Adel dan Vano adalah orang asing yang tidak saling mengenal dan mereka harus terjebak dalam sebuah pernikahan yang disebabkan oleh sebuah perjanjian ibunya dan sahabat ibunya di masa Sekolah.
"Kita menikah bukan atas dasar cinta,kenapa kita harus sama seperti pasangan yang lain?,kamu boleh mengambil peran istri hanya di depan orang tua kita saja, setelah itu kamu bebas melakukan apapun sesuai keinginan kamu,aku tidak akan ikut campur selagi itu masih dalam batas wajar. Dan satu lagi jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadiku"kata Vano
Mendengar ucapan Vano ,hati Adel sedikit nyeri entah pernikahan macam apa yang akan dia jalani nantinya.
Hingga di awal pernikahan Vano tidak juga menyadari kalau dirinya mulai menyimpan rasa dengan istrinya.
Siapa diantara mereka yang ternyata mulai jatuh cinta duluan,,,,,yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dik Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Lempar bunga
Pengantin sudah siap melempar bunganya. Hitungan ketiga bunga sudah terlepas dari genggaman tangan Adel dan Vano.
Hingga akhirnya...
Braakk...
Novi yang memang berdiri paling belakang dan melompat saat mau menangkap bunga itu, malah tak sengaja menabrak meja yang di tempati Kevin. Hingga Kevin refleks memeluk Novi dan ikut menangkap bunga yang mengarah padanya.
Beberapa detik mereka begitu menikmati momen itu. Apalagi Novi terlihat jelas dari senyum gadis itu yang masih mengembang di bibir indahnya.
Hingga akhirnya suara dari para tamu yang berebut bunga tadi membuyarkan pandangan mereka.
"Ciye..." Teriakan para tamu kompak.
Novi dan Kevin yang sadar menjadi pusat perhatian segera melepas pelukannya.
Kevin memberikan bunga yang di tangkap tadi kepada Novi.
"Ini bunganya buat kamu saja." Ucap Kevin lembut.
"Terimakasih kasih Tuan, lagi-lagi tuan Kevin menolong saya lagi. Saya minta maaf sudah menabrak Anda." Jawab Novi dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.
"Iya sama-sama, lain kali kamu harus hati-hati ya," Jawab Kevin ramah.
"Apa ini pertanda ya Tuan, kalau kita bakal berjodoh...?"
"Kamu ada-ada saja." Jawab Kevin sambil melemparkan senyumnya.
"Lha kan bisa saja, apalagi ini bunganya kan kita berdua yang nangkap tadi." Kata Novi sambil menunjukkan bunganya ke Kevin.
"Itu cuma mitos Nona Novi." Kata Kevin masih dengan tertawa renyah.
Kevin memang terkenal ramah dan humoris, tidak dingin seperti bosnya itu.
Untuk kedua kalinya dalam sehari Novi merasakan pelukan dari seorang cowok, apalagi cowok yang sama dan ini membuat jantung Novi berdebar tidak karuan jika mengingat senyum dari pria idamannya itu.
Di atas panggung pengantin baru ini sudah tak sabar untuk turun. Karena terlalu lama berdiri membuat kaki Adel dan Vano lumayan capek.
"Ma, acaranya masih lama gak sih?" Tanya Vano pada Lisa.
"Sebentar lagi mau selesai ini, Kamu gak sabar banget sih Van?" Goda Lisa dengan senyum jahilnya.
"Gak usah mikir macem-macem deh Ma,"
"Siapa yang mikir macem-macem?, mama cuma mikir satu macem aja kok, kamu nya aja kali yang pikirannya kemana-mana," lanjut Lisa lagi.
Mendengar jawaban mamanya membuat Vano menghela nafas panjang.
Sepuluh menit kemudian, pembawa acara sudah selesai menutup acara resepsi tersebut.
Setelah tamu undangan satu persatu keluar dari ruangan resepsi, giliran pengantin baru ini turun dari panggung. Sebelum kembali ke kamar mereka pamitan sama Tuan Nugraha,Lisa dan Santi.
Vano dan Adel yang sudah merasa sangat lelah segera berjalan menuju kamar presidential suite yang telah di persiapkan Lisa.
Karena sudah merasa lengket dengan tubuhnya, sampai di kamar Adel langsung buru-buru melepas gaunnya. Saking terburu-buru dan tanpa sengaja malah membuat resleting gaunnya nyangkut benang.
Adel yang tadi sudah berada di kamar mandi kini keluar lagi untuk meminta bantuan Vano membukakan resletingnya.
Adel langsung menghampiri Vano yang duduk di pinggir ranjang sambil bermain handphone.
"Mas Vano..." Panggil Adel pelan.
"Hemm," jawab Vano dengan singkat tanpa menoleh ke arah Adel.
"Aku mau minta tolong boleh?" Tanya Adel lagi.
"Tolong apa, cepat katakan!" Jawab Vano dingin.
"Gini mas, resleting gaunku nyangkut benang, mas Vano bisa bantu bukain nggak?"
"Dasar lemah, gitu aja gak bisa." sambil bangkit berdiri dan mendekat ke arah Adel.
Setelah menyuruh Adel membalikan badan, Vano segera membuka resleting yang nyangkut itu. Lumayan susah hingga beberapa menit kemudian Vano baru berhasil melepaskan benang yang nyangkut itu.
Dan tanpa sengaja Vano malah membiarkan tangannya menarik resleting itu sampai di batas punggung bagian bawah Adel sehingga memperlihatkan punggung putih mulus milik Adel yang langsung membuat Vano menelan salivanya.
Adel yang memang tidak memegangi gaunnya merasa kaget saat resleting belakang terbuka sehingga membuat gaunnya melorot sampai ke kaki.
Adel yang sadar dengan situasi, segera mengangkat gaunnya
hingga menutupi bagian dadanya dan berlari ke kamar mandi dengan muka memerah karena malu sama suaminya.
Setelah kepergian Adel ke kamar mandi Vano langsung tersadar dari apa yang barusan dia lihat. Vano mengusap wajahnya kasar dan mengalihkan pikirannya dengan bermain ponsel.
Semakin Vano mengingat sesuatu tadi, membuat sesuatu dalam tubuhnya ikut merespon. Setelah dirasa Adel sudah lama di kamar mandi Vano memanggil dari luar.
"Del, kamu mandi atau tidur di dalam sih lama banget." Teriak Vano sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Iya bentar lagi mas, ini sudah mau selesai kok."
"Cepetan! Aku juga mau mandi ini."
Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Adel dengan jubah mandinya, melihat wajah Adel yang terlihat segar karena baru mandi membuat Vano menjadi mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Tapi Vano masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak berbuat lebih ke Adel, karena dia sudah berjanji untuk tidak menyentuh istrinya itu.
Tanpa basa-basi Vano langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan menyelesaikan aktifitasnya di dalam kamar mandi.
"Beberapa menit kemudian Vano keluar dari kamar mandi dengan handuk sebatas pinggang.
Mendengar pintu terbuka tanpa sengaja Adel menoleh ke arah Vano. Adel yang memang belum pernah melihat laki-laki setengah telanjang langsung kaget .
"aaaaaaaaa...." Teriak Adel sambil menutup matanya.
"Berisik tau nggak!" Kata Vano sambil menutup telinga nya.
"Ini kan gara-gara mas Vano sendiri, kenapa keluar kamar mandi gak pakai baju jadikan membuat mata ku yang masih suci ini ternoda."
"Biasa aja kali, gak usah lebay."
"Siapa juga yang lebay?" Gerutu Adel.
Setelah memakai pakaiannya Vano melihat Adel yang duduk di pinggir ranjang dengan memegangi perutnya.
"Perut kamu kenapa, kok di pegangin terus?" Tanya Vano datar.
"Aku lapar mas, terakhir makan cuma tadi pagi itupun sedikit."
"kalau lapar kenapa gak pesan lewat telfon aja?"
"Aku nggak tau harus telfon siapa, aku kan baru pertama kali nginap di hotel mewah kayak gini,"
Vano menghela nafas panjang melihat kelakuan istrinya itu dirinya segera menelfon pihak hotel untuk mengantarkan makanan ke kamar.