tapi tidak tahu siapa yang Allah pilihkan untukku. Aku tidak mau terlalu cepat memilih karena kelabilan pikiran ini. Maukah kau menunggu selagi aku memantapkan hati?
-Alisha Sabiya Nadifah
Naskah ini pertama kali dibuat pada tanggal 5 Maret 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Belas
Kota Jember masih sama seperti ketika Arfan pulang sekitar setengah tahun yang lalu. Bagi Arfan, seberapa memikatnya kota Banyuwangi tapi tetap saja ia akan pulang ke kota kelahirannya untuk mengunjungi orangtuanya satu-dua hari. Setiap hari orangtua Arfan tak pernah bosan menanyakan tentang kepulangan anak laki-laki satu-satunya itu. Hari ini Arfan akan memenuhi permintaan Abah dan Ummi nya sekaligus ingin membeli beberapa buku di kota itu.
Gerbang rumah terbuka membuat Arfan tak perlu turun dari motor untuk masuk ke halaman. Arfan mengetuk pintu beberapa kali.
"Assalamualaikum." Ucap Arfan lantang agar terdengar dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Waalaikumussalam, Mas!" Perempuan dengan pakaian seragam pramuka SMA memeluk Arfan erat. Arfan membalas pelukan adik perempuannya. Lama sekali mereka tidak bertemu. "Shanum kangen." Serunya masih memeluk Arfan.
"Mas juga." Arfan mengelus kepala Shanum penuh kasih sayang.
"Ayo!" Shanum menarik tangan Arfan membawanya ke dalam rumah.
"Akhirnya datang juga." Ummi Arfan menghampiri anaknya. Arfan tersenyum lalu memeluk Ummi dan Abah nya bergantian.
"Mbak Haura mana?" Tanya Arfan pada Ummi dan Abah nya.
"Baru aja keluar sama Habibi." Jawab Abah Arfan. Haura adalah anak pertama dikeluarga Arfan, anak kedua Arfan dan si bungsu Shanum. Haura sudah menikah dengan Habibi dan memiliki seorang anak.
"Ayo makan, kamu pasti udah laper kan." Ajak Ummi Arfan.
Mereka menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Arfan sangat merindukan masakan Ummi nya. Walaupun Arfan pandai memasak tapi tak ada yang bisa menandingi masakan seorang Ibu di dunia ini. Bahkan tempe goreng yang dibuat oleh Ibu akan memiliki rasa berbeda dari yang orang lain masak.
"Arfan, kira-kira sudahkah ada wanita yang memikat hatimu?" Tanya Abah Arfan yang sedang menyendok sayur di atas piring nya, Arfan tersenyum lebar mendengar pertanyaan sensitif yang satu ini.
"Kenapa Abah bertanya seperti itu?" Arfan melihat Abah nya sesaat sebelum kembali fokus pada piring makannya.
"Agar Abah dan Ummi tidak perlu menjodohkanmu dengan seseorang kalau kamu memang sudah punya calon nya."
"Semuanya kan Allah yang ngatur Bah." Arfan mulai menyuapkan nasi dengan suwiran ayam goreng ke dalam mulutnya setelah membaca doa makan.
"Abah tahu, tapi sebagai manusia kita juga harus berusaha."
"Lagi pula Arfan terlalu muda untuk menikah." Arfan melihat Abah nya berusaha menenangkan lelaki berumur setengah baya itu agar tak perlu menjodohkannya dengan perempuan manapun.
"Tapi kan nikah muda itu sunnah Rasul." Shanum yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan dua lelaki itu ikut menyahut. Arfan tertawa singkat lalu mencubit pipi adiknya.
"Tahu dari mana kamu?" Arfan gemas pada adiknya. Tentu saja adik kecil Arfan sekarang sudah tak sepolos dulu. Pengetahuannya bertambah seiring dengan umurnya yang juga bertambah.
"Sudah, nanti lagi ngobrol nya kita makan dulu." Ujar Ummi Arfan.
Shanum dan Arfan hanya menahan senyum tidak lagi mengatakan apapun manut pada ucapan Ummi nya, melanjutkan makan siang.
***
Arfan mengetuk pintu kamar Shanum beberapa kali. Ia ingin menghabiskan sore ini dengan adik kecilnya yang sekarang sudah menginjak remaja itu.
"Ini Mas Arfan.." ujar Arfan.
"Masuk aja Mas." Shanum terdengar setengah berteriak dari dalam.
Arfan membuka pintu. Tampak Shanum sedang sibuk dengan tablet nya. Menggambar sesuatu di atas layar tipis tersebut.
"Lagi gambar?" Arfan berdiri di samping Shanum yang duduk menghadap meja belajar.
"Bagus nggak?" Shanum menunjukkan gambar vektor wanita bercadar pada Arfan.
"Wah, kamu udah lebih jago gambar nya ya sekarang." Arfan memuji adik nya tulus.
"Mas bisa aja." Shanum tersenyum malu-malu dipuji seperti itu oleh Kakak nya. Jari Shanum kembali menari lincah di atas layar tablet menambah warna lain pada gambar yang dibuatnya.
Pandangan Arfan beralih pada foto berukuran tidak terlalu besar yang terpasang di dinding dekat meja belajar. Wanita yang mengenakan jas Rohis membuat Arfan tercengang. Sepertinya ia mengenal tempat yang menjadi latar belakang foto tersebut.
Ica..
"Ini apa?" Arfan melihat Shanum.
"Hm?" Shanum mendongak melihat Arfan.
"Ini foto Shanum?" Arfan menyentuh kaca bingkai foto tersebut. Ibu jarinya ingin sekali menyentuh wajah Ica tapi ia tak berani.
"Iya sama temen-temen Teman Hijrah Banyuwangi, waktu itu kami ke panti asuhan sama anak Rohis Poliwangi, ada Mas Arfan juga." Jelas Shanum dengan wajah nya yang polos.
"Kok Mas nggak tahu?" Arfan mengerutkan kening.
"Karena aku pakai niqab Mas biar nggak ada yang kenal soalnya Ummi nggak izinin pergi." Shanum terkekeh. "Tapi sekarang Ummi udah kasih izin, mungkin bulan depan aku bisa ajak teman-teman yang lain buat ikut." Shanum tersenyum puas mengingat ia telah berhasil mengajak beberapa teman nya untuk ikut komunitas THB.
"Kalau ke Banyuwangi lagi, mampir ke rumah Mas." Pinta Arfan walaupun pikirannya masih fokus pada kenyataan bahwa Adiknya mengenal Ica.
"Mas kenal Mbak Ica ya?" Shanum menggerak-gerakkan alis nya ke atas dan bawah dengan cepat. Ia tersenyum jahil menggoda Kakaknya. Ia ingat bagaimana keakraban antara Arfan dan Ica ketika di panti beberapa minggu yang lalu.
"Kenal dong kan dia juga anggota Rohis." Arfan berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin padahal dada nya terasa hangat mendengar nama Ica disebutkan.
"Jangan-jangan Mbak Ica perempuan yang sudah berhasil memikat hati Mas Arfan." Shanum meletakkan tablet nya lalu berpindah duduk di pinggiran tempat tidur.
Arfan menelan saliva nya dan hendak menyangkal pernyataan Shanum.
"Mas tenang aja, aku dukung seratus persen kalau Mas mau nikah sama Mbak Ica." Shanum mengangkat ibu jari yang bertaut dengan telunjuk membentuk huruf O sambil tersenyum lebar.
"Apa Mbak Ica mau jadi istri Mas?" Arfan duduk di samping Shanum.
"Siapa yang nggak mau nikah sama Mas?" Shanum memutar kepala melihat Kakak nya yang sedang tersenyum ke arah nya. "Mbak Ica nggak ada alasan untuk nolak Mas Arfan."
"Bisa aja." Arfan tertawa mendengar ucapan adiknya yang perlahan diaminkan olehnya.
Mereka terdiam. Arfan berdoa dalam hati semoga Ica menerima nya menjadi pasangan hidup nanti. Walaupun Arfan yakin dengan perasaannya tapi ia tidak mau terburu-buru sebab mereka berdua masih fokus pada kuliah. Arfan yakin jika Ica memang jodohnya maka Allah tidak akan membiarkan wanita itu menjadi milik orang lain.
Emang icha nya mau sama Babang 🤭🤭
iya tidak maniss karna manis nya udah di Icha nyaa 🤭🤭 jadi tak apa kue nya Hambar asal orang nga Manisss 🤭🤭
bilang aja mau mintak 😅😅🙈🙈