#DILARANG KERAS PLAGIAT CERITA INI#
Patricia Jessica Donovan selalu mengalami kejadian-kejadian mistis: tanpa sadar menghentikan hujan, mengutuk orang dan kutukannya benar terjadi, berkomunikasi dengan arwah, mengalami dejavu, meramal, bahkan bisa merasakan dengan tepat kapan seseorang akan "berangkat".
Sebastian Adrianus Verhoeven adalah sahabat baik Patricia dan hanya kepada Sebastian, Patricia bisa terbuka dan bercerita tentang semua kejadian termasuk kejadian di luar nalar.
Apakah Patricia akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya?
Apakah semua kejadian tersebut benar bakat alami atau berhubungan dengan kehidupan Patricia di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priskilawi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 : Pernikahan Paksa
Patricia Jessica Donovan POV
Aku terbangun dari tidurku. Nyeri kepalaku masih terasa tapi sudah tak sesakit sebelumnya.
Aku mengerjapkan mataku. Sudah pagi, sudah berapa lama aku tertidur?
Aku melihat ke meja nakas dan aku melihat sudah jam 08:00 pagi. Rasanya lelah sekali.
Aku terkejut melihat ada lengan kekar memeluk tubuhku.
Aku mencoba melepaskan tangannya secara perlahan.
Aku mencoba mencerna apa yang terjadi.
Terakhir kali aku ingat bahwa aku sudah keluar mall bersama Sebastian.
Aku mengecek pakaianku, bajunya berbeda dengan yang aku pakai tapi tak ada tanda-tanda memar di sekitar tubuhku. Tubuh ku juga tidak ada luka , tidak ada rasa sakit sama sekali.
Ketika aku melihat sekeliling ku, aku merasa asing, ini seperti bukan di kamarku.
Aku melirik ke pria di sebelahku. Sebastian kah? Aku menggeleng. Sebastian tak akan sembarangan tidur di sebelahku, dia tidak akan mau berbuat seperti ini sampai kami menikah.
Aku memandang pria ini intens dan aku memucat begitu tahu siapa dia Abraham! Aku kaget sekali. Bagaimana bisa aku dan Abraham ?
Apa yang telah terjadi? Bagaimana aku bisa sampai ke sini tanpa aku ketahui? Masa aku tidak sadar sama sekali? Apakah aku dibius sehingga tidak sadarkan diri?
"Selamat pagi" pria ini bangun, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Aku tak menjawab. Aku memalingkan wajahku darinya. Aku harus bisa keluar dari rumah ini, pikirku. Aku harus cari cara.
Aku masih terduduk di ranjang. Aku memikirkan bagaimana bisa keluar dari sini.
Aku merasakan sepasang lengan kekar memelukku dari belakang.
"Kamu wangi, My Queen " bisiknya dan aku merasakan dia menaruh kepalanya di perpotongan leherku.
Aku mencoba menyikut perutnya tapi gagal. Dia seperti tak merasakan sakit dan tetap tak bergeming. Pelukannya semakin erat.
"Di mana aku? Kenapa aku di sini bersamamu?" Tanyaku jengkel, dia selalu muncul tanpa aku harapkan.
"Kamu di tempatku, My Queen " jawabnya santai. Ini orang, santai sekali bicaranya! benar-benar membuatku kesal, geramku dalam hati.
"Ini pasti mimpi. Mimpi buruk. Aku sebentar lagi bangun dan tidak ada di sini" kataku pada diriku sendiri.
Abraham tertawa pelan, "Ini bukan mimpi, My Queen . Kamu di tempatku dan aku yang membawamu kemari. Tidakkah kamu ingat bahwa aku telah melamarmu?"
Dhuar! Ini lebih buruk daripada gagal ujian dan tidak lulus kuliah.
"Gila! Kamu gila! Dimana aku?" Suaraku bergetar karena marah. Aku mencoba menyikutnya lebih keras lagi tapi dia tetap dalam posisi yang sama. Dia tidak mengaduh ataupun merasa kesakitan. Ini manusia atau bukan sih? Gumamku dalam hati dengan jengkel.
"Aku manusia, My Queen . Kenapa kamu membenciku? Aku sudah sangat lama merindukanmu dan sangat mencintaimu. Aku melamarmu agar kamu menjadi istriku sehingga kita bisa saling mengenal lebih dekat " Abraham seperti bisa membaca pikiranku.
Aku merasa kesal. Apa katanya tadi? Mengenal lebih dekat? Buat apa?
"Jangan coba berpikir kamu bisa kabur, My Queen . Kamu akan tetap di sini dan hari ini kita akan menikah" suara baritonnya kembali dan dia menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Mukaku memucat mendengar perkataannya. Apakah aku tidak salah mendengar? Menikah dengannya hari ini?
"No! No! No!" Jeritku. Aku meronta semakin keras namun sia-sia. Gila. Bagaimana bisa aku akan menikah dengan pria ini? Ini adalah mimpi terburuk dalam hidupku.
"Kamu tidak salah dengar, My Queen. Kita menikah siang ini. Pelayan akan membantumu untuk berdandan. Aku tak sabar untuk segera menjadi suamimu, My Queen. " Dia melepaskan pelukannya, dan berjalan keluar kamar.
Aku terduduk lemas. Bagaimana bisa aku malah diculik oleh Abraham dan siang ini malah aku mau menikah dengannya? Ini gila. Aku tak terima.
"Mama, papa, Sebastian.. Tolong aku.." Aku menangis. Ponsel tak ada, aku juga tak tahu berada dimana. Aku harus bagaimana? Air mataku mengalir. Aku sangat sedih.
Aku mendengar suara ketukan di kamarku dan tak lama 3 pelayan wanita masuk
"Selamat pagi Nyonya muda, kami adalah pelayan yang akan membantu Anda, Nyonya. "
Aku terdiam. Kalau aku lari, bisa-bisa para pelayan ini akan dihajar oleh Abraham.
Aku membiarkan mereka membantuku mandi dan bersiap-siap.
Aku sudah ingin tahu bagaimana caraku supaya bisa kabur. Aku harus bisa berkeliling tempat ini dulu baru setelah ini aku susun rencana.
Aku harus tenang, bila gegabah sudah pasti aku tak akan bisa mendapatkan apa-apa.
Aku kesal setengah mati. Bagaimana caranya aku keluar dari sini ya?
Kruuukk. Perutku berbunyi.
"Aku lapar, boleh tolong bawakan aku makanan?"
"Tentu Nyonya muda, mohon ditunggu sebentar." Salah satu pelayan pamit dari kamarku
Aku harus tetap makan supaya ada tenaga bila melawan Abraham.
Tak lama pelayan itu datang kembali dan membawa nampan berisi meatball spaghetti, calzone, susu strawberry, potongan buah melon dan air mineral.
Semuanya makanan favoritku, bagaimana mereka bisa tahu? Pikirku
Sudahlah, aku makan saja, toh aku lapar. Ketika semua makanan dan minuman habis, aku baru menyadari, bodoh, bagaimana bila semua yang aku makan dan aku minum ini dimantrai ? Harusnya aku lebih hati-hati.
Sudah terlanjur aku memakannya sampai habis karena lapar. Aku melirik jam di nakas. Sudah jam 11:00 siang.
Pelayan wanita lain datang, membawa wedding dress.
Dressnya simpel dan elegan. Seleranya bagus juga, pikirku. Eh, tunggu dulu kenapa aku jadi bilang seleranya bagus sih?
Ke tiga pelayan membantuku memakai wedding dress itu. Ukurannya pas. Seolah aku sudah pernah melakukan fitting gaun ini sebelumnya.
Aku takjub tapi aku tak boleh lengah. Aku tetap harus cari cara supaya bisa keluar dari rumah ini dan pulang ke rumahku. Orang tuaku dan adik-adikku pasti sudah khawatir apalagi Sebastian.
Aku sudah selesai berdandan dan memakai wedding dress. Aku memakai high heel warna putih dan ditanganku ada buket bunga mawar putih untuk dilemparkan setelah mengucapkan janji suci.
Aku melihat pintu dibuka dan ke empat pelayan mengundurkan diri dari hadapanku dan pergi meninggalkan aku.
Aku melihat Abraham. Dia sudah memakai tuxedo berwarna hitam. Aku memperhatikannya, dia lebih berotot dari Sebastian. Kenapa aku malah memikirkan dia sih? Sadar Patrice, sadar! Makiku pada diriku sendiri.
"Kamu cantik sekali" Aku bisa melihat dia tak berkedip memandangku.
Wajahku memanas, ingin aku tendang dia tapi aku tak bisa melakukannya.
"Ayo, acara sudah mau dimulai" dia mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya.
Aku tak tahu bagaimana acara ini dibuat. Aku tak mau menikah selain dengan agama Katholik.
"Acara ini memakai agama Katholik. Tenang saja." Dia seperti tahu apa yang hendak ku tanyakan.
Apakah dia dukun? Selalu saja dia menimpali apa isi hatiku, gerutuku dalam hati.
"Kalau aku tak mau menikah denganmu, bagaimana?" Kataku sambil berjalan berdampingan dengannya.
Dia tersenyum, "Ungkapkanlah itu di depan pastor " aku tersenyum mengejek, lihat saja kau, aku tak akan mengucapkan "I Do" padamu!
Kami berdua melangkah ke satu ruangan besar seperti hall.
Sudah ada tamu-tamu undangan, aku tak mengenal satupun dari mereka. Ruangan ini sangat luas dan besar.
Ada seorang pria menyambutku.
"Patricia, perkenalkan, nama saya Thomas. Saya adalah Ayah Abraham"
Aku melihat pria berwajah mirip Abraham dengan usia yang lebih tua mengulurkan tangannya, aku menyambut uluran tangannya
"Patricia" kataku sambil tersenyum. Suasana hening dan semua mata di ruangan ini memandangku.
"Papa, tolong temani Patricia dan tolong bawa Patricia ke altar. Aku ke depan duluan" bisik Abraham samar namun aku bisa mendengarkan suaranya.
Paman Thomas mengangguk.
Abraham berjalan terlebih dahulu
"Paman, bisa saya bicara sebentar?" Tanyaku pelan
"Boleh" kami agak sedikit menepi supaya bisa mengobrol sedikit.
Abraham melihatku namun tetap santai walau terlihat dia agak gugup.
"Paman, aku tidak mau menikah dengan Abraham. Aku tak mau pernikahan ini terjadi" kataku cemas dengan suara serendah mungkin supaya tak terdengar oleh tamu.
"Alasannya?" Tanya paman Thomas dengan nada rendah yang sama.
"Alasannya aku tidak mengenal Abraham, paman. Aku takut dia akan bertindak kasar" keluar sudah isi hatiku.
Paman Thomas memandang mataku.
"Kalau kau ragu menikah dengannya karena tak mengenal sifatnya, mengapa kamu tak menerima pernikahan ini supaya kamu bisa mengenal semua sifatnya?
Abraham tak pernah berpacaran dengan gadis manapun dan dia hanya meminta kami melamarmu sebagai istrinya. Bukan karena Abraham anaknya paman maka paman membelanya, tapi Abraham dan keluarga kami tidak seburuk itu, nak " Jelas Paman Thomas.
Mukaku pias, "Paman, ini bukan ide yang baik.."
"Pernikahan bukan hal buruk, ini adalah hal baik. Sejak Abraham bertemu dirimu, dia sangat giat belajar sehingga lulus lebih cepat dan datang ke Jakarta untuk melamarmu. Paman tahu kamu masih ragu.
Begini saja, kamu ikut paman ke depan. Paman sebagai walimu akan menyerahkan kamu ke Abraham. Ketika pastor memintamu mengulangi janji perkawinan, kamu jawab apapun sesuai kata hatimu. Bagaimana?" Tawar paman Thomas.
Aku jadi semakin cemas. Paman Thomas mengulurkan tangannya padaku, aku masih terdiam sesaat. Aku lalu menyambut uluran tangannya dan aku menggandeng tangan paman Thomas dan kami berdua berjalan.
Abraham sudah berdiri di sana,dia tersenyum melihatku.
"Aku sebagai Wali Patricia. Aku menyerahkan Patricia kepadamu, Abraham, untuk kau jaga, kau lindungi dan kau cintai. "
Abraham menggandeng tanganku, "Terimakasih, aku akan mengingat semua pesanmu, ayah"
Kami berdua berdiri berhadapan dengan Pastor yang memimpin upacara pernikahan.
"Abraham Gilbert Morritz, maukah kamu menerima Patricia Jessica Donovan, menerimanya dalam keadaan sehat dan sakit, menemaninya dalam keadaan susah dan senang, kaya dan miskin, sampai maut memisahkan kalian?"
"Saya bersedia menerima Patricia Jessica Donovan menerimanya dalam keadaan sehat dan sakit, menemaninya dalam keadaan susah dan senang, kaya dan miskin, sampai maut memisahkan kami" Abraham mengucapkan sumpah pernikahan dengan lancar dan tenang.
Duh, sebentar lagi giliranku. Aku harus bagaimana, Tuhan? Aku cemas.
"Patricia Jessica Donovan, maukah kamu menerima Abraham Gilbert Morritz, menerimanya dalam keadaan sehat dan sakit, menemaninya dalam keadaan susah dan senang, kaya dan miskin sampai maut memisahkan kalian?"
Betul kan kataku. Perutku mulas. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku membisu
"Sa.. sa.. saya.." aku terbata, duh, Tuhan tolong saya, ratapku dalam hati.
Abraham tetap tenang dan tak terpengaruh.
Apa yang harus ku ucapkan? Aku tak bisa mengatakannya.
Ruangan hening, aku menarik napas, inilah saatnya , pikirku
"Saya bersedia menerima Abraham Gilbert Morritz , menerimanya dalam keadaan sehat dan sakit, menemaninya dalam keadaan susah dan senang, kaya dan miskin, sampai maut memisahkan kami" astaga, astaga, astagaaaa kenapa jadi kalimat itu yang keluar dari mulutku? Apakah ini aku? Aku merasa ingin menangis.
Kenapa hati dan mulutku seperti mengkhianati ku?
Aku bisa melihat Abraham tersenyum lega.
"Di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya, Dengan ini aku sahkan kalian sebagai pasangan suami istri. "
Aku dan Abraham berdiri saling berhadapan. Abraham mengambil cincin kawin dan memasukkannya ke jari manis kananku, aku memasukkan cincin kawin ke jari manis kanan Abraham.
"Sekarang, ciumlah pengantinmu"
Mati aku! Abraham tersenyum dan dia memajukan bibirnya. Dia mencium bibirku dengan lembut dan tersenyum.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Mohon tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote yaaa. Terimakasih ♥️♥️♥️
Sebagus itu guys